Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Ibu Anak Tiga


__ADS_3

Mereka bertiga pun pecah dalam tangisan. Ha Jae tau itu tangisan harapan bagi mereka berdua. Ha Jae bangkit dari duduknya, menghampiri Yuri, Nami dan Haneul yang duduk di depannya.


Ha Jae duduk di antara mereka bertiga, memegang erat tangan mereka. Dia ceritakan bagaimana bisa dirinya yang berkulit sawo matang ini, bisa memiliki anak secantik dan seputih Haneul. Mengetahui kenyataan apa yang membuat Yuri dan Nami penasaran. Mereka berdua pun menangis dalam pelukan Ha Jae.


"Janji pada Mama. Bahwa kalian hanya akan menangis bahagia," ucap Ha Jae kepada 3 putrinya.


"Iya," ucap Haneul.


"Sekarang kita makan bersama. Pizzanya sudah datang," titah Ha Jae.


Ha Jae berdiri kembali ke tempat duduknya. Menerima 5 kotak Pizza yang dia pesan secara online. Mereka pun makan bersama dengan bahagia. Tak ada lagi kecanggungan di antara mereka. Kecuali canda tertawa yang mengisi suasana saat itu.


"Mama mau pergi ke Indonesia beberapa Minggu. Kamu jaga diri baik-baik, okay," ucap Ha Jae kepada Haneul. "Kau harus jaga kedua sodaramu ini,"


Ha Jar melirik kearah Yuri dan Nami dengan senyumam yang manis.


"Mama tidak tau kan? Nami malah yang selalu menjagaku. Yuri yang berperan menjadi ibunya," ucap Haneul.


"Dan kau?" tanya Ha Jae mengoda.


"Aku jadi putri kecilnya," ucap Haneul melemparkan senyuman manja.


"Padahal kau yang seperti ibu-ibu. Selalu marah-marah, ini salah itu salah," celetuk Yuri.


"Aku hanya bilang apa yang Mama bilang. Bahwa kita tak boleh tidur malam-malam, tidak boleh berbohong, tidak boleh buang sampah sembarangan. Harus mengerjakan  PR sebelum tidur, atau harus belajar. Bangun pagi, banyak minum air putih, rajin menabung," jelas Haneul.


"Aku juga tau soal itu, tapi tidak usah di tegaskan tiap hari," protes Yuri.


"Bilang saja kamu malas," seru Haneul.


"Tidak! bukan. Brisik tauk," balas Yuri.


"Hehhh sudah-sudah. Kenapa kalian bertengkar," sela Ha Jae. "Haneul tidak salah, Yuri pun juga tidak salah. Haneul hanya ingin membagi kebaikan dalam hidup kita sehari-hari. Sedangkan Yuri, hanya ingin menikmati masa istirahatnya lebih tenang sedikit. Haneul terlalu cerewet dan Yuri terlalu resek," ucap Ha Jae melirik ke arah mereka berdua.


Haneul dan Yuri saling bertatapan hingga akhirnya mereka tertawa bersama. Mereka bisa saling menerima kekurangan satu sama lain. Sedangkan Nami, hanya duduk terdiam di hadapan Ha Jad. Dia sesekali melempar senyuman seolah agar yang lain tak tau bahwa ada sesuatu yang menganggu pikirannya.


Menjelang siang, Ha Jae berpamitan kepada ketiga putrinya. Berharap mereka akan baik-baik saja selama di asrama. Ha Jae tau, menjadikan mereka saudara bukan berarti mereka terlepas dari konflik satu sama lain. Tapi Ha Jae yakin, dengan mereka menjadi saudara. Mereka mampu menjaga dan mengasihi satu sama lain.


"Mama pulang dulu. Mama usahakan nanti jika kembali dari Indonesia, Mama akan berkunjung ke sini untuk kalian," pamit Ha Jae. "Jangan lupa belajar yang rajin. Saling menjaga satu sama lain,"


Ha Jae dengan lembut mencium kening ketiga putrimya itu.

__ADS_1


"Satu lagi. Kalian tidak boleh berpacaran jika belum kalian kuliah. Mengerti!!" titah Ha Jae kepada mereka bertiga.


"Siap Mama," sahut Haneul.


"Iya, Ma," ucap Yuri.


"Masuklah, sebentar lagi kalian masuk pelajaran," titah Ha Jae.


"Okay, Daa Ma," seru Haneul dan Yuri.


Haneul dan Yuri bergandengan bergegas masuk kedalam asrama. Sedangkan Nami masih terdiam tak beranjak dari tempat duduknya. Ha Jar tau apa yang menganggu pikirnya hingga dia masih terdiam di hadapannya.


"Nami? Ada apa?!" tanya Ha Jae.


Nami terperanjat dari lamunnya. "Hah?"


"Kau tidak suka?!" tanya Ha Jae penasaran. "Jadi anakku?!"


"Anya!" jawab Nami menggelengkan kepala.


"Lalu??" tanya Ha Jae.


Nami menunduk penuh keraguan.


"Aku tidak tau," celetuk Ha Jae. "Aku hanya melihat Haneul dalam dirimu,"


Ha Jae berusaha melihat wajah Nami yang menunduk hampir tak terlihat.


"Kau pasti menganggap Haneul lebih beruntung dari dirimu kan? Padahal sebenarnya tidak," jelas Ha Jae kepada Nami.


"He?!" Nami terkejut dengan ucapan Ha Jae.


"Kau mengenal Haneul hanya selama di Asrama bukan?! Jauh sebelum itu, kau lebih beruntung darinya. Aku memeluk Haneul karna dia sudah jadi bagian dari hidupku, dia anakku," jelas Ha Jae. "Haneul sama sepertiku. Dan aku tidak mau Haneul sepertiku. Begitu juga dengan mu dan Yuri. Jangan sampai kalian sepertiku,"


Ha Jae memandang Nami dengan dalam. Dia sesekali melempar senyumam ke wajah polos Nami yang sedang kebingungan.


"Dengarkan aku," Ha Jae memegang tangan Nami menatap matanya yang bulat berkaca.


"Bahagia lah, hiduplah. Kalian pantas untuk itu," ucap Ha Jae.


Tak terasa air mata mengalir di pipi Ha Jae begitu saja.

__ADS_1


"Tak perduli kalian siapa. Kalian adalah anak Mama. Walau Mama tidak mengadopsi kalian. Kalian tetap anak Mama. Jadi Mama mohon, hidup dan bahagia lah. Untuk Mama," titah Ha Jae. "Mungkin kau belum mengerti saat ini. Karna memang belum saatnya kau mengerti hidup sejauh itu. Sekarang yang penting bagimu adalah belajar. Kejar cita-cita mu. Mama akan selalu mendukungmu,"


Nami yang terdiam tak melepaskan pandangannya dari Ha Jae.


"Sudah, pergilah. Yuri dan Haneul sudah menunggumu," titah Ha Jae melihat ke arah Yuri dan Haneul yang terlihat kembali mencari Nami.


"Nami!!" seru Yuri dari kejauhan.


Nami bergegas bangkit dari duduknya.


"Nami. Jangan pacaran okay. Ti-dak bo-leh!" titah Ha Jae kepada nami.


"Ya. Ma-ma," ucap Nami tersenyum kepada Ha Jae.


Nami berlari menghampiri Yuri dan Haneul. Mereka bertiga melambaikan tangannya ke arah Ha Jae.


"Mama bay bay,," seru mereka sebelum pergi masuk ke asrama.


"Hufff"


Ha Jae menghela nafas melepaskannya berlahan. Memandang jauh ke atas langit yang biru. Ntah apa yang sudah dia putuskan. Ha Jae hanya merasa mereka harus hidup dengan bahagia. Karna dia juga ingin hidup bahagia seperti yang lainnya.


"Ternyata aku sudah tua, ya. Anakku sudah tiga sekarang. Aku akan berikan yang terbaik untuk kalian," gumam Ha Jae dalam hati.


Ha Jae bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Sampai di tempat dia memarkirkan montornya, Ha Jae mengingat sesuatu.


Ha Jae merogoh ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang.


...(pesan tidak di kenal)...


...----------------...


"Paman apa kabar? Lama tidak bertemu."


"Aku butuh bantuan,Paman,"


"Aku tunggu di kedai Mie milik Paman nanti siang."


...----------------...


...****************...

__ADS_1


__ADS_2