
Shin Ji Joon keluar dari mobilnya. Dia melihat Yokada sudah berdiri di depan pintu lantai atas, tempat Ha Jae tinggal. Shin tanpa ragu naik dan masuk ke rumah Yokada.
"Annyeonghaseyo." salam Shin.
"Ahh ya, ayo masuk. Kebetulan kamu datang." sahut Yokada.
"Masuk sini, ayo. Sini duduk,," titah Yokada.
"Ahh kamu memang yang terbaik, tau saja aku butuh teman," sambungnya.
"Ayo sini kita sarapan. Ada bubur dan ramuan khas Jogja." jelas Yokada menyiapkan mangkok dan gelas.
"Aku hanya ingin melihat keadaanmu. Kau terlihat kacau semalam. Jadi aku pikir untuk melihatmu pagi ini." ucap Shin menarik kursi lalu duduk di meja makan.
"Kenapa, kau termakan ucapan bocah itu?" tanya Yokada.
"Tapi benar, aku tidak bisa tidur semalaman ha ha. Ayo, ayo makan." imbuh Yokada.
Shin Ji Joon hanya tersenyum mendengar ucapan Yokada. Shin tak sengaja melihat secarik kertas yang tertempel di Kulkas dekat tempat ia duduk. Dia hanya tersenyum melihat kertas itu.
"Ha Jae yang memasak?" tanya Shin menyendok Bubur ke dalam mangkoknya.
"Iyaa, siapa lagi. Oh ya minumannya." Yokada bangkit dari duduknya mengambil minuman yang masih di atas kompor.
"Ini coba. Itu namanya Wedang Uwuh, minuman tradisional khas Jogjakarta. Rasanya enak sekali,," tutur Yokada.
"Gimana, enak kan?" tanya Yokada.
"Mashisoyo." jawab Shin menyuput segelas ramuan tradisional itu.
"Ini. Habiskan saja buburnya." titah Yokada.
"Ha Jae pintar juga memasak." puji Shin.
"Tergantung Mood bocah itu,," celetuk Yokada menikmati bubur kacang hijau di mangkoknya. "Jika Mood nya buruk. Masakannya lebih parah dari pada makanan kucing."
"Benarkah?!" tanya Shin.
"Kau ingin mencobanya??" tanya Yokada bercanda.
"Tidak." sahut Shin.
"Ha ha ha.." (suara tertawa yang pecah di antara mereka).
"Terimakasih sarapannya. Aku harus pergi ke kantor. Aku harus melakukan pemotretan produkmu hari ini." jelas Shin.
"Ohh benar juga. Baiklah. Hati-hati di jalan. Lakukan yang terbaik untukku." ucap Yokada.
"Akan aku usahakan." sahut Shin.
__ADS_1
Shin Ji Joon bergegas pergi dari tempat itu. Dia melambaikan tangan ke pada Yokada, sebelum masuk ke dalam mobilnya dan melesatkan jauh meninggalkan tempat itu.
Shin Ji Joon sampai di gedung SJ Entertaintment sudah cukup siang. Karna dia menyempatkan diri datang ke Cafe Shop terlebih dahulu sebelum pergi ke kantornya. Sesampai di kantor, Shin langsung pergi ke lantai 5 untuk melakukan pemotretan.
Sampai di lantai 5, Shin Ji Joon melihat seseorang yang berdiri di tengah pintu, menghalangi jalannya.
"Permisi." ucap Shin menyuruh seseorang itu menyingkir.
Orang itu menoleh ke arah Shin Ji Joon. Shin terkejut saat tau orang itu adalah Ha Jae.
"Ee Pak." tunduk Ha Jae memberikan salam.
Shin tertegun melihat Ha Jae. Dia memberikan sebuah senyuman kecil ke arah Ha Jae.
"Ahh Pak Manager, akhirnya datang. Yura sudah siap, mau langsung pemotretan?!" sapa seorang karyawan menghampiri Shin.
"Ehh kamu ini, masih di sini. Sudah pergi sana,," titah karyawan itu mendorong pundak Ha Jae untuk mengusirnya.
Shin Ji Joon ternyalang terkejut akan hal itu.
"Ah, maaf Pak. Pegawai ini, dia sudah saya pecat." tutur karyawan itu.
Shin ternyalang tak bergeming memandang karyawan itu dan Ha Jae secara bergantian. Dia tampak sangat bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi. Ha Jae pun hanya diam bergeming di hadapan Shin.
"Mari, Pak." sambung karyawan itu mempersilahkan Shin ke area pemotretan.
Shin Ji Joon ingin tau dari Choi Ha Jae, apa yang sebenarnya terjadi. Ha Jae hanya diam bergeming. Dia menoleh melihat jauh ke arah Yura.
"Maaf, walau dia pacar Anda. Tapi saya ingin Anda menggantinya sebagai model produk kami. Saya tidak ingin produk kami dia yang membintanginya." tutur Ha Jae.
Pandangan Ha Jae masih terpaku kepada Yura. Shin tampak sangat bingung dengan apa yang Ha Jae katakan.
"Apa maksudmu??" tanya Shin.
"Ganti dia,," celetuk Ha Jae.
"Juga dia." imbuhnya melihat ke arah karyawan Shin itu.
"Apa aku..?!!" sahut karyawan itu dengan bingung.
"Aku tidak suka dengan orang yang tidak sesuai dengan pekerjaan yang dia emban,," jelas Ha Jae.
"Dia, tidak pantas menjadi tangan kanan fotografer pemula sekali pun. Apa lagi Tuan Shin Ji Joon. Mungkin akan tepat kalau jadi penonton bayaran,," cerca Ha Jae terlihat sangat marah.
"Letoy!!" ceketuk Ha Jae menatap tajam karyawan itu dengan sinis.
"Man, ayo pulang." ajak Ha Jae kepada Man yang duduk di sofa ujung ruangan.
"Opow?!" (Apa?!) seru Man.
__ADS_1
"Aku kan sudah di pecat! Ayo pulang. Aku lapar." sergah Ha Jae kepada Man.
Man pun bengkit dari duduknya. Dia berlahan menghampiri Shin Ji Joon. Man memberikan berkas yang mereka bawa.
Man sempat memberikan tatapan tajam kepada Shin, sebelum akhirnya dia keluar mengikuti Ha Jae. Mereka pun bergegas meninggalkan studio itu.
Shin Ji Joon hanya bergeming. Dia terpaku bingung dengan keadaan yang terjadi. Pandangannya tak putus dari Ha Jae yang meninggalkan Studio. Pandangan Shin kepada Ha Jae, terputus oleh pintu lift yang berlahan tertutup.
Shin menghela nafas dan mengeluarkannya berlahan. Dia menatap tajam karyawannya itu. Dia benar-benar bingung dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Terlebih lagi, Man. Dia terlihat berbeda dari malam itu. Dia terlihat menarik. Dan kenapa dia mengikuti Ha Jae.
"Batalkan pemotretannya. Dan aku. Ikut denganku, sekarang!!" sergah Shin merasa pengat.
Shin Ji Joon pergi meninggalkan tempat itu. Sampai di ruangan Shin yang berada di lantai 7. Dia terlihat sangat kesal dan marah. Tak lama, karyawan itu pun datang menghampirinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi!!" hardik Shin menodong karyawan itu dengan sebuah pertanyaan.
"Ee, Pak Manager, anu,," jawab karyawan itu gelagapan.
"Apa?!" sergah Shin penuh amarah.
"Jadi gini. Karyawan lepas itu, menjatuhkan tas Yura, jadi Yura memintaku memecatnya." jelas karyawan itu dengan hati-hati.
"Oppa..!!" sela Yura memasuki ruangan.
"Kenapa pemotretan di batalkan?" tanya Yura kesal.
"Bisa kau keluar sebentar. Aku sedang berbicara dengan karyawanku." titah Shin.
"Mwo? Aku nunggu lama, pemotretan di batalkan dan sekarang kamu nyuruh aku keluar?!" protes Yura.
"KELUAR!!" pekik Shin dengan sangat kesalnya.
"Panggilkan Sekertaris Han. Suruh dia keluar!!" titah Shin kepada karyawan itu.
"Tidak usah! Aku bisa sendiri." sahut Yura dengan tatapan tajam kepada Shin.
Yura terlihat kesal lalu pergi meninggalkan ruangan manager. Shin meregangkan dasi yang dia kenalan. Dia amat bergitu sangat bingung dan kesal.
"Kau tau siapa gadis itu?!" tanya Shin kepada karyawannya.
"Aahh buruh lepas itu?!" tanya karyawan itu dengan hati-hati.
"Dia Direktur di perusahaan yang menyewa jasa kita!!! Salah satu penyumbang terbesar perusahaan ini. KAU TAU?!!" hardik Shin.
Karyawan itu terperanga tak menyangka dengan apa yang dia dengar. Dia terus berusaha meminta maaf kepada Shin Ji Joon. Shin tak menghiraukannya. Dia melepas dasi yang dia kenalan dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
...****************...
__ADS_1