
Di dalam Bus perjalananku menuju kantor SJ Entertaintment, kantor milik Shin Ji Joon. Aku masih berusaha menghubungi Shin Ji Joon beberapa kali. Tapi tetap saja tak ada jawaban satu pun olehnya.
Dasar, padahal aku sabar menunggu. Benar-benar, apa aku memang tak penting? Apa dia gak suka denganku? Benci aku? Apa karna mukaku? Apa dia jijik sama aku?! Gumamku dalam hati.
Pikiranku jadi kacau. Segala prasangka muncul di dalam otakku. Semakin aku mencoba tak memikirkan hal itu. Semakin pula otakku tak berhanti dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak masuk akal.
Iya, aku tau. Aku terlalu berharap lebih. Gumamku dalam hati mencoba menerima kenyataan.
Sesampainya aku di depan kantor SJ Entertaintment. Aku memutuskan duduk sebentat di kursi umun taman kantor.
Aku berusaha menenangkan pikiranku yang masih penuh dengan Shin Ji Joon. Setelah aku merasa pikiranku sudah tenang. Aku segera masuk ke dalam gedung yang megah itu, untuk menyampaikan berkas penting itu kepada Shin Ji Joon.
"Permisi, bisa bertemu dengan Pak Shin Ji Joon?" sapaku kepada seorang karyawan di ruang resepsionis.
"Pak Manager sedang ada pemotretan di lantai 3. Silahkan menunggu sebentar, nanti saya sampaikan." titahnya mempersilahkanku untuk duduk di ruang tunggu.
"Maaf, apa masih lama??" tanyaku lembut kepada resepsionis itu.
"Kemungkinan masih sekitar 1 jam'an lagi Nona. Ada pesan?" jelasnya dengan sangat ramah.
"Emm tidak. Anu saya ingin titipkan berkas ini saja untuk Pak Shin Ji Joon. Bilang berkas ini dari Pak William Yokada. Penting. Jadi tolong sampaikan segera, ya." pintaku kepada karyawan itu.
Dengan berat hati, Aku menyerahkan sebuah amplop coklat tebal kepadanya.
"Okay Nona, akan segera saya sampaikan. Ada lagi pesan yang harus saya sampikan?" tanyanya.
"Tidak ada. Itu saja, terimakasih ya." sahutku.
__ADS_1
"Terimakasih kembali Nona." jawabnya dengan senyuman yang ramah.
Aku bergegas keluar meninggalkan gedung itu dengan perasaan kecewa dan lega. Kecewa karna hari itu aku tak dapat bertemu dengan Shin Ji Joon. Lega karna tugasku dari Yokada sudah aku selesaikan.
Padahal, aku ingin sekali bertemu. Gumamku dalam hati.
Di tengah perjalananku pulang kerumah. Aku berniat menghubungi Yokada untuk makan malam bersama. Mungkin saya hatiku bisa sedikit senang.
Lebih baik aku bertemu dengan Senpai. Batinku.
Aku mengeluarkan ponselku dari dalam ransel. Aku mencoba menghubungi Yokada, untuk menanyakan dirinya sedang berada di mana.
"Senpai. Neng di?" (Senpai. Dimana?) tanyaku.
"Oo, aku neng kantor're Ji Joon. Ono opow??" (Oo, aku di kantornya Ji Joon. Ada apa?) jawab Yokada di ujung telpon.
"AAAAAKKKGG!!"
Serasa sudah lega, aku mengangkat mukaku. Aku terkejud saat melihat ekspresi orang-orang yang duduk dalam Bus itu. Mereka menatapku dengan tatapan tajam yang aneh.
"Eh maaf, saya sedang ada masalah. Permisi" jelasku seraya turun dari Bus karna malu.
Setibanya aku di rumah. Aku membanting pintu kamarku dengan kuat dan menguncinya rapat-rapat. Aku menuju ke kamar mandi dengan kesal.
Aku menyiapkan air hangat ke dalam bak mandi berwarna putih bersih itu. Tanpa menunggi lama, aku melucuti semua pakaianku dan masuk kedalam bak mandi.
Berendam air hangat akan membantu menurunkan stres. Gumamku dalam hati.
__ADS_1
Aku menenggelamkan badanku ke dalam air hangat yang sudah aku campur dengan sabun terapi bauk ekstrak bunga mawar.
Hag leganya. Berendam adalah pilihan tepat. Desahku merasa tenang.
Padahal aku sabar menunggu, tapi kenapa tidak datang?! Sampai pesan yang aku kirim tidak di baca, apa dia sengaja? Keterlaluan! Padahalkan .... Gumamku dalam hati.
Tak terasa aku larut dalam rasa kekecewaan. Aku tak bisa menahan air mataku, yang entah kenapa mengalir seperti keinginannya sendiri untuk membasahi pipiku.
Kenapa dadaku sesesak ini? Batinku.
Aku tak merasakan diriku sedang sedih yang sepantasnya aku menangis. Tapi kenapa dadaku terasa sesak?! Kepalaku begitu pusing, air mataku tak bisaku hentikan.
Aku kebanyakan minum kopi kali ya. Aduh! Batinku.
Aku memendam tubuhku lebih dalam lagi ke dalam air.
Selesainya aku berendam. Aku membalut rambut dan tubuhku dengan handuk dan piyama yang seperti memelukku dengan kehangatan.
Hagg, leganya,, Gumamku dalam hati.
Aku mengambil beberapa pakaian dalam lemari pakaianku. Aku menarunya di atas bupet kecil sebelum memakainya.
Aku bergegas keluar untuk mengambil air minum, karna tenggorokanku terasa kering. Aku tersentak saat keluar dari kamar mandi, melihat Yokada sudah berbaring santai di kasurku sembari menonton sebuah acara di layar tv.
"KHYAAA!!" sergahku melempar handuk di kepalaku ke arah Yokada dengan kuatnya.
...****************...
__ADS_1