
"Assalamu'alaikum," salamku masuk kedalam rumah.
"Hei!" pekik seseorang mengagetkanku.
...----------------...
"Eh tidak usah. Aku bisa masuk sendiri kok," ucap Lee Hani menahan Man yang ingin mengantarkannya masuk ke Apartemen.
"Aku antar. Ayo," sergah Man.
Dia langsung berjalan terlebih dahulu menuju lift. Hani bergegas menyusulnya ke dalam lift. Sampai di sebuah pintu, Hani bergegas menuju depan pintu.
"Sudah sampai pergilah," titah Hani. "Makasih udah antar aku sampai di sini ya,"
Man hanya diam bergeming menatapnya.
"Eh kenapa?!" tanya Hani terlihat bingung dengan tatapan Man.
"Buka pintunya," titah Man.
"Hah?! Apa? Kau tidak boleh masuk. Aku ini temannya Choi Ha Jae! Kau tau kan," sergah Hani merasa panik.
"Siapa juga yang ingin masuk. Aku hanya ingin kau membuka pintunya," jelas Man.
"Kenapa memang?!" tanya Hani.
"Buka atau aku drobrak," cetus Man.
"Iya iya, kau ini," Hani berusaha membuka pintu apartemennya.
Dia berusaha menghalangi Man agar tidak masuk ke dalam apartemennya. Man dengan cepat mendorong pintu apartemen itu agar terbuka lebar.
__ADS_1
"Hei, kau gak boleh masuk! Berani melangkah, aku akan teriak!" sergah Hani ketakutan.
Man hanya diam melirik Hani yang berada di depannya. Dia terlihat memandang jauh memperhatikan ke dalam apartemen itu. Terasa tidak ada sesuatu yang dia cari. Man melepaskan tangannya dari pintu apartemen itu.
"Mana ponselmu?!" seru Man.
"Hah?!" tanya Hani bingung.
Man meraih tas Hani dan mengeluarkan sebuah ponsel dari dalam tasnya.
"Kau ini apa-apaan?!" pekik Hani berusaha merebut ponselnya.
Man tak menghiraukannya. Man terlihat mengetik beberapa nomor dari ponsel Hani. Sampai terdengar sebuah bunyi ponsel dari salam kantong Big Man.
Kringg kringg! (bunyi ponsel Big Man).
Man langsung mematikan telpon itu dan memberikan ponsel itu kepada Hani.
Hani hanya diam terpaku melihat Man yang berlahan pergi menjauh meninggalkannya. Dia segera membuka ponselnya dan melihat sebuah nomor baru dari daftar panggilan keluar di ponselnya. Hani langsung bergegas masuk ke dalam apartemennya, mengunci rapat-rapat pintunya.
...----------------...
"Senpai! Belum tidur?!" tangaku kepada Yokada yang tidur di sofa.
"Kenapa baru pulang?" tanya Yokada.
"Aku sekalian jalan-jalan sebentar," jawabku.
Aku meletakkan jaketku di kursi dan bergabung duduk di sofa bersama Yokada.
"Bagaimana?! Kau harus mengurusnya?" tanyaku kepada Yokada.
__ADS_1
"Sudah siap semua. Tapi sebelum itu aku ingin bertanya padamu," ucap Yokada menyeruput kopi di hadapannya.
"Kau memecat Yura?!" sergah Yokada.
"Yura siapa?!" tanyaku datar.
"Hais kau ini!" sergah Yokada. "Coba ingat-ingat," titahnya.
"Yura? Yura?" aku berusaha mengingat namanya. "Oh ya, nanti jika aku ke Indonesia kau harus menjaga anak-anakku untukku. Okay!"
"Hais kau ini! Itu masalah nanti," hardik Yokada.
Yokada dengan kesal memukulkan bantal sofa ke badam Ha Jae.
"Yhaa, masih banyak artis cantik di bandingkan Yura," ucapku menggoda Yokada.
"Kita tak punya banyak waktu untuk itu. Urusan kita banyak. Satu lagi," ucap Yokada melirik ke arah Ha Jae. "King Dog mulai menganggu. Haiss kenapa banyak sekali tikus sih."
"Aku tau. Kau pikir, kenapa aku pulang ke Indonesia?!" ucapku menyeringai ke arah Yokada.
"Suruh anak-anak buahmu bermain dulu. Aku ada urusan yang lebih penting dari itu semua. Lagian Big Man sudah aku taruh di sini. Jika kau bisa berbaik hati dengannya, dia akan sangat membantu," jelasku.
"Hais bocah. Kau tidak tau siapa dia hah?! Dia adalah suruhan King Dong untuk menghancurkan Gudang kita. Bisa-bisanya kau memilihnya di pihak kita hanya karna dia orang Indonesia," hardik Yokada.
"Kau pikir karna itu?!" jawabku menyeringai. "Jika ya, kau salah besar,"
Aku tertegun melihat Yokada yang terlihat penasaran dengan apa yang ku maksud.
"Tenang saja. Man tidak akan berkhianat kepada kita, tapi sebaliknya," sambungku.
Aku bangkit dari dudukku, mendekat ke arah Yokada dan duduk di sampingnya. Aku membisikkan sesuatu ke telinga Yokada. Dia hanya diam menatap mataku dengan tajam.
__ADS_1
...****************...