Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Hal Yang Tak Terduga


__ADS_3

Sesampai Ha Jae di Rumah Sakit. Ia langsung bergegas menuju ke ruang UGD. Dari kejauhan terlihat Lee Hani yang menunggu di depan sebuah ruangan.


Ha Jae mempercepat langkahnya untuk menghampiri Lee Hani. Belum Ia sampai di hadapan Lee Hani. Lee Hani terlihat memasuki sebuah ruangan di sampingnya. Ha Jae pun mempercepat langkahnya untuk menyusul Lee Hani.


"Hani!! ono opow?!" (Hani!! Ada apa?!) tanyaku dengan panik.


"Jennie.." sahut Hani.


Hani melihat ke arah Jennie yang terbaring sedang di tangani oleh seorang Dokter.


"Kena minyak..." sambung Hani.


"What!!!" seruku.


"Tadi mau goreng ikan, minyak nya muncrat-muncrat." jelas Hani dengan muka cemberut.


"KAAAMMMMPRETTTTTT....!!!" hardikku membanting tas ranselku dengan keras ke atas lantai.


"KYAAAKKKKK!! SAKIT TAUK!!" sergah Jennie melempar sebuah bantal ke arahku.


"HUHHHHHGGGG HAAANIII UUUHHHHHHAGGGGG!!" tersirapku.


Aku menghentak-hentakan kakiku untuk melampiaskan rasa kekesalanku.


"Wae?! Emang aku salah??" sanggah Hani dengan logat manjanya.

__ADS_1


Hani berjalan menghampiri Jennie dan berdiri di sampingnya.


"KENAPA!!! DASAR GAK SETIA KAWAN!!" cerca Jennie.


Jennie merasa kesal melihat tingkahku yang seakan tak suka di titah oleh Hani untuk datang kemari.


"Huffff," helaku.


Aku menghela nafas dan mengeluarkannya berlahan untuk menenangkan diriku. Aku tercenung melihat keluar jendela. Aku melirik kedua sabahatku yang sedang berada tepat di ujung sebrang ruangan.


"Kalian tau. Hagg.." tanyaku kembali menghela nafas.


Aku berjalan menghampiri mereka. Menarik kursi dan duduk di sambing tempat tidur Jennie dengan tatapan sendu.


Aku menunduk memegang kepalaku yang terbalut dengan Kerudung hitam itu. Aku memukuk-mukul kasur dengan lahan untuk melampiaskan kekecewaanku. Sungguh aku benar-benar sedih. Rasanya aku ingin manangis, tapi tak bisa. Dadaku sangat sesak.


Padahal sedikit lagi aku punya jalan dekat dengannya. Gumamku dalam hati.


"Kamu gak apa-apa?? Maaf, aku gak tau. Aku pikir kamu di Cafe main game. Jadi aku pikir lebih baik menyuruhmu ke sini." jelas Hani.


"Kamu marah, maaf ya, aku harusnya tadi hati-hati saat Goreng Ikan Asinnya, aku gak tau kalau Ikan Asinnya bakalan meletus-letus" Timpal Jennie dengan rasa bersalah.


"Ikan Asin?!" tanyaku.


Aku lalu mengangkat wajahku, mengerutkan kening memandang mereka satu per satu.

__ADS_1


"Iya tadinya kita mau masakin makanan kesukaanmu, untuk menyambut kedatanganmu. Gak taunya malah kaya gini." jelas Hani.


Aku tersenyum kecil memandang kedua sahabatku itu. Aku berdiri dari dudukku,,


"Jadi masakannya udah mateng apa belum?! Aku laper." tanyaku dengan sumringah berusaha menghibur mereka.


"Iii-ikannya masih di wajan." sahut Hani gelagapan.


"Permisi Nona," sela seorang Suster masuk ke dalam ruangan.


Suster itu menuturkan bahwa Jennie bisa langsung pulang hari itu juga. Karna luka yang di deritanya hanya luka ringan biasa. Kami pun langsung bersiap untuk pulang saat itu juga.


"Beteweh, kalian dapat ikan asin dari mana?!" tanyaku merangkul pundak Jennie dengan penasaran.


"Jennie membawanya dari Indonesia." C


celetuk Hani yang berada di balakang kami.


"What! Jadi Lo dari Indonesia?!" sergahku mengunakan Bahasa gaul Indonesia.


"He he iya," jawab Jennie menyeringai. "Tapi sebentar kok, aku cuman nengok Kokoku di sana."


Kami pun bergegas keluar rumah sakit. Memesan sebuah Taksi untuk mengantat kami pulang ke rumah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2