Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Tanda-tanda Kehidupan


__ADS_3

Kring! (bunyi notifikasi pesan).


...----------------...


^^^"Sama-sama. Selalu jaga kesehatan."^^^


...----------------...


Aku bergeming membaca pesan itu. Aku mengabaikan pesan itu, memasukan ponsel ku ke dalam saku di bajuku.


...----------------...


"Oe bangun!" ucap Man berusaha Ha Jae yang tertidur pulas di sampingnya. Man melihat Ha Jae yang tertidur sangat lelap. Terlihat Ha Jae begitu sangat lelah. Man merasa tidak enak jika harus Man membangunkannya.


Lumayan lama Man hanya berdiam diri di dalam mobil menunggu Ha Jae terbangun. Sampai Yokada turun dari lantai atas menghampiri mereka yang masih di dalam mobil.


Dok dok!! (Yokada mengetuk jendela mobil).


Man menurunkan kaca pintu mobil dengan berlahan.


"Yha?! Haiss ni bocah." ucap Yokada melihat Ha Jae yang sedang tertidur pulas.


"Bangun!!" sergah Yokada menoel kepala Ha Jae.


Ha Jae tersentak bangun dengan terlihat sangat bingung.


"Dasar putri tidur." imbuh Yokada.


"Cepat masuk. Hei kau, parkiran mobilku di dalam sekalian." titah Yokada kepada Man.


Man hanya diam dan langsung memarkirkan mobilnya di dalam. Ha Jae keluar dari dalam mobil dengan sempoyongan.


"Man, thanks ya. Jangan lupa besok kerja. Datang ke sini pagi hari untuk ambil berkas." ucap Ha Jae.


"Sudah pulang sana. Sampai jumpa besok." titah Ha Jae kepada Man.


Ha Jae bergegas masuk kedalam dengan sempoyongan. Dia merasa kepalanya terasa begitu sangat berat..


"Yo." jawab Man memperhatikan Ha Jae.


Yokada hanya terdiam lalu berpaling membuntuti Ha Jae.


"Oh ya, jangan lupa tutup gerbangnya," titah Yokada kepada Man.


"Iya Pak." jawab Man menunduk.


Yokada mencoba mengejar Ha Jae yang sudah berlahan menaiki anak tangga. Dia langsung bergegas merangkul Ha Jae yang terlihat sempoyongan.


"Hais bocah! Kau mabok?! Coba cium!" sergah Yokada menarik dagu Ha Jae.

__ADS_1


"Kau kenapa ha?!" hardik Yokada.


"Aku harus ke dokter." ucap Ha Jae lirih.


"Kenapa!? Kau sakit?!" tanya Yokada panik.


"Ayo masuk ke kamar. Biar aku priksa." titahnya.


Yokada membaringkan Ha Jae di atas ranjang. Dia langsung pergi bergegas mengambil alat kedokterannya.


"Apa yang kau rasakan?" tanya Yokada mengeluarkan sebuah stetoskop.


"Tarik nafasmu." titahnya.


"Kenapa jantungku sering sekali berdebar?" tanya Ha Jae.


Ha Jae menatap kosong langit-langit kamarnya dengan sendu.


"Rasanya sesak sekali. Kadang aku sulit untuk bernafas. Sampai membuatku menangis." ungkap Ha Jae. "Bahkan aku beberapa kali kehilangan kendali."


"Kau hanya kurang istirahat." jawab Yokada.


"Kau selalu bilang seperti itu. Tapi aku rasa bukan itu. Kau berbohong." sahut Ha Jae.


"Kau bilang karna kopi. Tapi bukan. Kau bilang karna radiasi. Itu juga bukan. Kau berbohong." imbuhnya menatap Yokada tajam.


Ha Jae bangkit dari tidurnya duduk tegak di hadapan Yokada.


"Apa tubuhku sudah mulai menyerah?!" imbuhnya.


"Kau ini!" ucap Yokada menyeringai.


"Kau salah tangkap. Ini baru permulaan. Bukankah kau sendiri yang memohon kepadaku untuk hidup?!" ucap Yokada serius.


Yokada bangkit dari duduknya menuju jendela yang berada di sebelah kanan ranjang Ha Jae.


"Tubuhmu bukan sudah mulai lelah. Tapi sudah mulai hidup." ucap Yokada berbalik memandang Ha Jae.


"Hidup?" gumam Ha Jae dalam hati.


"Perkembangan yang bagus. Kau cukup kendalikan perasaanmu saja." imbuh Yokada.


"Heg," Ha Jae tersenyum menyeringai.


"Apa Monster sepertiku masih bisa hidup?!" ucap Ha Jae. "Bahkan aku masih tidak tau hidup itu seperti apa."


"Lalu selama ini kau sedang apa??!" tanya Yokada. "Jika kau seperti itu. Sia-sia aku memberikan kehidupan kepadamu."


Yokada mendekat ke arah Ha Jae yang duduk termangu di atas kasurnya.

__ADS_1


"Ingat. Kau itu siapa? Kau milikku. Jangan sia-siakan kesempatanmu." ucap Yokada meraih tasnya.


Yokada pergi meninggalkan Ha Jae yang duduk terdiam bergeming di atas ranjangnya.


"Benar. Aku tau aku siapa! Aku ... " gumam Ha Jae membanting kan tubuhnya di ranjang. "Aku Choi Ha Jae."


......................


Ngekkk! (suara pintu di buka).


"Hei, ketuk dulu jika masuk." sergahpnya kaget.


"Haruskah aku ketuk pintu?!" tanya Jimmy.


Jimmy duduk dan menuang segelas Anggur yang tersaji di hadapannya.


"Kau bisa pergi dulu sayang." Bisik Goun Yong kepada wanita yang duduk di atas pangkuannya. "Bagaimana kabarmu? Aku lihat, kau sudah jarang mengisi layar kaca setelah kasus skandalmu itu."


Goun Yong berdiri mengambil sebuah berkas dari meja yang berada di belakangnya. Jimmy hanya terdiam menikmati segelas anggur di tangannya.


"Itu mainan baru untukmu." Goun meletakkan berkas itu di hadapan Jimmy.


Jimmy mengambil selembar foto yang tersemat di halaman depan berkas itu.


"Siapa dia?!" tanyanya memperhatikan foto itu.


"Dekati gadis itu. Buat dia jatuh cinta, seenggaknya tunduk padamu. Aku ingin dia di pihak kita." ucap Goun Yong.


"Anak pengusaha? Kenapa banyak anak orang kaya yang bodoh sih." seru Jimmy. "Harusnya dia gunakan uangnya untuk operasi plastik?"


"Kau ini. Dia memang bukan orang kaya. Dia adalah adik angkat William Yokada. Saat ini, dia lah yang menjadi kepercayaan Yokada. Aku juga banyak mendengar, Yokada sangat dekat dengan gadis itu." jelas Goun Yong.


Goun menuang segelas anggur dan duduk di hadapan Jimmy.


"Maka dari itu aku ingin kau mendekatinya. Kita bisa mengorek banyak informasi darinya." sambung Goun Young. "Semua aku serahkan padamu."


"Sial!" keluh Jimmy. "Ya sudah, serahkan ini padaku. Gadis jelek seperti ini, pasti bisa dengan mudah tunduk pada Artis sepertiku."


"Tunggu dulu. Aku dengar, Yokada membayar pentolan preman yang pernah aku sewa untuk menghancurkan Gudangnya di Incheon. Dia menyuruhnya untuk menjaga gadis itu. Maka dari itu, aku sangat penasaran siapa sebenarnya gadis itu. Kau harus hati-hati, aku akan menyuruh anak buahku untuk membantumu, sekalian aku ingin habisi preman itu. Bisa-bisanya dia mengkhianatiku." ucap Goun Yong. "Oh ya. Selain itu, masih ada 1 tangan kanan Yokada, aku tidak tau siapa dia. Banyak yang menyebut dia Pedang Hitam Yokada. Aku dengar, dia juga yang mengambrukan 3 pesaing lainnya hanya dalam kurung waktu tak ada 1 pekan."


Goun menuang kembali minuman ke dalam gelasnya. Dia begitu menikmati percakapan itu.


"Mendengarnya saja sudah membuatku bergairah. Kau harus waspada. Jangan gegabah. Bermainlah dengan halus, ingat posisi mu. Jika kau ceroboh, kita semua bisa hancur." titah Goun Yong.


"Aku lebih pintar darimu dalam bermain." ujar Jimmy.


Jimmy mengambil berkas di hadapannya lalu bangkit meninggalkan ruangan itu.


"Walau beresiko, mau tidak mau aku harus menyuruh Jimmy maju. Hanya dia yang pintar dalam bermain. Soal Pedang Hitam Yokada. Dia tidak ada apa-apa dariku. Hanya tikus penganggu." batin Goun Yong memandang keluar jauh dari jendela Gedung ruangannya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2