Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Makan Malam Bersama


__ADS_3

"Gimana??" tanya Bibi Min Sae penuh penasaran.


"Eeeeee...ee enak." jawab Shin dengan ragu.


...----------------...


Aku bergeming berfikir apa yang kurang dari soto yang ku masak. Aku menghampiri ungkepan ayam bakar yang berada di kompor yang satunya. Aku mencicipinya kuah ayam bakar itu, untuk membandingkan dengan kuah soto yang sebelumnya.


Aku mengecap lidahku beberapa kali. Aku terdiam berfikir kurang apa dalam masakannya.


Ooo! Gumamku mengingat sesuatu.


Aku menghampiri rak bumbu meraih gula merah, gula putih, garam, kecap dan mrica. Aku memasukan sedikit gula merah, kecap yang tak aku takar ke dalam wajan Ayam Bakar. Shin dan Bibi hanya bisa terpaku melihatku memasukan gula dan kecap tanpa takaran.


"Heee!! Coco, nanti kemanisan!! Kolesterol. Kamu mau meracuni kami?!" protes Kyun.


Aku tak menghiraukan ucapan Kyun. Aku menghampiri kuah soto yang berada di atas kompor.


"Ehh jangan! Jangan! Yang ini jangan, sudah manis." tegas Kyun menghalangi panci dengan kedua tanyannya.


Aku menepis tangan Kyun dan metambahkan sedikit gula putih, mrica. Aku juga memasukan garam, yang sekali lagi, tanpa ukuran di tambah mecin yang tak sedikit.


"Astaga! Warga +62 emang mecin!" protes Kyun.


Aku memasukan garam itu sembari melirik sinis menyeringai ke arah Kyun. Kyun hanya terpegun berdiri di sampingku. Dia sesekali menelan ludah. Kyun memegang kedua pipinya, terlihat tak percaya dengan apa yang aku lalukan.


"Apa semua warga Indonesia seperti ini?!" celetuk Kyun.


"Heh! Kau ini! Sudah diam." seru Bibi Min Sae.


Aku menambahkan lagi sedikit Mrica. Lagi, lagi dan lagi. Aku juga menambahkan sedikit garam lagi ke dalam kuah soto itu.


Aku hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi Kyun yang terlihat lucu. Dia terpegun seperti seekor anak anjing melihat apa yang aku lakukan. Apa lagi ekspresi Bibi Min Sae dan Shin Ji Joon yang ternyalanh memperhatikanku.


He he he ****** kalian! Batinku demgan jahatnya.


......................


Sekitar 1 Jam berlalu. Semuanya hidangan sudah siap di santap. Soto Mie Ayam, Ayam Bakar Kecap, Ikan Asin Goreng, Sambal, Krupuk, Lalapan, dan beberapa Sayuran Rebus siap di santap.


Ada juga tambahan jajanan Korea siap saji, yang Yokada dan Shin Ji Joon bawa dari luar tadi.


"Wah! Pasti enak sekali." puji Sekertaris Min.


Suasana yang sangat terlihat asing. Kecanggungan terlihat dari wajah beberapa orang di sana.


Kami semua duduk di lantai beralaskan karpet tebal. Duduk berputar layaknya lesehan makan bersama di Indonesia.


"MARI MAKAN!!" seru kami mempersilahkan kita semua untuk makan.


Terpancar jelas kekikuk'an di wajah Sekertaris Min dan Bibi Min Sae saat melihat kami menyantap makanan. Sepiring berdua dengan makan mengunakan tangan. Memang hal yang asing bagi mereka, saling suap-suapan dan rebutan lauk makanan warna kekompakan kami berempat.


Shin Ji Joon hanya tersenyum tipis melihat tingkah kami yang begitu sangat menikmati suasana itu.


"Sayang, kenapa kamu makan Tteokpoki banyak sekali? Kamu gak mau nyoba Soto dan Ayam bakarnya?" tanya Jennie.


Jennie berusaha menarik tangan Kyun yang sedang asik menyantap Tteokbokki yang duduk tepat di sisihnya.


"Emm bauknya enak," sungut Jennie menyodorkan sepotong ayam bakar ke hadapan Kyun.

__ADS_1


Aku tersenyum geli melirik ke arah Kyun dan Jennie. Aku mengambil mangkok dan meracik Sotoku. Menikmati setiap suapan tanpa memperhatikan sekelilingku. Sesekali aku mengambil dan menggigit potongan ayam bakar dari piring Hani yang duduk di sebelahku.


"Yhaa!" seru Hani tak suka lauknya aku curi.


"Hei! Kamu tidak lihat tadi?! Coco sengaja memasukan gula dan mecin banyuuuak sekali ke dalam masakannya," sergah Kyun terlihat kesal.


Kyun menatap Jennie dengan kesal karna terus menggodanya dengan sepotong ayam bakar. Dengan mulut yang masih penuh dengan tteokbokki Kyun terus menepis sikap Jennie.


"Dia ingin kita semua sakit perut!" sambung Kyun.


"Aku rasa dia ingin balas dendam kepada kita. Atau otaknya sedikit bergeser setelah liburan dari Incheon." turuh Kyun berbisik kepada Jennie.


Aku tak menghiraukan ucapan Kyun. Aku terus menyantap makanan di hadapanku. Seolah aku tak mendengar dia berbicara mereka.


"Haiss kau ini!" sela Yokada seraya memukul kepala Kyun, menggunakan sendok di tangannya.


"Sudah makan itu saja. Biar ini semua kami yang habiskan," ucap Yokada dengan kesalnya.


"Ayo-ayo makan," sambung Yokada mempersilahkan semua untuk menikmati hidangan.


Aku melirik ke arah Kyun tersenyum puas. Karna aku berhasil mengerjai dirinya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Yokada kepada Shin yang duduk tepat di sampingnya.


"Eenak, enak sekali," jawab Shin seraya menyantap makanan di hadapannya.


Aku berhenti mengunyah makanan di dalam mulutku. Menundukkan mukaku dengan tetiba. Perasaan aneh itu tiba-tiba muncul kembali di dadaku.


Oo, mwo! Gumamku dalam hati.


Aku merasa jantungku tersentak begitu saja. Berdetak tak beraturan. Rasanya sesak untukku bernafas.


"Hemm?" Gumamku mengangkat mukaku.


"Coco. Kau benar tidak gagar otak kan? Sarafmu terkilir?? Atau bisulmu pecah?! Coba lihat." goda Kyun meraih pipiku.


Aku mencoba menepis tangan Kyun dengan cepatnya.


"Iss!!" seruku memukuk tangan Kyun.


Aku melempar tulang Ayam ke arah Kyun dengan kesal.


"Aaaaaa!" teriak Kyun saat kupingnya di tarik oleh Jennie.


"Demen banget sih ganggu orang makan." geram Jennie kepada Kyun.


Aku melirik ke arah Kyun dan melempar senyuman tipis. Berusaha bersikap biasa saja seolah tak terjadi apa-apa.


"Ee gak, gak apa-apa, hanya sedikit ngantuk hi hi," jawabku menyeringai.


Aku kembali menyantap makananku. Aku tak ingin semua jadi terganggu dengan keadaanku.


"Oo, emang ini jam berapa?" tanya Sekertaris Min melihat jam yang ada di pergelangan tangannya.


"Dia memang Bayi," celetuk Yokada menunjuk ke arah ku.


"Jangan di hiraukan," sambungnya dengan lahap menyantap makanannya.


Aku melihat ke arah Yokada dengan muka cemberut yang kesal. Tak berfikir panjang aku kembali menyantap makanan di hadapanku dengan lahapnya.

__ADS_1


Ntah kenapa rasanya lapar sekali malam itu. Aku menghabiskan 2 mangkok soto dengan cepatnya.


"Hai! Kau di Incheon gak di kasih makan ya?! Banyak sekali makannya," celetuk Kyun.


"Jika aku bisa. Sebenarnya ingin sekali aku memakanmu." ancamku.


"Oh, Benarkah?! Takuuuttt," sahut Kyun coba meledekku.


Semua yang ada di sana terlihat sangat menikmati makanan malam itu. Kami berbincang dan bercanda bersama.


Kami sudah seperti keluarga kami sendiri.


Aku sesekali melirik ke arah Shin. Sempat beberapa kali mata kami bertatapan. Beberapa kali juga jantungku seperti tersentak mau copot.


Nguuuuukkk nguuuukkkk! (suara getar ponsel berdering).


Aku bergegas bangkit dari dudukku menghampiri ponsel yang aku taruh di atas meja Bar. Aku melihat ada 2x panggilan tak terjawab dari nomor yang tak asing bagiku. Aku langsung mecoba menghubungi balik nomor tersebut.


Tutttttt Tuttttttt. (nada sambung ponsel).


"Halo! Ono opow? Ha?! Ooo. Ohh. Ya sudah sini aja. Kebetulan kita lagi pada ngumpul." titahku kepada seseorang yang berada di ujung telepon.


Aku berbalik melihat ke arah Yokada yang sedang menikmati makanan di hadapannya.


"Ada makanan banyak di sini. Kamu kesini aja. Okay, aku tunggu." jawabku.


Aku menutup telpon itu karna aku rasa audah selesai. Aku terdiam melihat ke arah Yokada yang melihatku dengan curiga.


Aku yakin, Yokada tidak akan suka jika tau siapa yang akan datang. Aku mencoba bersikap biasa saja dan kembali ke tempat dudukku.


"Oe! Katanya racun?! Kok nambah terus?! Bagi tauk!!" protesku mejitak kepala Kyun.


"Hehe, ternyata enak." tukas Kyun.


Kyun menyeringai ke arahku, dengan mulut yang masih mengigit sepotong paha ayam. Kyun mengacungkan satu jempol tangan ke arahku, untuk memuji masakanku. Aku hanya tersenyum tipis melihatnya.


"Hei, Ha Jae, siapa yang kamu suruh kesini? Kelihatannya senang sekali? Pacar!?" tanya Sekertatis Min dengan penasaran.


"Hag?! Bukan. Temen," jawabku datar.


"Sejak kapan kamu punya teman?!" tukas Yokada.


Aku terperangah mengangkat wajahku.


"Jadi selama ini kita gak temenan??" sanggahku melihat ke arah Hani, Jennie, Kyun dengan tatapan polosku.


"Kyaa! Kita kan memang gak temenan!" sergah Jennie.


"Tapi sahabataaaannn!!" sambungnya mengoda.


"Uuuwuuuuuuuu!!!" Sorak kompak kami berempat dengan gaya gemulai.


Yokada membanting sebuah potongan timun yang sudah Ia gigit, ke atas piringnya. Dia terlihat sangat kesal dan geli melihat tingkah konyol kami.


"Aku rasa kalian tidak waras!" tuduh Yokada.


Aku tersenyum sinis melihat ekspresi Yokada yang begitu terlihat sangat kesal. Beberapa kali kami bertukar tatapan tajam kepada ke 3 sahabatku itu.


"Ha ha ha ha ha!" pekik tawa kami menyairkan suasana.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2