
"Mama!!" sergah Haneul, Yuri dan Nami masuk ke dalam ruangan.
"Haneul?!" seru Hani.
"Hai, Bibi," sahut Haneul.
"Haneul?! Kebetulan, mana Paman Yokada?!" tanya Ha Jae.
Ha Jar mendekat ke arah Haneul dan memberikan usapan manis di kepala anak-anaknya itu. Ha Jae pun berpaling dan mengambil sekotak pernak-pernik dan kembali ke mejanya untuk memasang pernak-pernik itu ke sebuah gaun yang sudah berdiri tegak di hadapan Ha Jae.
"Wah keren sekali," puji Yuri.
"Aku bawakan kue kesukaan Mama. Paman Yokada bilang, Mama harus makan, jangan banyak ngopi, nanti sakit," cerocos Haneul.
"Pesan?! Paman Yokada tidak mengantarkanmu?!" tanya Ha Jae sibuk dengan manik-manik di hadapannya.
"Emm, Paman Shin yang mengantarkan kami," jawab Ha Jae.
"Shin?!" gumam Ha Jae kaget.
"Ah, Taun, kenapa berdiri di luar?! Mari masuk, mana Nona Julia. Gaun pesanannya sudah 70% jadi," ucap So Mie yang baru datang dari luar.
Berlahan Shin Ji Joon pun masuk ke dalam ruangan. Dia tertegun memihat ke arah Ha Jae. Ha Jae pun tertegun memandang Shin Ji Joon yang berlahan masuk ke dalam ruangan.
"Emm, Shin. Silahkan duduk," ucap Hani dengan ragu. "Ha Jae - "
"Helo Mr! Come here. Look, you like it?" tanya Afi mendekat ke arah Shin Ji Joon. "Kami dengan semaksimal mungkin memberikan karya yang fantastik untuk Anda. Kami harap Anda suka,"
Afi mengajak Shin mendekat ke arah gaun mewah yang baru Ha Jae garap itu. Gaun putih dengan pernak-pernik yang mengkilap, dengan sentuhan Batik yang mewah. Terlihat sangat anggun dan glamour.
Ha Jae masih tertegun di hadapan gaun itu. Berlahan dia meletakan jarum dan kain di tangannya. Tak terasa air mata Ha Jae pun jatuh dengan tetiba. Shin Ji Joon ternyalang melihat itu.
"Ahh?!" gumam Shin Ji Joon terkejut.
Ha Jae mencoba menyeka air matanya. Dia bangkit dan menuju ke meja kerjanya. Ha Jae berusaha memalingkan mukanya dari Shin dan Hani. Dia meraih jaketnya dan pergi dari ruangan itu seolah tak terjadi apa-apa.
"Maaf, aku lupa. Aku ada urusan. Hani aku titip anak-anak, ya. Nanti biar Man yang menjeputnya," pamit Ha Jae memalingkan mukanya. "Da sayang, nikmati hari kalian. Muach," Ha Jae mengecup kepala ketiga anaknya itu, yang masih berdiri di depan pintu.
"Ha Jae," panggil Hani berusaha mengejar Ha Jae.
Shin Ji Joon pun berpaling berlari ikut mengejar Ha Jae. Shin mendahului Hani yang juga berusaha mengejar Ha Jae yang sudah terlebih dahulu turun mengunakan lift. Shin Ji Joon bergegas mengambil jalan darurat agar dapat dengan cepat mengejar Ha Jae.
"Untung kau datang. Ayo pergi," titah Ha Jae kepada Jimmy yang baru keluar dari dalam mobil.
"Apa?! Aku baru saja datang," protes Jimmy.
Jimmy pun terpaksa masuk ke dalam mobilnya. Baru dia menutuh pintu mobilnya. Ha Jae tetiba mencium bibir Jimmy. Shin Ji Joon yang berdiri jauh di depan Butik pun tertegun melihat mereka.
__ADS_1
"Apa-apaan kau ini?! Seenaknya mencium orang!" hardik Jimmy.
"Ini perintah!" tegas Ha Jae. "Jalankan mobilnya,"
Jimmy pun dengan kesal menjalankan mobil itu. Shin Ji Joon tertegun merlihat mereka berjalan pergi. Shin tersenyum menyeringai tak melepaskan pandangannya dari mobil Jimmy.
"Ha Jae. Aku tau kau sengaja melakukannya. Maaf, harusnya aku tau semunya dari awal," gumam Shin dalam hati.
......................
......(pesan dari Lee Hani)......
...----------------...
"Ha Jae. Maaf, aku tak memberitahumu soal Shin Ji Joon. Aku takut kamu marah. Di sisi lain, aku tak bisa menolak Shin Ji Joon,"
...----------------...
"Apa dia sengaja melakukannya?" tanya Ha Jae dalam hati.
Ha Jae tak membalas pesan Hani. Dia tak habis pikir dengan apa yang terjadi. Ha Jae, dengan tangannya sendiri, dia merajut gaun indah untuk pernikahan orang yang dia cintai.
"Antarkan aku ke tempat Yokada." titah Ha Jae.
"Hei, aku ini bukan supirmu," tolak Jimmy.
"Baiklah. Okay, okay! Akan aku antarkan. Begitu saja menangia," gumam Jimmy.
......................
"Yokada ada?!" tanya Ha Jae.
"Dia tidak ada di tempat, Nona. Dokter hari ini tidak datang ke Klinik." sahut resepsionis.
"Oh, baiklah. Terimakasih." sahut Ha Jae.
"Kenapa kembali?!" tanya Jimmy kepada Ha Jae yang masuk ke dalam mobil.
Ha Jae tertegun, dia menoleh melihat ke arah cafe yang berada di sebrang jalan. Ha Jae pun tersenyum menyeringai.
"Kau mau minum kopi?! Kita bicarakan pekerjaanmu di sana." ucap Ha Jae keluar dari dalam mobil.
Jimmy pun dengan kesal mengikuti Choi Ha Jae. Ha Jae duduk di bangku istimewa. Dia tertegun melihat bangku yang selalu kosong itu.
"Nhat kenapa, bahkan bangku yang selalu aku duduki pun. Tak ada yang mau menempatinya. Apa aku seburuk ini?!" gumam Ha Jae dalam hati.
"Hei, kau mau berdiri saja atau duduk?!" tegur Jimmy.
__ADS_1
"Aku mau menelpon seseorang. Kau pesan saja dulu," ucap Ha Jae meninggalkan Jimmy.
"Cih!" kesal Jimmy.
Tak berapa lama, Ha Jae kembali ke mejanya. Di sana ada seorang pelayan yang sedang mencatat pesanan yang Jimmy inginkan.
"Aku pesan Espresso 1," ucap Ha Jae.
"Ada yang lain lagi Nona, Tuan?" tanya pelayan itu.
"Tidak, terimakasih," jawab Ha Jae.
"Apa pekerjaanku?!" tanya Jimmy.
"Goun tidak menghubungimu?!" tanya Ha Jae.
"Siapa?! Dia? Dia masih hidup?!" tanya Jimmy.
"Hemm, orang sepertinya beguna untuk gantungan kunci." celetuk Ha Jae. "Goun membuat sebuah acara televisi. Dan aku ingin kau yang mebintanginya. Nanti juga akan ada pemotretan beberapa busana di Butikku. Kau yang jadi modelnya,"
"Banyak sekali?! Aku tidak bisa kerjakan semuanya," tolak Jimmy.
"Kenapa tidak bisa?! Kau bisa sehari berkencan dengan 5 wanita sekaligus," sindir Ha Jae.
Jimmy terlihat sangat kesal. Dia di buat Ha Jae kehilangan kata. Tak berapa lama, datanglah seorang wanita yang mendekat ke arah mereka.
"Moshi-moshi," sapa wanita itu.
"Haik," jawab Ha Jae. "Onee Chan! Silahkan,"
"Haik, arigatou ne," sahut wanita itu.
"Onee Chan, ini adalah Jimmy. Kau kenal dia kan?! Dia yang akan menjadi model busanaku." jelas Ha Jae.
"Oh, haik. Halo," sapa wanita itu kepada Jimmy.
Jimmy hanya melempar senyuman yang terlihat terpaksa dari bibirnya.
"Jimmy, ini Manami Mizuki. Dia yang akan jadi fotografer di butikku. Kau harus sopan dan ramah dengannya," titah Ha Jae.
"Aku bukan anak kecil yang harus kau ajari," kesal Jimmy.
"Ah tidak apa-apa. Aku biasa hadapi artis seperti dia, he he" sungut Mizuki.
"Ah silahkan pesan. Pelayan!" panggil Ha Jae. "Setelah ini kita akan ke butik,"
Mereka pun berbincang bersama. Ha Jae menerangkan konsep yang dia pilih untuk Butiknya itu. Ha Jae berharap, bisnisnya ini dapat maju dan berkembang.
__ADS_1
...****************...