
Webek webek. webek webekk! (bunyi alarm ponsel).
Aku terbangun dengan rasa malas menyelimutiku. Badanku rasanya kaku dan pegal. Aku melihat jam yang masih menunjukan pukul 02:30.AM.
"Ya ampun kepalaku," Gumamku.
Aku bergegas bangun ke kamar mandi untuk mencuci mukaku dan merapikan rambutku.
Segelas Coklat hangat bisa menghangatkan lambung dan membuka mataku. Gumamku dalam hati.
Aku keluar kamar menuju bar. Mengambil sebuah mug dan membuat Coklat hangat. Aku duduk bersila di atas kursi bar sembari menikmati coklat panasku.
"Yha!" Suara lirih terdengar dari belakangku.
Aku tersentak menoleh ke arah suara itu. "Innalilahi!!" celetukku terperanjat.
"KYAA!! NGAPAIN DI SINI!! NGAGETIN AJA!!" sergahku. "Tak kiro pocong mau. Haiss."
Aku mengelus dada yang berdetak kecang.
Pocong?! Gumamku dalam hati.
"Emang Korea ada pocong ya?!" seruku kepada Yokada yang berbaring di sofa, dengan penerangan lampu yang remang-remang.
Yokada hanya bergeming tak menjawab banyolanku. Aku menyeruput coklat hangat di hadapanku sembari sesekali melirik ke arah Yokada.
Melihat keadaannya, aku yakin dia tidak bisa tidur, Gumamku dalam hati.
"Tumben pagi-pagi udah bangun??" tanyaku senyuman sinis.
"Buatkan aku kopi." titah Yokada.
Tanpa tanya aku langsung bergegas membuatkan wedang jahe hangat. Aku juga mengambilkan obat tidur untuknya. Aku yakin, Yokada kesulitan tidur.
Hal itu dapat mempengaruhi cara berfikir dan emosional Yokada. Maka dari itu, sebisa mungkin, dia harus tidur untuk istirahat.
"Nih minum," seruku
Aku menaruh minuman dan botol obat di hadapannya. Yokada terbangun meminum minuman yang aku buatkan.
"YHA!! Aku bilang kopi!" hardiknya.
"Sudah minum aja. Semua sudah selesai, buat apa di pikirkan. Incheon sudah kembali ke tangan kita. Aku yakin, tak ada yang berani ngusik Incheon lagi. Kecuali levelnya lebih tinggi darimu," cerocosku tersenyum sinis ke arah Yolada.
Yokada menatapku datar.
"Habiskan Jahe nya. Itu akan menghangatkan badanmu dan menjaga kekebalan tubuhmu. Abis itu minum air putih dan minum obat tidurnya." titahku. "Aku menang taruhan,"
Aku melempar senyuman sinis kepada Yokada. Dia terlihat sangat kes melihat senyumanku yang meledek itu.
"Kantor biar aku yang ngurus. Istirahat saja hari ini," sambungku tersenyum tipis.
Aku bangkit dari duduk ku bergegas ke kamar mandi untuk beribadah.
......................
Selesai beribadah. Aku keluar melihat Yokada sudah tak ada di Sofa. Aku membereskan gelas dan botol obat tidur dari atas meja. Berjalan ke lantai bawah untuk melihat Yokada apa sudah benar-benar tidur.
Ngekkkkk, (Suara pintu kamar yang terbuka).
Ku lihat, dia sudah terbaring pulas di atas tempat tidurnya. Aku masuk berlahan ke kamarnya membereskan sisa minuman di meja santai. Tak lupa aku mengambil baju kotor kamar mandi dan bergegas meninggalkan kamar Yokada.
Seperti rutinitasku di pagi hari. Tepat pukul 06:09.AM aku mandi untuk bersiap-siap berangkat ke kantor. Tak lupa, aku meninggalkan secarik pesan di kulkas.
Baru aku keluar dari rumah. Aku melihat mobil Yokada sudah terparkir di pinggir jalan.
Ya siapa lagi, Gumamku dalam hati.
Aku menghampiri mobil itu mencari tau, ada orangnya atau tidak di dalam mobil.
Tok tok. (suara kaca pintu mobil di ketuk).
"Oo. Kamu tidur di mobil semalaman ini?" tanyaku.
__ADS_1
"Ora, aku lagi ae teko," (Enggak aku baru saja datang) jawab Man.
"Mlebu." (Masuk) imbuhnya.
"Gimana Boy?! Kamu suka kan?!" tanyaku.
"Lumayan," sahut Man datar.
"Kok lumayan?!" tanyaku menyeringai.
"Crewett." celetuk Man dengan judes.
"Ha ha, kamu gak pukulin dia kan?! dia memang seperti itu. Jadi gimana? Bisa tidur semalam?!" tanyaku ingin tau.
"Kurang nyenyak. Kenapa emang?" jawab Man datar.
"Kalian cocok." celetukku.
"Oh belok kanan. Pakai Gugel Map aja ya, aku gak hafal jalannya." ucapku.
Aku merogoh ponselku dari tas ranselku untuk mebuka Gugel Map. Saatku membuka ponselku, aku melihat notifikasi pesan dari Yokada.
...(Pesan Yokada)...
^^^"Hati-hati di jalan."^^^
^^^"Buburnya aku habiskan."^^^
...-------------------------------...
Orang itu. Gumamku dalam hati.
......................
"Ahh berhenti di depan," seruku mengagetkan.
Aku menunjuk sebuah tempat di pinggir jalan.
"Ayo." ajakku kepada Man.
"Hay Berbie," sapaku saat masuk kedalam Salon Kecantikan itu.
Berbie adalah satu penata rambut Senior profesional di Salon ini.
"Yuuhu, Krimbat, Smooting, atau Coloring? Atau Facial bhok? Gak pernah ye cobain Facial di sini." tutur Berbie gemulai.
"Aaa dia. Dia potong rambut. Aku ingin kamu memotong rambutnya, biar tampan, Okay." ucapku memukul pundak Man di sebelahku.
Aku mendorong Man agar maju ke depan menghampiri Berbie.
"Leave it to me," (Serahkan padaku) sahut Berbie menghampiri Man menuntunnya untuk duduk kursi pelanggan.
Man ternyalang melihatku.
Dia sempat menolak, tapi aku paksa dengan dalih-dalih itu sebuah perintah.
Aku tersenyum, berpaling duduk di ruang tunggu sembari melihat majalah busana. Aku juga Googling, cari-cari busana yang cocok untuk Man.
Hemm, yang mana ya?! Gumamku dalam hati.
Ya benar, aku tak ingin Man datang ke kantor bermuka dan berpenampilan brandalan seperti itu. Aku ingin dia terlihat rapi dan elegan agar orang bisa menyeganinya.
......................
Sekitar setengah jam aku menunggu, Berbie menyelesaikan pekerjaannya.
"Bagaimana? You like? Tampan kan?!" seru Berbie.
"Wao!" sahutku tercengang dengan hasil yang Berbie berikan. "Kau memang bisa di andalkan."
Man yang tadinya berambut kriwil gondrong di potong layered undercut membuat penampilannya menjadi segar, rapi dan cool.
"Okay dimana kasir?" tanyaku menuju kasir.
__ADS_1
"Why? Cepat amat? mau kemana sih?" tanya Berbie.
"Aku ada banyak urusan," jawabku. "Kapan-kapan rambutku juga butuh kamu belai. Sudah demo nih rambut."
"Okay, I wait." ucap Berbie memberikan selebar Bon.
"Bay Berbie, Thanks you, Muach," seruku melambai gemulai memberikan salam.
"Baaayyy," sahut Berbie.
"Cakep yo. Ora sah di pegang-pegang juga kalik," celetukku masuk ke mobil.
"Ngopow kudu potong rambot?" (Kenapa harus potong rambut?) protes Man tak terima.
"Aku pengen uwong-uwong delok kowe sebagai Big Man neng andengku. Dudu Big Man, Brandalan neng Incheon" (Aku ingin orang-orang memandang mu sebagai Big Man di sampingku. Bukan Big Man, preman di Incheon) jelasku serius.
Aku duduk tertegun di samping Man. Man menatapku dengan serius.
"Aku nguculke kowe, deleh kowe neng andengku, mergo aku ro kowe sak darah sak lemah. Dadi kudune kowe ngerti opow sek mbok tak jaluk neng awak mu. Aku ra jaluk luweh seko nyowo mu, aku ghor jaluk kowe dadi wong seng tumindak neng dalan seng becik, dudu semoto-moto kanggo wong lio, tapi kanggo awak mu dewe. Dhonyo iki memang peteng, tapi ra kabeh dhoyo iku peteng, iseh ono siseh seng padang. Percoyo'o ro aku." (Aku ngelepasin kamu, naroh kamu di sisih ku, karna kamu dan aku sedarah dan setanah. Jadi harusnya kamu tau apa yang ingin aku pinta dari mu. Aku gak minta lebih dari nyawa mu, aku cuman minta kamu jadi orang yang berbuat baik, bukan semata-mata untuk orang lain, tapi untuk dirimu sendiri. Dunia ini memang gelap, tapi gak semua dunia itu gelap, masih ada sisi yang terang. Percayalah pada ku.) sambungku.
"Emm, Suwun," jawab Man.
......................
Kami pun menuju ke Butik milik sahabatku, Lee Hani.
...****************...
...♡ BONUS ♡...
...----------------...
"Man, kamu kebelakang sebentar biar aku foto" titahku.
"Apa sih!" tolaknya.
"INI PERINTAH!" sergahku.
Man pun langsung turun untuk pindah di kursi belakang.
"Okay satu, dua, cekrek!!" ucapku.
"AKU YANG DI POTO KENAPA KAMU YANG GAYA!" sergah Man kesal.
"Ha ha ha O iya ya, lali," sahutku.
Aku memosting foto tersebut ke laman sosial mediaku. Tak ku sangka, hal itu mendapat tanggapan dari kedua sahabatku.
...(Komentar Kyun dan Jennie)...
...----------------...
Jennie : "Ya ampun. Siapa ini?"
Boy Kyun : "Siapa lagi kalau bukan Man,"
Jennie : "Sayang, aku lihat tempat yang waktu itu udah buka. Nanti kita ke sana ya, pumpung ada promo."
Boy Kyun : "Okay, Sayang."
Jennie : "Ahh, Love You,"
Boy Kyun : "Love You to,"
Coco Ha Jae : "Woy! Bayar pajak woy! Rumah orang buat pacaran. Di kira montel!"
...----------------...
"Is apa sih ni dua mahluk?! Akun orang buat pacaran. Berasa kaya setanya aku." jelesku melihat komentar Kyun dan Jennie.
"Aku bilangkan jangan Upload." celetuk Man.
__ADS_1
"Aku ra popo," sahutku.
...****************...