
Sore hari pukul 04:55.PM. Choi Ha Jae sampai juga di Daejeon. Dia pulang untuk menaruh kopernya dan langsung bergegas pergi ke Cafeshop. Kangen rasanya nongkrong di Cafe favoritnya.
Tringgg tringgg tringgg tringgg tringggg!! (bunyi bel tak berhenti aku mainkan dengan serius).
"Kya Nona, mustahil Eskpreso besar di Sore hari seperti gini?!" sapa Kyun.
Kyun terlihat menundukan badan jangkungnya ke arah Ha Jae. Dia berusaha melihat wajah Ha Jae yang serius tertuju ke Bell kasir. Hidung Ha Jae bahkan hapir menyentuh Bell berwarna hitam itu.
"Emang yang pesan Eskpreso siapa?!" sahut Ha Jae sedikit melirik ke atas.
Dia berusaha melihat wajah Kyun yang dengan serius memperhatikannya. Ha Jae lalu kembali memalinhkan pandangannya ke Bell di hadapannya. Terlihat dia begitu sangat bosan.
"Hei hei Bell nya nanti nangis," goda Kyun tersenyum menyeringai ke arah Ha Jae.
Kyun menyingkirkan Bell dari tangan Ha Jae dengan cepat.
"Jadi kenapa? sepertinya lagi gabut parah. Lama tak ketemu ya? Datang-datang mukanya masam gitu?" tanya Kyun dengan serius.
"Enggak." jawab Ha Jae datar seraya menegakkan badannya.
Ha Jae bergeming memandang Kyun. Ha Jae tersadar saat melihat penampilan Kyun.
"Hey sebentar!!" seru Ha Jae mengerutkan keningnya.
Dengan serius, Ha Jae memperhatikan Kyun yang sedang berdiri di hadapannya.
"Uuuwuuuuuuuu coba lihatttttttt!!" Mata Ha Jae ternyalang memandang Kyun, seraya menempelkan kedua tangannya di kedua pipinya.
Tercengangnya Ha Jae melihat penampilan Kyun dan semua pelayan yang terlihat sangat berbeda dari sebelumnya.
"Apa?! Gimana keren kan??" ujar Kyun berpose bak model.
"Kerennn bingitt!" seru Ha Jae dengan kagum.
__ADS_1
"Oh uh Mas nya juga, Kerennnn!!" imbuh Ha Jae menunjuk ke arah salah satu pelayan yang melintas di belakang Kyun.
"Oh hay Nona, lama tidak berkunjung?" sapa pelayan itu mengangkat tangannya dengan terus berjalan mengantarkan pesanan kepada pelanggan.
"Hemm." gumam Ha Jae mengacungkan jempolnya.
"Jadi jadi, apa yang aku lewatkan?! Kenapa seragammu berubah sekeren ini? Ya ampun!" sambung Ha Jae memegang seragam Kyun yang terlihat sangat keren.
"Eh kamu ini. Ini seragam sederhana seperti biasanya. Hanya karna aku aja yang pakai. Jadi sekeren Artis," ujar Kyun menyeringai dengan jailnya.
"Aku bilang keren karna warnanya hitam putih." sahut Ha Jae kesal.
"Tapi keren!!" imbuh Ha Jae mengacungkan dua jempolnya.
"Ha ha ha kamu ini. Jadi mau pesan apa?! Oh ya, gimana? Jadi urusanmu di Incheon sudah beres? Cafe jadi sepi gak ada kamu." cerocos Kyun menodong dengan banyak pertanyaan kepada Ha Jae.
"Eh, pipimu kenapa? Jerawatnya? Atau bisul?!" sambung Kyun memegang pipi kiri Ha Jae yang terbalut dengan perban.
"Iss kau ni!" Spontan Ha Jae menyikap tangan Kyun.
"Aku pesan Mocachino Double Coklat 1 dan Eskpreso Robusa 1 ya. Emmm..." titah Ha Jae.
Ha Jae memperhatikan seluruh ruangan pengunjung. Seperti sedang mencari sesuati.
"Aa..Ya antar ke singgasanaku." imbuhnya bergegas menuju kursi yang dia incar.
"Ha ha ha baiklah Coco. Selamat menikmati colokanya." goda Kyun tertawa kecil.
Kyun sampai hafal, jika colokan listrik yang selalu Ha Jae cari saat berkunjung ke CafeShop ini. Kyun memanggil Choi Ha Jae dengan panggilan 'Coco'.
Ha Jae yang sering memesan Mocachino dan Coklat hangat sebagai Menu faforitnya. Terlebih lagi, kulit Choi Ha Jae yang Sawo Matang sempurna. Terlihat eksotis bagaikan gumpalan Coklat yang di pahat. Sangat menyegarkan seperti di pantai. Maka dari itu, Kyun memanggilnya dengan sebutan Coco.
"Hahh.." Ha Jae menghela nafasnya seraya duduk di kursi yang hampir selalu aku tempati saat aku berkunjung di Cafe itu.
__ADS_1
Ha Jae memperhatikan sekelilingnya yang tak ada perubahan sedikit pun. Hanya saja pelayannya terlihat sangat keren dan mencolok bagaikan pelayan VIP Bintang 5.
Ini yang aku rindukan, suasana tenang daaann. Wi-Fi kencang tentunya. gumam Ha Jae dalam hati.
Ha Jae mengeluarkan ponsel miliknya dan menyambungkannya ke koneksi 'Free Wi-Fi'. Ia juga mengeluarkan sebuah Laptop dari ranselnya.
Pumpung di Cafe, kita lihat,, apa isi ponsel Senpai selama aku tak ada ha ha ha. Culas Ha Jae ketawa jahat dalam hati.
Choi Ha Jae pernah di ajari oleh Sanji untuk menyadap elektronik orang lain. Dan Yokada adalah kelinci percobaan yang empuk. Ya walau sering ketahuan. Tak masalah bagi Ha Jae. Itu juga lah yang menjadilan hubungan mereka semakin lekat dan seru.
Dan itu juga, salah satu alasan Ha Jae kenapa Cafe ini jadi tempat tongkrongannya. Bisa terkoneksi dengan Wi-Fi yang kencang dan yang pasti bisa konek dengan ponsel Yokada di sebrang gedung sana. Ha Jae bisa dengan leluasa mengaksesnya ponsel Yokada.
Emm tunggu dulu. Masak baru say hello terlepas dari Malaikat Jibril, sekarang mau buat Dosa aja. Aku kan baru aja selesai kerja, masa iya langsung tegangin otak. Mending aku nge-Game aja dulu buat senangin hati, Ya ya ya. Gumam Ha Jae dalam hati.
Ha Jae menutup dan memasukan kembali Laptop miliknya kedalam ranselnya. Dia meraih ponsel dan handset yang ia simpan di kantong tasnya.
Tadi di perjalanan, aku sempat men-download sebuah Game yang di adaptasi dari flim favoritku. Sayang rasanya jika aku tak langsung untuk mencobanya. Batin Ha Jae.
"Annyeong haseo." sela seseorang menghampiri Ha Jae.
Klunting. (bunyi gelas yang di taroh di atas meja).
"Tumben cepet. Aku pesan 2 pesanan ya." sahut Ha Jar masih serius memandangi layar ponselnya.
Ha Jae mencoba melirik ke atas meja, setelah tak mendapatkan jawaban dari pertanyaannya. Terlihat jelas gelas putih panjang yang berada di hadapannya.
Latte?! Gumam Ha Jae dalam hati.
Gelas pengunjung di sini memang di beda-beda sesuai pesanan mereka. Jadi pelanggan bisa tau apa yang pengunjung lain pesan hanya dengan melihat warna cangkir/gelas yang di gunakan. Terlebih lagi, tertulis nama pemesan di setiap gelas/cangkirnya. Itulah uniknya Cafeshop ini.
Ha Jae semakin penasaran dengan siapa gerangan yang menaruh segelas Latte di mejanya. Ha Jae mencoba melirik siapa yang mengantarkan pesanan itu.
HAHHH?!!!! sentak Ha Jae dalam hati.
__ADS_1
...****************...