Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Jantung Yang berdebar


__ADS_3

Dua jam setelah itu Yokada dan Shin Ji Joon selesai dengan acara makan siang mereka. Mereka ingin kembali ke kantor SJ Entertaintment.


Tapi saat berjalan melewati Cafe Shop, Shin Ji Joon yang merada di dari luar cafe, melihat Choi Ha Jae yang masih berada di tempat itu.


"Sepertinya dia sedang menunggu seseorang." tanya Shin kepada Yokada.


"Bocah itu. Dia memang hampir setiap hari di Cafe ini. Selain dekat dengan Klinikku. Cafe ini ada layanan Wi-Fi gratis yang kencang. Lihat saja dari tadi dia tidak meletakkan ponselnya." jelas Yokada.


"Main Game?" tanya Shin tersenyum melihat Ha Jae dari balik kaca Cafe.


"Apa lagi?! Sudahlah, ayo. Jangan hiraukan dia." ucap Yokada.


Mereka pun kembali berjalan menuju kantor SJ Entertaintment. Sesampai di kantor, mereka membahas project iklan milik Yokada. Iklan produk kecantikan pertama yang di luncurkan setelah cabang ke dua di buka di Daejeon.


"Halo." ucap Yokada kepada seseorang di ujung telepon.


"Senpai. Neng di?" (Senpai. Dimana?) tanya Ha Jae dari ujung telepon.


"Oo, aku neng kantor're Ji Joon. Ono opow??" (Oo, aku di kantornya Ji Joon, ada apa?) sahut Yokada.


Mendengar jawaban Yokada, tanpa sebab Choi Ha Jae mematikan telepon itu. Yokada pun kesal dengan sikap Choi Ha Jae tersebut. Dia bingung dengan apa sebenarnya maksut Choi Ha Jae meneleponnya.


"Hais, bocah ini! Gak jelas!" gumam Yokada kesal.


Dia menaruh ponselnya di atas meja sofa di depannya. Shin Ji Joon yang melihat akan hal itu, mulai penasaran. Tanpa ragu dia menanyakan akan hal itu.


"Siapa?" tanya Shin.


"Ha Jae. Dasar bocah, nelpon hanya tanya di mana." jawab Yokada kesal.


"Mungkin dia mencarimu di klinik." ucap Shin.


"Entahlah." sahut Yokada menyruput kopi di depannya. "Kalau gitu aku pulang dulu. Ini sudah sore, aku juga harus ke Klinik untuk ambil laporan. Sampai jumpa lagi."


Yokada bangkit dari duduknya dan bergegas keluar dari ruangan Shin Ji Joon. Shin pun dengan ramah mengantarkan Yokada ke depan gedung.


"Okay. Hati-hati di jalan. Mari aku antar sampai depan." ucap Shin.


"Ahh kau ini. Aku jadi merasa tua." ucap Yokada.

__ADS_1


"Jadi masih merasa muda nih? Ha haha." gurau Shin.


"Ha hahah, bisa saja." sahut Yokada menepuk punggung Shin.


......................


"Permisi, Tuan Muda. Ini ponsel, Tuan." sapa Sekertaris Yang menghampiri Shin Ji Joon yang sudah sampai di depan kantor.


"Oh, ya. Terimakasih." ucap Shin.


"Sampai sini saja. Aku pulang dulu. Terimakasih." ucap Yokada.


"Ya terimakasih kembali. Hati-hati di jalan." sahut Shin.


Shin Ji Joon langsung kembali ke ruangannya. Dia membuka ponselnya yang terlihat banyak sekali telpon masuk. Belum berapa lama dia melangkah, seorang resepsionis menghampiri dirinya.


"Maaf, Pak. Tadi ada seseorang menitipkan berkas ini untuk Pak Derektur. Katanya berkas ini dari Mr.Yokada." ucap Resepsionis itu.


"Oh. Siapa yang mengantarnya?" tanya Shin mengambil berkas itu dari tangan Resepsionis itu.


"Seorang wanita muda, Pak. Namanya kurang tau. Dia hanya datang dan menanyakan Bapak ada di kantor atau tidak. Lalu Nona itu menitipkan berkas itu dan pergi." tutur Resepsionis itu.


"Wanita?" gumam Shin.


"Ya sudah. Terimakasih." ucap Shin kepada Resepsionis itu.


"Baik Pak. Permisi." sahut Resepsionis itu pergi meninggalkan Shin.


Shin Ji Joon kembali berjalan menuju lift. Dia kembali melihat ponselnya sembari menuju lift. Shin Ji Joon tetiba ternyalang saat melihat notifikasi panggilan tak terjawab dari Choi Ha Jae. Dia juga melihat ada pesan dari Choi Ha Jae yang di kirim pagi tadi.


...(Chat From Choi Ha Jae)...


...----------------...


"Selamat pagi Pak Shin Ji Joon. Maaf jika mengganggu waktu Anda."


"Saya ingin memberikan Berkas dari Pak Yokada. Bisakah siang nanti kita bertemu di Cafeshop??"


"Saya akan menunggu pukul 12.30 siang nanti. Terimakasih atas waktunya."

__ADS_1


...----------------...


Shin Ji Joon tetiba menghentikan lift yang hampir tertutup. Dia melihat jam tangannya yang menunjukan pukul 03:36 sore.


Shin Ji Joon tetiba meberikan berkas kepada Sekertaris Yang yang berdiri di sebelahnya. Shin Ji Joon bergegas keluar dari dalam lift itu.


"Sekertaris Yang. Tolong urus pekerjaan saja dulu. Saya ada urusan penting." titah Shin yang langsung berlari beranjak dari tempat itu.


Shin Ji Joon dengan terburu-buru masuk kedalam mobilnya. Dia melesatkan mobil itu dengan cepat menyelusuri jalan yang ramai dengan kendaraan. Shin Ji Joon berharap, Choi Ha Jae masih di tempat itu.


Sesampai di Cafe Shop tempat di mana Choi Ha Jae membuat janji dengannya. Suasa lumayan ramai di sana. Tapi Shin Ji Joon, tidak melihat Choi Ha Jae berada di tempat itu.


"Hah! sial!" batin Shin.


Shin berdiri terengah-enggah melihat kursi yang di pakai duduk oleh Ha Jae tadi siang.


"Jadi, tadi dia menungguku. Sial! Kenapa jadi seperti ini. Pasti dia sangat kecewa dengan ku." gumam Shin dalam hati.


Shin Ji Joon tersenyum menyeringari akan hal itu. Bagaimana bisa dia dengan bodoh itu meninggalkan ponselnya. Jika dia tak meningalkan ponselnya. Pasti dia sudah bersama Choi Ha Jae seharian ini.


"Choi Ha Jae, dia ... " batin Shin tersenyum menyeringai.


...----------------...


Keesokan harinya selepas dia dari kantor. Shin Ji Joon kembali ke tempat itu. Dia memilih tempat duduk paling ujung Cafe itu.


"Hai, Boy ku."


Terdengar suara yang tidak asing bagi Shin Ji Joon. Seperti dugaannya, itu adalah Choi Ha Jae. Shi Ji Joon berusaha menutupi wajahnya dengan surat kabar (koran) yang sengaja dia bawa.


"Capucino Double Cokolate okay." seru Ha Jae.


"Siap Coco." seru Kyun. "Ada yang lain?"


"Kue Cokolate.." jawab Ha Jae belagat Italia.


"Pronto signorina!!" (Siap Nona) seru Kyun menjawab dengan semangat.


Choi Ha Jae langsung menuju tempat duduknya. Choi Ha Jae kembali memilih tempat duduk yang dia gunakan kemaren itu. Shin Ji Joon tersenyum manis melihat itu. Ingin sekali dia menghampiri Choi Ha Jae, tapi agaknya nanti dulu.

__ADS_1


"Silahkan pesanannya, Pak." ucap seseorang pelayan mengagetkan Shin Ji Joon.


...****************...


__ADS_2