Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Yang Tak Terlihat


__ADS_3

"Hei. Sebelum kau membeli rumah ini, dia sudah menempati rumah ini. Sebelum kau lahir, dia sudah di lahirkan duluan. Lalu apa yang kau takuti?!" ucap Ha Jae merasa kesal dengan Yokada.


"Siapa dia?!" tanya Yokada.


...----------------...


"Aku mau mandi." ucap Ha Jae bergegas pergi ke dalam kamar mandi.


Yokada yang masih merasa ngeri memutuskam untuk tetap tinggal di kamar Ha Jae.


Kremicik air dari shower kamar mandi yang memberikan tumpahan air hangatnya, membuat Ha Jae merasa nyaman dan rileks. Basuhan demi basuhan dia nikmati. Tak terasa Ha Jae pun bersenandung dengan merdunya.


"Lir-ilirrrr Lir-ilirrr, Tandu ... "


Braakkk!!


Baru dua bait belum selesai Ha Jae bersenandung. Ha Jae di kagetkan dengan tingkah Yokada yang menggebrak pintu kaca tempat Ha Jae membasuh badannya.


"Oe!! Gak bisa ganti lagu lain, hah?!" protes Yokada.


Spontan Ha Jae pun terperanjat kaget dengan keberadaan Yokada di dalam kamar mandinya.


"KYAA!!! SEDANG APA KAMU DI SINI?! MAU MATI HAH?!" hardik Ha Jae kesal.


"YHAA!! KAU BERANI DENGANKU HAH?!" hardik Yokada membalas.


"TIDAK. Aku cuman ... " sahut Ha Jae luluh.


"Hais, bocah ini!" gumam Yokada kesal. "Walau kau telanjang bulat di depanku, aku tidak akan pernah nafsu, mengerti. Ambil andukmu dan cepat mandinya!"


Yokada melempar selembar handuk dari atas pembatas kaca. Ha Jae pun menangkap handuk itu dengan kesal.


"Apa sih?!" gumam Ha Jae kesal.


"Hais, bocah tengik. Udah mandi lama, kamar mandi berantahkan." gerutu Yokada.


Yokada mencuci tanganya di wastafel tempat penyimpanan pakaian sebelah kamar mandi itu.


Tak berapa lama Ha Jae memunculkan kepalanya dari balik tembok arah kamar mandi.


"Senpai," panggil Ha Jae.


Yokada pun terperanjat di buatnya. "Kya! Opow?!" sergah Yokada


Dengan kesal Yokada melempar tisu yang sudah basah bekas di tangannya ke arah Ha Jae.

__ADS_1


"Minta bajuku itu." ucap Ha Jae menunjuk baju di atas lemari kecil yang sudah dia siapkan untuk di pakai.


Yokada pun mengambil baju itu dan memberikannya kepada Ha Jae. Setelah selesai mengenakan pakaiannya. Ha Jae menuju ke wastafel samping Yokada yang sedang duduk memainkan ponselnya. Ha Jae meraih sebotol vitamin hair, menuangkan produk dam mebasuhkannya merata ke rambut panjangnya yang basah.


Yokada yang melihat hal itu bangkit dari duduknya, mengeluarkan hair dryer dari lemari kecil di sampingnya dan menghidupkannya.


"Berikan rambutmu." ucap Yokada.


Yokada mengusap lembut rambut Ha Jae dan mengeringkannya. Ha Jae yang sudah terbiasa dengan perhatian Yokada, dengan santai menikmatinya.


"Siapa dia?!" tanya Yokada.


"Nani?!" sahut Ha Jae datar.


"Yang kamu maksud tadi?" tegasnya.


"Hantu?!" seru Ha Jae.


Yokada hanya diam dengan serius mengeringkan rambut Ha Jae. "Kenapa hidupku sesial ini, harusnya aku tidak membeli rumah ini."


"Sial? Senpai aja yang berfikir negatif. Padahal, jika di lihat kenyatanya, itu sebuah keberuntungan buatmu bukan?!" pungkas Ha Jae menyeringai.


"Hmm, bocah tengik." guman Yokada merasa terpojok. "Kya, kenapa rambutmu panjang sekali, hah?! Kau harus memotongnya mengerti."


"Gak mauk! Ini mahkotaku tauk!" sergah Ha Jae kesal.


Yokada hanya berdiri terpaku melihat sebuah lukisan besar yang berada tepat di dinding ranjang Ha Jae. Lukisan wanita yang tak asing bagi Yokada.


Terlihat wajah yang sangat anggun dan tenang yang terpampang jelas di lukisan itu. Tapi ntah kenapa, lukisan itu begitu mengerikan untuk Yokada.


"Kenapa kau masih pasang lukisan ini. Harusnya kau buang atau simpan di gudang." ucap Yokada.


"Yang punya gak boleh." ucap Ha Jae datar.


"Siapa?!" tanya Yokada.


"Wanita itu?!" jawab Ha Jae.


"Wanita siapa maksudmu?! Jangan bercanda kau!" ucap Yokada kesal.


"Wanita yang kau lihat. Kalau gak percaya, tanya aja sendiri. Dia di belakangmu." tutur Ha Jae asik dengan camilannya.


Spontan yokada menoleh kearah belakangnya. Dia memperhatikan setiap sudut ruangan dengan khawatir.


"Haiss." gumam Yokada.

__ADS_1


Yokada naik keatas kasur untuk bersembungi di belakang Ha Jae.


"Aku harus mencari pengusir setan. Harus!" ucap Yokada.


"Tapikan dia pemilik rumah ini?" ucap Ha Jae "Jika kau mengusirnya paksa. Hidupmu yang akan hancur. Arwah yang penasaran itu punya energi tersendiri. Apa lagi sampai bisa menampakan diri di depam orang biasa sepertimu. itu artinya powernya sudah cukup kuat. Ada 1 hal lagi ... "


Belum Ha Jae selesai berbicara. Dia berbalik menghadap ke arah Yokada.


"Dia gentayangan karna punya tujuan. Jika tujuannya di ganggu dengan cara mengusirnya. Hal lain akan dengan mudah menghasutnya dan menguasainya. Seperti Iblis, dia akan dengan senang hati menawarkan diri untuk memberikan power yang lebih kuat untuk hantu itu. Agar dapat melawan orang yang mengusiknya dan mencapai tujuannya. Walau dia harus menyerahkan diri sebagai abdi di neraka. Hantu seperti itu akan dengan mudah terhasut. Karna di dunia, dia tidak punya harapan dan tujuan lain selain itu." sambung Ha Jae.


"Apa tujuannya?" tanya Yokada penasaran.


"Shin Ji Joon," bisik Ha Jae dengan serius.


"Jadi hantunya itu,, dia?!" tanya Yokada menunjuk lukisan besar di atasnya.


"Hemm." gumam Ha Jae mengangguk.


"Haiss! Bocah tengik!!" seru Yokada menjitak kepala Ha Jae.


Dengan kesal dia bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.


"Hei, berhenti berbual! Aku tidak akan tertipu lagi dengan leluconmu itu!" sergah Yokada kesal.


"Aku ra ngapusi! Kyaa! Ra percoyo?! Pengen bukti?! Ha?!" seru Ha Jae tak terima.


Yokada tak menghiraukan sedikit pun Ha Jae. Dia turun ke lantai bawah dengan kesalnya. Ini sudah yang kesekian kalinya Yokada merasa tertipu dengan gurauan Ha Jae.


Walau sebenarnya, Yokada mempercayai semua itu. Karna memang dia tau, bahwa di dunia ini, banyak sekali hal yang sulit di cerna oleh nalar manusia. Seperti Ha Jae yang ada dalam hidup Yokada.


...****************...


...BONUS!!...


...----------------...


Akhirnya Ha Jae dan Yokada pun memutuskan untuk melakukan ritual pemanggilan roh gentayangan yang bersemayam di rumah itu.


Dengan gayung plastik dan celana dalam milik Yokada, Ha Jae membuat sebuah boneka Jalangkung.


Sebenarnya Ha Jae tak sungguh-sungguh melakukan hal konyol seperti itu. Tapi karna Yokada begitu penasaran dan tidam yakin dengan apa yang dia katakan. Ha Jae memutuskan untuk mengerjai Yokada dengan jiwa jailnya.


"Yha, pegang bonekanya." titah Ha Jae.


Yokada menuruti apa saja yang di perintahkan oleh Ha Jae, walau sebenarnya di ragu dan tak yakin dengan semua itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2