Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Jiwa Yang Kembali Mati


__ADS_3

Tap tap tap.


Ngekk!


"Kenapa kau baru datang?! Aku menunggumu dari kemaren." tegur Sanji.


"Aku ada urusan." sahut Ha Jae. "Jiji, duduk."


"Siapa dia?!" tanya Sanji.


"Dia Jimmy, artis dari Goun Yong. Dia milikku," jelas Ha Jae. "Aku akan menjeput Aiko dan Kyabusa. Rebut semua milik Goun untukku,"


"Hi hi hi hi, kau ini. Sejak kapan kau haus kekuasaan, hah?" sahut Sanji.


"Aku akan menghadiahkannya untuk Yokada. Sebagai ganti, karna dia sudah mengijinkanku buka usaha kecil-kecilan." jelas Ha Jae. "Bukannya dulu kau juga menghadiahkan Asian Groub untuk Yokada?!"


Sanji sibuk dengan dirinya sendiri seolah tak menghiraukan Ha Jae. Sedangkan Jimmy hanya diam tak mengerti apa yang mereka bicarakan.


"Kalau begitu, kenapa tidak kau lakukan sendiri?! Kau tunjukan, bahwa kau mampu menghadiahkannya," tutur Sanji.


"Kalau gitu, aku tidak dapat menjemput anak-anakmu," sahut Ha Jae. "Aku banyak urusan dan tak ada waktu banyak,"


Sanji hanya terdiam. Dia melirik ke arah Jimmy yang sedang memperhatikan mereka berdua. Ha Jae pun memperhatikan Sanji dengan serius. Cukup lama mereka saling bertatap-tatapan.


"Mani, Mani, Mani. Baiklah. Akan aku lakukan untukmu," Sanji mendekat ke arah Ha Jae. Dia membelai kerudung navi yang Ha Jae kenakan. "Bawa mereka kembali kepadaku," bisik Sanji di depan telinga Ha Jae.


Ha Jae hanya menyeringai. Dia melihat Jimmy yang seolah tak menghiraukan mereka.


"Jaga boneka beruangku satu ini. Aku yakin Goun pasti akan mengincarnya," ucap Ha Jae.


"Boneka?!" tanya Sanji menunjuk ke arah Jimmy.


"Dia Artis. Dia aset berhargaku," jelas Ha jae.


Ha Jae menghampiri Jimmy yang duduk di hadapannya. Dia mendekatkan wajahnya ke wajah Jimmy.


"Dengar, mukanya jangan sampai lecet sedikit pun. Ada pekerjaan yang menantinya nanti," tutur Ha Jae.


Ha Jae meraih tas miliknya dan pergi meninggalkan Jimmy di ruangan itu bersama Sanji. Ha Jae harus segera bergegas menyelesaikan urusannya.


......................


Ngekkkk!


"Dari mana kau?!" tanya Yokada.


"Hemm, kau belum tidur?!" Ha Jae menghampiri Yokada yang duduk di sofa kamarnya. Tanpa ragu, Ha Jae merangkul dan mengecup pipi Yokada, "Muach. Aku ada urusan ke Jepang,"


"Sanji?!" tanya Yokada.


"Emm. Tidak lama, aku titip anak-anakku lagi." tutur Ha Jae.


Yokada hanya termanggu tak mengeluarkan suara sedikit pun. Ha Jae beranjak dari tempat itu. Dia ingin keluar dari kamar Yokada. Baru beberapa langkah dia beranjak. Ha Jae tertegun saat melihat sebuah kertas yang tergeletak di atas meja TV.


"Shin?! Apa itu?!" batin Ha Jae.


Ha Jae pun menghampiri selembaran undangan itu. Dia melirik ke arah Yokada yang masih termangu sebelum membuka lembaran itu.


"Undangan?!" batin Ha Jae.


Ha Jae ternyalang saat membaca isi undangan itu. Undangan pertunangan Shin Ji Joon dan Julia yang sudah berlangsung beberapa hari lalu. Ha Jae kembali menutup undangan itu, dan melihat ke arah Yokada. Yokada yang tak tau harus berbicara apa pun, memalingkan pandangannya dari Ha Jae.


Ha Jae meletakkan kembali undangan itu dan coba dengan santai keluar dari kamar Yokada.


"Hagh,"


"Tunangan?! Jadi ... " batin Ha Jae.

__ADS_1


"Hemm,"


Ha Jae bergegas menuju ke dalam kamarnya. Dia begitu sangat terpukul. Sesak rasanya dada Choi Ha Jae.


"Mama," seru Haneul dari meja bar.


Ha Jae tak menghiraukan Haneul. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Haneul yang penasaran pun pergi menyusul Ha Jae.


"Mama," panggil Haneul.


Ha Jae duduk termanggu seperti kehilangan akal di meja kerjanya. Dia tak tau harus berbuat apa. Air matanya tanpa sadar mengalir bergitu saja.


Ha Jae terus menyeka air matanya. Tapi air mata itu terus mengalir dengan sendirinya. Haneul yang melihat itu pun tertegun di hadapannya.


"Mama, Mama kenapa?! Mama tidak apa-apa?!" tanya Haneul dengan panik.


Haneul mendekat ke arah Ha Jae. Dia berusaha mengusap air mata Mamanya itu. Namun Ha Jae yang kehilangan akal. Meluapkan emosinya kepada Haneul.


"Mama, Mama sakit?!" panik Haneul.


"Tidak apa-apa, pergilah," titah Ha Jae.


"Mama," Haneul menyeka air mata Ha Jae.


"Pergi," Ha Jae terus menepisnya.


"Ma-," Haneul terus mencoba menyeka air mata Ha Jae.


"PERGI!" sergah Ha Jae.


Dengan tetiba, tubuh Haneul terhempas bergitu saja. Haneul terjatuh terlentang ke lantai. Haneul yang melihat Ha Jae begitu emosi pun langsung bangkit dan keluar kamar. Ha Jae yang menyadari bahwa Haneul begitu ketakutan pun menyusulnya keluar.


"Haneul! Haneul. Maaf, maaf. Maafkan Mama," Ha Jae menarik tubuh Haneul dan memeluknya dengan erat.


"Tidak. Aku tidak sendiri. Kau anakku. Aku punya kalian. Tidak apa-apa. Aku tidak apa-apa. Aku punya kalian," batin Ha Jae.


Haneul terlihat bingung dengan sikap Ha Jae. Dia berpaling dan menyambut pelukan Ha Jae dengan erat.


"Mama,"


Ha Jae meneteskan air matanya di pelukan Haneul. Nami dan Yuri yang melihat itu pun terlihat bingung dengan apa yang terjadi.


"Kenapa kalian diam?! Kemarilah, peluk Mama," titah Ha Jae.


Yuri dan Nami pun bergegas menghampiri Ha Jae dan memeluknya. Mareka pun bersama berpelukan dengan eratnya. Wajah Ha Ja terlihat sangat damai di pelukan ketiga anaknya.


Yokada yang sudah berdiri di atas tangga, hanya bisa tertegun melihat pemandangan yang haru itu. Dia tak menyangka, Ha Jae dapat bersikap setenang itu. Yokada pikir, Ha Jae benar-benar akan terpuruk dengan kabar dari Shin Ji Joon.


"Mama. Mama kenapa nangis," tanya Nami.


"Sudah diam, Mama sedang bahagia karna ada kalian. Mama terharu membayangkan sebentar lagi jadi nenek," sahut Ha Jae.


"Nenek?! Memang siapa yang akan melahirkan?!" tanya Yuri.


"Hai, kalian sudah sebesar-besar ini. Pasti sebentar lagi punya pacar dan menikahkan?" jelas Ha Jae.


"Ah, Mama. Aku tidak mau. Aku mau kuliah dan jadi Hakim. Hemm," sahut Yuri.


"Aku juga ingin jadi Polisi," timpal Nami.


Ha Jae melirik ke arah Haneul yang terdiam di samping Ha Jae.


"Dan kau?!" tanya Ha Jae.


Haneul bingung dengan pertanyaan yang di lontarkan Ha Jae. Dia masih kepikiran dengan apa yang baru saja dia alami.


"A-ku ...," Haneul menundukan kepalanya dengan sendu.

__ADS_1


"Jadi Dokter yang hebat. Ingat cita-cita itu," tutur Ha Jae. "Kau harus berusaha mencapainya. Mengerti,"


Haneul menegakan pandangannya dan tersenyum lebar ke arah Ha Jae. Seakan dia sangat setuju dan bersemangat dengan apa yang Ha Jae ucapkan.


"Dia benar-benar sudah berubah. Aku yakin, dia akan bisa melakukan itu. Semoga saja, dia bisa kembali hidup dan hidup seperti yang lainnya." gumam Yokada dalam hati


......................


Tiga hari berlalu setelah kejadian itu. Ha Jae sudah menyelesaikan urusannya. Dia mengunakan kekecewaan hati dan kemarahannya untuk menyelesaikan tugasnya.


...(comingsoon, baca cerita "Urup" untuk tau adegan ini)...


"Bagaimana! Masa aku juga yang harus turun tangan," ucap Ha Jae.


"Mani, sayang. Kau memang hebat. Itu keren sekali. Dari mana kau mempelajarinya?! Dari pemungkiman itu?!" tanya Sanji mendekat ke arah Ha Jae.


"Pondok," sahut Ha jae.


"Ahh, apa pun namanya. Apa aku juga bisa mempelajarinya," tanya Sanji.


"Urus bangkai-bangkai ini. Aku ada urusan lain," titah Ha Jae.


"Kau berani menyuruhku?! Hai, aku ini ... " Sanji tidak meneruskan ucapannya setelah melihat sorot mata Ha Jae yang penuh dengan kemarahan. "Baiklah, okay. Sampai jumpa Nami sayang,"


Ha Jae meninggalkan tempat itu dengan santainya. Darah yang hampir memenuhi tubuhnya. Tak membuat Ha Jae takut atau risih sedikit pun. Itu seperti sudah menjadi makanannya setiap hari.


"Aku mati untuk ke dua kalinya. Padahal aku belum merasakan bagaimana hidup itu sesungguhnya. Apa memang hidup seperti ini?! Apa harus sesakit ini?! Apa memang sudah takdirku?!" ucap Ha Jae dalam hati.


Ha Jae berhenti dan menatap Goun yang sekarat di atas kursi meja kerjanya. Terlihat jelas ketakutan di mata Goun. Ha Jae memberikan tatapan tajam sebelum dia pergi meninggalkan tempat itu.


......................


Bhukk!


Ha Jae meletakkan beberapa berkas di meja Yokada.


"Itu untukmu," ucap Ha Jae.


"Apa itu?!" tanya Yokada yang berdiri di depan jendela.


Ha Jae menghampiri Yokada dan memeluknya dengan manja. "Hadiah Tahun Baru. Aku harap kau suka?!" tutur Ha Jae.


"Aku sudah bilang. Hentikan semuanya," tutur Yokada menatap Ha Jae tajam.


Ha Jae semakin erat memeluk Yokada. Dia hanya diam seakan sedang memikirkan sesuatu.


"Aku sudah memberikan hidup kepadamu. Jadi jangan sia-sialkan." sambung Yokada.


"Apa aku pantas, Tuan?!" tanga Ha Jae. "Aku ... "


"Aku tau. Aku tau semuanya," ucap Yokada menjauhkan tubuh Ha Jae. "Dengar. Kau punya kami. Haneul, sahabat-sahabatmu, bagaimana dengan dua kucing yang baru kau pungut?!"


Yokada meraih wajah Ha Jae yang tertunduk tersendu itu. "Aku salah melahirkan Iblis seperti Sanji. Jadi jangan sampai kau menjadi sepertinya," imbuh Yokada.


"Hemm," gumam Ha Jae.


Ha Jae memalingkan pandangannya dari Yokada. "Aku mencoba, aku terus mencoba. Dan akan tetap terus mencoba," tutur Ha Jae. "Aku pantas untuk hidup, Tuan. Mereka hidupku. Ini hidupku. Dan aku tau apa yang harus aku lakukan dalam hidupku. Karna hidupku, juga milik Tuan,"


Yokada tertegun melihat Ha Jae. Seakan dia sedang memikirkan sesuatu. "Tuan, aku ini Tuanmu bukan. Jadi turuti perintahku," ucap Yokada.


Yokada kembali ke meja kerjanya. Ha Jae masih berdiri di depan jendela. Ha Jae tertegun melihat ke luar jendela. Dia melihat Kyun yang sedang melayani pelanggan yang jauh di sebrang sana.


"Aku hanya akan menuruti takdirku, Tuan. Dan inilah Takdirku." sahut Ha Jae.


"Takdir?! Memang apa takdirmu?!" tanya Yokada.


"Hidup." jawab Ha Jae tersenyum menyeringai ke arah Yokada.

__ADS_1


Yokada pun hanya diam tak habis pikir dengan apa yang Ha Jae ucapkan. Dia yakin, dia tidak akan mengikuti perkataan Yokada. Ha Jae akan terus terombang-ambing di hidup Yokada yang belum semua orang tau kebenarannya.


...****************...


__ADS_2