
Malam yang sudah larut, semua sudah terlelap dalam tidurnya, kecuali Ha Jae. Dia mengenakan jaket hitamnya yang membuat tubuhnya menyatu dengan kegelapan malam.
Ha Jae menunggangi motor sport hijau milik salah satu penghuni pondok itu untuk pergi ke sesuatu tempat. Dia melajukan motor sport itu menembus kegelapan malam. Tikungan demi tikungan dia lalui. Tanjakan dan turunan bukit menjadi medan utama yang harus dia nikmati.
Tak berapa lama, Ha jae menghentikan laju motornya. Dia berhenti di sebuah jalan besar perkotaan. Ha Jae duduk di atas motor sport itu seakan sedang menunggu sesuatu.
Tak berselang lama, datanglah sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan Ha Jae. Keluarlah dua orang dari dalam mobil itu. Dua orang yang memiliki tubuh tinggi dan kekar. Usia mereka terpaut tak jauh berbeda. Mereka menghampiri Ha Jae dan memberikan hormat.
"Selamat malam, Nona." sapa kedua orang itu.
"Bagaimana? Di mana dia?" tanya Ha Jae.
"Dia di dalam, Nona." ucap salah satu orang itu.
Salah satu dari orang itu mengetuk pintu mobil. Berlahan kaca mobil bagian belakang terbuka. Nampaklah Jimmy yang sedang duduk diam di belakang jok mobil itu. Terlihat jelas dia sangat marah dan kesal oleh sesuatu.
"Hai tampan." ucap Ha Jae mendekat ke arah jendela mobil.
Ha Jae bersandar di jendela mobil itu agar dapat lebih dekat dengan Jimmy.
"Kenapa kok cemberut gitu?! Ngomong-ngomong ganteng juga ya kalau cemberut gitu." goda Ha Jae.
Ha Jae menyentuh dagu Jimmy untuk meminta pandangannya. "Kyaa! Kok sepet gitu sih?" tegur Ha Jae.
Jimmy menoleh menatap mata Ha Jae. "Apa mau mu?!" tanya Jimmy.
"Kau bahagia dalam hidupku." sahut Ha Jae. "Ayolah. Menjadi milikku bukan berarti kau tak bisa hidup dalam hidupmu. Aku tak sekejam Goun Yong, mengerti."
Ha Jae menatap Jimmy dengan bangganya. Dia seolah ingin Jimmy tau, bahwa dia bukan orang yang bisa di permainkan.
"Kau masih bisa menjadi artis. Masih bisa gonta-ganti pacar, teman tidur. Bahkan kau masih bisa dengan puas peluk dan cubit teddy bear mocca mu itu, okay." imbuh Choi Ha Jae tertawa menyeringai.
Jimmy memalingkan wajahnya dari pandangan Ha Jae dengan sengitnya.
"Aku tak bisa bicara lama-lama. Aku harus tidur biar esok pagi bisa ngopi dengan semangat." tutur Ha Jae. "Sampai jumpa lagi di Korea. Yang bahagia ya, Priaku."
Ha Jae memegang gadu Jimmy untuk memberikan senyuman manis kepadanya. "Jangan lupakan tugasmu." imbuh Ha Jae berbisik lirih pada Jimmy.
Jimmy terlihat tak bergeming. Dia dengan kesal menutup kaca mobilnya. Ha Jae berpaling dan menghampiri dua orang yang berdiri tepat di belakangnya. Ha Jae meminta kepada dua orang itu untuk pastikan Jimmy selamat sampai bandara.
"Lakukan tugas kalian. Jangan temui aku lagi jika tidak aku minta. Bayaran kalian akan aku transfer setelah tugas kalian selesai." titah Ha Jae.
"Baik, Nona. Serahkan semua kepada kami." ucap salah satu orang tersebut sebelum kembali ke dalam mobil.
__ADS_1
Mobil itu berlahan berjalan meninggalkan tempat itu. Melesat cepat di tengah gelapnya malam. Ha Jae tersenyum menyeringai melihat mobil hitam itu hilang dari pandangannya.
"Hemm. Jadi begini rasanya hidup." batin Ha Jae.
Ha Jae bergegas menunggangi motor yang dia bawa. Dia melaju cepat meninggalkan tempat itu menerjang kegelapan. Sesampainya di pondok, Ha Jae bergegas masuk ke kamarnya untuk istirahat malam itu.
......................
"Lempar sini lempar!!" Suara anak-anak yang sedang bermain mengisi suasana pagi itu.
"Ihhh menikmati waktu sih menikmati waktu!! Tapi gak usah main jungkar-jungkir sama anak-anak juga kalik!!" pekik gadis berambut pirang mencuri perhatian Ha Jae.
"Biarin aja napa sih. Perasaan kamu sensi banget sama sahabat sendiri." sela Ha Jae sudah berdiri di sebelah gadis berrambut pirang itu.
"Lo lagi!! Lo bisa gak sih kalau dateng tu nyapa dulu. Gak ujuk-ujuk nyrobot aja!" sergah gadis itu terkejut dengan kedatangan Ha Jae.
"Busettt!!! Galak banget." keluh Ha Jae.
Ha Jae tersenyum tipis melihat gadis berrambut hitam. Dia begitu sangat bahagia dapat bermain bersama anak-anak pondok. Berasa tak ada dosa dan tekanan hidup sama sekali dalam wajahnya.
"TRE!! PLIS DEH!! LO GAK HARUS GITU JUGA KALIK!!" sergah gadis berrambut pirang itu sekali lagi. "Malu tauk di lihat orang!! Lo gak nyadar apa?!"
"Ha ha ha ha!! Ta, sini deh seru banget." seru gadis berrambut hitam itu berusaha mengajak temannya untuk bergabung.
"Ogah!! Hidup gua masih panjang!! Gak kay- ... " Belum selesai dia berbicara, gadis berrambut pirang itu berhenti.
Gadis berrambut pirang itu pergi menghampiri gadis berrambut hitam yang sedang bermain jungkar-jungkir bersama anak-anak. "Minggir Lo bocah!! Gua ajarin main jungkar-jungkir yang bener. Mainnya tu gini."
Berrambut pirang itu mengusir anak kecil yang duduk di atas jungkar-jungkir. Dia lalu naik ke atas jungkar-jungkir dan ikut bermain bersama mereka.
Ha Jae hanya tertawa tak habis pikir dengan tingkah gadis berrambut pirang itu. Padahal tadi dia terlihat jelas tidak suka dengan apa yang di lakukan temannya. Tapi malah dia ikut bersama gadis berambut hitam itu bermain bersama anak-anak.
"He he he," gumam Ha Jae.
Ha Jae berranjak dari tempat itu meninggalkan mereka. Dia ingin membantu penghuni pondok yang lainnya menyiapkan sarapan, untuk makan bersama.
......................
"Kalian yakin mau pergi sekarang?!" tanya Ha Jae kepada gadis berrambut pirang.
"Iya lah. Mana mungkin kita menetap lama di sini. Pengen sih, capek banget Gue. Tapi Tresno gak punya banyak waktu lagi." ucapnya berdiri di halaman pondok.
"Oh ada kerjaan tow?!" tanya Ha Jae.
__ADS_1
"Bukan keles!!" sahut gadis pirang itu.
Nampak mukanya begitu terlihat sendu. Matanya berkaca seolah air matanya ingin menghiasi pipinya.
"Sebenernya Tresno sedang sakit parah." jelasnya dengan suara yang lirih. "Waktunya tinggal 3 bulan lagi, sebelum dia pergi ke surga." sambungnya dengan suara parau.
"Hah?! Mati maksudnya?" tanya Ha Jae kaget.
"Lo bisa gak sih serius dikit!! Bisa-bisanya Lo seenteng itu nyebut kematian!! Gimana kalau lo jadi Tresno, trus tiba-tiba Lo sakit parah dan hidup Lo tinggal 3 bulan lagi!! MASIH LO NYEBUT DENGAN ENTENG KEMATIAN?!!" hardik gadis berrambut pirang itu merasa tak terima.
"3 bulan. Itu 100 Hari,, berarti." gumam Ha Jae.
Ha Jae melihat ke sekitar seakan mencari sesuatu. Tapi agaknya dia tak menemukan apa yang dia cari.
"Lo gak bercanda kan?!" tanya Ha Jae kepada Gadis berambut pirang itu.
"SUMPAH LO RESEK BANGET!! Mending Lo gak usah ngomong sama Gua deh." sergah gadis pirang itu merasa kesal.
Tak lama datanglah gadis berambut hitam itu dengan tas ransel di pundaknya. Dia tersenyum bahagia saat kepada Ha Jae. Tapi dia tak bisa menutupi mata sembab yang terlihat abis menangis itu.
Ha Jae semakin penasaran dengan gadis berrambut hitam itu. Apa benar yang di katakan temannya itu. Jika memang benar, kenapa Ha Jae tak melihat tanda-tanda kematian dalam diri gadis yang sudah berdiri di depannya itu.
"Heloo, kok ngalamun sih? Kenapa?! Penampilanku aneh ya?!" tanya gadis berambut hitam itu penasaran.
"Udah lah Tre, gak usah ngomong sama dia. Yuk jalan." seru gadis berrambut pirang itu bergegas masuk ke dalam mobil.
"Ta! Gak sopan tauk!!" serunya. "Maaf ya. Dia lagi PMS jadi gitu deh."
"Gak apa-apa." sahut Ha Jae tak melepaskan pandanganya kepada gadis itu.
"Oh ya. Dari kemaren kita ngobrol tapi belum kenalan." ucap gadis berrambut hitam itu. "Kenalin Namaku Ayunda Tresno Ningrum."
Gadis berambut panjang itu mengulurkan tangannya ke ara Ha Jae untuk memperkenalkan diri. Ha Jae tanpa ragu menyambut tangannya.
"Choi Ha Jae. Panggil aja aku Ha Jae." sahut Ha Jae.
"Oh ya. Itu sahabatku. Namanya Ayushita. Dia biasanya gak gitu kok. Cuman gak tau kenapa dia resek banget. Maaf ya." ucap Tresno.
"Gak apa-apa." sahut Ha Jae. "Oh ya. Mungkin aku lancang, tapi ... " ucap Ha Jae tak melanjutkan ucapannya. "Ah sudahlah, hati-hati di jalan. Ingat, jangan ambil jalur artenatif lagi. Ambil saja jalan utama. Okay"
"Iya terimakasih. Terimakasih juga atas pertolonganya. Atas kebaikannya. Aku tak akan pernah lupakan kamu sampai akhir hidupku." ucap Tresno dengan mata berkaca. "Oh ya boleh aku minta sosmed mu?! Aku ingin mengingat semua orang baik yang aku temui di dalam hidupku. Karna mungkin, siapa tau, kita tak akan pernah bisa bertemu kembali di dunia ini."
Tresno nampak terdiam sesaat sebelum butiran bening mengalir di pipinya. Dia berusaha menyeka air mata sesekali.
__ADS_1
"Maaf aku lebay. Ha ha ha ha!! tapi kalau gak boleh gak apa-apa sih." serunya mencoba menyembunyikan kesedihannya.
...****************...