
Lumayan lama mereka saling menatap mata satu sama lain. Seakan terpaku dalam waktu yang sama, mereka tidak mengalihkan pandangan mereka sedikit pun.
...----------------...
Yokada yang melihat hal itu, dengan sengaja menjatuhkan Ha Jae yang bersender di punggungnya.
"Hei, kalau kau ngantuk tidur sana. Memang tidak berat di senderi hah!" sergah Yokada.
Ha Jae bangkit dari duduknya dengan susah payah, berjalan menuju ke tenda miliknya. Baru sampai di depan tenda, Yokada kembali berteriak kepadanya.
"Hei!! Kalau kau jauh-jauh datang kesini hanya ingin tidur, lebih baik tidak usah ikut saja tadi! Cepat bikin kopi dan makan ikannya! Kita sudah susah payah memangkapnya tadi!!" hardik Yokada.
Ha Jae dengan patuhnya menuruti semua kerintah Yokada. Malam itu berjalan begitu sangat menyenangkan. Keesokan harinya, semua sudah bersiap membongkar tenda mereka masing-masing. Agenda hari ini adalah off road menyelusuri jalan setapak hutan yang tembus menuju jalan perkotaan.
"Hei Ha Jae. Kau ikut mobil Shin. Biar kak Kang Kwa bisa ikut mobil Sekertaris Min Ho. Biar aku yang menyetir mobil Yoshima." tutur Yokada.
Ha Jae hanya menganggukan kepalanya, dan bergegas masuk ke mobil Shin tanpa ragu.
"Ha ha ha kau tau saja kalau aku sudah tidak kuat menyetir di medan yang seperti ini." ucap Yosima.
"Sudahlah, yang penting kau masih sehat dan ikut kumpul bersama kami." timpal Yokada.
"Baik-baik, kalau begitu, mari berangkat sekarang sebelum mentari mulai tinggi." ucap Yosima.
"Okay. Shin, titip bocah itu. Min Ho, kau pelan-pelan nyetirnya ya, ikuti paling belakang saja. Biar aku yang membuka jalan." ucap Yokada.
Mereka pun bergegas melajukan kuda besi mereka masuk ke dalam hutan.
Jalan setapak yang penuh dengan batu kerikil, hanya bisa di lalui 1 mobil. Makin lama masuk kedalam hutan, jalan itu semakin sempit di lalui. Bahkan beberapa kali mereka kewalahan membuka jalan baru untuk di lalui.
Medan perbukitan yang naik turun, seakan mengocok isi perut Ha Jae bercampur menjadi satu. Ingin rasanya memuntahkan seluruh isi perutnya. Tapi tak bisa dia lakukan, karna setiap isi perut itu naik, selalu di tarik turun kembali.
Jantung yang seakan di remas, saat roda melindas paksa bebatuan yang menghalang. Sungguh hal itu lebih menegangkan di bandingkan menaiki wahana roller coaster di taman hiburan.
Shin sesekali memperhatikan Ha Jae yang terlihat tegang duduk di sampingnya. Beberapa kali berusaha memperlambat laju kendaraannya. Dia berusaha begitu hati-hati dalam mengendarai kuda besinya. Walau sebenarnya itu mustahil, karna dia bukan sedang berkendara di jalan aspal hitam perkotaan.
BRUKKK!!!
Hantaman yang cukup keras, saat mobil Shin kehilangan kendali keluar jalur, meluncur terperosok menabrak sebuah pohon besar di perbukitan.
"Sial! Kau tidak apa-apa?" tanya Shin kepada Ha Jae yang duduk di sebelahnya.
"Emm." gumam Ha Jae mengangguk.
Mereka pun turun untuk melihat kondisi mobil yang mereka tumpangi. Terlihat yang lainnya juga ikut berhenti untuk melihat keadaan Shin dan Ha Jae.
"Hai! Kalian tidak apa-apa?!" seru Yokada.
__ADS_1
Shin mengangkat tangan dan pundaknya mendekati Yokada.
"Kayaknya aku butuh mobil derek ha ha." ucap Shin.
"Hais kau ini. Yang butuh di derek kau bukan mobilnya." sahut Yokada.
Yokada bergegas pergi melihat kondisi mobil itu, bersama rekan-rekan yang lainnya. Sedangkan Ha Jae pergi menelusuri aera sekitar tanpa di ketahui oleh yang lainnya. Tak berapa lama berjalan, Ha Jae di kagetkan oleh Min Sae dari arah belakang.
"Hei!" sergah Min Sae.
"Ohh!" seru Ha Jae.
"Kau sedang apa?!" tanya Min Sae.
"Minum. Aku mau minum." ucap Ha Jae.
"Semua makanan di mobil yang aku tumpangi. Ayo." ajak Min Sae.
Ha Jae pun berlahan mengikuti Min Sae. Ha Jae meraih sebotol air mineral dan beberapa bungkus roti untuk ia bawa. Dia menaruh beberapa roti yang dia ambil kedalam lantong jaketnya, lalu dia melahap sepotong roti untuk menetralkan perutnya yang bergejolak.
Sembari menikmati sepotong roti di tanganya, Ha Jae pergi melihat rekan-rekan yang lainnya yang sedang berusaha keras menarik mobil milik Shin agar dapat kembali ke dalam jalur.
"Sudah-sudah cukup. Percuma. Kalau di tarik dengan tenaga kita, tidak akan berhasil. Sedangkan jika dengan mobil dari atas, kayaknya juga tidak mungkin. Ini perbukitan, sedangkan jalan yang kita lalui sempit. Mustahil bisa menarik mobil ini." tutur Kang Kwa merasa kecapekan.
"Benar, tenaga kita sudah tua." timpal salah satu dari mereka.
"Kau benar. Walau kemiringan tidak cukul curam. Tapi karna medan jalan cukup sempit. Mustahil jika kita bisa menarik mobil ini kembali ke jalur." timpal Yokada.
"Kau ini. Kalau putar arah, bisa-bisa mobilnya terbalik." jawab Yokada.
Mereka pun kebingungan dengan apa yang harus mereka lakukan. Shin mencoba memundurkan mobilnya tapi lagi dan lagi terperosot. Yokada yang tak sengaja melihat Ha Jae duduk jongkok menikmati sepotong roti sembari melihat ke arah mereka pun, teringat oleh sesuatu.
"Hoe, Ha Jae! Kenapa diam saja hah?!" seru Yokada.
Yokada dengan ternggah menghampirin Ha Jae, dia meraih sebotol air mineral yang Ha Jae bawa.
"Hoe, sampai kapan kau biarkan kita semua berada di tempat ini? Hais, besok pagi aku ada rapat!" tutur Yokada.
"Kenapa protesnya ke aku?" guman Ha Jae datar.
"Kau ini! Aku tau, kau tau sesuatu. Cepat lakukan sesuatu. Aku ingin cepat kembali pulang." titah Yokada.
Ha Jae pun bangkit dari duduknya. Dia meminta kembali air mineral dari tangan Yokada. Ha Jae lalu menenggak air mineral untuk memperlancar tengorokannya menelan potongan roti yang dia makan. Dengan serius, Ha Jae melihat mobil yang belum beranjak dari posisi awalnya itu.
"Ah sial!! Kenapa tidak mau bergerak." sergah salah satu dari mereka menendang bodi belakang mobil.
"Nanti juga bisa." ucap Ha Jae datar kembali melahap sepotong roti dari kantongnya.
__ADS_1
"Hais kau ini!" sergah Yokada kesal.
Yokada merebut roti dari tangan Ha Jae dan memakannya.
"Kalau kita di sini terus, kapan kita akan pulang." ucap Yokada sembari menguyah roti dalam mulutnya.
"Ngko, bar Maghrib." (Nanti, abis Maghrib) ungkap Ha Jae.
"Kenapa?!" tanya Yokada serius.
"Iso sak iki. Tapi jaluk geteh joko, rak ora prawan." (Bisa sekarang. Tapi mintak darah perjaka, kalau tidak perawan.) sambung Ha Jae.
"Tumbal?!" selidik Yokada dengan serius.
"Getih. Sethitik." (Darah. Sedikit.) tegas Ha Jae.
Yokada berfikir dengan keras mencerna kata-kata Ha Jae. Setelah dia rasa mengerti apa yang Ha Jae maksud. Yokada menatap Ha Jae dengan tajam.
"Ojo miker nganggo getihku." (Jangan berfikir pakai darahku.) tatap Ha Jae tajam.
"Hais!!" gumam Yokada. "Hei Min Ho! Kemari." seru Yokada kepada Min Ho.
"Wonge wes ora joko." (Dia udah gak perjaka.) sahut Ha Jae.
Yokada pun melirik kesal ke arah Ha Jae. "Kya! Tidak jadi, kembali lah."
Yokada menantap Ha Jae dengam serius. "Aku ... "
"Wes ora joko." (Udah gak perjaka.) celetuk Ha Jae dengan polos.
"Kau selalu benar." jawab Yokada kesal.
"Ono kae joko." (Ada itu perjaka) ucap Ha Jae memandang ke arah Shin yang sedang sibuk dengan mobilnya.
"Shin Ji ... " ucap Yokada seakan tak percaya.
Yokada membungkukkan badannya yang lumayan tinggi ke arah Ha Jae.
"Semasa dia SMA, dia menghamili pacarnya. Bahkan pacarnya bunuh diri karna stres akan kehamilan itu." ungkap Yokada berbisik dengan lirih.
"Kamu yakin?! Aku lebih yakin dengan diriku." sahut Ha Jae tak perduli. "Cukup tonjok dia. Apa susahnya. Toh, cuman dikit. Aku udah minta ijin kok."
"Ijin?! Siapa yang kau mintai ijin hah?! Demit?!" ucap Yokada.
"Orang tuanya lah." cetus Ha Jae datar.
Yokada hanya diam mendengar jawaban Ha Jae. Tak lama Yokada menghampiri Shin. Ha Jae pun mengikutinya dari belakang. Sesampai di sana, Yokada terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
__ADS_1
"Hoe Shin." seru Yokada.
...****************...