Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Kemunculannya


__ADS_3

Sesampainya di rumah makan itu. Baru Aku dan Shin Ji Joon menginjakan kaki kami di pintu masuk. Aku langsung di sambut oleh teriakan suara yang tak asing di telingaku.


"COCO DI SINI!" sergah Kyun.


Kyun mengangkat tangannya agar mudah kami lihat.


"Wah udah pada pesan ya." ucapku mendekat ke arah mereka.


"Ini kau juga pesan. Shin ayo duduk, kamu mau makan apa?" tanya Jennie menyodorkan buku menu ke arahku dan Shin.


"Eh makanan ini enak lho," ucap Hani kepada Jennie.


Hani menunjukkan menu makanan yang ada di buku menu kepada Jennie. Sedangkan aku, melihat-lihat menu makanan yang ada di buku.


Makan apa ya?! Batinku.


Sesekali aku melihat ke arah Shin yang duduk tepat di depanku. Hatiku terasa senang, sesekali aku tersenyum tipis melihat buku menu itu. Tapi ntah kenapa, di lain sisi. Ada sesuatu perasaan yang merasa, bahwa aku tak pantas di hadapannya. Bahkan hanya sebatas teman. Walau jarakku dengan Shin, sudah sedekat ini.


"Oppa, Annyeong," Sapa seorang perempuan cantik berlahan mendekat ke arah kami.


Aku termangu melihat kearah wanita itu. Melihat ingin tau, siapakah gerangan. Ku lihat, Shin juga terlihat sangat senang dengan kedatangan wanita itu. Seperti orang yang dia nanti.


"Oppa? Gak nyangka bisa ketemu di sini. Oh lagi Meeting ya? Maaf mengganggu kalau gitu." ucap wanita itu kepada Shin.


Dia terlihat ramah dan sopan dengan senyuman yang manis. Dia benar-benar sangat cantik dengan senyuman yang sangat manis. Sampai-sampai aku juga ingin tersenyum melihat senyuman manisnya itu.


"Oh mereka teman-temanku. Sedang apa kamu di sini?" tanya Shinkepada wanita itu.


Aku melihat, mereka begitu sangat akrab.


"Aku kebetulan sedang jalan-jalan dengan teman-temanku di sekitaran sini. Katanya tempat makan di sini enak, mangkanya kami mampir untuk mencicipinya," tutur wanita itu dengan sangat lembut.


Ngukkkkkkk! (bunyi ponsel Shin Ji joon yang bergetar).


"Mm, sebentar, aku ingin angkat telponku dulu." pamit Shin meninggalkan kami.


"Hai, aku rasa aku pernah lihat kamu. Tapi di mana ya?" ucap Hani melambaikan tangan kepada wanita itu.


"Ah masa? Aku bukan Artis kok," jawab wanita itu tersenyum ramah kepada Hani.


"Ayo duduk, silahkan. Mari bergabung dengan kami," ucapku mempersilahkan duduk kepada wanita itu.


"Terimakasih." jawabnya duduk di hadapanku.

__ADS_1


Aku terpaku memperhatikan wanita itu. Ku perhatikan dengan detail wanita di hadapanku ini. Dia benar sangat sopan, anggung, parasnya yang cantik, di tambah tubuh tinggi yang langsing, sangat sempurna, bagaikan boneka yang hidup. Tak ada bosannya aku memandang wanita itu.


"Oh aku ingat, kamu yang Foto bersama Shin itu kan?" celetuk Jennie. "Yang ada di Instagram itu," jelas Jennie memberi tau Hani.


"Oh iya," seru Hani mengingat sesuatu.


"Perkenalkan Namaku Julia. Aku calon tunangan Shin Ji Joon." ceketuk wanita itu.


Dengan senyuman yang manis. Julia menyodorkan tangannya untuk berjabatan tangan dengan kami.


"Oh ya ampun!" kaget Hani.


Hani langsung meraih jabat tangan dari Julia.


"Benarkan tebakanku, mereka itu terlihat serasi," puji Jennie.


Aku hanya diam bergeming tersenyum tipis melihat Julia. Ntah kenapa tiba-tiba dadaku terasa sesak. Ingin sekali menangis, tapi aku tak bisa, dan tau karna apa.


"Anu, aku harus mengabari Senpai dulu. Aku keluar sebentar, ya," pamitku kepada Hani dan Jennie.


"Okay, jangan lama-lama ya," jawab Hani sibuk ngobrol dengan Jennie dan Julia.


Aku bergegas keluar dari tempat makan itu. Aku bingung dengan perasaan ku. Rasanya ingin sekali menangis, tapi tak bisa, ingin marah, tapi soal apa.


Rasanya hanya sesak di dadaku. Aku tak tau, perasaan apa ini. Tak sadar, aku sudah berdiri di Pohon Sakura, yang jadi tempat titik berkumpul kami.


"Oe akhirnya ketemu juga, ha ha ha!!" ucap Lee Tae mengagetkanku.


Lee Tae datang bersama beberapa teman-temannya menghampiriku. Badan mereka lebih besar dari teman yang Lee Tae ajak waktu itu (baca bab Pelampiasan).


Tak di sangka, kami bisa bertemu di sini.


"Wah Si Nona sendiri. Di mana pacar sok jagoanmu itu ha?!" Lee Tae mendekatiku dengan gaya premannya. "Kenapa Nona? Kau murung, patah hati ya? Karna pacarmu menggandeng cewek lain, ha ha ha ha!!"


Lee Tae tertawa puas menggodaku. Dia terus berusaha menyungut emosiku.


"Sudah sama aku aja sini." imbuhnya.


"Kau tidak kapok ya, hidung mu patah?" ucapku menatap Lee Tae.


"Haah patah?!! Itu hanya sentuhan kecil buatku Nona. Lagian, LIHAT!! KAMI LEBIH BESAR DAN BANYAK DARIMU, ha ha ha!!!" sergah Lee Tae menyobongkan diri. "Ini Daerah kekuasaan kami. Kau tak akan bisa berkutik di sini."


"Jadi kamu Ketua nya apa kacung nya?" tanyaku.

__ADS_1


Dengan santai, aku terus memperhatikan sikap sombong Lee Tae.


"Brengsek, aku pemimpin di sini!! Semua orang takut pada ku tau!!" sergahnya dengan kesal kearahku. "Kau berani? Kau berani?! Ayo sini! Apa kau lihat-lihat hah!? Ha Ha ha."


Lee Tae mencoba mengganggu pengguna jalan yang lalu lalang di belakang mereka. Untuk menunjukkan betapa berkuasanya dia.


"Kau lihat?! Semua takut padaku." sergahnya.


"Ohh kebetulan, aku lagi gak Mood. Main dengan ku, yuk." ajakku kepada Lee Tae.


Aku berdiri beranjak dari tempat itu. Aku tau mereka akan mengikuti ku.


"Hai mau kemana kamu?! Baik-baik akan aku temani Sayang. Aku sangat pintar dalam bermain, pasti kau puas dengan ku, ha ha ha!" ucap Tae Lee berlahan mengikuti ku.


Kami sampai di Gang tempat Pembuangan Sampah. Aku berdiri terdiam menunggu Lee Tae dan orang-orangnya mendekat ke arahku.


"Kenapa kita kesini? Kau lebih suka yang liar ya? Padahal lebih enak di Hotel," ucap Tae Lee mendekat merangkul pundakku.


Tanpa berpikir panjang, aku langsung meraih kepalanya dan menghantamkannya ke lututku. Menghajar orang-orang bawahan Lee Tae satu per satu. Aku kehilangan akalku, menghajar mereka semua tanpa ampun. Ku luapkan semua kemarahan dan kekesalanku kepada mereka. Aku benar-benar lepas kendali.


"Au sakit." Eram salah satu preman itu.


"Maaf ampun,," ucap salah satu dari mereka.


Merek bersusah payah menjauh dariku yang berdiri di antara mereka.


Aku berlahan mendekati Lee Tae yang terkapar tak berdaya. Aku lalu duduk di sampingnya dan berbisik ke arah terlinganya.


"Kau tau King Dog, apa itu Crew mu?! Siapa pemimpinnya?" tanyaku kepada Lee Tae sembari membelai kepalanya.


"Aku tidak tau, aku hanya preman jalanan," ucap Tae Lee menahan sakit di tangannya. "Aku dengar dia penguasa di Daerah ini"


Lee Tae mengungkap sesuatu kepadaku. Aku tak begitu percaya dengan ucapan Lee Tae yang begitu saja menyerahkan diri.


"Jika kau mencarinya, kau bisa pergi ke Sauna dekat sini." imbuh Lee Tae.


Lee Tae teihat mehanan sakit di tangannya. Dia juga mencoba menjaga jarak dari ku. Aku meberikan satu pukulan lagi ke wajah Lee Tae.


"Aku tau kau berbohong. Kau salah satu Anggotanya kan?" Aku menatap Lee Tae dengan sinis.


Aku melihat Tato lambang Crew itu di tangan Lee Tae, yang menunjukan bahwa dia salah satu anggota mereka.


"Bilang pada pemimpinmu, jangan pernah mencoba menganggu Tali Groub lagi. Mengerti!!" ancamku kepada Lee Tae.

__ADS_1


Aku berdiri dan pergi meninggalkan Lee Tae dan anak-anak buahnya, yang terkapar kesakitan. Walau aku merasa sudah puas memukuli mereka, hatiku masih terasa sesak. Ntah perasaan apa ini sebenarnya. Perasaan ini sangat menganggu sekali buatku.


...****************...


__ADS_2