
Sore itu begitu sangat menyebalkan bagi Shin Ji Joon. Dia terlihat begitu sangat cemburu saat melihat Choi Ha Jae bercanda tertawa denga Big Man. Berasa mereka bagitu sangat dekat.
"Kapan aku bisa sedekat itu dengannya." gumam Shin.
Shin pun sempat membayangkan jika dia yang sedang duduk di hadapan Ha Jae. Tapi dengan harapan yang dia inginkan.
...(dalam lamunan Shin Ji Joon)...
...----------------...
"Oppa Tiramisu ya enak?" tanya Ha Jae.
"Kau mau coba?" tanya Shin.
"Emm mau. Akkg." sahut Ha Jae membuka mulutnya.
Shin pun memberikan suapan kecil dengan mesranya kepada Ha Jae.
"Enakkan? Oh ada noda di bibirmu. Sebentar, sini aku usap." ucap Shin mengusap lembut bibir Ha Jae.
Dengan cepat Ha Jae menggigit jari Shin.
"Ah! Lepaskan. Kenapa di gigit?" seru Shin.
"Abis kau manis." sahut Ha Jae memasang wajah manisnya.
"Kalau gitu aku juga ingin menggigitmu." timpal Shin.
"Kenapa?" tanya Ha Jae.
"Karna kau sangat manis." sahut Shin.
"Okay, tapi di bibirku." jawab Ha Jae memejamkan matanya.
...----------------...
__ADS_1
"Ah sial! Kenapa aku bisa berfikiran seperti itu?!" gumam Shin menepuk kepalanya menggunakan surat kabar yang dia bawa di tangannya.
Dia tersipu malu dengan apa yang di dalam pikirannya. Sesekali Shin tersenyum memandang Ha Jae dari kejauhan. Dia begitu berharap, semua harapannya. Tercapai secepatnya.
......................
...Kembali ke masa sekarang. Dimana Shin Ji Joon merasa putus asa dan kecewa oleh kenyataan yang dia lihat selama ini....
......................
Hari demi hari pun berganti. Sudah berjalan 2 Bulan lebih lamannya, saat kepergian Ha Jae ke Indonesia. Shin masih belum juga bisa menerima kenyataan yang membuat harapannya putus. Terus di landa ke senduan akan kekecewaannya terhadap Ha Jae.
"Harusnya aku menanyakannya langsung kepadamu." batin Shin.
Shin termanggu dalam duduknya, menatap jauh ke luar gedung apartemen miliknya. Suasana yang sunyi, berhiaskan lampu-lampu yang terpancar indah dari gedung-gedung yang menjulang. Mengingatkannya kembali kenangan-kenangan, mana dia awal mengenal gadis itu.
Gadis yang buatnya begitu istimewa. Gadis yang bisa menarik perhatiannya. Gadis yang memberikannya harapan besar dalam hidupnya.
......................
Yokada yang melihat perubahan drasti dari Shin pun mulai khawatir. Dia mencoba bertanya kepada Shin dengan apa yang dia alami. Tapi respon buruk yang Yokada dapatkan.
Shin Ji Joon tak mau menceritakan apa yang sebenarnya terjadi kepada Yokada. Malah makin menjauhi Yokada. Yokada yang makin di buat bingung dengan sikap Shin hari demi hari. Ingin sekali Yokada memberitahukan kondisi Shin kepada Ha Jae. Tapi Ha Jae sulit sekali untuk di hubungi.
Berjalan 4 Bulan Ha Jae berada di Indonesia. Sebuah kabar berita yang muncul di televisi mengejutkan, bukan hanya Yokada. Tapi juga seluruh rakyat Korea.
Semua media memberitakan bahwa artis papan atas yang bernama Jimmy. Sedang dengan salah satu warga Indonesia yangbmasih menjadi misteri. Yokada dan sahabat-sahabat Ha Jae terkejut saat akun sosial media yang di tampilkan di layar televisi adalah akun sosial media milik Ha Jae.
Sontak terjadi kegemparan di sana. Namun mereka tak menemukan jawaban sedikit pun. Karna Ha Jae sendiri masih belum bisa untuk di hubungi.
Selain itu, tak berapa lama dari kabar Jimmy yang dekat dengan Ha Jae. Muncul lagi kabar yang mengejutkan datang dari Shin Ji Joon.
Yokada sempat sakit selama dua hari karna kabar itu. Dia merasa kaget saat tetiba sebuah pesan dari Ha Jae masuk kedalam ponselnya.
...(baca bab "kemarahan seorang kekasih")...
__ADS_1
Yokada khawatir, Ha Jae pasti akan sangat terkejut jika dia kembali ke Korean nanti.
"Aduh kepalaku." keluh Yokada.
"Kau ini. Masalah seperti itu saja di buat pusing. Lagi pula Mani ku tak akan terpengaruh dengan hal seperti itu." tutur seorang lelaki yang sedang membuat sebuah minuman di dapur.
"Hais! Ini semua karna kau! Jika kau tidak membawanya ke Jepang. Haiss kepalaku! Ohh." sergah Yokada.
"Kau ini berisik sekali. Lagi pula kau yang dulu memberikannya padaku kan. Ini minum." ucap lelaki itu.
"Aku tidak mau! Sudah kau pergi sana, balik sana ke Jepang. Bikin pusing saja." hardik Yokada merasa kesal.
"Kau ini persis seperti Ayah. Dia itu peliharaanmu, bukan anakmu." ucap lelaki itu.
"Kalau kau tidak tutup mulutmu! Aku akan menghabisimu. Mana pistolku, dimana?!" ujar Yokada.
"Kau mencari ini." seru lelaki itu menunjukan pistol yang Yokada cari.
"Dasar sialan! Ahh kepalaku!" sergah Yokada.
"Tuan, ada apax Tuan?!" seru Yu Hee naik ke lantai atas.
"Suruh manusia ini pergi dari sini. Cepat!!" titah Yokada.
"Kau ini. Ahh sudahlah. Tidak ada Mani ku aku juga malas di sini." ucap lelaki itu bangkit dari duduknya.
"Hai, jangan panggil bocah itu dengan sehutan itu!! Namanya Choi Ha Jae. Choi Ha Jae!!" seru Yokada.
"Hi hi hi hi. Lucu sekali. Kau lupa, dia juga milikku. Mani ku tetap Mani ku. Sampai jumpa lagi. Akan aku sampaikan salam mu pada Mani ku di Indonesia nanti." ucap lelaki itu pergi meninggalkan Yokada.
"Jangan berani-berani kau susul dia ke Indonesia! Kalau tidak, aku akan menghabisimu." sergah Yokada merasa jengkel.
"Ahh kepalaku. Bibi, ambilkan obatku. Dan pijit kepalaku. Aduhh." titah Yokada.
"I-iya, Tuan." sahut Yu Hee.
__ADS_1
...****************...