Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Harapan Yang Hilang


__ADS_3

"Siapa lelaki itu?!" tanya Man.


"Siapa? Maksud mu Shin Ji Joon?!" jawab Hani.


"Mereka serasi ya. Kau setujukan kalau mereka bersama?" tanya Hani.


"Jadi benar." gumam Man. "Cih." gumamnya kembali.


"Kenapa? Ada apa? Kau tidak suka?!!" tanya Hani penasaran.


"Bertele-tele." seru Man.


"Ih kamu itu! Itu romantis tauk. Ehh kamu jangan ganggu ya. Kalau anggu aku bakalan buat perhitungan dengan mu." ancam Hani.


...----------------...



Mereka hanya berdiri termanggu di luar gedung. Mereka tak habis pikir bahwa keadaan menjadi seperti ini.


Hani masih sesekali menyeka air matanya. Tak berapa lama datang Yokada yang baru datang bersama dengan Min Ho dan Min Sae.


"Hai, kalian ada di sini. Kenapa tidak masuk?" sapa Yokada.


"Iya kami juga mau masuk." sahut Jennie.


"Hei kenapa kau menangis hah?" tanya Yokada kepada Lee Hani.


"Anu, itu. Hani tidak bisa menemukan pacarnya. Di dalam terlalu ramai." sahut Jennie.


"Ah ya benar." timpal Kyun.


"Kau ini. Kenapa tidak telepon? Dasar anak muda jaman sekarang. Ayo masuk." titah Yokada berjalan masuk ke dalam gedung.


"Iya, baik." sahut Jennie.


"Hei, lebih baik kita masuk." ucap Jennie.


"Benar. Ayo." seru Kyun.


Mereka pun masuk ke dalam gedung bersama. Man pun terlihat ikut mengikuti temam-temannya itu. Sampai di dalam gedung. Terlihat begitu mewah dan megah pesta itu. Benar-benar pesta yang sangat meriah.


Hani, Jennie, Kyun, dan Man hanya bisa duduk terdiam di meja tamu yang di siapkan. Mereka terlihat tersendu menikmati hidangan di hadapan mereka. Terlihat jelas kesedihan dari wajah mereka.


Hani masih sesekali menyeka air matanya. Dia tak kuasa melihat Shin Ji Joon yang terlihat bahagia di atas panggung bersama seorang wanita lain di sampingnya. Harusnya Choi Ha Jae lah yang berasa di samping Shin Ji Joon.


Tangis Lee Hani pecah saat Shin mengenakan sebuah cincin ke jari manis Julia. Begitu pun sebaliknya.


"Hag ha haggg, kenapa?! Aa a a hu hu." seru Lee Hani.


"Eh kamu ini. Sudah gak enak di lihat orang. Banyak yang lihat tauk." ucap Jennie mencoba membantu menyeka air mata Hani.

__ADS_1


"Hei sudah sudah. Lihat eyeliner mu luntur semua." sela Kyun memberikan sebuah tisu.


"Kalian ini setia kawan gak sih. Kasihan tauk Coco. Wuaha ha." seru Hani menangis makin menjadi.


Man yang melihat hal itu pun bangkit dari duduknya. Dia melepas jas yang dia kenakan dan mengudungkannya kepada Hani. Man memaksa Hani, merngajaknya untuk ikut keluar bersamanya. Kyun dan Jennie meminta tolong Man untuk menenangkan Hani di luar gedung.


Terlihat jelas kebahagiaan di wajah Julia. Shin Ji Joon yang begitu gagah dengan jas hitamnya itu pun, juga terlihat begitu bahagia dengan menyapa semua tamu yang hadir di malam itu.


Di sisih lain. Jauh di sana. Choi Ha Jae merasa tak tenang dalam dirinya.


"Jae. Urung turu?!" (Jae. Belum tidur?!) tanya Pak Den.


"Pak Den. Gak tau kenapa. Dadaku rasanya sesak. Ada sesuatu yang hilang. Tapi aku gak tau kenapa." tutur Ha Jae. "Aku merasa ada sesuatu hal. Tapi ntah apa. Dadaku sesak. Aku merasa tak tenang."


"Wes ta lah. Wes Sholat?!" (Udah lah. Udah Sholat?!) tanya Pak Den.


"Emm." jawab Ha Jae.


"Lho di takok'i am em a em ae. Wes gek dhang jipuk Wudhu. Melu ngaji ambi aku wae neng Masjid." (Lho di tanya am em a em aja. Udah cepetan sana ambil air Wudhu. Ikut ngaji sama aku aja di Masjid.) titah Pak Den.


Ha Jae pun menuruti perintah Pak Den. Mereka mengaji bersama di dalam Masjid. Tapi ntah kenapa, air mata Ha Jae tetiba bercucuran.


Ha Jae terkejut dengan apa yang terjadi pada dirinya. Dadanya semakin sesak. Ingin rasanya dia menangis keras.


Yang benar saja. Tangisan Ha Jae pun pecah menjadi-jadi. Pak Den dan beberapa santri yang melihat akan hal itu. Di buat bingung dan paniknya.


"Pak Den. Kesurupan Pak Den." seru seorang Santri dengan paniknya.


"Horo Nang, iki kesurupan ora Nang?" tanya Pak Den dengan salah satu santri nya.


"Boten Pak Den. Saestu Boten." (Enggak Pak Den. Beneran enggak.) jawabnya memperhatikan Ha Jae.


"Lha jur ngopow ghor di delok. Jipuk ke ngombe kono." (Lha trus kenapa cuman di lihat aja. Ambilkan minum sana.) titah Pak Den.


"Nduk, Istighfar Nduk." ucap Pak Den memegang kepala Ha Jae yang menunduk.


Pak Den dia berusaha menenangkan Ha Jae. Dia terlihat bingung. Banyak kasus kesurupan yang dia tangani. Tapi kali ini, terlihat sangat berbeda dan aneh. Pak Den pun di buat bingung dengan apa yang terjadi pada Ha Jae, yang dengan tetiba menangis menjadi-jadi.


Sekitar setengah jam berlalu. Ha Jae terlihat sudah mulai tenang. Dengan sesegukan, Ha Jae mencoba bertanya kepada Pak Den.


"Ke-napa ..ku Den?? Ad.. ..pa dengan ak-aku?" tanya Ha Jae.


"Lha kok aku. Lha kowe we seng ngerasak ke bingung." (Lha kok aku. Lha kamu aja yang merasaman bingung.) sahut Pak Den duduk di samping Ha Jae yang masih sesegukan. "Ada apa? Kenapa? Masalahnya apa? Yang di rasain apa? Wes ta lah. Rampung no seng mu mangis. Yung alah umbel mu kui. Ngasi mleeeberrr, hiii jhijhik akuhh." (Udah lah udah. Selesaikan dulu tangisan mu. Hii ingusmu itu. Sampai luberrr, hiii jijik aku.)


Ha Jae pun tertawa sembari sesekali menyeka air mata dan ingusnya. Sekitar satu jam berlalu Ha Jae kembali dari tempat berwudhu. Dia sudah terlihat begitu tenang. Dia meminum air putih yang di berikan oleh Pak Den. Pak Den pun kembali bertanya kepada Ha Jae.


"Pie perasaanmu?" tanya Pak Den.


"Emm."


Ha Jae hanya terdiam mermangu. Seperti ada yang sedang dia rasakan. Dia pun memegang dadanya. Berusaha menghela nafas panjang dan mengeluarkannya berlahan.

__ADS_1


"Dalam dadaku rasanya hampa. Ada sesuatu yang hilang. Tapi aku tak tau itu apa. Rasanya aku ingin sekali nangis. Aku seperti kehilangan sesuatu yang berharga." ucap Ha Jae.


"Bahasamu jeru." (Bahasamu dalam.) bisik Pak Den di depan telinga Ha Jae.


Ha Jae yang mendengar hal itu pun. Melirik dengan tajam ke arah Pak Den. Pak Den pun melempar senyuman jail agar Ha Jae tak merasa tersinggung.


"Wes ngene. Awak'e dewe ki ghor menungaso. Aku yo ora ngerti opow seng to lakonni sak iki. Kesurupan yo ora, neng kok ujuk-ujuk nanges koyo wong kerusupan. Tak deleng-deleng ki iseh aman. Neng kok nganu." (Udah gini. Kita ini hanya manusia. Aku juga tudak tau apa yang kamu alami saat ini. Kesurupan juga tidak, tapi kok tiba-tiba nangis kaya orang kesurupan. Tak lihat-lihat juga masih aman. Tapi kok aneh.) tutur Pak Den. "Yo bola-balio aku ki ghor menungso. Kanggo kowe, Sholate seng rajen, ngaji seng sering, zikir terus di eleng, ojo ngasi pedot walau ghor di baten." (Ya bolak-balik aku ini hanya manusia. Buat kamu, Sholatnya yang rajin, ngaji yang sering, zikir terus di ingat, jangan putus walau hanya di batin.)


Pak Den menatap Ha Jae yang diam termenung dengan seriusnya. Dia bingung dengan apa yang di alami gadis di hadapannya ini. Bagi Pak Den, Ha Jae adalah gadis yang istimewa.


"Wes gek istirahat kono. Sesuk sak hurunge bali nyang Korea. Melu aku sikek. Tak jak jalan-jalan Kota Banyuwangi. Rung pernah to neng Kota Banyuwangi?" (Udah cepat istirahat sana. Besok sebelum kembali ke Korea. Ikut aku dulu. Aku ajak Jalan-jalan ke Kota Banyuwangi. Belum pernah kan ke Kota Banyuwangi?) imbuh Pak Den.


"Jeh, suwun." (Iya, Terimakasih.) sahut Ha Jae.


Ha Jae pun berlahan pergi ke pondok tempatnya menginap. Sebelum dia masuk ke pondok yang terbuat dari bambu itu. Dia melihat jauh ke langit yang tertutup oleh awan di malam itu.


"Ntah kenapa. Rasanya hatiku kosong. Rasanya tak ada tempat dan tujuan untuk ku pergi. Ke Korea pun, berasa tak ada alasan lagi. Ntah kenapa tetiba aku merasakan ini." gumam Ha Jae dalam lamunnya.


......................


Malam itu, acara berjalan lancar. Shin Ji Joon duduk termangu di atas ranjangnya. Dia terus memutar-mutar cincin yang melingkar di jari manisnya. Ntah apa yang dia pikirkan. Tetiba Shin menangis menjadi.


Dia melempar sebuah jam dan gelas yang berada di meja kecil sebelah ranjangnya. Shin teriak histeris di dalam kamarnya. Tak berapa lama, sekertatis Yang pun datang melihat keadaan Shin.


"AHHHHGGGKKK!!!"


"Tuan! Tuan, ada apa Tuan?! Ada yang bisa saya bantu?!" ucap Sekertaris Yang melihat Shin yang sudah duduk di lantai kamarnya.


"Pergi dari kamarku. Aku masu sendiri." ucap Shin.


"Tapi Tuan," sahut Sekertaris Yang.


"PERGIII!!!" hardik Shin.


Sekertaris Yang pun terpaksa meninggalkan Shin Ji Joon yang terlihat depresi di dalam kamarnya. Dia begitu sangat khawatir dengan apa yang sedang terjadi pada Tuan Mudanya itu.


Sekertaris Yang berniat untuk menemui Yokada. Dia berfikir, hanya Yokada lah yang bisa menolongnya. Karna selama ini, hanya Yokada yang paling dekat dengan Shin Ji Joon.


Malam itu juga, Sekertaris Yang pergi ke rumah Yokada. Dia tidak mau, menunda terlalu lama. Hingga membuat keadaan Tuan Mudanya makin buruk.


"Permisi Tuan. Ada tamu ingin bertemu dengan Tuan." ucap Yu Hee.


"Haiss. Siapa?! Kau tidak lihat aku sedang pusing hah?!" sahut Yokada.


"Aku Yoshida." sela Sekertaris Yang masuk ke dalam kamar Yokada.


"Kau?!" seru Yokada.


"Kau pergi dari sini." titah Yokada kepada Yu Hee.


Sekertaris Yang pun tanpa di perintah duduk di depan Yokada dengan santainya. Mereka terlihat beradu tatapan satu sama lain. Tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan selama beberapa waktu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2