
"Khyaaa??" sergahku melempar handuk di kepalaku ke arah Yokada.
...----------------...
"Hegg, opow to?!" (Hegg, apa sih,?!) pekik Yokada.
Dia terperanjat dan segera menyingkirkan handuk dari mukanya.
Ha Jae bergegas kembali masuk ke dalam kamar mandi. Dia dengan cepat memakai baju yang sudah ia siapkan. Ha Jae pun keluar menghampiri Yokada dengan kesal. Dia berbaring di sebelah Yokada dengan santainya.
"Senpai," panggilku lirih.
"Hemm," jawab Yokada dengan acuh.
"Aku jelek gak sih?!" bisikku dengan nada manja seraya memainkan sedikit rambut Yokada.
"Hemm," gumamnya.
"Sennnnpaiiii! Jelek enggak??!" tegasku.
Aku mebungkamkan mukaku ke dalam bantal saking malunya.
"Hemmmm." jawab Yokada masih mengacuhkanku.
"IHHH SERIUSANNNN TAUKK!!!" pekikku memukukan bantal ke kepala Yokada.
"KYAA!!! SENG OMONG KOWE AYU YO SOPOW!!?" (kyaa!!! yang bilang kamu cantik juga siapa!!?) sergah Yokada bangun dari tidurnya, seraya merapikan rambutnya yang berantahkan.
"Iss bocah ki," (iss bocah ini,) gumamnya.
"Jadi aku jelek?!" tegasku dengan sedih.
Aku termenung dengan memeluk bantal di hadapanku.
"Emang sopow seng nolak kowe?!" (Emang siapa yang menolak mu?!) tanya Yokada dengan muka yang datar.
"Gak adaa" jawabku.
__ADS_1
"Haiss pemerintah! Hemm," keluh Yokada mengeleng-gelengkan kepalanya mengomentari acara di layar TV.
"Iss Senpai ni." kesalku memukulkan bantal ke badannya.
Aku pindah duduk di sebelah Yokada untuk ikut menikmati siaran di televisi.
"Emang rai mu seng gawe aku? Tak tawani oprasi plastik ra gelem." (Emang muka mu yang bikin aku? Aku tawari oprasi plastik gak mau) ucap Yokada menoel kepalaku.
"Wahai Kisanak, oprasi plastik itu hukum nya Haromm. Coba tanyakan pada tembok yang berdiri KOKOH, GUSTI ALLAH MELAKNAT HAMBANYA YANG MENGUBAH CIPTAAN-NYA" cercaku menepuk pundak Yokada.
"Trus ngopo ra trimo?!" (Trus kenapa gak terima?!) Yokada meraih sebuah bantal lalu memukulkannya ke kepalaku.
"Kan Khilaf," elakku.
"Aiss bocah ki. Buatin kopi, bawa ke ruang kerjaku. Jangan panas-panas." titah Yokada.
Yokada bangun dari duduknya dan pergi keluar meninggalkan kamarku. Belum sempat ia membuka pintu kamarku. Menghentikannya.
"Senpai?!" sergahku.
"Opo maneh?!" (Apa lagi?!) tanya Yokada berdiri di depan pintu.
"Kebanyakan nge-Game. Udah bikinkan kopi." sela Yokada meninggalkan kamarku.
"SIAP TUAN!" seruku.
Aku menghela nafas lalu membuangnya berlahan. Aku sedikit kecewa dengan jawaban Yokada. Tapi mungkin ada benarnya juga.
"Kayaknya iya deh." selidikku.
Aku beranjak dari kasurku untuk pergi keluar membuatkan kopi untuk Yokada.
......................
"Sennnnnnnnpaiiiii...." bisikku di depan telinga Yokada.
"KYAAAA! NGOPOW KOWE KI?" (kyaaa! ngapain kamu?) pekik Yokada.
__ADS_1
Yokada terperanjat hingga ingin terjatuh dari kursinya. Saking kagetnya, bahkan dia hampir saja memukulku dengan sebuah berkas yang ada di tangannya.
"Ko-pi Pak." godaku dengan senyuman nakal.
"Ngopow nganggo koyo ngunu kui?! NGAGETTI AE!" (Kenapa pakai kaya begituan?! NGAGETIN AJA!) protes Yokada.
Yokada dengan penasaran meraih daguku. Dia memperhatikan produk yang aku gunakan untuk menutupi kulit mukaku.
Serasa sudah cukup, Yokada meraih selembar tisu basah yang ada di mejanya untuk menyeka tangannya yang terkena masker wajahku.
"Masker Alami Beras Putih di campur dengan sari Lemon, sedikit Madu dan di tambah Ekstra Serum Anti-Aging, itu akan membuat kulit kita putih kenyal awet muda!" jelasku dengan gaya sok smart.
"Elek yo elek ae. Operasi plastik!!" (Jelek ya jelek aja. Operasi plastik!!) cela Yokada melemparkan tisu kotor di tangannya ke arahku.
"Insyaf lah wahai Kisanak." timpalku menepuk pundak Yokada.
Aku menundukan badanku, untuk melihat lebih jelas ke arah layar monitor komputer, yang berada di atas meja kerja Yokada.
"Nani kore?!" tanyaku melihat barisan angka merah yang hampir dominan mengisi seluruh layar monitor komputer itu.
"Itu laporan keuangan di Incheon. Haiss!! Bagaimana bisa, Omset menurun drastis padahal Ekspor-Impor masih berjalan dengan normal." jelas Yokada mengusap dagunya.
Yokada mengambil sebuah berkas dan menyodorkannya kepada Ha Jae. Dia pun bangkit dari duduknya, lalu meraih secangkir kopi yang Ha Jae hidangkan untuknya. Yokada beranjak menjauh dari meja kerjanya dengan secangkir kopi di tangannya.
"Yhaa, Ha Jae?!" panggilnya.
"Hemmm." gumamku masih serius memperhatikan layar monitor itu.
"Hemm. Hei bocah. Kamu udah bisa turun kelapangan. Besok kamu pergi ke Incheon, kamu pegang lapangan di sana sampai masalah ini selesai. Aku tau, kamu tau apa yang harus kamu lakukan." titah Yokada mendekat ke arah Choi Ha Jae.
"Hegm. Serahkan padaku!" sahutku dengan semangat.
Yokada menepuk pundak Choi Ha Jae dengan bangganya. Dia menaruh secangkir kopi di atas meja lalu beranjak ke depan jendela di ruangan itu. Yakada tak bergeming melihat pemandangan yang ada di luar sana. Seperti ada sesuatu hal serius yang dia pikirkan.
"Oe, maskernya masih?" seru Yokada menoleh ke arah Ha Jae.
"Masih di kamar." jawabku.
__ADS_1
Ha Jae terlihat serius membaca berkas laporan yang harus aku pelajari. Dia harus segera menguasai laporan itu. Karna esok pagi, dia harus pergi ke Incheon.
...****************...