
"Panggil teman-temanmu. Kita makan bersama, biar Mama yang menraktinya." titahku berjalan merangkulnya.
"Mama,"
"Hemm,"
"Kantinkan gratis," jelasnya.
"Haha ha ha," pekik ketawaku.
...----------------...
Ha Jae duduk termenung melihat wajah cantik yang sangat ceria itu, gadis itu berlahan menghampiri Ha Jae bersama beberapa temannya.
"Mama, ini sahabat-sahabatku," ucapnya memperkenalkan kedua sahabatnya. "Ini Kim Yuri, dan itu Kang Nami,"
Gadis itu memperkenalkan teman-temannya satu per satu.
"Yuri. Nami. Oo, Halo," sapa Ha Jae tersenyum kearah kedua gadis manis itu.
Mereka terlihat canggung dan takut dengan Ha Jae. Yuri dan Nami saling berpegangan satu sama lain terlihat begitu canggungnya. Tatapan mereka tidak lepas dari diri Ha Jar.
"Apa make-upku berantahkan? atau mukaku seperti hantu?!" tanya Ha Jae mengoda.
"Mama kenapa bilang gitu?" tanya Haneul.
"Harusnya kamu tanya kedua sahabatmu ini, kenapa melihat Mama seperti itu," jawab Ha Jae.
"Ah maaf tante. Aku hanya heran dengan Haneul. Kenapa punya Mama seperti tante. Kemaren Appa Haneul datang memperkenalkan Calon Mamanya. Dan Haneul juga menyimpan sebuah foto, katanya juga Mamanya. Aku jadi bingung," jelas Nami pernuh ketakutan.
"Oh mwo?! Calon Mama?! Haneul?!" kaget Ha Jae menoleh ke Haneul yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Mama belum tau? Appa mau nikah?!" tanya Haneul.
"Hee?!" kaget Ha Jae. "Kapan??"
"Tidak tau. Appa bilang secepatnya," jelas Haneul.
"Ohh nanti Mama akan tanya ke Appamu. Mama sudah lama tak bertemu Appamu," ucap Ha Jae membelai rambut Haneul.
Haneul hanya tersenyum tipis ke arah Ha Jae. Sedangkan Yuri dan Nami masih memandang Ha Jae penuh kecanggungan.
"Kalian mau makan apa? Mama sudah pesan beberapa Pizza untuk kalian," ucap Ha Jae. "Oh ini makan. Camilannya enak juga,"
Ha Jar menyodorkan camilan yang dia beli dari mesin jual otomatis.
"Serius! Aku lama tidak makan Pizza," sahut Haneul.
"Jadi bagaimana dengan pelajaran kalian? Tidak sulitkan?" tanya Ha Jar menyruput Jus yang dia pesan dari kantin.
"Lumayan sulit. Oh, Mama, Yuri pintar sekali. Dia jago Matematika, bahkan dia akan di ajukan untuk beasiswa ke SMA ternama di Seoul. Nami, dia pintar dalam berdandan, katanya nanti akan cari beasiswa ke jurusan tatarias," jelas Haneul.
"Terimakasih," ucap mereka dengan kompak.
"Orangtua kalian pasti bangga," celetuk Ha Jae memegang pundak Yuri.
Yuri hanya diam memandang Ha Jae sayu dengan senyuman yang terlihat terpaksa. Mereka saling bertatapan satu sama lain terlihat tidak menyukai pujian Ha Jae.
"Mama. Mereka tidak punya orangtua," ucap Haneul lirih. "Mereka dari Pantiasuhan. TAPI WALAU BEGITU mereka teman yang baik, mereka juga pintar! Mangkanya aku sangat senang bisa bersahabat dengan mereka," sambung Haneul memegang tangan Ha Jae.
Haneul dengan semangatnya mencetitakan kehebatan kedua sahabatnya itu.
"Siapa bilang mereka tidak punya orang tua," ucap Ha Jae memandang kedua gadis di hadapannya. "Tidak mungkin lahir dari batukan?"
__ADS_1
Ha Jae tersenyum kearah mereka. Nami dan Yuri hanya menunduk diam bergeming di hadapan Ha Jae.
"Hanya karna mereka tidak hidup bersama. Bukan berarti mereka tidak punya orangtua," Ha Jae masih memandang wajah polos kedua gadis itu. "Lagi pula, sekarang kalian punya Mama. Dan Mama kalian ini sangat bangga dengan kalian,"
Mereka tampak bingung dan kaget dengan apa yang Ha Jae ucapkan. Yuri dan Nami sesekali saling berpandangan satu sama lain dengan penuh kebingungan. Tak ada satu ucap kata pun yang mereka keluarkan.
"Mama," seru Haneul menatap Ha Jae.
"Mereka sahabatmu kan?!" tanya Ha Jae.
Haneul hanya diam mengangukkan kepalanya.
"Kau menerima kebaikan dan keburukan mereka dengan ikhlas?!" tanya Ha Jae menatap serius Haneul.
Haneul sekali lagi hanya menganggukkan kepalanya.
"Sekarang Yuri dan Nami jadi sodaramu," celetuk Ha Jae. "Kalian mau kan, punya Mama sepertiku?"
Ha Jae bertumpang dagu pada meja di depannha dengan senyuman tipis di pipi. Mereka berdua hanya diam ternyalang melihat Ha Jae. Haneul bergegas menghampiri Yuri dan Nami. Duduk di antara mereka berdua memeluk dengan bahagia.
"Mama, tidak bohongkan?!" tanya Haneul.
"Sejak kapan Mama hoby membohongi orang?!" ucap Ha Jae dengan senyuman manis.
"Ohh yeee!" pekik Haneul terlihat bahagia memeluk mereka berdua.
"Benarkah?!" tanya Yuri.
"Maksudnya apa?" tanya Nami terpaku melihat Ha Jae.
"Mulai hari ini kalian berdua panggil aku Mama. Kalian mau kan jadi anakku?!" tanya Ha Jar kepada Yuri dan Nami.
__ADS_1
"Benarkah?!" seru Yuri.
...****************...