Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Terkuak


__ADS_3

"Kau sakit?!" tanya Ha Jae masuk ke kamar Yokada.


Yokada yang duduk di sofa kamarnya terlihat termanggu memikirkan sesuatu. "Tidak," jawabnya.


Ha Jae datang menghampiri dan duduk di sebelah Yokada. Dia memalingkan wajah Yokada agar dapat menatapatanya. Yokada hanya diam mendapat perlakuan itu.


"Ada apa?! Kau ada masalah?" tanya Ha Jae. "Aku perhatikan, saat aku kembali dari Indonesia, kau tidak seperti Yokada yang aku kenal?"


"Hemm," gumam Yokada menyeringai. "Hahg.. kau benar. Aku bukan Yokada yang seperti biasanya. Aku juga heran. Apa aku sudah berubah, hah?!"


Yokada menatap Ha Jae dengan serius. Ha Jae merasa bingung dengan apa yang Yokada maksud. Ha Jae tersenyum tipis ke arah Yokada.


"Berikan tanganmu," titah Ha Jae.


"Tidak perlu. Kau tidak perlu mengetahui apa yang ada di otakku. Aku bisa menyelesaikannya sendiri," tolak Yokada.


"Hemm, tapi aku tak suka sikapmu yang seperti ini, Tuan." ucap Ha Jae menatao Yokada dengan sendu.


"Aku ingin kau jujur padaku," ucap Yokada.


"Apa?!" tanya Ha jae.


Tanpa di sadari Yokada, Ha Jae berlahan meraih tangan Yokada. Dia mengenggamnya dengan sangat erat. Yokada yang menyadari hal itu pun terlihat pasrah.


"Kau ini," ucap Yokada.


Ha Jae terdiam di samping Yokada. Berlahan dia tersenyum tipis dengan tatapan yang sendu. Tak terasa air mata Ha Jae pun membasahi pipinya. Yokada yang melihat itu pun mengusap pipi Ha Jae dengan lembut. Ha Jae pun jatuh di pelukan Yokada. Dia menangis sesegukan di pelukan Yokada.


Yokada dengan lembut berusaha menenangkan Ha Jae seperti seorang ayah menenangkan putri kecilnya.


"Relakan dia. Mungkin dia bukan hodohmu," ucap Yokada. "Ya, ya. Yang kau rasakan selama ini adalah cinta. Kau hidup, kau sudah hidup. Kau benar-benar sudah hidup. Dan beginilah hidup,"


Tak terasa, Yokada meneteskan air matanya. Dia tak kuasa melihat Ha Jae menangis dalam pelukannya. Tak di sangka, kisah asmara Ha Jae sama seperti yang Yokada rasakan di masa lalunya.


......................


"Tumben kau ke sini? Lama setelah kau bertunangan dengan Julia, kau jarang ke sini lagi. Kau sudah melupakanku?!" sindir Yokada.


"Maaf, aku banyak urusan yang harus aku selesaikan. Aku kesini hanya ingin memberikan ini." sahut Shin Ji joon.


Shin memberikan, sebuah undangan pernikahannya bersama Julia kepada Yokada. Yokada yang melihat itu pun terlihat tidak senang.


"Kenapa kau memilih gadis itu?! Bukankah harusnya Ha Jae?!" celetuk Yokada.


"Hah, apa maksud, Paman?!" sahut Shin Ji Joon.


"Kau berubah Shin. Kau tak pernah memangilku dengan sebutan Paman. Ada apa?!" tanya Yokada.


Shin Ji Joon tertegun di sofa tamu. Dia tak bergeming sedikit pun.


"Aku tau semuanya. Kau tak bisa menyembunyikan sesuatu dariku," tandas Yokada.


Yokada duduk di hadapan Shin Ji Joon. Shin Ji Joon berusaha memalingkan pandangannya dari Yokada.


"Kau suka dengan Ha Jae. Kau sangat menyukainya," celetuk Yokada.


"Apa maksud, Paman?! Mana mungkin aku - "


"Ha Jae pun sama," sela Yokada memotong ucapan Shin.

__ADS_1


"Hagh!" Shin terlihat kaget dengan ucapan Yokada. "Dia sudah menikah, dia sudah punya bahagia,"


"Apa?! Tau dari mana kau omong kosong seperti itu?!" hardik Yokada. "Bahkan kau saja tak tau perasaan Ha Jae selama ini,"


Yokada bangkit dari duduknya. Dia pergi ke meja bar dan menuang sebuah wine. Yokada terlihat sangat kesal.


"Anaknya," ucap Shin dengan ragu.


Yokada melihat ke arah Shin Ji Joon yang duduk termangu. Dia menghampiri Shin dan duduk di depannya.


"Haneul?!" jelas Yokada.


"Dia sudah besar," tutur Shin dengan sendu.


"Kau pikir Haneul anak Ha Jae?!" ungkap Yokada.


"Hah?! Apa maksudmu?" tanya Shin terkejut.


"Hemm! Harusnya kau jujur padaku dari dulu Shin. Kau anggap apa aku ini?!" tuntut Yokada.


Shin Ji Joon hanya tertegun tak habis pikir dengan apa yang dia dengar itu. Haneul tetiba keluar dari kamar Ha Jae bersama kedua sodaranya.


"Paman, kami sudah siap," seru Haneul.


"Ah," sahut Yokada menoleh ke arah Haneul.


Yokada tertegun memikirkan sesuatu. Dia meminum wine dalam gelasnya. Dengan serius, Yokada menatap Shin yang duduk di hadapannya itu.


"Aku ada waktu luang?" tanyan Yokada kepada Shin Ji Joon.


"Hah?! Aku?" tanya Shin Ji Joon.


"Kau antar Haneul dan kedua sodaranya. Kau cari tau saja sendiri apa yang ingin kau ketahui." titah Yokada. "Haneul, kalian yang antar Shin Ji Joon ya. Ah, Paman merasa tak enak badan,"


"Ah, iya Paman. Akan aku sampaikan," jawab Haneul.


Yokada pergi ke lantai bawah. Haneul tertegun memandang Shin yang masih tertegum duduk di sofa. Cukup lama Haneul menunggu Shin yang masih termanggu seperti kehilangan akal.


......................


"Kita mau kemana?" tanya Shin kepada Haneul yang duduk di sampingnya.


"Ke kepemakaman dulu, Paman. Abis itu kita ke Panti dan ke kantor Mama," jawab Haneul.


"Pemakaman?!" tanya Shin penasaran.


"Emm," Haneul menganggukan kepalanya dengan semangat.


"Haneul, nanti kita ke toko roti dulu ya sebelum ke Panti. Aku mau membelikan kue untuk kepala Panti." usul Nami.


"Apa uangnya cukup?! Uangku tinggal segini. Lagian tabungan kita bukannya udah kita buka untuk beli seragam," tutur Yuri.


"Uang yang Mama berikan emang sudah habis?" tanya Haneul melihat kedua sodaranya yang duduk di jog belakang.


"Mama?! Apa kita boleh pakai uang itu?!" tanya Yuri.


"Kalian ini, kalau kalian gak gunakan, nanti Mama marah. Mama berikan itu untuk uang jajan kita," ucap Haneul.


"Tapi itu banyak sekali," sahut Nami.

__ADS_1


"Memang banyak. Tapi Mama selalu memberikan segitu setiap bulan. Cukup tidak cukup, jatah jajan memang segitu," jelas Haneul.


"Jadi kita boleh pakai uang itu?!" tanya Yuri sekali lagi.


"Hemm," Haneul menganggukan kepalanya.


"Wah enak sekali ya punya orang tua. Kami selama ini harus bekerja untuk jajan, bahkan untuk membeli buku dan seragam." tutur Yuri.


"Jadi kau menraktir kami setiap hari. Itu uang dari Mama?" tanya Nami.


"Memangnya dari siapa lagi? Papaku kan udah biayai sekolahku. Uang jajan dari Papa, Mama tabung. Kata Mama, uang jajan itu harus aku gunakan untuk buka usahan nanti jika sudah dewasa. Hidup dewasa itu keras, jadi kita harus siap menghadapinya." tutur Haneul.


"Begitu, ya?!" sahut Yuri.


"Lalu, kau kerja setiap minggu di kedai buat apa?! Aku pikir, kau dapat uang karna bekerja," tanya Nami.


"Jebi-Jebi?" tanya Haneul.


"Ehmm," Nami mengangguk untuk membenarkan.


"Ha ha, kamu ini. Aku tidak bekerja di sana. Kakek Dogsan itu sudah seperti Kakekku sendiri. Aku di sana hanyamembantu Kakek berjualan," terang Haneul.


"Jadi dia Kakekmu?! Pantas dia baik sekali. Aku pikir dia orang tua keladi," seru Yuri.


"Ha ha ha, kau ini. Mana ada seperti itu. Kakek memang seperti itu sifatnya. Dia sangat sayang denganku. Bahkan Nenek sering buatkan aku kue jika kesana. Bukankah kalian juga sering makan kue yang aku bawa?" beber Haneul.


"Aku pikir itu upah kerjamu," balas Yuri.


"Mama, hebat ya," celetuk Nami dengan tatapan sendu. "Aku bersyukur bertemu dengan Mama,"


"Hemm, saat Mama bilang kita jadi anak Mama. Aku pikir itu hanya bercanda. Hanya sebuah hiburan karna dia iba dengan kita. Aku sampai tidak bisa tidur semalaman," tutur Yuri.


"Tidak tidur apanya. Kau ngorok kencang banget tau," sanggah Nami.


"Aku hanya tidur satu jam. Bukankah kau juga tidak bisa tidur memikirkan itu?!" sahut Yuri.


"Jadi kalian tidak percaya dengan Mama?" tanya Haneul.


Yuri dan Nami hanya terdiam saling bertatap-tatapan. Dia ragu untuk menjawab pertanyaan Haneul.


"He hemm. Mama memang orang yang tidak bisa di percaya, di mata orang lain. Tapi kalian harus percaya. Mama bukan orang seperti itu. Mama itu keras dan tegas. Jika Ya, maka Ya. Dia tidak pernah bermain-main dengan ucapannya. Sekali pun bercanda," ungkap Haneul. "Mangkanya Mama jarang berbicara. Kata Mama, sebagai manusia, yang di pegang adalah ucapannya. Jadi berhati-hatilah dalam berucap."


Yuri dan Nami tersenyum mendengar apa yang Haneul katakan. Terlihat mereka sangat bahagia dengan penjelasan Haneul.


"Kalian jangan percaya ucapan orang lain sepenuhnya. Jika kalian sendiri belum tau kebenarannya. Jadi, cari tau sendiri kenyataannya. Karna kenyataan di mata setiap orang itu berbeda-beda penilaiannya. Kata Mama seperti itu," tutur Haneul.


"Aku jadi ingin lebih dekat lagi dengan Mama," tutur Yuri. "Tapi Mama selalu sibuk ya,"


"Kau tidak boleh berkata seperti itu," balas Nami. "Kita harus berterimakasih kepadanya, karna dia sudah mau mengangkat kita sebagai anak-anaknya,"


Ngikkkkkks!


"Ahhh!" pekik semua orang dalam mobil.


Mobil yang mereka tumpangi hampir menabrak pembatas jalan. Shin Ji Joon yang mendengar percakapan mereka pun terlihat syok karna mengetahui bahwa mereka bukan anak kandung Choi Ha Jae.


"Maaf," tutur Shin Ji Joon.


"Paman, tidak apa-apa?! Kalau Paman lelah, kita istirahat dulu," tanya Haneul.

__ADS_1


"Tidak, tidak apa-apa. Sebentar lagi kita sampai." jawab Shin Ji Joon.


...****************...


__ADS_2