Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Kehadirannya


__ADS_3

Sesampainya di rumah. Saat kita hendak masuk. Aku memukul perban di tangan Jennie dengan jailnya.


"Kyaa Sakit!!" sergah Jennie menjauhkan tangannya yang di perban dariku.


"Lecet we ora kok, loro." (lecet aja enggak kok, sakit.) ledekku masuk ke dalam rumah.


Aku bergegas masuk menuju dapur. Terlihat semua masakan dan perabotan sangat berantahkan di sana.


"Astaga, ini dapur kaya Titanic jungkir balik?!" seruku seraya mengangkat penggorengan yang minyaknya tumpah berantahkan.


"Titanic?! Titanickan tenggelam, bukan jungkir balik!" selidik Jennie.


"Ya siapa tau sebelum tenggelam jungkir balik dulu." celetukku melirik ke arah Jennie dengan menyeringai.


Haha ha ha ha ha! (suara tertawa kami yang pecah).


Tak ada lagi kecanggungan di antara kita. Kita bercanda dan tertawa seperti biasa saat kita berkumpul. Kita memang seperti ini setiap berkumpul bersama. Tertawa, marahan, bertengkar, dan akhirnya selalu baikan.


"Hei, sudah! Kalian menyingkir dari areaku. Biar aku yang memasaknya." ujarku.


"Iyes Chef!" sahut Hani dan Jennie.


Sekitar pukul 07:13.PM, Kyun datang dengan Sekertaris Min dan Istrinya mengejutkanku.


"Halo semua! Kita pesta..!!" seru Kyun.


Kyun masuk ke dalam rumah dengan menunjukan 4 kantong belanjaan di tangannya.


"What!!" sergahku.


Aku bingung melihat Kyun datang bersama Sekertaris Min dan istrinya.


"Apa-apaan ini?!" hardikku.


Aku menaruh piring yang baru saja aku cuci, ke atas meja bar.


"Annyeong haseo," sapa Sekertaris Min dan istrinya.


Mereka lalu duduk di kursi makan. Tanpa ragu, Sekertaris Min mengambil sepotong tempe yang sudah matang di atas meja makan.


"Coco, kita akan Pesta untuk kedatanganmu. Oh ya, makasih Jaketnya, gimana keren kan?!" tutur Kyun bergaya menunjukan Jaket yang dia pakai.


"Mwo!! Kamu beli'in Kyun Jaket tapi gak buatku!" hardik Hani keluar dari dalam kamar menghampiriku.


Hani memukul punggungku dari arah belakang dengan kuatnya.


"AKU JUGA!!" sungut Jennie yang tengah membawa sebuah ember dan kain pel dari lantai atas.


"Kya pacarnya kecelakaan kenapa tidak datang!! Di telpon-telpon gak di angkat!!" cerocos Jennie.


Jennie mendekat ke arah Kyun dan memukul-mukulnya dengan kesal.


Ya, Kyun dan Jennie memang berpacaran. Aku mengenal mereka sebelum mereka berpacaran. Setelah kita sering berkumpul bersama. Tidak di sangka mereka saling cocok satu sama lain. Dan akhirnya mereka berpacaran.


"Au au, sakit," seru Kyun.


"Dasar! Dasar!" seru Jennie, terus memukuli Kyun.


Kalau melihat mereka itu seperti angka 10. Kyun dengan tubuh jangkung, tingginya. Sedangkan Jennie dengan tubuh pendek, sedikit agak gendut.

__ADS_1


"Ha ha ha," pekikku tertawa melihat tingkah mereka.


Walau pun demikian, mereka bisa menerima kekurangan satu sama lain. Walau Kyun terlihat sempurna, sebenarnya Kyun juga punya banyak kekurangan. Yang mungkin, susah untuk di terima oleh orang lain. Tapi Jennie, mampu menerima semua itu. Walau sebenarnya hubungan mereka tak semulus kelihatannya.


"Aa a a,," teriak Kyun kesakitan menerima pukulan Jennie.


"Aku kan lagi kerja, jangan marah sayang," rayu Kyun memeluk Jennie.


"Oleh-oleh kalian masih di koper. Kalau mau buka aja sendiri." selaku.


Aku menghampiri kantong belanjaan yang Kyun bawa melihat apa isi di dalamnya.


"Sekertaris Min, yang santai aja ya. Kita belum siapkan hidangan," ucapku kepada sekertaris Min.


"Ah tidak apa-apa," jawab Sekertaris Min dengan mulut masih mengunyah.


"Biar aku bantu," Smsela bibi Min Sae istri Sekretaris Min Ho, menghampiriku.


"Makasih Bik. Emm masak apa ya kita?" sahutku sembari melihat bahan masakan yang ada di hadapanku.


"Tadi kita beli ayam dan sayur. Katanya masakanmu enak ya? Aku ingin mencoba nya," puji Bibi Min Sae mendekatkan badanya kearahku.


"Ah Bibik, biasa aja kok." elakku malu menyenggol tubuh Bibi Min Sae.


"KODENYA BERAPA?!" sergah Hani dari dalam kamarku.


"0013!" seruku.


"Boy, tolong cuci'in ayamnya ya," titahku kepada Kyun yang duduk di kursi bar depanku.


"Okay." sahut Kyun.


"Masak apa dong?!" tanyaku memilah bahan makanan.


"MASAK SOTO!" sergah Kyun semangat dari belakangku.


"Iya aku ingin coba," imbuh Bibi Min memegang tanganku.


Sekertaris Min yang sudah duduk di Sofa sembari melihat TV tersenyum mengacungkan jempol ke arahku seakan setuju dengan masukan Kyun.


"Okay," jawabku setuju dengan permintaan mereka.


Tak beberapa lama Yokada pun datang dengan seseorang yang tak ku duga.


"Moshi Moshi," sapa Yokada masuk ke dalam ruangan.


"Ne ne, silahkan Pak CEO." jawab Sekertaris Min menghampiri Yokada dan memberikan salam.


Aku kaget terpaku saat melihat siapa yang datang bersama Yokada.


Shin Ji Joon! Gumamku dalam hati.


"Ha Jae?" panggil Bibi Min dengan lirih di sebelahku.


"Ne?" sahutku.


"Ayamnya di apa'in?" tanya bibik Min kepadaku.


"Oh ya, emmm, potong. Ayam nya di potong." jawabku gelagapan.

__ADS_1


"Ayam nya biar aku yang potong. Nanti setelah di potong baru di rebus sama Bumbu. Ayam yang itu nanti kita bakar Kecap aja. Takutnya kalau di Soto semua kebanyakan," imbuhku mendekat ke arah Kyun yang sedang mencuci Ayam.


Aku mengabaikan Shin Ji Joon yang sudah duduk di kursi bersama Sekertaris Min dan Yokada. Aku berusaha kuat untuk konsentrasi dengan masakku.


Jika pikiranku terganggu, masakanku nanti malah tidak enak. Sungguh jantungku berdebar kencang, aku sangat canggung dan malu. Semua bercampur aduk menjadi satu.


Aku kenapa sih?! Gumanku dalam hati.


"Yhaa Jennie, tanganmu kenapa?" sergah Yokada kepada Jennie yang baru keluar dari kamarku.


Yokada mendekat ke bar di sampingku untuk mengambil beberapa gelas dan sebotol Soju.


"Oh Oniisan. He he ini tadi kena minyak," jelas Jennie malu.


"Kamu ini," sahut Yokada kembali ke tempat duduknya.


"Boy, tolong ambilkan Rempah untuk masakan." titahku memberikan Kyun sebuah pisau.


"Rempah?! Di mana??" tanya Kyun mengambil pisau itu dari tanganku.


"Itu, tanaman yang daun nya lebar. Yang pot hitam. Ada tulisan di Potnya," jelasku.


Aku menunjuk ke arah pojok ruangan yang dominan dengan tanaman rempah dan sayuran yang sengaja aku tanam. Hampir lengkap tanaman rempah yang aku tanam di sini.


"Yang mana?!" tanyanya bingung melihat satu per satu pot hitam.


"Tulisanya Lengkuas." sergahku sambil memotong Ayam.


"Oh ya." sahut kyun.


Aku mencoba melirik melihat ke arah Kyun untuk melihat yang sedang ia lakukan.


"Kyaaa!!" sergahku.


"Jangan di cabuttttt!!!" seruku mendekat menghampiri Kyun.


"Lengkuas itu, rempahnya di akar, bukan di pohonnya. Di congkel gini." hardikku menyontohkan bagaimana cara mengambilnya Lengkuas itu.


"Oh ya ya," jawab Kyun memperhatikanku.


"Nah begini. Coba ambil kan Shere. Yang itu," Tunjukku sambil membereskan tanaman Lengkuas.


"Okay," sahut kyun bergegas mencari tanaman Serai.


"Yhaa!" sergahku memukul kepala Kyun dengan gagang pisau.


"Aoo!" teriak Kyun.


Kyun terlihat kesakitan memegang kepalanya. Kyun bergeser menjauh dariku.


"Kamu ngapain?! Shere itu rempahnya dari batang pohon nya. Bukan akarnya!" jelasku duduk di hadapan Kyun.


"Kamu ini!! Begini salah, begitu salah. Tadi salah, sekarang salah!!" gerutu Kyun melihatku dengan kesal.


Aku tersenyum menyeringai melihat ekspresi Kyun yang terlihat sangat jengkel denganku.


"Ya Ya Ya! Kyun kamu urus yang lain aja. Biar Shin yang membantu Ha Jae!" sela Yokada yang duduk di Sofa belakang kami.


Opow!! Sergahku dalam hati.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2