Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Sindirian Emosi


__ADS_3

"Nani?!" celetuk Yokada yang tersentak menoleh ke arah Ha Jae.


Shin yang duduk di sofa pun, ikut tersentak melihat kedatangan Ha Jae yang tiba-tiba.


Ha Jae mengerutkan keningnya melihat Yokada dan Shin, yang sedang duduk santai menikmati Soju dengan menonton acara di layar tv. Ha Jae terlihat salah tingkah saat menyadari bahwa sikapnya terlalu berlebihan.


"Ee ora, ora," tepis Ha Jae gelagapan.


Shin ternyalang melihat Ha Jae. Dia beberapa kali membuang muka, mencoba tak melihatnya. Ha Jae terperanjat saat menyadari posisi berdirinya yang ngangkang hampir memenuhi pintu.


"Oo Mwo?!" sentaknya dalam hati.


Ha Jae langsung metegakan posisi berdirinya. Merapikan piyama yang terbuka lebar. Ha Jae berlahan menutup kembali pintu yang ia buka dan berpaling kembali ke kamarnya.


Ha Jae begitu sangat malu dengan sikap konyolnya itu. Bagaimana tidak, dengan hanya mengenakan piyama, handuk masih membungkus kepalanya. Dia mengagetkan mereka dengan begitu amat konyolnya.


"Ya ampunnnn." gumam Ha Jae dalam hati.


Ha Jae duduk di atas ranjang dan meraih berkas laporan dalam koper, yang belum di bereskan di atas kasurnya. Ha Jae menghela nafas dan berlahan menghembuskannya berlahan.


"Hah,,"


Ha Jae mencoba menenangkan dirinya. Dia bangkit dari duduknya untuk menuju Bar yang berada tepat di samping luar kamarnya.


"Sial,"


Bar kecil yang menyatu dengan dapur atas menjadi tempat favoritnya. Ha Jae mengambil sebuah mug dan membuat segelas Coklat hangat.


Klunting!


Malam yang dingin agaknya sangat nikmat jika menikmatinya dengan segelas Coklat hangat dengan pemandangan langit malam kota Daejeon.


Srupppp!


"Ah,"

__ADS_1


Desain rumah ini memang cukup unik. Ha Jae mendengar dari Yokada. Dulu rumah ini milik keluarga Shin Ji Joon. Tak heran jika Yokada dengan Shin Ji Joon begitu sangat dekat.


Tetttttttt,, (bell ruangan berbunyi).


"Yha, Ha Jae, coba kesini." titah Yokada dari ujung monitor bell.


Ha Jae bergegas memakai pakaiannya. Tak lupa ia meraih berkas laporan dari Incheon.


"Sekalian aku bawa kali, ya?" gumam Ha Jae dalam hati.


Walau bagaimanapun bekas harus Ha Jae serahkan secepatnya. Ha Jae bergegas turun ke lantai bawah untuk menghampiri Yokada.


Tok Tok, (suara pintu di ketuk).


"Senpaii," panggil Ha Jae.


Ha Jar berlahan membuka pintu ruangan itu. Dia memasuki ruang sembari menyembunyikan berkas di belakang badannya.


"Nani?" tanya Ha Jae menghampiri Yokada.


"Aku butuh survey lapangan untuk produk terbaru kita. Besok kamu temani Ji Joon untuk wawancara warga tentang produk kita," titah Yokada.


"Iya. Lebih cepat lebih baik," jelas Yokada. "Produk kita sudah lama sekali di pending karna belum punya model iklan. Terlebih lagi perijinan edar sekarang ini sulit sekali. Karna surat ijin sudah keluar, aku ingin produk ini segera di pasarkan agar kita tidak merugi,"


"Tapiiii,, besok aku gak bisa," tolak Ha Jae ragu.


"Kenapa?!" tanya Yokada.


"Aku harus pergi ke kantor untuk buat laporan. Aku juga ada janji dengan teman. Aku juga harus bereskan pekerjaanku, dan ... " tutur Ha Jae tak meneruskan ucapannya.


Ha Jae terdiam memandang Yokada. Sebelum dia melirik ke arah Shin yang terlihat serius memandangnya.


"Akuu. Aku harus gantikan posisi Senpai seharian besok," jelas Ha Jae menyeringai hati-hati.


"Kamu ini. Siapa suruh menggantikanku besok?! Lagian, teman?! Teman siapa yang kamu maksud?! Brandalan itu??!" sergah Yokada tersirap.

__ADS_1


"Maaf," ucap Ha Jae menunduk.


Ha Jae sedikit kesal dengan sikap Yokada yang masih belum mengerti maksud dan tujuannya. Tapi walau begitu, Ha Jae paham. Karna memang Tuannya itu belum tau keadaan yang sebenarnya terjadi di Incheon.


"Tuan William Yokada. Saya rasa Anda tau jauh tentang Gemani ketimbang dirinya sendiri." celetuk Ha Jae tertercenung.


"Seorang Gemani tak kan pernah membiarkan seekor Anjing masuk kedalam rumahnya. Kecuali Anjing itu peliharaan nya sendiri. Walau haram, Dia tau cara memeliharanya," tegas Ha Jae menatap tajam Yokada.


Shin yang mendengar hal itu pun mulai bingung dengan apa yang Ha Jae maksud dan katakan.


"Itu pesan dari Tuan Sanji. Katanya aku harus bilang gitu sama Senpai," sambung Ha Jae.


"Oh ya. Lebih baiknya aku memberikan laporan Incheon ini ke Senpai sekarang. Huaaahhh!! Aku ngantuk banget," imbuhnya.


Ha Jae menghampiri Yokada dan menaruh laporan itu ke atas meja. Dia beranjak berpaling dari tempat itu.


"Oh ya, Pak Shin Ji Joon. Maaf, tapi saya ada waktu hari Sabtu dan Minggu besok. Jika Anda berkenan, kita bisa Survei lapangan. Nanti akan saya hubungi untuk Jam dan tempatnya. Oh tidak! Anda saja yang hubungi saya. Nanti kalau saya, Anda gak baca pesan saya. Andakan orang yang sibuk," sungut Ha Jae dengan sengaja menyindir Shin Ji Joon. "Saya undur diri. Sudah larut malam, selamat malam,"


"Oh, ya. Selamat malam," sahut Shin terlihat tersindir dengan ucapan Ha Jae.


Ha Jae beranjak pergi tanpa menoleh atau pun menutup pintu. Melihat ekspresi Yokada, Ha Jae tau kalau dia paham apa yang ia maksud. Sampai di kamar, Ha Jae langsung mebantingkan badannya di kasur untuk terlelap.


......................


"Apa-apa ini?!" sergah Yokada.


"Ada apa??" tanya Shin seraya meminum Soju di gelasnya.


"Laporan di Incheon. Kenapa bisa separah ini?!" jelas Yokada kaget.


"Sebaiknya aku pulang. Ini sudah larut malam. Sampai jumpa besok," Shin bangkit dari duduknya.


"Ya ya, hati-hati di jalan." jawab Yokada terpaku dengan laporan di tangannya.


Yokada bergegas keruang kerjanya. Dia membuka komputer dan membuka dokumen Incheon yang Ha Jae serahkan.

__ADS_1


"KEPARATTTT...!!" pekik Yokada melempar berkas laporan itu dengan penuh amarah. "Bagiamana orang seperti dia berani bermain-main denganku, haagg!!"


...****************...


__ADS_2