
Aku berusaha tegakkan posisi berdiriku. Mencoba membuka lebar-lebar mataku.
"Anu. Aku rasa sudah sore. Ayo kita pulang." Ajakku mengajak Man dan Shin.
Aku meraih ranselku dan bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Aku melihat sangat jelas ekpresi Shin Ji Joon yang sangat syok melihatku. Dia hanya bisa diam bergeming, dengan mata yang ternyalang.
Aku bertegun berbalik berjalan menghampiri Shin. Aku menyeret tangannya untuk pergi mengikutiku.
"Ayo pergi." Ajakku tanpa menatapnya.
Man mengikutiku dari belakang. Kami pun menuju gedung parkir di sebrang jalan tepat di samping Kantor Studio milik Shin berada.
Sesampai di lantai 2 tempat kami memarkir Mobil. Dari pantulan kaca mobil, aku melihat Shin yang tepat berdiri di belakangku. Tanganku erat mengenggam tangannya. menyadari hal itu aku pun langung melepas gengganku.
Aku terdiam bergeming melihat bayangan diriku.
Bagaimana jika mereka tau siapa aku. Apa masih kita sedekat ini? Gumamku dalam hati.
Jantungku tetiba terasa sesak seperti berhenti. Sulit sekali untukku bernafas.
Tit tit! (bunyi Alarm mobil terbuka).
Aku tersentak kaget dengan suara itu. Ku lihat Man menghampiri Shin. Dia menepuk pundaknya dan menatapnya.
"Oe Shin, kami pulang duluan ya." ucap Man kepada Shin.
Tanpa bosa-basi, aku langsung bergegas masuk ke dalam mobil. Aku mengunci pintu mobil, membenamkan mukaku dalam pangkuan. Mencoba menenangkan diriku dan mengatur detak jantungku.
Aku haruas ke Dokter besok rasanya menganggu sekali. Gumamku dalam hati.
Tak terasa air mataku menetes begitu saja.
Apa? Kenapa aku..?
Aku mengangkat mukaku mencoba menyeka air mata di pipiku. Tapi ntah kenapa, air mata itu mengalir seperti mata air begitu saja. Semua kejadian yang aku alami hari ini. Semua sikapku yang sangat kejam. Semuanya terus terniang dalam kepalaku.
Dasar bodoh, apa yang aku lakukan, dasar, dasar, dasarrrrr!!! Gumamku terus berusaha menyeka air mataku.
Sesak dadaku, marah, benci, sebal, sedih, semua menjadi satu. Aku malu, aku tak pantas, aku buruk. Aku benar-benar monster.
"Wuuaaaaaa!!!" Tangisku pecah seketika.
Kenapa aku menangis? Kenapa??
Aku terus berusaha menyeka air mataku.
Dadaku. Apa ini sebenarnya?! Ada apa dengan diriku. Gumamku dalam hati.
Air mata ku mengalir tak terbendung. Tak perduli dengan Man dan Shin yang berada di luar mobil. Aku kacau, tak bisa mengontrol diriku. Aku bahkan tak tau apa yang aku lakukan sekarang.
Aku tak ingin menangis. Tapi air mata ini tak bisa aku hentikan. Dadaku begitu sangat sesak.
Sial apa mereka menggangguku. Hei, kenapa diam. Harusnya kau bantu aku. Sial palaku pusing. Jangan sampai aku hilang kesadaran di sini. Gumamku terus berusaha menenangkan diriku.
...Awas jika aku menangkapmu nanti! Aku akan meleburkanmu. Sial sial!! Aku harus tenang....
......................
Shin terpaku memperhatikan Ha Jae yang terlihat aneh di dalam mobil.
"Eem, kalau gitu aku masuk duluan. Aku aku harus selesaikan pekerjaanku." ucap Shin berlahan melepas pandangannya dari Ha Jae.
"Oh ya. Tenang saja, biar dia aku yang urus." ucap Man.
Shin melempar senyuman tipis lalu berpaling pergi menuju ke dalam gedung.
"Oe!" panggil Man kepada Shin.
"Emang pacarmu kalau PMS kaya gini ya?!" tanya Man datar.
"Lebih parah. Daa,," jawab Shin melambaikan tangannya.
"Cih! padahal jelas-jelas ... " guman Man.
Man melirik ke arah Ha Jae. Man memegang gagang pintu mobil ingin mencoba masuk. Dia tertegun mengurungkan niatnya. Man mengeluarkan ponsel dari kantongnya lalu duduk jongkok di sebelah mobil.
__ADS_1
......................
Waktu berlalu, Shin keluar dari dalam Lift menuju tempat parkir.
"Hei, kau masih di sini?" sapa Shin kepada Man.
"Kalian pergi duluan." Shin menyuruh beberapa orang yang pergi bersamanya untuk pergi ke dalam mobil terlebih dahulu.
Man menoleh melihat ke arah Shin yang berlahan menghampirinya. Dia bangkit dari duduknya.
"Oo anu, mobilnya macet." jawab Man menggaruk kepalanya.
Shin tau itu hanya sebuah alasan. Dia berjalan mendekat ke arah mobil. Shin membungkukkan badannya untuk melihat lebih jelas ke dalam mobil. Mencari tau apa Ha Jae masih di dalam.
"Ohh dia tidur?" ucap Shin berbalik menatap Man.
"Apa?! Tidur??" kaget Man.
"Ah sial! Bocah ini!!" sergah Man.
Dia berjalan menuju sebelah kiri mobil, membungkukkan badannya lalu mengetuk pintu kaca mobil.
"Woyyy bocah!! tangi!!" (Woyyy bocah!! bangun) sergah Man.
Man mencoba menggoyang-goyangkan mobil agar Ha Jae yang tertidur di dalamnya segera terbangun.
"Kowe pingsan opow turu hee?? Tangii!!" (Kamu pingsan apa tidur sih?? Bangun!!) cerocos Man masih berusaha membangunkan Ha jae.
......................
Aku tersentak saat merasa badanku terguncang.
"Gempa!! Gempa ya?!"
Aku melihat kanan kiriku dan menyadari bahwa aku masih di dalam mobil. Dari luar mobil, aku melihat Man berusaha menggoyang-goyangkan mobil dengan muka yang kesal.
Aku akhirnya tau biang kerok kenapa mobilnya bisa terguncang. Aku menghela nafas membuangnya berlahan untuk menangkan diriku. Jantungku tersentak seperti mau copot.
Aku menoleh ke sisi kanan. Di sana ada Shin yang sedang berdiri memperhatikanku.
"Ha?"
"Kalau gitu, aku pergi duluan, aku sudah di tunggu" Pamit Shin bergegas pergi menuju sebuah mobil.
"Oh ya, hati-hati di jalan." sahut Man.
Aku hanya bisa terdiam memandang Shin berlahan pergi menghilang dari pandanganku.
Klek! (pintu mobil terbuka).
"Woy geserrr!" titah Man.
Aku pindah dari dudukku ke kanan. Memberikan kursi pengemudi kepada Man. Pandanganku sesekali masih tertuju ke arah Shin pergi. Berlahan mobil kami berjalan pergi. Aku tetap masih terpaku tak mengubah pandanganku.
Keheningan mengisi suasana di dalam mobil. Tak ada sepatah kata pun yang di ucapkan oleh Man. Aku sesekali menguap karna memang masih berasa sangat ngantuk.
"Man, besok kau gantikan aku ya?!" titahku.
"Aku ada urusan dengan Tuan Yokada besok." imbuhku.
Aku menghela nafas mengeluarkannya berlahan. Mencoba memejamkan mataku, berharap aku bisa tidur kembali dan melupakan semua yang sudah terjadi itu. Aku membuka mataku karna mengingat satu hal.
"Siapa mereka?!" tanyaku kepada Man.
"Sopow?!" (Siapa?!) tanya Man.
"Apa hubungan mu dengan brandalan itu? Kau mengenal mereka?!" tanyaku.
"Wes ra sah di piker. Cecungok-cecungok kae, gen aku seng urus. Ora sah ngregeti tangan mu ghor gho ngurus tikus" (Udah gak usah di pikirkan. Brandalan-brandalan itu, biar aku yang urus. Gak usah ngotorin tangan mu cuman buat ngurus tikus) ucap Man.
"Aku paling tidak suka di permainkan. Kau tau?!" hardikku. "Kau masih belum tau banyak tentang Tuan Yokada. Jika kau mencoba mempermainkan ku, tanganku sendiri yang akan membuatmu menghukummu."
"Aku tau. Aku tau siapa kau. Aku tau apa yang harus aku lakukan sekarang. Kau tenang saja. Jangan ulangi lagi." ucap Man melirik ke arahku.
"Doi, takut tauk." goda Man berbisik mendekatkan muka ke arahku.
__ADS_1
Aku hanya diam bergeming sedikit pun.
Aku tau, pasti Shin sangat kaget dengan apa yang aku lakukan tadi. Aku tak tau apa yang dia pikirkan tentangku setelah ini. Kepalaku begitu pusing.
Aku mencoba melihat ponselku. Aku melihat notifikasi pesan dari Shin.
...(pesan Shin Ji Joon)...
...----------------...
^^^"Besok, jam 6 pagi aku jemput di rumah. Kita harus berangkat pagi agar bisa mendapatkan banyak informasi dari warga"^^^
...----------------...
Aku ingat, besok hari Sabtu. Aku ada janji dengan Shin untuk wawancara warga untuk produk kami.
...(pesan Shin Ji Joon)...
...----------------...
"Maaf Pak Shin,"
"Bagaimana jika hari minggu saja?!"
"Besok saya harus ke Rumah Sakit."
...----------------...
Aku menghela nafas menghembuskannya berlahan. Aku bingung sikap apa yang harus aku tunjukan kepada Shin, jika kita bertemu nanti. Jujur aku malu dan merasa buruk. Aku, semakin tak pantas berteman dengannya.
Tak berapa lama, pesanku di balas oleh Shin.
...(pesan Shin Ji Joon)...
...Choi Ha Jae - Shin Ji Joon...
...----------------...
^^^"Dokter?! Siapa yang sakit?"^^^
"Tidak. Tidak ada yang sakit."
"Saya hanya merasa kurang enak badan saja."
^^^"Kau baik-baik saja?"^^^
^^^"Baiklah kalau begitu. Besok lusa saja kita wawancara untuk produknya."^^^
"Terimakasih Pak."
^^^"Semoga kau baik-baik saja."^^^
"Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja."
"Terimakasih Do'anya. Maaf sebelumnya."
^^^"Ya,"^^^
^^^"Hati-hati di jalan,"^^^
"Terimakasih banyak, Pak,"
...----------------...
Aku menutup ponselku, melirik ke arah Man yang terlihat sibuk menyetir.
Kring! (bunyi notifikasi pesan)
...(pesan Shin Ji Joon)...
...----------------...
^^^"Sama-sama. Selalu jaga kesehatan."^^^
...----------------...
__ADS_1
Aku bergeming membaca pesan itu. Aku mengabaikan pesan itu, memasukan ponselku ke dalam saku di bajuku
...****************...