
"Apa benar ini Cinta. Apa aku benar sudah hidup?!" gumam Ha Jae dalam hati.
...----------------...
Ngukkkkkk ngukkkkkkkk ngukkkkkkkk!! (suara ponsel bergetar).
Ngukkkkkkk! (suara ponsel bergetar kembali).
Choi Ha Jae masih terlelap dalam tidurnya. Dia terlihat begitu sangat lelah. Sampai ia tak mendengar ponselnya berdering beberapa kali.
Ngunggggggg! (suara mobil yang datang).
Shin Ji Joon turun dari mobil nya, dia melihat Man sudah duduk jongkok menunggu di luar gerbang. Shin Ji Joon melempar sesenyuman tipis, lalu pergi ke arah Intercom.
Ting tong ting tong! (suara bel berbunyi).
"Ayeong haseo," salam Shin Ji Joon.
"Ohh Shin, ayo masuk. Ah di atas saja, kita ngopi di atas," jawab Yokada dari intercom.
Shin Ji Joon pergi menuju ke tangga "Kau tidak mau ikut?" tanya Shin Ji Joon kepada Man. "Di luar dingin, lebih enak ngopi di dalam."
Man bangkit dari duduknya mengikuti Shin Ji Joon menuju lantai atas.
Klekks! (bunyi pintu di buka).
"Ahh Shin, ayo sini masuk," titah Yokada.
Yokada terdiam melihat Big Man berdiri tepat di belakang Shin.
"Shin ayo masuk. Kau tidak usah," Yokada menunjuk Big Man seakan melarangnya masuk.
"Lebih baik dia masuk, aku rasa dia sudah menunggu lama dari tadi," ucap Shin Ji Joon.
"Haiss!" seru Yokada.
__ADS_1
"Ayo masuk." ajak Shin Ji Joon.
"Ya sudah masuk." titah Yokada merasa tidak enak dengan Shin Ji Joon. "Hei buatkan kami kopi, cepat." titah.
Yokada menyuruh Man membuatkan kopi untuknya dan Shin Ji Joon. Man terlihat kesal mendapatkan perintah itu.
"Is sial." gumam Man.
Dia melihat ke arah kaca yang ada di Bar. Man tau itu jendela kamar 1 sudut di kamar Choi Ha Jae.
"MAAF GULANYA DI MANA YA?!" sergah Big Man.
"Hais kau! Hei aku tidak tuli. Kau tidak lihat di dalam lemari kaca atas itu!" hardik Yokada dengan kesal.
"OH, TERIMAKASIH!" sergah Big Man sekali lagi.
"Dasar, brandalan ini." seru Yokada sangat kesal.
......................
Aku tergegau dari tidurku mendengar suara yang aku rasa tidak asing di telingaku. Aku melihat ke arah Jam Dinding kamarku.
Aku bangkit dari tidurku bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan badanku.
Selesai mandi, aku mencoba membuka jendela kamarku. Aku tertegun melihat Big Man yang sudah duduk di Bar Cofe dengan segelas kopi di hadapannya. Dia terlihat sangat bosan. Sedangkan di Sofa ada Shin dan Tuan Yokada yang sedang asik berbincang.
Sepertinya aku tau. Gumamku dalam hati.
Aku bergegas bersiap untuk pergi ke Jungang hari ini. Aku menggunakan celana Jeans hitam panjang, dengan Sweater hitam panjang. Aku memadukannya dengan kerudung hitam berikut dengan ciput bewarna putih. Tak lupa aku meraih Jaket merah tua yang sudah lebih sepekan tidak aku cuci. Setelah selesai bersiap, aku langsung bergegas keluar menemui mereka.
Gini aja udah cukup kali ya?! Gumanku dalam hati.
Aku tertegun di depan pintu kamar setelah melihat notifikasi di ponselku. Ternyata ada 4x panggilan dari Big Man yang tidak terjawab.
Dia pasti kesal. Gumamku dalam hati.
__ADS_1
"Ting, boleh pesan kopi Pak?" Godaku dengan senyuman tipis mengejutkan kepada Man. "Oh selamat pagi semua" sapaku.
Aku melemparkan senyuman kepada Shin dan Yokada yang sedang asik berbincang di sofa, menikmati secangkir kopi di hadapan mereka.
"Asem, kenopo lagi tangi he? Jam piro iki?" (Sial, kenapa baru bangun ha? Jam berapa ini?) sergah Man.
"Jam 7, He he," Jawabku datar. "Ayolah, ini masih pagi."
Aku tersenyum menyeringai ke arah Man. Aku tau dia sangat kesal karna menungguku terlalu lama. Aku mengajak Man dan Shin segera bergegas me Jungang. Agar kami cepat menyelesaikan tugas kami.
"Karet!" ucap Man kesal.
"Anu, apa lebih baik kita berangkat sekarang?" tanyaku.
"Oh okay." jawab Shin Ji Joon bergegas menyeruput kopi di hadapannya.
"Tunggu, aku ingin bicara denganmu. Duduk," sela Yokada.
"Nanti saja, kita sudah telat. Bei bei," sahutku melambaikan tangan sembari keluar rumah.
"Kami pergi dulu." ucap Shin Ji Joon.
"Hei kenapa kau ikut?" tanya Yokada kepada Man.
"Kalau dia gak ikut, siapa yang jadi Setan nya. Yuk," celetukku menarik merangkul tangan Man.
Man terlihat kesal mendengar ucapan aku. Aku terus menggodanya tak berhenti. Sampai aku di depan rumah, aku melihat Bibi Yu Hee datang dengan berjalan kaki.
"Selamat pagi, Nona." sapanya.
"Selamat pagi Bik. Oh ya, nanti jika Bibik sudah selesai bekerja. Bibik Bawa saja kunci rumah yang tergantung di dinding di tangga bagian bawah. Aku dan Tuan Yokada sudah punya kunci cadangannya sendiri." titahku.
"Baik, Nona." sahut Bibi Yu Hee.
"Aku pergi dulu Bik. Hati-hati di rumah. Jangan terima tamu jika tidak kami suruh." pamitku.
__ADS_1
"Iya Nona, hati-hati di jalan." sahut Bibi Yu Hee.
...****************...