Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Jalan Baru


__ADS_3

"Ah tidak apa-apa. Aku senang, ternyata kita akan jadi sodara," celetuk Julia.


...----------------...


Ha Jae tertegun mendengar ucapan Julia. Dia merasa tak paham dengan apa yang Julia katakan. Hani yang melihat itu pun berlahan menghampiri mereka.


"Ha Jae orang yang cuek. Jadi soal seperti itu, mana dia tau. Setau dia pasti Shin itu hanya berteman dekat dengan Yokada." tutur Hani.


"Hagh," gumam Ha Jae.


"Shin Ji Joon dan Yokada itu bersodara. Shin anak dari Kakak pertama Yokada. Mangkanya mereka sangat dekat," tutur Hani.


"Oh, benarkan?! Syukurlah," sahut Ha Jae.


"Aku pikir mereka dekat karna Yokada suka dengan Shin. Jadi percuma saja aku menyerah selama ini. Tau gitu ... " gumam Ha Jae dalam hati.


"Ha Jae! Kenapa?!" tanya Hani.


"Ahh tidak, aku hanya sedikit kaget. Ternyata kita akan menjadi sodara. Syukurlah, aku sangat senang," jelas Ha Jae. "Mari, kita lihat Gaun mu,"


"Ha Jae pasti tambah terpukul. Kasihan dia," batin Hani terlihat sangat sendu.


"Jika aku tau dari awal. Pasti akan semaksimal mungkin siapkan ini semua. Ah, sayang, hodohnya aku," tutur Ha Jae.


"Tidak apa-apa, aku sudah sangat puas dengan ini semua. Oh iya, nanti akan ada beberapa wartawan yang akan meliput Gaun ini. Apa tidak apa-apa?!" tanya Julia.


"Tidak. Tidak masalah. Tapi maaf, aku tidak bisa temui mereka. Aku harus ke Jepang malam ini." tutur Ha Jae.


"Ke Jepang?! Wah, kelihatannya kau wanita yang sibuk, ya. Buktinya kau sampai tidak paham dengan keluarga Kakakmu sendiri," sindir Julia. "Kau sudah punya pacar? Atau menikah?!"


"Ah, belum. Aaa, aku punya 3 anak perempuan," sahut Ha Jae.


"Benarkah?! Aku tak mengetahuinya. Bahkan media pun tak mengeksposnya. Kau orang yang tertutup ya," tutur Julia.


"Itu lebih baik. Media akan membuat mental anak-anak buruk. Bukan begitu?!" tutur Ha Jae. "Biarkan mereka menikmati masa mereka dengan bahagia,"


"Kau dewasa sekali. Apa boleh aku panggil Kakak?!" tanya Julia.


"Aaa, soal itu.. anu ...," Ha Jae terlihat bingung dengan permintaan Julia. "Baiklah, lagi pula kita akan menjadi sodara bukan," ucap Ha Jae.


"Ahh senangnya," sahut Julia.


......................


"Sedang apa kau di sini?!" tanya Yokada.


"Kakak, harusnya senang aku datang, hi hi hi," sahut Sanji. "Mana Maniku? Apa dia sudah siap?!"


"Apa maksudmu?!" tanya Yokada penasaran.

__ADS_1


"Aku akan membawa Mani ke Jepang. Ada pekerjaan penting yang harus dia bereskan," tutur Sanji.


"Kau tidak bisa membawanya. Semua yang dia lakukan, harus seijinku," tolak Yokada.


"Ck ck ck, Kakak ini. Jangan lupa Mani itu juga milikku. Jadi apa pun yang Mani lakukan juga harus atas seijinku," sungut Sanji.


"Kau!" geram Yokada.


Yokada yak banyak bicara di hadapan Sanji. Dia sadar, bahwa bicara dengan Sanji, itu adalah hal yang percuma saja. Sanji sudah berdiri sendiri, tak mudah memerintah dan mengaturnya lagi.


Tak lama Ha Jae pun datang. Ha Jae melempar senyuman sinis ke arah Sanji. Ha Jae lalu duduk tepat di sini Yokada. Ha Jae memandang wajah Yokada yang terlihat sangat kesal. Dia lalu melihat ke arah Sanji yang terlihat sangat puas dengan sesuatu.


Ha Jae menyadari, bahwa ada sedikit perdebatan di antara mereka berdua. Ya apa lagi kalau bukan Sanji pemenang perdebatan itu.


"Tuan akhir-akhir ini sangat sensitif. Jadi maklum kalau dia sedikit emosi." tutur Ha Jae merapikan kerah Yokada.


"Emosi?! Aku rasa dia persis seperti Singa yang kehilangan giginya, hi hi hi," sungut Sanji.


"Biarkan dia. Biar aku yang mengurusnya. Kau nikmati saja hidupmu, Tuan." bisik Ha Jae membelai wajah Yokada.


"Cih,," gumam Yokada.


Ha Jae bangkit dari duduknya. "Kita berangkat sekarang. Aku akan ambil barang-barangku," tutur Ha Jae.


"Aku akan menunggumu di mobil, Maniku sayang," sahut Sanji.


"Mama," keluh Haneul.


"Mama, tadi aku dengar pembicaraan Paman Yokada dengan lelaki asing itu. Katanya Mama mau ke Jepang malam ini. Apa benar?!" tanya Yuri.


"Hemmm, penguping," tegur Ha Jae menjewer ringan telinga Yuri.


"Ahh, Mama," gumam Yuri.


"Mama ada kerjaan. Paling lama 1 Minggu," tutur Ha Jae.


"Mama, tapi nanti hari Kamis ulang Tahun Nami," tutur Haneul.


"Benarkah?!" Kaget Ha Jae bangkit dari baringnya.


"Emm," Haneul menganggukan kepalanya.


Nami hanya tersenyum tipis ke arah Ha Jae. Dia terlihat malu dan sungkan. "Mama kerja saja. Lagi pula, aku sudah bahagia ada di hidup Mama," tutur Nami.


"Auu, kau sudah besar rupanya," gumam Ha Jae mendekat ke arah Nami. "Mama janji. Sebelum hari Kamis nanti, Mama akan pulang untukmu,"


"Jangan paksakan, Mama," sahut Nami.


"Mama, punya permintaan kepada kalian," tutur Ha Jae.

__ADS_1


"Apa Mama?!" tanya Haneul mendekat.


Mereka terlihat sangat penasaran dengan permintaan Ha Jae. Mereka mendekat ke arah Ha Jae yang duduk di tepi ranjang. Ha Jae meminta kepada ke 3 putrinya itu untuk menjaga dan memperhatkkan Yokada. Ha Jae khawatir, kondisi Yokada semakin memburuk.


"Kalian taukan apa yang harus kalian lakukan," tutur Ha Jae.


"Emm, siap," sahut Haneul.


"Aku akan lakukan sebaik mungkin untuk Mama," sahut Yuri.


Ha Jae yang selesai berbincang dengan anak-anaknya itu, bergegas keluar rumah. Dia menghampiri mobil hitam yang sudah terparkir di pinggir jalan. Ha Jae berbalik dan melihat ke 3 putrinya yang melambaikan tangan dari pintu kaca lantai atas. Ha Jae membalas lambaian tangan mereka sebelum masuk ke dalam mobil.


......................


"Jadi tadi kau ke Butik?" tanya Shin Ji Joon kepada Julia.


"Hemm. Aku tak menyangka, jika butik itu ternyata milik Choi Ha Jae. Terlebih lagi, dia sendiri yang mengerjakan Gaun itu. Ternyata selain pekerja keras, dia juga sangat dewasa. Pantas saja Yokada mengangkatnya sebagai adik. Aku jadi penasaran, di Indonesia dia seperti apa? Pasti dia anak konglomerat," tutur Julia.


"Indonesia?! Ya Indonesia," gumam Shin Ji Joon dalam hati.


"Aku ada urusan. Kau bisa pulang sekarang," tutur Shin Ji Joon kepada Julia.


"Kau mengusirku?!" seru Julia. "Oppa, kau akhir-akhir ini berubah. Ada apa, hah?! Kau tidak mengantarkan ku ke salon, ke makan, bahkan semua urusan pernikahan kita, aku sendiri yang urus,"


"Kau bisa urus sendiri kan?!" sahut Shin bergegas pergi meninggalkan Julia.


"Oppa!" sergah Julia.


Shin Ji Joon pergi ke sesuatu tempat. Dia terlihat sangat terburu. Sampai di sebuah apartemen, tanpa ragu Shin masuk ke sebuah apartemen yang sangat mewah itu.


"Sekertaris Yang," panggil Shin Ji Joon.


"Tuan!"


Yangsima terlihat terkejut dengan kedatangan Shin Ji Joon yang tiba-tiba. Dia merapikan sebuah selembaran yang berserakan di meja di hadapannya. Seakan Shin Ji Joon tak pantas melihatnya.


"Tumben Tuan Muda datang ke kediaman saya. Harusnya Tuan memanggil saya saja," tutur Yangsima.


"Ada pekerjaan yang harus kau selesaikan segera," tutur Shin mendekat ke arah Yangsima yang duduk di sofa mewahnya.


Shin Ji Joon tertegum dengan selembar foto yang terselip di antara berkas itu. Shin merasa sangat familiar dengan foto yang hanya terlihat separo badan itu. Shin melihat ke arah Yangsima yang terlihat merasa tak enak dengannya. Dengan berlahan Shin Ji Joon meraih selembaran foto itu.


Shin terkejut melihat selembaran foto yang ada di tangannya itu.


"Apa ini?!" batin Shin Ji Joon ternyalang.


"Maaf, Tuan." Hormat Yangsima merasa bersalah.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2