
Dengan lahan Ha Jae melajukan kembali mobil itu.
"Maaf, mobilnya rusak." ucap Ha Jae mengisi keheningan.
"Ahh, tidak apa-apa." ucap Shin dengan ragu. "Kau hebat. Aku tidak menyangka kau bisa menyetir mobil seperti ini."
"Bukan aku yang nyetir." jawab Ha Jae dengan datar. "Tapi Choi Ha Jae, he he."
Hal itu membuat Shin tersenyum lega dengan gurauan yang Ha Jae buat. Perjalanan mereka berjalan dengan lancar.
Medan yang masih sulit mereka lalui, tak membuat mereka berhenti karna kesulitan seperti yang di alami saat berada di dalam hutan tadi.
Medan bebatuan, mengisi setiap hamparan. Sungai yang asri dengan arus yang tidak deras. Mereka lalui dengan mudah.
Hingga bentangan sawah gersang penduduk mereka temui. Lega bagi mereka semua, karna itu pertanda, bahwa mereka sudah memasuki pemukiman penduduk, dan sebentar lagi akan masuk ke jalur perkotaan.
Jalan yang sudah berubah menjadi licin beraspal hitam. Membuat laju mobil semakin tenang tanpa sebuah goncangan. Ha Jae menurunkan kaca mobilnya dan menikmati udara sejuk yang menerjang masuk kedalam mobil. Tak berapa lama setelah itu, Ha Jae dengan gugup meminggirkan mobilnya dan berhenti sebelum pertigaan jalur ke kota.
"Ada apa?! Kau baik-baik saja?" tanya Shin.
Ha Jae hanya membalas pertanyaan itu dengan senyuman sebelum ia turun dari mobilnya. Shin pun dengan penasaran ikut turun dari mobil itu. Terlihat dua mobil yang lainnya pun ikut berhenti di belakang mereka.
Tak berapa lama, Yokada turun dan menghampiri Ha Jae dan Shin. Di susul dengan yang lainya, yang ikit berkumpul untuk menanyakan kondisi satu sama lain.
"Ada apa?! Apa semuanya baik-baik saja?" tanya Yosima.
"Lebih baik, kita berpisah dari sini saja." usul Yokada. "Lagi pula, setelah pertigaan ini, kita sudah masuk ke perkotaan. Arah rumah kita juga berbeda bukan?! Shin, kamu antar kak Kang Kwa dan kak Jongso, rumah kalian kan searah. Biar kak Yosima yang antar kak Seong Min."
"Kita tukeran mobilkan? Aku rusakin mobilnya Pak Shin Ji Joon. Jadi Senpai harus perbaiki." sela Ha Jae.
"Hai kau pikir Shin miskin?!" jawab Yokada kesal.
"Yokada." celetuk Ha Jae dengan pandangan tajam.
"Hais. Ya sudah. Shin, kau bawa mobilku. Biar aku pakai mobilmu." ucap Yokada. "Hei, pindah barang-barangnya, kau yang mintakan?"
__ADS_1
"Siap Bos!" seru Ha Jae.
Sampai di situ, mereka berpisah untuk langsung pulang ke rumah mereka masing-masing. Berasa tak rela Shin berpisah dengan Ha Jae, padahal baru saja mereka hampir akrab.
Tapi walau begitu, Shin merasa lega karna mereka bertukar mobil, jadi masih punya alasan untuk mereka bertemu. Setelah sesampai di rumah, Yokada langsung bergegas membersihkan dirinya. Ha Jae membereskan dan merapikan barang-barang yang mereka bawa.
"Ha Jae, kami langsung pulang ya. Maaf tidak bisa bantu membereskan barang." ucap Min Ho.
"Tidak apa Pak, biar saya yang bereskan semuanya." ucap Ha Jae.
"Heih kau ini. Panggil saja aku Paman dan ini Bibi. Kami akan sangat senang jika kita bisa dekat." tutur Min Ho.
"Iya, terimakasih Paman Min Ho, Bibi Min Sae." ucap Ha Jae memberi hormat.
"Ya ya ya kami pergi dulu, salam buat Pak Yokada." ucap Min Ho.
"Iya."
"Ha Jae, aku pulang ya, daa.." ucap Min Sae.
"Iya, daa. Hati-hati di jalan." ucap Ha Jae.
Min Ho dan Min Sae pun bergegas pulang. Sedangkan Ha Jae masih sibuk menurunkan semua barang dari dalam mobil milik Shin. Yokada yang selesai mandi pun keluar menuju ruang tengah. Dia melihat Ha Jae yang berdiri di depan kompor di dapur.
"Ha Jae, bikinkan aku kopi ya." titah Yokada sembari membasuk rambutnya dengan handuk.
Yokada duduk santai di sofa depan TV dekat dengan area dapur. Yokada terperanjat saat melihat Ha Jae datang dari luar membawa ransel besar miliknya.
"Senpai, ini taruh mana?" tanya Ha Jae membapang ransel besar di pundaknya.
Yokada hanya diam ternganga melihat Ha Jae. Dia pun langsung bangkit menuju ke dapur.
Yokada di buat bingung dengan apa yang dia lihat. Bagaimana bisa Ha Jae yang baru saja dia lihat di dapur, bisa dengan cepat berada di luar membawa tas besar di hadapannya.
Dengan kebingungan Yokada kembali menghampiri Ha Jae, dia meraih sebuah buku di rak dan memukulnya ke kepala Ha Jae.
__ADS_1
"Aduh. Kya! Apa-apa sih?!" sergah Ha Jae merasa kesal.
Yokada hanya memandang bingung Ha Jae. Ha Jae yang merasa curiga memegang tangan Yokada dan memandangnya dengan serius.
Tak berapa lama Ha Jae tertawa terpingkal dengan tetiba. Ntah apa yang dia ketawakan dan siapa yang dia ketawakan. Yokada yang merasa kesal pun memukul kepalanya mengunakan buku yang masih dia bawa di tangannya, sekali lagi. Ha Jae yang menyadari akan hal itu pun bisa dengan mudah menangkisnya.
"Yhaa,, kenapa kesal denganku. Harusnya kau kesal dengan setan itu." celetuk Ha Jae.
Ha Jae langsung bergegas masuk membawa ransel besar milik Yokada ke dalam kamarnya. Yokada yang merasa ngeri dan penasaran dengan apa yang Ha Jae ucapkan itu pun, bergegas mengikuti Ha Jae ke dalam kamarnya. Yokada membuntuti Ha Jae kemana pun dia pergi.
"Yhaa!! Berhenti nguntitiku!" sergah Ha Jae kesal.
Ha Jae pun bergegas pergi ke lantai atas untuk membersihkan diri di kamarnya. Tapi lagi-lagi Yokada mengikutinya ke dalam kamar.
"Hei. Sebelum kau membeli rumah ini, dia sudah menempati rumah ini. Sebelum kau lahir, dia sudah di lahirkan duluan. Lalu apa yang kau takuti?!" ucap Ha Jae merasa kesal dengan Yokada.
"Siapa dia?!" tanya Yokada.
...****************...
...BONUS!!...
...----------------...
Berlahan-lahan tapi pasti, jari jemari yang lentik itu satu per satu melepaskan kancing kemeja berwarna putih itu.
Detak jantung yang kian kencang, seakan berlomba dengan desahan nafas yang kian keras. Keringat yang mengucur deras, tenaga yang seakan sudah habis terkuras. Dengan nafas terengga Ha Jae pun teriak dengan kerasnya.
"WOY!!! KALAU PAKAI KEMEJA PUTIH JANGAN MAIN LUMPUR NAPA SIH!! SUSAH BERSIHINNYA BANGSATTT!". sergah Ha Jae.
Dengan kesal Ha Jae menendang ember yang ada di depannya. Spontan hal itu membuat Yokada yang sedang duduk bersantai terperanjat di buatnya.
"Haiss," gumam Yokada.
Yokada yang mendengar teriakan itu pun, dengan khawatir diam-diam keluar dari rumah untuk pergi minum bersama rekan-rekannya.
__ADS_1
Yokada tau, bahwa jika dia tetap berada di rumah, dia akan menjadi sasaran empuk Ha Jae untuk melampiaskan semua kemarahannya.
...****************...