
"Ayolahh! Ya. Katanya soib. Hai!" ucap Kyun.
Dia sedang berusaha membujuk Man. Kyun menginginkan Man menemaninya pergi ke sebuah acara.
"Man. Ayolah!! Aku janji akan menraktir sepuasmu nanti. Okay!!" rayu Kyun.
"Oee!!! Kamu punya pacar kan?! Kenapa gak pergi sama dia, hah?!" sergah Man berusaha menolak.
"Ahhhh kamu. Pacar ya pacar, teman ya teman. Aku ingin sama teman bukan sama pacar." seru Kyun.
"Ayolah.." bujuk Kyun merangkul tangan Man.
Man dengan kesal menyingkirkan tangan Kyun. Dia merasa jengkel dengan Kyun yang merengek seperti perempuan itu. Man tidak tau dan tidak perduli dengan acara macam apa yang ingin di hadiri oleh Kyun. Bagi Man, masih ada urusan lain yang lebih penting, yang harus dia selesaikan di bandingkan acara Kyun itu.
Kyun dengan sifatnya yang mengesalkan. Terus membujuk dan merayu Man tanpa lelah agar mau ikut bersamanya. Kyun tau, jika Man pasti akan menemaninya ke acara itu.
"AH SIAL!! Baiklah tidak ada cara lain." Kyun dengan kesal berdiri di hadapan Man dengan tatapannya dengan serius. "Aku tau kau tidak akan menolakku."
Man hanya diam tak perduli dengan apa yang Kyun lakukan. Dia masih bingung dengan tugas yang dia emban selama Ha Jae ke Indonesia.
"Aku akan memberimu sebuah informasi penting tentang Goun Yong, jika kau mau menemaniku. Bagaimana?!" ucap Kyun memberikan tawaran.
"Cih!!" gumam Man mendengar hal itu.
"Kau tidak percaya, hah?! Tidak percaya bahwa aku ini punya banyak informasi, hah?! Hei! Kau sendiri tau siapa aku. Lee Kyun Co." ujarku.
Man menyeringai mendengar ucapan Kyun. Dia menatap Kyun dengan tajam seolah tidak ingin di permainkan oleh Kyun. Kyun pun membalas tatapan itu dengan serius.
"Cihh! Brengsek!" seru Man meraih jaketnya.
"WO WO WO! SEBENTAR MAN, SEBENTAR!" seru Kyun menghadang Man yang bergegas ingin keluar.
"Kita ingin ke pesta besar. Bukan mau ke mie warung sebrang jalan, Okay!" jelas Kyun.
"Kau harus ganti pakaian mu." titah Kyun menyeringai geli melihat tampilan Man.
Man dengan kesal menaruh jaketnya. Dia membuka kaos yang dia kenakan. Man meraih sebuah kemeja hitam dari dalam lemari bajunya. Man memandang tajam Kyun sembari mengenakan kemeja itu.
"Sebentar, sebentar. Emm." ucap Kyun memperhatikan penampilan Man.
"Ganti yang lain." titah Kyun sekali lagi.
Man dengan kesalnya melepas kemeja itu, melemparkannya ke dalam lemari. Man kembali meraih kemeja putih lalu memakainya. Lagi dan lagi Kyun mengomentari penampilan Man yang menurutnya kurang cocok dengan Man.
Man yang sudah kesal di buatnya, beranjak dari tempat itu meraih jaket miliknya lalu pergi keluar rumahnya. Kyun bergegas mengikuti Man dengan celotehannya.
"Hei hei, hei, tunggu!! Ahh kau ini!" sergah Kyun membuntuti Man dari belakang.
__ADS_1
Mereka pun bergegas masuk ke dalam mobil dan melesatkan mobil yang mereka tumpangi menyelusuri jalan hitam perkotaan.
Tak berapa lama perjalanan, sampailah mereka di gedung megah. Man dan Kyun bergegas keluar dari dalam mobil. Kyun nampak memberikan sebuah katu kepada petugas yang menjaga tempat itu.
Tanpa di minta, salah satu petugas itu masuk kedalam mobil dan bawa pergi mobil itu ntah kemana.
Man merasa penasaran dengan acara itu setekah melihat wartawan dari berbagai media sedang berkumpul di depan gedung itu. Dari luar saja sudah terlihat banyak sekali tamu undangan yang hadir di sana. Pasti acara itu adalah acara besar yang di hadiri oleh tamu-tamu penting. Sampai tak sedikit media saja rela berkumpul di depan gedung, untuk meliput acara tersebut.
"Hei tenang. Ini, aku sudah siapkan Jas untuk kau pakai. Okay." ucap Kyun memberikan Jas berwarna hitam ke Man.
Man pun tanpa berfikir panjang meraih jas itu lalu memakainya. Dia merapikan penampilannya sebelum masuk kedalam gedung itu mengikuti Kyun. Kyun terlihat begitu santai seakan dia sudah terbiasa dengan acara sebesar itu.
Baru menaiki tangga, terlihat beberapa wartawan berlari ke arah Kyun. Mereka tak ingin rugi dengan tidak mengabadikan kedatangan Kyun, yang tak lain adalah anak tunggal dari orang terkaya nomor 2 di korea itu.
Dengan santainya Kyun berjalan menerjang kilatan demi kilatan lampu flash dari camera para wartawan itu. Seakan itu sudah jadi hal yang biasa baginya.
Man pun berusaha santai berjalan di belakang Kyun. Dia menutupi kilatan flash kamera dari matanya. Man terlihat sangat tidak nyaman dengan itu semua. Sempat dia ingin berbalik pergi meninggalkan tempat itu.
Sebelum dia masuk ke dalam gedung. Namun dia tertegun saat melihat Lee Hani terlihat anggun dengan gaun warna hitam yang dia kenakan.
Lee Hani berdiri di depan gerbang dengan melambaikan tangannya ke arah Man. Man pun tersenyum dan mengurungkan niatnya.
Dia terus mengikuti Kyun yang berlahan menghampiri Hani dan Jennie yang sudah menunggu mereka.
"Hai kenapa kalian lama sekali sih?!" seru Jennie.
"Ah kau tidak tau bagaimana susahnya membujuk manusia yang satu ini." sahut Kyun melirik ke arah Man.
"Pesta apa ini sebenarnya?!" tanya Man.
Man memperhatikan orang-orang di sekitarnya. Semua tamu yang hadir di sana terlihat berkelas dan glamour.
"Kya! Kau tidak tau ini pesta apa?!" seru Jennie.
Jennie memukul tangan Man dengan tas tangan milik Man untuk menegurnya. Bisa-bisanya Man tidak tau acara apa ini sebenarnya. Man hanya diam menatap Jennie dengan datar.
"Ah, aku belum memberitahunya." jelas Kyun merasa bersalah.
"Coco juga gak tau." sela Hani dengan sendu.
"Apa yang dia tidak tau?" tanya Man penuh penasaran.
"Aduh sudahlah. Mau gimana lagi. Coco urusan nanti. Ada kita kan. Hei, kau nih baca." seru Jennie memberikan selembar undangan kepada Man.
Man pun meraih undangan itu dan membacanya. Man ternyalang saat membaca undangan tersebut. Dia merasa tak percaya dengan apa yang dia baca.
__ADS_1
Man pergi mengambil ponsel dari kantongnya dan pergi menjauh dari teman-temannya. Dia berusaha sedang menghubungi seseorang.
"Percuma. Dia gak bisa di hubungi." seru Jennie.
"Hei, sudahlah. Jika pun bisa. Semua sudah terlambat." sahut Kyun.
"Kalian lupa. Ha Jae itu Indonesia. Katanya. Sebelum janur kuning melengkung, semua bisa terjadi. Yang nikah aja bisa bercerai." sela Hani.
"Kya. Ini Korea. Mana ada janur melengkung. Kau ini." ucap Jennie menoel kepala Hani.
"Aku cuman gak terima hu huuu hu." tutur Hani menangis menutup mukanya.
Sebenarnya, selama ini. Sahabat-sahabat Choi Ha Jae tau. Bahwa Shin Ji Joon sangat menyukai Ha Jae. Begitu juga sebaliknya.
...(cuplikan yang tidak di tanyangkan)....
...----------------...
"Ha Jae bilang sama aku. Katanya dadanya sesak saat di dekat Shin Ji Joon. Apa itu semacam cinta?!" ucap Hani lepada Jennie. "Dia juga cerita ke aku. Katanya jantungnya tak beraturan. Dia sampai memintaku menemaninya priksa ke dokter ahli jantung. Tapi kata Senpai tidak usah. Aku jadi penasaran, Shin Ji Joon itu seperti apa."
"Aku jadi benar itu cinta. Jadi kau belum tau yang Namanya Shin Ji Joon?" tanya Hani.
"Belum. Yang mana sih orangnya." sahut Jennie.
"Is kau ini. Coba aku lihat IG nya. Sebentar." ucap Hani.
......................
"Jadi lelaki itu Pak Manager?!" pekik Kyun.
"Manager?! Manager siapa!! Dia itu Shin Ji Joon." jelas Jennie.
"Iya Pak Manager. Shin Ji Joon itu Manager di Cafe Shop." tutur Kyun.
"Aku juga kaget saat Pak Manager bertanya soal Coco kepadaku." sambung Kyun.
"Jadi ternyata Shin Ji Joon Manager Cafe tempatmu bekerja?!" tanya Jennie penuh penasaran.
"Heemm." gumam Kyun.
"Ternyata Pak Manager juga rekan kerja Coco. Pantas saja waktu itu aku lihat Pak Manager ke Cafe bersama Pak Yokada. Hanya saja waktu itu belum menjadi Manager di Cafe. Dan waktu Coco kembali ke Daejeon, aku juga kaget pas melihat Pak Manager 1 meja dengan Coco." jelas Kyun.
"Jadi benar dugaanku. Ha Jae pasti suka dengan Shin Ji Joon." seru Jennie.
"Begitu juga Pak Manager." timpal Kyun.
"Kita lihat saja nanti." sahut Jennie.
__ADS_1
...----------------...
...****************...