Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Khawatirnya Yokada


__ADS_3

"Yongseo, Pak Yokada!!" ucap kepala Yoon dengan panik.


...----------------...


"APA!!" jawab Yokada.


Yokada langsung menutup telponnya.


"Hais dasar bocah tengik!!! Kenapa telponku gak di angkat?!" seru Yokada melempar ponselnnya.


"Brengsek!!" tersirap darahn Yokada mendengar berita itu.


Yokada bergegas mengambil Jasnya dan berjalan keluar ruang kerjanya. Baru ia memengang gagang pintu, Yokada berhenti tertegun.


"No no no, oh no!" gumam Yokada kembali ke meja kerjanya.


Dia duduk termangu memegang keningnya terlihat begitu sangat cemas dan khawatir.


"Kalau aku kesana, penyamaran bocah itu akan terbongkar. Semua rencana akan hancur." ucapnya.


Yokada meraih ponselnya mencoba menghubungi seseorang.


"Halo, kau di mana?!" sergah Yokada dengan orang yang berada di ujung telepon itu.


"Pak Manager, saya sedang di rumah sakit Pak." jawab kepala Yoon dari ujung telepon.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan anak itu?! Haiss bagaimana bisa semua ini terjadi?!!" hardik Yokada.


"Maaf Pak, saya juga tidak tau Pak. Tiba-tiba ada segerombolan preman masuk ke dalam gudang. Mereka memukuli semua pegawai dan mengacak-acak semua barang. Buruh-buruh di tempat terluka semua Pak, termaksud Choi." cerocos Kepala Yoon sembari berjalan menuju ke salah satu kamar di rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya?!" tanya Yokada.


"Choi?! Tidak ada luka parah Pak. Hanya luka kecil, malah Pak ... ahh ini dia ... "


Belum selesai berbicara. Ucapan kepala Yoon sudah terputus melihat Choi Ha Jae yang keluar dari salah satu kamar pasien. Kepala Yoom bergegas menghampiri Choi Ha Jae.


"Choi! Choi! Pak Yokada." panggil Kepala Yoon menyerahkan ponselnya kepada Choi Ha Jae.


"Halo." jawab Ha Jae dengan datar.


"Yhaa!! Aiss!!" seru Yokada.


"Sabar Bos. Aiss ****** lope." rajuk Ha Jae dengan kesal mematikan telponnya.


Ha Jae memberikannya kembali telepon itu kepada kepala Yoon.


"Nih." ucap Ha Jae datar.


"Nona." sabut Kepala Yoon lirih menunduk badannya.


Ha Jae berjalan keluar rumah sakit dengan di buntuti oleh Kepala Yoon. Dia tertegun dan menolek ke arah Kepala Yoon.

__ADS_1


"Yhaa?! Siapa yang mengabari Yokada?" sergah Ha Jae.


"Maaf, Nona." tunduk kepala Yoon seakan mengakuinya.


"Iss kamu ini! Lain kali, jangan kasih tau, kalau enggak, tak congkel matamu. Arachi?!" hardik Ha Jae mengancam kepada Kepala Yoon.


"Aa Yongseo??" tanya Kepala Yoon tak mengerti dengan apa yang Ha Jae ucapkan.


"Aiss, wes lah. Percuma." sahut Ha Jae dengan kesal.


Ha Jae berpaling dan beranjak dari tempat itu. Saat itu juga dia keluar Rumah Sakit dengan luka yang tidak serius.


Hari berikutnya, Ha Jae sudah siap mengerjakan pekerjaannya. Dengan badan yang bugar. Dia mengangkat peti-peti balok yang harus dia angkut ke dalam gudang.


"Hai, kau tau. Waktu keributan kemaren. Ha Jae dengan gesitnya menghajar preman-preman itu." bisik seorang tenaga kerja.


"Benarkah?!" sahut salah satu orang dari mereka.


"Benar. Aku lihat sediri. Bahkan dia menolonhku saat ingin di tebas oleh golok preman itu." timpal salah satu dari mereka.


"Aku yakin, dia jago ilmu bela diri." imbuhnya.


"Kelihatannya. Aku juga curiga. bagaimana mungkin seorang gadis sepertinya mau bekerja di tempat seperti ini." sungut salah satu dari mereka.


"Benar. Aku juga curiga." timpal salah satu prang itu.

__ADS_1


"HAI! Bukannya kerja, malah asik ngobrol. Kerja kerja kerja!" hardik Kepala Yoon seraya memukul kepala 3 buruh lepas itu.


...****************...


__ADS_2