
"Dia Direktur di perusahaan yang menyewa jasa kita!!! Salah satu penyumbang terbesar perusahaan ini. KAU TAU?!!" hardik Shin.
...----------------...
Shin Ji Joon berlari ke tempat parkir. Dia masuk kedalam mobilnya dan melajukan mobilnya keluat gedung. Baru sampai di deoan gedung, Shin tak sengaja melihat Ha Jae dan Man yang terlihat asik menyantap mie cup di pinggir jalan.
Shin pun menghentikan mobilnya dan keluar menghampiri mereka. Shin mengambil langkah cepat agar sampai di tepat itu dengan singkat.
"Yongseo.." seru Shin terengga-engga menghampiri mereka.
Ha Jae menoleh menatap Shin. Seakan dia terkejud dengan kehadiran Shin. Shin pun hanya dapat diam ternyalang menatap Ha Jae yang berada di hadapannya.
"Yo! Ada apa?!" sahut Man bangkit dari duduknya.
Dia menatap Shin dengan tajam. Shin tak menghiraukannya, dia masih terpaku menatap Ha Jae.
"Oh Pak Shin. Mau ikut makan bersama kami?" sela Ha Jae.
...(baca bab "Pelampiasan")...
...----------------...
Tetiba, Choi Ha Jae menghampiri Shin Ji Joon dan menarik tangannya.
"Ayo pergi." ajak Ha Jae.
Mereka bergegas pergi dari tempat itu. Man mengikuti mereka dari bekalang. Shin hanya menurut saat Ha Jae memegang tangannya dengan sangat erat.
Shin terkejut dengan apa yang Ha Jae lakukan barusan. Tapi di sisi lain, Shin sangat senang. Dia tak menduga, jika tangannya dapat berpegangan dengan Ha Jae seerat ini.
Shin Ji Joon tersenyum menyeringai memandang Choi Ha Jae yang tak sedikit pun menoleh ke padanya. Dia membalas gengaman tangan Ha Jae yang erat itu. Menggenggam dengan perasaan penuh bahagia tangan kecil yang ternoda oleh darah brandalan itu.
Sesampai di tempat parkir gedung milik Shin Ji Joon. Ha Jae berhenti di depan sebuah mobil. Dia tertegun di hadapan mobil itu. Shin melihat Ha Jae dari pantulan mobil di hadapannya. Dia terlihat sangat bingung.
Ha Jae tetiba melepaskan genggaman tangannya dari Shin. Dia hanya berdiri bergeming seperti orang kehilangan akal.
Tit tit. (bunyi alarm mobil terbuka).
"Oe Shin, kami pulang duluan ya." ucap Man menepuk pundak Shin.
Shin hanya tersenyum membalas ucapan Man. Dia terpaku melihat Ha Jae yang terlihat aneh di dalam mobil.
"Eem, kalau gitu aku masuk duluan. Aku aku harus selesaikan pekerjaanku." sahut Shin.
Shin Ji Joon mulai beranjak dan berlahan melepas pandangannya dari Choi Ha Jae.
"Oh ya. Tenang saja, biar dia aku yang urus." ucap Man.
Shin Ji Joon melempar senyuman tipis kepada Man. Dia beranjak berjalan menuju ke dalam gedung.
"Oe!" panggil Man kepada Shin. "Emang pacarmu kalau PMS kaya gini ya?!"
"Lebih parah. Daa." jawab Shin melambaikan tangannya.
Shin Ji Joon menggulung lengan kemeja panjangnya. Dia masih tak percaya dengan apa yang Choi Ha Jae lakukan.
"Choi Ha Jae. Sebenarnya siapa gadis itu?! Sial. Harusnya aku mencari tau tentangnya terlebih dahulu. Yokada. Hanya Yokada yang tau semua tentang gadis itu." gumam Shin dalam hati.
Shin Ji Joon menyelesaikan rapat siang itu. Dia masih ada survei lokasi untuk proyek di kantornya.
"Pak, ada telpon dari Pak Yokada." ucap Sekertaris Han.
Shin Ji Joon mengambil alih telepon itu. "Halo."
__ADS_1
"Hai Shin. Bagaimana?! Apa pemotretannya. Apa berjalan dengan lancar?!" tanya Yokada.
"Anu. Sebenarnya ada sedikit kendala." jawab Shin.
Shin Ji Joon menjelaskan semua apa yang terjadi oleh Yokada. Yokada terlihat sangat pusing dengan keadaan yang terjadi. Shin juga menanyakan soal apa yang Ha Jae lalukan kepada beberapa preman di depan kantornya.
"Bocah itu." gumam Yokada.
"Bocah itu memang seperti itu. Jika moodnya buruk, dia suka kehilangan kontrol. Ahh, aku jadi menyesal menyuruh dia tinggal bersama Sanji. Dia jadi di ajarkan ilmu bela diri yang kasar seperti itu,," jelas Yokada. "Sudah. Tak usah di anggap terlalu serius. Aku minta maaf atas semuanya. Tetap teruskan pemotretannya. Pakai saja Yura. Soal Ha Jae. Biar aku yang mengurusnya nanti. Jika kau bisa, bujuk Yura untuk minta maaf ke Ha Jae. Tidak juga tidak apa-apa sebenarnya. Hanya saja, untuk keselamatan Yura nanti. Kau tidak mau kan, Ha Jae kesal dan melakukan apa yang dia lakukan ke preman itu, kepada artis mu no.1 itu. Ha Jae memang gadis yang baik. Tapi dia belum sepenuhnya hidup."
Shin Ji Joon yang mendengar itu pun semakin penasaran dengan Choi Ha Jae.
"Apa maksud mu dengan 'Dia belum sepenuhnya hidup?" tanya Shin penuh penasaran.
"Ahh sudahlah, lupakan. Itu bukan hal penting. Oh ya, jangan lupa soal wawancara lapangan. Semua aku serahkan padamu." ucap Yokada.
"Aku akan mengurusnya. Ya sudah. Aku harus pergi rapat siang ini. Nanti aku hubungi lagi." ucap Shin.
"Okay baiklah. Hati-hati." sahut Yokada dari ujung telepon.
Shin Ji Joon menutup teleponnya dan menyiapkan berkas-berkas penting yang harus dia bawa. Dia sudah di tunggu oleh beberapa karyawannya di luar ruangan.
"Pak, kita berangkat sekarang?!" tanya salah satu karyawannya.
"Iya. Ayo," sahut Shin.
Mereka pun bergegas pergi ke temoat parkir. Sampai di tempat parkir lantai 2. Shin Ji Joon melihat Man yang duduk di sebelah mobil miliknya.
"Hei, kau masih di sini?" sapa Shin kepada Man.
"Kalian pergi duluan." titah Shin meminta beberapa orang karyawannya untuk pergi terlebih dahulu ke dalam mobil.
Man menoleh ke arah Shin Ji Joon. Dia bangkit dari duduknya. Man terlihat bingung ingin menjawab apa.
Shin Ji Joon tau itu hanya sebuah alasan. Dia berjalan mendekat ke arah mobil Man. Dia membungkukkan badannya untuk melihat lebih jelas ke dalam mobil. Shin mencari tau, apa Ha Jae masih di dalam.
"Ohh dia tidur?" ucap Shin berbalik menatap Man.
"Apa?! Tidur??" seru Man dengan kagetnya.
Man berjalan mendekat melihat lebih jelas ke dalam mobil.
"Ah sial! Bocah ini!!" sergah Man.
Dia berjalan menuju sebelah kiri mobil, membungkukkan badannya lalu mengetuk pintu kaca mobil.
"Woyyy bocah!! tangi!!" (Woyyy bocah!! bangun!!) sergah Man.
Man mencoba menggoyang-goyangkan mobil agar Ha Jae yang tertidur di dalamnya segera terbangun.
"Kowe pingsan opow turu hee?? Tangii!!" (Kamu pingsan apa tidur sih?? Bangun!!) cerocos Man masih berusaha membangunkan Ha jae.
Shin Ji Joon tersenyum menyeringai melihat apa yang di lakukan Man. Dia melihat dengan serius Ha Jae yang tertidur pulas. Nampak wajah yang tenang tanpa dosa. Ingin rasanya Shin membelai wajah yang tenang itu.
"Kalau gitu, aku pergi duluan, aku sudah di tunggu." pamit Shin bergegas pergi menuju sebuah mobil.
"Oh ya, hati-hati di jalan." sahut Man.
Choi Ha Jae nampak sudah terbangun dari tidurnya. Dia terdiam memandang Shin Ji Joon yang berlahan pergi menghilang dari pandangannya.
"Choi Ha Jae. Walau bagaimana pun. Kau tetap gadisku. Kau harus jadi milikku." guman Shin dalam hati. "Oh ya. Aku harus hubungi dia soal wawancara besok."
...(Chat To Choi Ha Jae)...
__ADS_1
...----------------...
"Besok, jam 6 pagi aku jemput di rumah. Kita harus berangkat pagi agar bisa mendapatkan banyak informasi dari warga,"
...----------------...
Tak berapa lama, pesan itu pun di balas oleh Ha Jae.
Klunting..! (bunyi notifikasi).
...(Chat froam Choi Ha Jae)...
...----------------...
"Maaf Pak Shin,"
"Bagaimana jika hari minggu saja?!"
"Besok saya harus ke Rumah Sakit."
...----------------...
Shin Ji Joon pun terkejut membaca isi pesan itu.
"Kenapa, Pak?! Kelihatannya panik sekali?!" tanya seorang karyawan yang sedang menyetir mobil di sampingnya.
"Ah tidak. Aku hanya mendengar kabar temanku sedang sakit." jawab Shin.
"Ooh, saya turut bersedih. Semoga dia cepat sembuh." sahut karyawan itu.
"Iya semoga." jawab Shin.
...(Chat To Choi Ha Jae)...
...----------------...
Shin Ji Joon : "Rumah sakit?! Siapa yang sakit?"
Choi Ha Hae : "Tidak. Tidak ada yang sakit,"
Choi Ha Hae : "Saya hanya merasa kurang enak badan saja."
Shin Ji Joon : "Kau baik-baik saja?"
Shin Ji Joon : "Baiklah kalau begitu. Besok lusa saja kita wawancara untuk produknya."
Choi Ha Hae : "Terimakasih, Pak."
Shin Ji Joon : "Semoga kau baik-baik saja,"
Choi Ha Hae : "Tidak apa-apa. Saya baik-baik saja,"
Choi Ha Hae : "Terimakasih Do'anya. Maaf sebelumnya."
Shin Ji Joon : "Ya,"
Shin Ji Joon : "Hati-hati di jalan."
Choi Ha Hae : "Terimakasih banyak, Pak."
...----------------...
...****************...
__ADS_1