
Mereka pun memutuskan untuk pergi ke taman kota. Mereka menghabiskan hari mereka dengan melihat pesta kembang api nanti malam. Dalam perjalanan, Shin sesekali memperhatikan Ha Jae yang terlihat murung setelah kejadian itu.
Bahkan saat mereka berkumpul bersama pun. Ha Jae masih sesekali terlihat murung. Seakan ada sesuatu yang menganggu pikirannya.
"Ha ha ha ha ha" (suara mereka yang sedang bercanda dan tertawa bersama).
...(baca bab "kembang api")...
"Satu, dua, tiga, Wuaaaaaaaaaa!!"
Sorak sorai mereka mengisi suasana malam itu. Kembang api warna-warni menghiasi gelapnya langit yang luas. Semua mata tertuju melihat indahnya pemandangan langit itu. Tapi Shin hanya terpaku memandang wajah gadis yang jauh berada di hadapannya utu. Baginya, itu adalah pemandangan yang indah dalam hidupnya.
Shin melihat kilauan butiran bening mengalir menghiasi pipi Ha Jae. Ingin sekali dia mendekat dan memeluk Ha Jae. Dia ingin semua beban yang ada dalam hati dan pikirannya berpindah kepadanya. Tapi Shin, tak bisa berbuat apa-apa.
Malam sudah semakin larut. Mereka pun sudah bersiap untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
"Daaa hati-hati di jalan." ucap Ha Jae melambaikan tangannya kepada Jennie dan Kyun.
"Dadaaaaa kamu juga!!" sergah Jennie membalas lambaian tangan Ha Jae.
"Coco! hati-hati." seru Kyun melambaikan kedua tangannya.
"Yooo!!" jawab Ha Jae.
"Pak Shin belum pulang?" tanya Ha Jae menoleh ke arah Shin yang berdiri di tepat di belakangnya.
"Bagaimana dengan mu?" tanyanya Shin.
"Mmm, aku ada urusan sebentar yang harus aku selesaikan." ucap Ha Jae mendekat ke arah Shin.
"Biar aku antar. Tidak baik wanita pulang malam-malam sendirian." tutur Shin.
"Aku gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri." jawab Ha Jae berusaha menolak.
Dengan sebisa mungkin. Shin membujuk Ha Jae agar mau dia antar pulang. Dia harus terpaksa mengatakan bahwa yang memerintahnya adalah Yokada. Dengan berat hati, Ha Jae akhirnya menerima tawaran Shin.
Di tengah perjalanan, Shin sesekali melihat ke arah Ha Jae. Terlihat jelas raut muka yang sendu. Shin tau, bahwa ada sesuatu yang menganggu pikiran Ha Jae.
__ADS_1
"Apa aku coba menebak saja ya?! Biasanya orang seperti ini sedang memikirikan sesuatu. Tapi apa?! Ah coba yang tadi." batin Shin.
"Hah?! Kenapa?" celetuk Shin melihat ke arah Ha Jae dengan Serius.
Dia berusaha menebak apa yang sedang Ha Jae pikirkan. Ha Jae pun terlihat terkejut dengan apa yang Shin katakan. Dia ternyalang melihat ke arah Shin. Shin pun hanya bisa menahan tawa melihat ekspresi yang Ha Jae berikan.
"Benar dugaanku. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Apa mungkin karna Julia?! Jika benar. Berarti selama ini dia ... " batin Ha Jae.
"Emm, tadi, kenapa? Katanya kamu ingin pergi ke suatu tempat dulu?? Biar sekalian aku antar." jelas Shin berusaha menenangkan Ha Jae.
"Ohhh!! Itu. Anu. Eeee, besok saja, iya besok saja." jawab Ha Jae gelagapan.
"Aku pikir apa'an." gumamnya menghela nafas.
"Apa?! Apanya yang 'Apa'an'?" tanya Shin penasaran.
"Eee enggak. Bukan apa-apa." jawab Ha Jae berusaha berkelip.
"Kau sudah lama pacaran dengan Julia?" celetuk Ha Jae tanpa sadar.
"Apa?! Jadi benar karna Julia. Jadi selama ini.." gumam Shin dalam hati.
Shin hanya tersenyum menyeringai mendengar apa yang di ucapkan Ha Jae. Dia sangat yakin, bahwa Ha Jae juga memiliki perasaan yang sama sepertinya.
"Aku dan Julia hanya sebatas teman. Ayahnya dan Ayahku adalah rekan bisnis sejak kami kecil dulu. Tidak lebih." jelas Shin tersenyum lega.
"Ohh." jawab Ha Jae dengan ragu.
Sesekali Shin Ji Joon tersenyum melihat Ha Jae. Dia sangat senang dan merasa lega. Akhirnya dia tau isi hati Ha Jae sebenarnya. Bahwa dia juga memiliki perasaan sama seperti yang dia rasakan.
Setelah sampai di rumah Yokada. Ha Jae pun berpamitan. Dia berniat menyurih Shin untuk mampir sebentar.
"Anu, Pak Shin mau mampir sebentar? Senpai pasti sudah menunggu di dalam." ucap Ha Jae.
"Tidak usah, aku langsung pulang saja." jawab Shin menatap Ha Jae dengan senyuman yang indah.
"Eee. Okay. Aku, anu, eee aku masuk dulu." jawab Ha Jae gelagapan.
__ADS_1
Ha Jae membuka pintu dan bergegas keluar mobil.
"Anu, Seatbelt nya." seru Shin mencoba meraih pundak Ha Jae yang terpelanting.
"Ooo!" seru Ha Jae tersentak kebelakang.
"Biar aku bantu lepas." ucap Shin.
Shin mendekatkan badannya ke arah Ha Jae. Dia membantu melepas sabuk pengaman yang masih mengikat tubuh Ha Jae. Muka mereka sangat begitu dekat. Ha Jae seakan terpaku melihat wajah Shin. Detak jantunhnya begifu kencang. Sampai Shin pun menyadari akan hal itu.
Shin tertegun menatap mata Ha Jae. Tatapan teduh yang tajam seakan menghentikan waktu mereka berdua.
Klekk. (bunyi Seatbelt yang terbuka).
Mata mereka masih bertatapan dengan sangat dekat. Shin memberikan sebuah senyuman tipis dan berlahan menjauhkan wajahnya dari wajah Ha Jae. Mereka benar-benar sangat dekat.
"Sudah, silahkan. Hati-hati." ucap Shin membangunkan lamun Ha Jae.
"Oo, anu, ya, teri, terimakasih." jawab Ha Jae gelagapan.
Dia langsung berbegas keluar dari dalam mobil.
"Aduh," Kaki kiri Ha Jae tersandung karna tak berhati-hati mengambil langkah.
"Maaf, terimakasih. Hati-hati di jalan." ucap Ha Jae menunduk memberikan salam kepada Shin.
Ha Jae bergegas naik tangga dengan muka malunya. Dia tertegun saat menyadari pintu mobil belum ia tutup. Shin masih terpaku memandang Ha Jae.
"Aduh." seru Ha Jae menepuk keningnya.
Dia berbalik dan melihat Shin yang kesulitan menutup pintu mobil.
"Ahh maaf Pak, aku lupa menutupnya." ucap Ha Jae bergegas meraih pintu mobil itu dan menutupnya.
"Tidak apa-apa, terimakasih." sahut Shin.
"Maaf." seru Ha Jae sebelum bergegas naik ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Dengan berlahan, Shin melajukan mobil yang dia tumpangi. Sesekali dia sersenyum bahagia. Dia sangat yakin, bahwa Ha Jae juga menyukainya.
...----------------...