
"Kenapa semua jadi seperti ini?!" gumam Yokada. "Di mana dia sebenarnya?!"
Yokada begitu sangat bingung. Dia bersusaha menghubungi Choi Ha Jae namun tidak ada jawaban. Yokada meraih jasnya dan bergegas pergi ke sesuatu tempat.
"Paman," seru Haneul yang baru saja sampai di rumah.
"Hai, kau bawa keponakan-keponakanku tadi, hah?! Kenapa kalian tidak ada di pesta tadi siang," hardik Yokada mendekat ke arah Kyun.
"Ahh, itu. Mobil yang kami tumpangi mogok, jadi kami terpaksa mengurungkan niat ke sana. Percuma saja pergi, jika acara sudah selesai." tutur Kyun berkelit.
"Dasar. Ah sudahlah!" seru Yokada. "Hai kau, jaga rumah,"
Yokada bergegas pergi ke luar rumah. Dia begitu sangat pusing dengan apa yang sebenarnya terjadi. Di sisi lain, Choi Ha jae sedang menuju ke Australia.
"Sebisa mungkin, kau buat client kita ini puas. Mengerti," titah Sanji.
"Hemm," gumam Choi Ha Jae.
......................
"Appa. Appa mau bermain dengan Ae-Ri tapi kenapa dengan kami tidak?!" tegur Haneul kesal.
"Kau sudah dewasa. Kau mau main boneka? Atau tembak-tembakan?" sahut Jun So.
"Appa," rengek Haneul.
Sejak kegagalan pernikahan Seo Jun So. Dia sering menghabiskan waktunya dengan Haneul. Jun So tak menyangka bahwa Ha Jae mengangkat kedua sahabat Haneul menjadi anaknya. Jun So bergitu bangga dengan Ha Jae. Dia merasa tak salah memilihnya untuk menjaga Haneul.
Seringnya Jun So berkunjung ke rumah Ha Jae untuk menghabiskan waktu dengannya. Jun So semakin dekat dengan Ae-Ri. Dia sudah di anggap seperti anaknya sendiri. Ae-Ri pun sangat senang memiliki seorang ayah angkat seperti Jun So.
Hingga pada saat Jun So mengantarkan Ae-Ri dan Yu Hee pergi ke rumah sakit. Jun So terpesona dengan ibu Ae-Ri yang ternyata masih hidup dan mengalami gangguan jiwa.
Yu Hee bercerita bahwa Tifa, ibu Ae-Ri. Mengalami depresi dan harus terpaksa di rawat di rumah sakit. Saat dirinya mengalami tidak kejahatan. Tifa adalah korban perampokan dan pemerkosaan yang di lakukan 6 orang. Sejak saat itu, Tifa mengalami depresi dan gangguan jiwa. Sampai Ae-Ri lahir pun. Tifa belum bisa menerima semua yang terjadi pada dirinya.
"Jadi Ae-Ri ... " tanya Jun Soo.
__ADS_1
"Benar, Tuan," Yu Hee memandang Ae-Ri dengan sendu.
Gadis kecil polos yang manis. Jiwa yang tak tau apa-apa. Harus menanggung aib yang besar. Jun Soo memandang penuh keprihatinan kepada Ae-Ri. Sejak saat itu kedekatan Jun So dengan Ae-Ri semakin erat. Hingga Jun So memutuskan untuk menikahi Tifa.
Yu Hee yang terkejut niat Jun So. Beberapa kali menolak karna kondisi Tifa yang tidak waras. Namun demi masa depan Ae-Ri. Akhirnya Yu Hee menyetujui pernikahan itu.
3 bulan berlalu setelah pernikahan Shin Ji Joon. Ha Jae kembali ke Korea karna permintaan Jun So. Ha Jae sebenarnya belum ingin kembali ke korea sebelum benar-benar dapat melepas Shin Ji Joon. Namun karna itu tentang putrinya. Ha Jae pun terpaksa menurutinya.
Selama Ha Jae tidak ada di Korea. Kedetakan Yokada dengan Mizuki pun berangsur membaik. Walau Yokada masih risih dengan Mizuki. Namun Yokada berlahan menerima kehadiran Mizuki. Yokada sudah terbiasa dengan keagresifan Mizuki, walau sebenarnya dia sangat kesal dengan hal itu.
Tok Tok Tok!
Tok Tok!
Ha Jae beberapa kali mengetuk pintu kamar Haneul. Tapi dia tak kunjung membukakan pintu kamarnya.
"Aku sudah membujuknya, tapi dia tak mau membukakan pintu," tutur Jun So. "Aku khawatir dengan kesehatannya. Sudah 3 hari dia tak mau turun untuk makan bersama. Bahkan makanan yang di bawakan pun tak dia sentuh sama sekali,"
Ha Jae hanya tersenyum mendengar ucapan Jun Soo. "Dia baik-baik saja. Hanya sangat marah," tutur Ha Jae.
Ha Jae memundurkan badannya. Dia menatap pintu kamar Haneul dengan tegasnya. Ha Jae mencoba memanggil Haneul. Haneul yang mendengar suara Ha Jae pun ragu untuk membukanya.
Ngukkkkkk!! Nguuukkk!! (suara sesuatu yang di geser dari dalam kamar)
Klekk!
Haneul berlahan membuka pintu kamarnya. Dia mengintip dengan takut dari balik pintu yang terbuka sedikit itu. Ha Jae memandangnya dengan senyuman yang manis.
"Kau sudah makan? Stok Mie Instan mu banyak juga," beber Ha Jae. "Keluarlah, Mama bawakan oleh-oleh untukmu,"
Ha Jae berbalik dan pergi dari situ. "Oh ya, Mama tidak lama di Korea," tutur Ha Jae sebelum pergi ke lantai bawah bersana Jun Soo.
Di sana sudah ada Nami dan Yuri yang menunggu mereka. 1 bulan Haneul tinggal di rumah ayahnya. Sedangkan Nami dan Yuri, tetap tinggal di rumah Yokada. Mereka begitu merindukan Haneul yang hampir tak mengunjungi Nami dan Yuri di rumah Yokada.
"Mama, mana Haneul?! Apa dia sakit?" tanya Nami.
__ADS_1
"Oh itu Haneul," seru Yuri yang menunjuk Haneul yang sedang menuruni tangga.
Tanpa pikir panjang, Yuri dan Nami menghampiri Haneul dan memeluknua dengan erat. Terlihat raut kebahagiaan di mata mereka bertiga. Kerinduan yang di rasakan, kini sudah terbayar.
"Ijinkan aku bersama Haneul beberapa hari kedepan," pinta Ha Jae.
"Silahkan, bagaimanapun. Kau sudah menjadi Mamanya," jawab Jun So.
Ha Jae tersenyum membalas ucapan Jun So. Hari itu, Ha Jae mengajak ke 3 putrinya itu untuk kemping bersama. Ha Jae sengaja mengajak mereka berkemah untuk menjalin kedekatan setelah sekian lama tak berjumpa. Selain itu, Ha Jae sangat tau. Bahwa Haneul sangat marah dengan Ha Jae karna tak menepati janjinya mengajaknya dan kedua sodaranya berlibur ke Indonesia. Itu terlihat dari sikap Haneul yang hanya diam saat di perjalanan.
"Kau lapar?!" tanya Ha Jae kepada Haneul.
"Hah?! Tidak," jawab Haneul.
"Jika kalaian lapar. Tahan saja dulu. Sebentar lagi kita sampai," tutur Ha Jae.
"Kalau sebentar lagi sampai, kenapa kita harus menahan lapar," celetuk Yuri.
"Kalian perlu mendirikan tenda, mencari kayu, mencari air. Selain cuaca yang tidak bisa di tebak. Hari juga sudah hampir malam. Jadi jangan sampai sudah petang tenda, kayu dan air belum kalian dapat," jelas Ha Jae.
"Ohh," sahut Nami dan Yuri.
"Ahh! Nanti biar aku yang cari kayu. Nami pasang tenda, Haneul cari air," usul Yuri.
"Kenapa aku yang pasang tenda?" tanya Nami.
"Kau kan belajar Teakkondo, pasti ototmu kuat. Jadi kau bisa pasang tenda yang megah," jelas Yuri.
"Kau pintar juga," puji Ha Jae.
"Hakim harus pintar," sahut Yuri.
"Iya iya, baiklah," sahut Nami.
"Ha ha ha ha," pekik Nami dan Yuri tertawa lepas.
__ADS_1
Sedangkan Haneul, masih enggan berbicara di samping Ha Jae yang sibuk melajukan kendaraan yang mereka tumpangi. Hingga sampailah mereka di sebuah hutan yang terletak di pinggir gunung yang menjulang.
...****************...