Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Kasus Pembunuhan


__ADS_3

...Seorang WNI membunuh seorang pengacara yang tak lain adalah majikannya sendiri....


...----------------...


Seorang warga Indonesia yang bekerja sebagai pelayan telah membunuh manjikannya sendiri dengan cara yang sadis. Soo Min Jae tewas dengan 2 tusukan yang melayang tepat di ulu hatinya. Di langsir dari laman Conan.com, tersangka yang berinisial L, telah di ketahui sudah melakukan 2 kali pembunuhan terhadap majikannya sendiri. Sekarang L telah di amankan dan terancam hukuman mati.


...----------------...


...Tersangka pembunuhan Soo Mi Jae di eksekusi hari ini....


...----------------...


WNI yang berinisial L, pada tanggal 23 Desember 2009, akan di eksekusi. L yang telah 3 kali melakukan pembunuhan itu akhirnya akan di eksekusi hari ini.


Di telusuri dari laman Conan.com, L pertama kali melakukan tindak kejahatan pada tanggal 4 November 2008. Dia membunuh pengusaha berlian asal Meksiko bernama Jhonsep. Jhonsep di temukan tewas dengan 9 tembakan yang membrondong tubuhnya.


Pada tanggal 9 April 2009, L kembali melakukan pembunuhan terhadap Artis Kang Nara. Kang Nara di temukan tewas dengan jeratan kabel di leher dan tusukan pada bagian perutnya.


Hingga pada tanggal 9 November 2009, L kembali melakukan pembunuhan terhadap perngacara Soo Min Jae. Soo Min Jae meregang nyawa dengan 2 tusukan yang melayang tepat ulu hatinya. Di ketahui motif dari semua pembunuhan itu, karna kesal terhadap perilaku majikannya. Dan pada 23 Desember 2009, adalah hari eksekusi bagi L.


...----------------...


"Tuan," panggil Yangsima.


"Tidak mungkin. Ini semua pasti tidak benar." sanggah Shin Ji Joon.


Shin Ji Joon meletakkan selembaran surat kabar usang itu. Dia tidak percaya dengan apa yang di berikan oleh Yangsima. Dia sangat yakin, bahwa Yangsima salah memberikan laporan.


"Maaf, Tuan. Informasi yang Tuan berikan tentang keluarga gadis itu memang ini hasilnya." tutur Yangsima.


"Tidak ada informasi lain?! Soal Ha Jae yang bekerja di rumah itu?! Kenapa kau memberikanku laporan tentang pembunuhan ini?!" kesal Shin. "Aku menyuruhmu mencari jejak Ha Jae di keluarga itu,"


"Hemm," Yangsima menyeringai. "Itu yang saya pikirkan," ucap Yangsima duduk di hadapan Shin Ji Joon. "Informasi yang saya dapat. Hanya ada 3 pelayan di rumah itu. 2 pembantu dan 1 sopir." ungkap Yangsima. "Saya sudah menemui pelayan yang satunya. Dia masih hidup dan sekarang bekerja. Dan yang mengejutkan. Dia sangat mengenali orang dalam foto yang saya tunjukkan,"


Shin Ji Joon terkejut dengan apa yang Yangsima sampaikan. Dia semakin penasaran, informasi apa saja yang sudah berhasil dia kantongi.


"Apa?! Dia bilang apa?!" tanya Shin Ji Joon.


"Perempuan itu mengenali Choi Ha Jae sebagai Lara. Dan dia sudah mati dengan esekusi yang pengadilan jatuhkan padanya 6 Tahun silam." ungkap Yangsima.


"Bagaimana mungkin?! Apa kau sudah mendapatkan laporan dari Indonesia?!" tanya Shin Ji Joon. "Jika benar dia Lara. Lalu siapa Gemani Priacanara? Apa hubungannya mereka dengan Choi Ha Jae?!"


"Itu yang membuat saya penasaran, Tuan." tutur Yangsima. "Lara sudah di esekusi. Bahkan perempuan itu sangat yakin sudah mengubur jasadnya. Tapi, saat melihat foto Choi Ha Jae. Dia sangat yakin bahwa itu adalah Lara,"


Yangsima meraih minuman di hadapannya dan menyruputnya. Dia begitu sangat tertarik dengan apa yang harus dia selesaikan itu. Yangsima mengeluarkan sebuah foto dari dalam saku dalam jas hitam yang dia kenakan. Yangsima menata sekembaran kertas dan foto dari dalam sakunya itu di atas meja.


"Mungkin kita singkirkan dulu soal Lara. Kita fokus kepada Ha Jae dan Gemani. Jika di pikir. Mungkin saja Ha Jae adalah Gemani. Mengingat nama itu yang dia gunakan untuk bisnisnya. Dan sadari juga, Yokada ada di belakang gadis itu," selidik Yangsima. "Kita tak perlu dan cari tau lagi siapa itu Yokada bukan?!"

__ADS_1


"Kau benar. Kau harus segera mendapatkan informasi dari Indonesia tentang hal itu. Aku sangat yakin Yokada tau semuanya. Aku harus mencari tau tentang itu semua," tutur Shin Ji Joon.


"Jangan gegabah, Tuan. Yokada tak akan dengan mudah memberitahukan informasi seperti ini," ucap Yangsima.


"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Shin Ji Joon.


"Putuskan segera." jawab Yangsima. "Pernikahan Tuan, tinggal besok lusa,"


Yangsima bangkit dari duduknya. Dia merapikan jasnya lalu pamit undur diri. Sebelum Yangsima meninggalkan tempat itu, dia menyampaikan sesuatu kepada Shin Ji Joon.


"Saya pernah melakukan kesalahan dalam hidup saya. Yaitu berpasrah dengan takdir. Jadi saya harap, kesalahan itu tak pernah saya lakukan, bahkan saya lihat lagi," tutur Yangsima. "Permisi, Tuan."


"Apa? Apa yang harus saya lakukan. Ibu?!" tanya Shin Ji Joon dalam hati.


Shin Ji Joon duduk termanggu di atas kursinya. Dia memandang kosong dua foto yang terjejer rapi di atas meja kerjanya itu.


"Siapa? Siapa sebenarnya dirimu?!" tanya Shin Ji Joon dalam hati.


......................


"Selamat ulang tahun Nami," bisik Ha Jae yang diam-diam masuk ke kamar anak-anaknya.


Malam itu, Ha Jae sengaja pulang ke Korea untuk memberikan hadiah dan memasak makanan untuk Nami. Setelah semua selesai, Ha Jae bergegas kembali ke Jepang dengan pesawat Jet pribadi milik Sanji yang sengaja dia pinjam.


"Kau menggunakan pesawatku hanya untuk masak di Korea?!" tukas Sanji.


"Hanya sebentar," sahut Ha Jae.


"Aku adalah diriku. Tak ada yang berubah," tutur Ha Jae.


"Kau berubah!" tuduh Sanji. "Lihat! Harusnya kau menghabisi mereka semua. Tapi apa, kau hanya menggoreskan luka pada mereka,"


"Hemm," Ha Jae menyeringai.


Ha Jae menghampiri Sanji yang duduk di sofa kamarnya. Dia membungkukkan badannya untuk mendekatkan wajahnya ke wajah Sanji.


"Itu balasan yang sakit dari pada membunuh mereka. Dan aku lebih suka itu," bisik Ha Jae.


"Mereka bisa saja bangkit dan membunuhmu kapan pun," tegas Sanji.


"Kau yakin mereka mampu?" tanya Ha Jae. "Jika memang mereka mampu. Maka biarkan mereka melakukan itu. Begitulah permainan,"


"Hi hi hi hi, kau memang berubah. Kau berubah menjadi lebih matang. Aku suka itu," bisik Sanji.


......................


"Mama?!" gumam Haneul.

__ADS_1


Haneul menyalakan lampu ruangan atas. Dia berusaha melihat dengan jelas tumpukan kado yang Ha Jae taruh di meja tamu. Haneul mencium bauk masakan sedap yang tak asing bagi hidungnya itu. Dia menghampiri meja dan melihat masakan kesukaannya sudah tersaji di atas meja makan.


"Mama! Mama!" panggil Haneul coba mencari Ha Jae.


"Mama pulang?" tanya Yuri yang sepoyongan keluar dari kamarnya.


"Emm," Haneul mengangkat pundaknya.


Yuri dan Haneul mencoba mencari Ha Jae ke setiap ruangan. Tapi tak menemukannua juga.


"Kalian sedang cari apa?!" tanya Yokada.


"Paman, Mama kemana?!" tanya Haneul.


"Kau ini gimana. Ha Jae kan sedang ke Jepang." jawab Yokada menuang minuman ke dalam gelas.


"Mama pulang, Paman. Coba sini, ayo lihat ini," Haneul menggeret Yokada untuk ikut bersamamya ke lantai atas.


Sampai di pantai atas, terlihat Nami yang tertegun di depan meja makan.


"Ini lihat, Mama masak ini. Itu juga. Pasti dari Mama," Haneul menunjuk ke arah tumpukan kado yang ada di atas meja.


Yokada yang merasa bingung pun bergegas masuk ke dalam kamar Ha Jae. Dia membuka komputer di meja kerja Ha Jae dan melihat rekaman CCTV ruangan tersebut.


Yokada merasa heren saat melihat Ha Jae yang terlihat menaruh kado dan menyiapkan masakan. Yokada tak menyangka, bahwa dia akan melakukannya untuk orang yang sama sekali tidak ada hubungan darah dengannya.


"Hemm," gumam Yokada. "Kau benar-benar sudah berubah. Syukurlah," gumam Yokada dalam hati.


"Benarkan, Mama pulang." seru Haneul.


"Nami, coba baca ini. Ada surat dari Mama," seru Yuri dari luar.


Haneul dan Nami pun bergegas keluar kamar. Dia dengan senang meraih dan membaca surat yang sengaja Ha Jae tinggalkan untuknya. Nami merasa sangat bahagia saat itu. Dia benar-benar merasakan bagaimana rasanya memiliki orang tua. Nami sangat bersyukur berada di hidup Ha Jae.


"Mama," gumam Nami.


...----------------...


...Happy Best Day Sayang...


...Mama tepati janji Mama. Maaf, tidak bisa menemanimu meniup lilin ulang tahunmu....


...Mama berharap besar darimu. Berbahagialah, raih cita-citamu, hiduplah dengan sebaik mungkin. Aku yakin, kau dapat menjadi apa yang kau inginkan....


...Mama siapkan kado untukmu dan sodara-sodaramu. Yang akur, saling melengkapi, dan salinglah menjaga....


...Love you...

__ADS_1


...----------------...


...****************...


__ADS_2