Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Hari Pernikahan


__ADS_3

"Coba lihat. Apa isi kadonya," seru Yuri.


"Ehh, lebih baik nanti saja saat acara," usul Haneul.


"Oh, iya benar. Aku tak sabar," seru Haneul.


"Hai, lebih baik kalian bersiap. Setelah itu kita sarapan bersama. Paman sudah lapar," titah Yokada.


"Baik, Paman!" seru Haneul, Nami dan Yuri.


Acara ulang tahun itu berjalan begitu meriah. Semua sahabat-sahabat Ha Jae hadir di acara tersebut. Bahkan Yokada mengundang rekan-rekan dekatnya untuk minum bersama, tentu saja mengundang Shin Ji Joon.


Shin Ji Joon begitu sendu saat itu. Dia terlihat sedang ada masalah yang serius. Yokada yang penasaran pun, mengajaknya berbincang.


Shin Ji Joon yang memiliki waktu berdua dengan Yokada merasa beruntung. Kesempatan itu, bisa dia gunakan untuk mengorek informasi yang dalam tentang siapa sebenarnya Choi Ha Jae. Tapi bukan Yokada namanya jika segampang itu memberikan sebuah informasi. Terlebih lagi tengang Choi Ha Jae.


"Kenapa kau bertanya seperti itu?!" tanya Yokada.


"Tidak. Aku hanya tertarik dengan kehidupan orang yang menyukaiku. Jarang-jarang ada orang yang di sukai oleh orang asing sepertiku. Bahkan artis pun belum tentu sepertiku," ujar Shin Ji Joon.


"Hemm," gumam Yokada. "Berhenti cari tau tentangnya. Biarkan dia hidup bahagia. Lagi pula, esok kamu sudah menikah,"


Shin Ji Joon memandang Yokada dengan sengit. Dia tau, bahwa tak mudah mengorek informasi darinya.


"Saat aku mengantar Haneul. Aku curiga kenapa dia tidak pergi ke pemakaman Lara. Bukankah jaraknya sangat dekat?!" sindir Shin Ji Joon.


Seperti dugaan Shin Ji Joon, Yokada terlihat terkejut mendengar Shin menyebut nama itu. Yokada semakin curiga dengan Shin Ji Joon.


"Apa maksud bocah ini?! Bagaimana dia tau tentang Lara?! Apa ...," gumam Yokada dalam hati.


"Kenapa?! Kau mengingat sesuatu tentang Nama itu." sungut Shin Ji Joon.


"Dengar apa pun maksud dan tujuanmu. Hentikan itu sekarang," Yokada bangkit dari duduknya. Dia beranjak dari tempat itu untuk menyudahi perbincangan itu. Yokada tertegun dan melihat ke arah Shin Ji Joon yang masih dengan serius memperhatikannya. "Kau itu ponakanku, dan Ha Jae adikku. Jadi lupakan semuanya. Hiduplah dengan bahagia dengan istrimu nanti," tutur Yokada.


"Jika aku tidak mau," sahut Shin Ji Joon.


Yokada tak menjawab ucapan Shin Ji Joon. Dia langsung pergi menghampiri rekan-rekan yang lainnya. Sesekali, Yokada melihat ke arah Shin Ji Joon yang masih memilih menyendiri di teras menikmati Wine di tangannya. Shin Ji Joon membalas pandangan Yokada dengan senyum dan tatapan yang tajam.


......................


**Srenggggg!!!

__ADS_1


Dor dor dor!


Aaaaaa!!!


Dor dor!


Sringgggg**!


Suara gaduh keributan yang terjadi di sebuah gedung. Darah segar berceceran di sana-sini. Mayat-mayat berjas hitam tergeletak di sana-sini dengan kondisi yang tragis. Dia, dia berdiri tenang tanpa rasa ketakutan sedikit pun. Tatapan tajam yang akan membuat semua orang merasa ngeri melihatnya. Senjata tajam yang dengan mudah merenggut nyawa, tak satu pun ada yang mempan di tubuhnya. Dia, dia adalah pedang hitam yang tajam. Iblis yang dengan mudah menghilangkan nyawa tanpa menyentuhnya. Dialah ...


"Hei, lama tidak berjumpa ternyata kau sudah berubah, ya," tutur Sakeji.


"Aku tak pernah berubah," sahut Gemani dengan datar. "Aku tetap diriku yang dulu, hanya saja, aku sekarang aku jauh di atasmu,"


"Sombong sekali kau," tukas Sakeji. "Jika kau hebat, lawan aku,"


"Hemm, aku tak mau bermain dengan ikan, yang jelas akan mati jika di daratan," sungut Gemani.


"Sial, berani sekali kau," kesal Sakeji.


Sakeji melayangkan sebuah tebasan samurai ke arah Gemani. Dengan cepat, Gemani menahan samuai itu hanya dengan kedua jarinya.


Pyarrrr!


"Sial! Perasaan apa ini?! Aku belum pernah merasakan ketakutan seperti ini dalam jiwaku," gumam Sakeji dalam hati. "Wanita ini,"


"Aku ke sini karna, Tuanmu. Jadi harusnya kau menyambutku dengan baik," sungut Gemani. "Bereskan bangkai-bangkai ini. Jangan sampai publik tau,"


"Cih, baiklah. Karna kau di pihak kami. Aku akan melepaskanku," seru Sakeji.


Gemani pergi begitu saja tanpa menghiraukan Sakeji. Baginya Sakeji bukanlah ancaman yang serius. Selain dia masih di pihaknya. Sakeji sudah jauh dia lampaui.


......................


"Bagimana cantikkan?!" tanya Jennie.


"Iya," sahut Kyun.


"Iiihhh, kok judes gitu sih?" tegur Jennie.


Kyun hanya diam tak menghiraukan ucapan Jennie. Terlihat jelas bahwa perasaan Kyun sedang tidak baik.

__ADS_1


Jennie terus menegur Kyun, tapi Kyun tetap tidak meresponnya. Hingga tak lama kemudian, datanglah Hani menghampiri mereka. Di susul dengan Man yang datang bersama ke 3 putri Ha Jae.


"Kyun kenapa?! Kok kelihatannya bete gitu" tanya Hani


"Gak tauh nih. Nyebelin! Dari tadi guekin aku muluk," tutur Jennie.


"Yo," sapa Man.


"Ohh kau datang juga?" tanya Hani.


"Terpaksa," sahut Man datar.


"Sama," celetuk Kyun. "Lebih baik kita ngopi saja. Buat apa datang ke acara itu,"


"Sayang, kok gitu sih?!" protes Jennie.


"Hei! Kau ini sahabatnya Ha Jae atau Shin Ji Joon?!" sergah Kyun.


Jennie dan Hani saling bertatap-tatapn. Jennie hanya diam tak menjawab ucapan Kyun. Kyun menghampiri Man dan mengajaknya beranjak dari tempat itu.


"Sudahlah. Ayo, kita ngopi. Lebih baik kita main game dan mukbang bersama," usul Kyun.


Man yang hanya diam pun seakan tak menolak ajakan Kyun. Dia berlahan mengikuti Kyun dari belakang. Haneul, Nami, Yuri yang melihat itu pun. Ikut mengikuti Kyun dari belakang. Hani dan Jennie yang kebingungan akhirnya pasrah dan memilih mengikuti mereka.


Mereka pun berkumpul di atas gedung parkir sampir rumah Kyun dan Man. Mereka menikmati makanan dan camilan yang mereka bawa.


"Apa tidak apa-apa? Bagaimana jika Shin mencari kita," tanya Hani.


"Benar, tidak sopan kalau kita tidak hadir di pernikahan Shin Ji Joo," timpak Jennie.


"Kalian ini brisik sekali," tegur Kyun merada kesal. "Kalau kalian mau pergi ya pergi saja. Buat apa ikut dengan kami,"


Hani dan Jennie hanya diam tak menjawab ucapan itu. Mereka akhirnya memutuskan untuk tidak hadir di pesta pernikahan Shin Ji Joon dan Julia yang di rayakan pada hari itu.


......................


Choi Ha Jae menatap sendu gunung Fuji yang terlihat sangat indah jauh hadapannya. Dia duduk bersila menikmati pemandangan yang begitu elok.


"Hari ini adalah hari pernikahan Shin Ji Joon. Har matinya cinta Choi Ha Jae. Dan hari kembalinya Gemani," tutur Ha Jae dalam hati. "Mungkin ini hidupku,"


"Lagi ngopow kowe?!" (sedang apa kamu?!) tanya seorang perempuan mendekati Choi Ha Jae.

__ADS_1


Ha Jae melihat perempuan itu dengan senyumam yang manis. Perempuan yang begitu dekat dengannya. Perempuan yang sudah seperti dirinya sendiri. Perempuan, yang mengenalnya lebih dari dirinya sendiri.


...****************...


__ADS_2