Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Jarak


__ADS_3

Siang itu, Choi Ha Jae sudah sampai di Incheon. Dia duduk bersantai di kursi ruang kepala gudang.


"Pak Yoon, aku minta seragam buruh lepas." titah Ha Jae kepada kepala gudang yang berdiri di sampingnya.


"Ee tapi Nona. Seragam itu untuk para buruh lepas." jawab kepala gudang dengan terbata.


"Yang bilang seragamnya untuk Artis juga siapa? Aku meminta untuk aku pakai. Satu lagi. Jangan sampai ada yang tau bahwa aku utusan Ketua Yokada. Taroh aku di bagian pengemasan. Ini perintah! Mengerti!" titah Ha Jae dengan sedikit mengancam kepala gudang Yoon.


"Ba-baik Nona." sahut Kepala Yoon dengan galagap.


Kepala Yoon pun bergegas keluar ruangan, untuk mengambilkan sebuah seragam buruh lepas untuk Choi Ha Jae.


......................


"Hei semuanya!! Ada pekerja baru. Jadi aku pekerjakan bersama kalian. Ajari dia, bekerja yang kompak ya!" seru kepala Yoon kepada para pekerja.


"Emm Nona, silahkan." ucap kepala Yoon memberikan jalan kepada Ha Jar untuk turun ke lapangan memulai pekerjaanku.


"Jangan panggil Nona, panggil Ha Jae. Namaku Choi Ha Jae." titah Ha Jae berbisik ke arah kepala Yoon.


"Baik Nona Ha Jae. Silahkan" tunduk kepala Yoon mempersilahkan Ha Jae.


"Ha Jae, hanya Ha Jae." tegas Ha Jar sekali lagi.


......................


Waktu beristirahat tiba. Aku pergi untuk duduk bersantai di atas gedung. Aku menikmati bekalku sembari memperhatikan beberapa pekerja yang sedang membereskan pekerjaan mereka.


Aku mengamati mereka satu per satu. Aku perhatikan setiap gerak-gerik mereka dengan sangat jeli.


Aku harus segera menyelesaikan permasalahan ini dan kembali secepatnya ke Daejeon. Gumamku dalam hati.


Aku mencoba membuka ponselku. Moodku seketika berubah saat aku melihat notifikasi pesan dari Yokada.


...(pesan dari Yokada)...


...----------------...


"Sotonya Asin. Tapi habis."



^^^"Katanya enak."^^^


...----------------...


Pesan yang ku terima itu melampirkan sebuah foto piring, mangkok dan panci kotor bertumpuk di wastafel.


Ih di bilang jangan hubungi soal Soto. Gumamku kesal dalam hati.


Tunggu dulu! Aku melihat dan membaca dengan jeli pesan itu.

__ADS_1


Katanya? Habis? Maksudnya?! Batinku.


Perasaan orang itu tak pernah mau memuji masakanku. Lagi pula, aku kan masaknya sepanci!! Masak habis buat sarapan doang?! biasanya kan sampai 2 hari!! Selidikku merasa bingung.


...(pesan dari Yokada)...


...Choi Ha Jae - Yokada...


...----------------...


"Kyaaa!! Di mana kan?! Awas ya di buang!"


"Itu kenapa piring bisa setumpuk gitu?! 😲"


"Awas ketahuan di buang 😠"


^^^"Crewet 😑 di makan yo."^^^


"Masa?! Mustahil sarapan habiskan sepanci 😑"


^^^"Ish bocah. Yang penting habis. Tadi ada teman ikut sarapan."^^^


"Ohh aku pikir di buang 😂"


"Ya udah, cuci piringnya."


^^^"Crewett, dasar bocah tengik."^^^


^^^"Gimana keadaan di sana?"^^^


"Baik, nanti kalau ada perkembangan aku berikan laporan."


"Udah jangan hubungi lagi, nanti saja biar aku yang menghubungi."


^^^"Oe, hati-hati di sana. Jangan gegabah. Hubungi aku jika ada sesuatu."^^^


"👌"


...----------------...


"Hufff,,"


Aku menghela nafas lalu membuangnya berlahan. Aku pun dengan cepat memakan habis bekalku. Lalu membereskan tempat bekalku ke dalam tas kecil.


Aku bangkit dari dudukku untuk kembali turun melanjutkan pekerjaanku. Baru berbalik badan, aku melihat ada dua karyawan yang sedang berbincang dengan serius sembari sesekali melirik ke arahku.


Aku dengan rasa curiga, berlahan melewati mereka. Sesekali aku melirik penasaran dengan apa yang mereka bicarakan.


"Oe, apa lihat-lihat." sergah salah satu orang itu.


"Maaf." tundukku bergegas pergi menuruni anak tangga.

__ADS_1


......................


Satu bulan telah berlalu. Aku sudah mulai terbiasa dengan lingkungan dan pekerjaan yang aku kerjakan. Berat memang, susah, capek. Aku harus mengangkat barang yang di peking dengan balok kayu yang beratnya lumayan sangat berat untuk seorang wanita.


Tapi aku sudah terbiasa dengan pekerjaan keras seperti ini. Jadi hal yang mudah mengerjakan semua pekerjaanku.


"Yha!! HA JAE! KAPAL DATANG LAGI!" pekik seseoranh rekan kerja, memberiku aba-aba.


"AH YA. SIAP!" sahutku.


Sudah lumayan lama aku berada di sini. Tapi tugasku belum juga mendapatkan hasil. Sebenarnya aku sudah sangat merindukan suasana Daejeon. Ntah kenapa dengan si kunyuk Shin Ji Joon itu juga. Padahal dengan sahabat-sahabatku sendiri tak begini rasanya.


Rasanya ingin sekali bertemu dengannya. Bahkan hanya sebatas kabar darinya pun, sudah sangat cukup untukku.


Rindu?! aku tak bisa sebut ini rindu. Hanya saja perasaan Ingin sekali bertemu ini sangat menyiksaku. Di sisi lain, aku bingung, kenapa aku merasakan perasaan ini kepadanya. Padahal aku masih kesal dan kecewa soal janji di Cafeshop. Dia dengan seenaknya abaikan begitu saja tanpa kejelasan hingga sekarang.


Aku begitu merasa kesal padanya.


Sombong sekali dia.


Aku selalu yakin bahwa dia bukan orang yang seperti itu. Tapi kenyataan, sudah berlalu.


Ya beginilah, memang benar adanya. Budak seperti diriku ini memang tak pantas dekat dengan orang seperti Shin Ji Joon. Bahkan agaknya, menempel pada baju nya pun aku tak pantas.


Ya. Aku tau,


Padahal aku senang dan sangat bersyukur mengenal orang seperti Shin Ji Joon. Aku ingin sekali ada di hidupnya. Aku ingin dia ada dalam hidupku seperti Kyun dan lainnya.


Aku berjanji, aku akan berusaha sebaik dan sekuat mungkin, agar aku bisa setinggi dan seterang Shin Ji Joon. Hingga saatnya, dia bisa melihatku, bahwa aku ini ada di hadapannya. Dan pantas menjadi temannya.


Aku pasti bisa!


Lihatlah sekarang, aku sudah punya pijakan yang kokoh. Aku hanya perlu lebih kuat dan pintar lagi untuk mengatur semua ini.


Ya memang, masih banyak brandalan jalanan yang harus aku tundukan. Ilmuku masih jauh di bawah mereka. Tapi aku yakin, aku bisa menundukkan mereka semua.


Ya. Aku harus bisa.


Jika tidak, setidaknya aku punya Yokada yang mengenggam erat diriku. Walau sebenarnya Yokada bisa kapan saja lepaskan genggaman itu dan membuangku seperti sebuah sampah. Setidaknya untuk sekarang, genggamannya masih sangat kuat. Aku akan sekuat tenaga, berusaha agar aku tidak menjadi seorang sampah.


"HA JAR AWAS!!!" jerit salah satu buruh lepas berlari ke arahku.


"Brengsek."


"Kyaaa!!"


...(suara gaduh)...


...Saat itu, terjadi keributan besar di gudang utama Incheon tempat Choi Ha Jae bekerja....


......................

__ADS_1


"Yongseo, Pak Yokada!!" ucap kepala Yoon dengan panik.


...****************...


__ADS_2