
Sesampai di pondok, Choi Ha Jae mengikuti keluarga Pak Den. Dia berniat ingin ke rumah Pak Den sesuai permintaannya.
Ha Jae tertegun saat melihat beberapa mobil mewah terparkir rapi di depan Masjid. Pak Den dan beberapa orang di sana pun juga penasaran. Siapa kah gerangan yang datang?
Karna Pak Den sebagai ketua yayasan pondok itu, merasa tidak ada yang membuat janji padanya. Dia pun memutuskan pulang sebentar untuk membersihkan diri dan akan melihat siapa gerangan itu nanti.
Sesampai di rumah Pak Den. Ha Jae di minta masuk ke dalam rumah. Awal dia menolak, tapi seakan Pak Den ingin menunjukan sesuatu. Ha Jae pun akhirnya masuk ke dalam rumah.
Dia dengan hati-hati mengikuti Pak Den dari belakang. Ha Jae di bawa ke sebuah kamar yang cukup besar. Kamar yang terlihat tenang dan nyaman. Udara di sana juga sangat sejuk. Tapi ntah kenapa, kamar itu kosong tak berpenghuni. Hanya ada sebuah bupet kecil panjang di rumangan itu. Ada juga tikar yang tergulung di simpan di pojok ruangan.
Pak Den menghampiri bupet itu. Dia mengeluarkan sebuah kotak kayu dari dalam bupet tersebut. Berlahan dia membuka kayu tersebut.
"Sini, ke sini lah." titah Pak Den.
"Coba ambil kain ini." titahnya.
Ha Jae pun menuruti apa yang Pak Den perintahkan. Dia mengangkat sebuah kain yang terlipat rapi. Kain putih bersih dengan bauk wangi yang sangat manis.
Ha Jae membawa kain itu di atas telapak tangannya. Pak Den pun tertegun melihat akan hal itu.
"Edhan tenan kok kowe ki. Pie rasane?!" (Gila banget kok kamu tu. Gimana rasanya?!) tanya Pak Den.
"Hah apa?! Hah?!" jawab Ha Jae dengan bingung.
"Rasanya. Panas dingin?!" tanya Pak Den.
"Hangat, panas dikit, tapi dingin." ucap Ha Jae.
"Tapi kuat." celetuk Pak Den.
"Wes!! Sorban itu bawalah. Itu Sorban tetuo. Sorban dari nenek ke nenek, nenekku dulu." ucap Pak Den. "Jaga Sorban itu dengan baik. Simpan yang baik."
__ADS_1
Pak Den meletakkan kembali peti yang dia bawa ke atas meja. Dia menatap Ha Jae dengan bangganya.
"Mana Sorbannya. Coba tanganmu." ucap Pak Den.
Pak Den mengambil Sorban itu dari tangan Ha Jae. Dia meminta kedua tangan Ha Jae untuk di ikat. Pak Den mengikatkan kain putih itu di tangan Ha Jae. Tak lama Pak Den membacakan sesuatu. Ha Jae teriak histeris dan meronta kehilangan kesadaran.
......................
Tak lama kemudian, Ha Jae keluar dari ruangan itu. Dia terlihat lebih baik dari sebelumnya. Ha Jae tertegun saat melihat sebuah camilan dan dua gelas kopi yang sudah tersaji di atas meja tamu. Tanpa pikir panjang Ha Jae meraih sepotong camilan itu. Namun tetipa dia mendapatkan pukulan tak terduga.
Pluk!
"Auu!!" pekik Ha Jae.
Ha Jae menjatuhkan camilan itu di atas piring. Dia mengusap tangannya yang di pukul oleh Pak Den.
"Kui jatahku! Enak ae main srobot." sergah Pak Den.
"Tamu clintisan, nyoh kopine. Gowo muleh kono sak gelase. Odading seng gawek'ke bojo tercintaku jek, main srobot ae. Tuku dewe kono neng ngarep Pondok." (Tamu kurang ajar, nih kopinya. Bawa pulang sana berikut gelasnya. Odading yang buatin istri tercintaku malah, main srobot aja. Beli sendiri sana di depan Pondok.) hardik Pak Den. "Uhh rasane ajimppp!! Langsong dadi oppa Korea aku, clingg."
Pak Den berusaha menggoda Ha Jae. Ya memang begitulah sosok Raden Agung, yang sering di panggil Pak Den itu.
"Hus hus muleh kono. Menganggu suasana, hus hus." seru Pak Den mengusir Ha Jae.
Ha Jae menatap datar Pak Den, sebelum dia meraih segelas kopi dan membawanya pulang tanpa pamit.
"Dasar! Tuan rumah gak ada akhlak." cerca Ha Jae pergi meninggalkan rumah itu.
"SESOK GELAS'SE BALEK'KE!!" (BESOK GELASNYA BALIKIN!!) seru Pak Den dari dalam rumah.
Sesampainya di pondok tempat Ha Jae menginap. Dia tertegun si depan pondok, saat menyadari sesuatu hal.
__ADS_1
"Sial!" ucap Ha Jae terlihat kesal.
Ha Jar dengan kesalnya, masuk ke teras pondok dan duduk di kursi teras rumah, yang terbuat dari bambu itu. Ha Jae duduk bertumpang lutut dengan kaki satu di atas kursi.
Tak lama seseorang dengan tetiba keluar dari dalam kamar Choi Ha Jae untuk mengejutkannya. Ha Jae yang sudah mengetahui dari awal kehadiran orang itu.
Tak merasa terkejut dengan sergahan orang itu. Sebaliknya, Ha Jae merasa kesal karna orang itu ada di sana.
"MANIII, SAYANGKUU, SURPRISE!!" sergah seorang lelaki tinggi dan jangkung.
Dia adalah Sanji Yakure. Adik angkat William Yokada yang paling dia percaya. Yang tak lain adalah kakak angkat bagi Ha Jae juga. Dan dia jugalah, yang membentuk Choi Ha Jae menjadi seorang moster.
"Nani?!" sahut Ha Jae.
"Mani, kenapa seakan tak suka seperti itu?! Aku datang untuk mu. Aku rindu wanginya ramput pajang mu." tutur Sanji mendekat ke arah Ha Jae. "Mana-mana, ayo buka penutup kepalamu."
Dengan tetiba, Choi Ha Jae meraih leher Sanji. Dia mencengram leher itu dengan tatapan yang sangat tajam.
"Jangan berani-berani membuka kerudungku!" acamHa Jae.
"Hihihi hi hi. Kau sudah mulai besar rupanya. Sejak kapan Mani ku berani melawanku." ucap Sanji dengan sengit. "ITU KEREN SEKALI!!"
Sanji duduk di sebalah Ha Jae dengan santainya. Berasa tak ada rasa takut sedikit pun dalam jiwanya.
"Kau semakin menggoda. Aku tak salah melepasmu main ke alam bebas. Oh Mani sayang, kau sudah seperti wanita dewasa." pujinya terus menerus.
"Ih minggir!! Ngapain sih kamu di sini!!" hardik Ha Jae.
"Aku di sini untukmu sayang. Aku sudah masakan makanan spesial untukmu." jawab Sanji dengan semangatnya.
Choi Ha Jae merasa risih dengan apa yang Sanji lakukan. Tapi walau begitu, dia tak bisa mengusir atau menyingkirkan Sanji dari hidupnya. Karna walau bagaimana pun, Sanji adalah Tuan Ha Jae yang harus dia patuhi.
__ADS_1
...****************...