
Tap tap tap!
"Ayo masuk," ajak Ha Jae. "So Mie, semua. Perkenalkan ini adalah Manami Mizuki. Dia yang akan jadi fotografer kita,"
"Halo semua, salam kenal. Mohon kerja samanya ya," ucam Mizuki.
"Halo, Nona, selamat datang." sambut So Mie.
"So Mie, antar Mizuki dan Jimmy ke ruangan pemotretan. Kamu dampingi mereka ya," titah Ha Jae. "Kalian masih di sini?!"
Ha Jae mendekat ke arah Haneul yang duduk di meja kerja Ha Jae. Sedangkan Nami dan Yuri terlihat asik melihat kain dan manik-manik di gudang sebelah. Haneul terlihat begitu bosan.
"Kenapa?! Kau bosan?!" tanya Ha Jae.
Haneul hanya menggelengkan kepalanya.
"Ha Jae," panggil Hani mendekati Ha Jae. "Aku minta maaf. Semua salahku,"
"Hemm, kau ini. Sudahlah, lupakan semua. Ini semua bukan salahmu dan bukan salah siapa-siapa. Memangnya apa yang kalian lakukan?!" jawab Ha Jae.
"Tapi kau dan Shin ... "
"Hani, aku tau kau juga tau semuanya. Bukankah begitulah kehidupan. Jadi tidak usah di permasalahkan. Namanya juga kehidupan, ya beginilah," tutur Ja Jae. "Sekarang, mari kita selesaikan semuanya. Jangan kecewakan Mas Afi. Lagi pula, sebagai teman. Aku juga tidak mau mengecewakan Shin. Jadi ayo kita berikan hasil yang hebat, untuk pernikahan Shin dan Julia,"
"Ha jae," gumam Hani jatuh ke pelukan Ha Jae.
"Mama. Aku tidak mau dewasa," celetuk Haneul. "Aku ingin tertawa dan bahagia bersama seperti ini. Aku tidak mau merasakan apa yang Mama rasakan,"
Ha Jae dan Hani yang mendengar itu pun hanya bisa saling tatap-tatapan. Dia begitu terheran-heran dengan sikap polos Haneul. Mereka akhirnya tertawa mendengar kepolosan Haneul itu.
"Ha ha ha ha ha!" pekik Ha Jae dan Hani.
"Kamu ini. Uhh gemesss!" Ha Jae mencubit pipi Haneul dengan gemasnya.
"Auu! Mama sakit," gumam Haneul.
"Mama! Mama sudah kembali?" seru Yuri keluar dari gudang. "Kantor Mama keren. Nanti kalau besar aku juga mau punya Butik sekeren ini,"
"Bukannya kau ingin jadi Hakim," sela Nami keluar dari ruangan.
"Hakim dan pengusaha," sahut Yuri.
"Mana bisa begitu," balas Nami.
"Eh sudah, hentikan. Kalian boleh jadi apa pun. Yang jelas, lakukan dengan baik dan terus berikan yang terbaik," sela Ha Jae.
"Hemm," sahut Nami dan Yuri.
......................
"Hya! Kenapa harus aku yang menjemput bocah-bocah ini, hah?!" sergah Yokada masuk ke dalam ruangan.
"Kau Pamannya," jawab Ha Jae tak perduli.
"Tinggalkan gaun itu, kau bisa selesaikan pekerjaanmu yang lain, mengurus anak-anakmu," tutur Yokada.
"Ini pekerjaan penting. Lagi pula, kita sudah tentukan tanggal liburan. Bukan begitu ledis?!" tanya Ha Jae kepada ketiga putrinya.
"Hemm," Angguk Haneul.
"Paman, setelah Mama menyelesaikan Gaun pernikahan Paman Shin. Mama mau mengajak kita liburan ke Indonesia," seru Yuri.
"Kau?!" gumam Yokada terkejut.
Yokada tak habis pikir. Ternyata Ha Jae sudah tau untuk siapa gaun itu. Dia tertegun memandang Ha Jae yang sibuk memasang manik-manik ke permukaan gaun yang megah itu.
"Moshi-moshi," sapa Mizuki. "Ha - Jae. Ano ne, kita butuh 1 model lelaki lagi yang dewasa,"
__ADS_1
"Di depanmu ada lelaki dewasa," sahut Ha Jae tak perduli.
"Mwo?! Nani?" Mizuki mendekati Yokada yang berdiri membelakanginya.
Yokada pun berpaling ke arah Mizuki yang mendekat. "Apa?!" seru Yokada.
"Ahhh, kau pintar sekali pilih model. Aku suka. Ayo kita ke ruang pemotretan sekarang," titah Mizuki menggandeng tangan Yokada.
"LEPAS!! Siapa kau, hah?! Aku bukan model!" hardik Yokada. "Kya! Ha Jae! Siapa cacing ini?!"
Yokada menepis tangan Mizuki yang ingin mengandengnya ke ruang pemotretan. Mizuki dengan santai mengadapi sikap Yokada yang terlihat risih dengannya itu.
"Aku?! Jodohmu," sahut Mizuki.
Ha Jae yang mendengar keributan kecil itu pun tertegun. Dia memperhatikan Yokada yang sangat terganggu dengan sikap Mizuki yang agresif.
"Ck! Lepas," sergah Yokada kepada Mizuki yang terus berusaha menggandeng tangannya.
"Kita harus dekat. Sesama model dan fotografer, harus menyatukan hati dan jiwa," tutur Mizuki.
"YHA!! AKU BUKAN MODEL. MENGERTI!!" hardik Yokada menghindar dari Mizuki.
Mizuki yang sudah tertarik dengan Yokada pun berusaha terus mendekatinya. Selain dia sangat butuh model untuk busana yang akan dia protret. Mizuki sudah jauh lebih dulu mengenal Yokada dan tertarik padanya.
Siapa yang tak mengenal pengusaha hebat seperti Yokada. Pasti semua wanita ingin mendekatinya. Hanya saja, ketertarikan Yokada dengan lawan jenis. Hampir bisa di bilang tidak ada.
"Aduh, bisa gak, gak ribut, Sayyy!! Pusing pala gue!" sergah Afi keluar dari ruangan sebelah.
"Hah.. Senpai. Kau tinggal menuruti saja Kak Mizuki. Lagian hanya pemotretan baju lelaki saja. Bukan baju balet!" hardik Ha Jae.
"Yha! Aku bukan model. Lagian siapa lagi dia?!" tolak Yokada menunjuk ke arah Afi.
"Disainer no.1 di Indonesia. Jangan ganggu pekerjaan kami," tutur Ha Jae. "Ledis! Bantu Mama bereskan Pamanmu yang satu ini,"
"Oh?!" seru Haneul.
Yuri, Nami, Haneul pun membantu Mizuki menyeret Yokada ke ruang pemotretan. Setelah kepergian mereka. Ha Jae dan yang lainnya pun dapat bekerja dengan tenang.
"Yha, Ha Jae. Apa tidak apa-apa, Senpai kamu perlakukan seperti itu?" bisik Hani mendekat ke arah Ha Jae.
"Tenang saja. Sesekali hidupnya harus sial," jawab Ha Jae.
"Ha ha, kau ini," sahut Hani.
......................
"Mama, Mama!" panggil Haneul berlari ke ruangan.
"Mama, lihat. Paman tampan sekali," seru Yuri.
Haneul menghanpiri Ha Jae yang sedang sibuk bekerja. Dia menunjukan ponsel yang dia bawa. Ha Jae terkejut tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Siapa dia? Tunggu!! Kaya kenal," ucap Ha Jae.
Hani pun mendekat ke arah Ha Jae karna penasaran. "Apa?!" tanya Hani.
"Itu Paman Yokada, Mama. Masak tidak kenal," jelas Haneul.
"Paman tampan sekali. Dia terlihat seperti anak muda. Ya kan, Mama?" puji Yuri.
"Ahh, dia memang tampan. Cuman masalahnya..," Ha Jae tertegun tak melanjutkan ucapannya.
"Dia seperti bukan Senpai yang aku kenal," ucap Hani mengambil ponsel di tangan Ha Jae.
"Yokada hampir tidak tersenyum," celetuk Ha Jae.
__ADS_1
"Kau benar. Aku belum pernah melihat Senpai terseyum semanis ini," timpal Hani.
Ha Jae yang penasaran pergi ke ruang pemotretan. Hani pun menyusul di belakangnya bersama Haneul dan Yuri.
Dengan diam-diam, Ha Jae memperhatikan Yokada yang dengan terpaksa menjadi model busananya.
"Heh! Senyum, senyum. Seperti ini, ayo senyummmmm.." bujuk Mizuki.
"Lepas!! Menjauh dariku! Aku dari tadi sudah terseyum. Bisa kering gigiku tersenyum terus!" hardik Yokada.
"Paman semangat," seru Nami yang duduk di depan monitor.
"Kau ini! Harus terseyum dengan cinta. Cinta..," titah Mizuki.
"Minggir!! Lepaskan tanganku!" hardik Yokada terus menghindar dari Mizuki.
Mizuki terus mengikuti dan membujuk Yokada. Seakan Mizuki sudah tau watak asli Yokada. Dia tak pantang menyerah meluluhkan ego Yokada.
"BAIK! BAIK! AKAN AKU LAKUKAN. KAU MINGGI." sergah Yokada.
"Okay," sahut Mizuki pergi menghampiri cameranya.
"Pantas," gumam Ha Jae.
"Apa tidak apa-apa?!" tanya Hani yang berdiri di sebelah Ha Jae.
"Aku rasa ini awal baik untuk Yokada," tutur Ha Jae.
"Maksudmu?!" tanya Hani.
"Selesaikan pekerjaan kita," ucap Ha Jae beranjak dari tempat itu.
"Paman semangat," seru Haneul dan Yuri yang sudah bergabung bersama Nami di tempat pemotretan.
...****************...
...William Yokada Yoshida mengagetkan dunia dengan posenya sebagai model untuk brand busana anyaran....
...----...
Lelaki yang di kenal dengan pangilan William itu mengejutkan dunia pembisnis, karna fotonya yang tersebar di sebuah akun Instagram bernama @Mizuki078. Williams yang selama ini di kenal kaku, tegas, ambisius di dunia pembisnis. Terlihat berbeda di sebuah foto yang di unggah akun sosial media itu.
Di ketahui, Williams menjadi model bagi busana yang di rancang oleh Adik angkatnya, Choi Ha Jae. Tak heran jika Williams mau mencoret imagenya sebagai lelaki tanpa senyum itu dengan senyumnya yang indah dengan busana remaja yang dia kenakan.
Banyak yang terkejut dan terpesona dengan penampilan Williams di unggahan tersebut. Berbagai pujian pun membanjiri postingan itu bahkan ke akun sosial milik pribadinya.
Pengusaha dari Jepang Yosima pun secara langsung menyampaikan pujiannya di sebuah wawancara TV swasta. Dia menuturkan bahwa sangat senang melihat unggahan itu. "Ha ha ha, aku senang. Melihat senyum lebar sahabatku. Walau aku sangat tau senyum itu terpaksa, Ha ha ha. Aku seperti kembali muda, karna terakhir kali melihat senyum orang itu saat kita masih SMA," tutur Yosima.
...----------------...
"Apa-apaan ini!!" kesal Yokada membanting surat kabar yang dia baca. "Sial, gegara orang itu,"
Yokada terlihat begitu kesal dengan berita yang beredar. Walau itu berita yang positif, Yokada terlihat terganggu dengan itu semua.
"Hai, Bibi. Buatkan aku kopi," titah Yokada pergi ke halaman rumah.
"Baik, Tuan," sahut Yu Hee
"Sial, semua karna Ha Jae. Aku harus buat pelajaran kepada bocah itu," gumam Yokada dalam hati.
"DORRR!!" Seseorang mengejutkan Yokada dari belakang.
__ADS_1
...****************...