
"Iya terimakasih. Terimakasih juga atas pertolonganya. Atas kebaikannya. Aku tak akan pernah lupakan kamu sampai akhir hidupku." ucap Tresno dengan mata berkaca. "Oh ya boleh aku minta sosmed mu?! Aku ingin mengingat semua orang baik yang aku temui di dalam hidupku. Karna mungkin, siapa tau, kita tak akan pernah bisa bertemu kembali di dunia ini."
Tresno nampak terdiam sesaat sebelum butiran bening mengalir di pipinya. Dia berusaha menyeka air mata sesekali.
"Maaf aku lebay. Ha ha ha ha!! tapi kalau gak boleh gak apa-apa sih." serunya mencoba menyembunyikan kesedihannya.
...----------------...
"Pinjem hpnya dong." ucap Ha Jae.
"Oh," seru Tresno bergegas mengambil ponsel dari ranselnya. "Ini. Makasih ya."
Ha Jae hanya tersenyum tipis ke arah Tresno. Dia mencoba mengotak-atik ponsel milik Tresno dengan sangat cepat. Tak lama, terdengar bunyi ponsel yang bergetar dari saku Ha Jae.
Ha Jae langsung mengambil ponsel itu dan menunjukannya kepada Tresno. Tresno tersenyum melihat hal itu.
Kembali, Ha Jae dengan cepat mengotak atik ponsel milik Tesno. Dia menunjukan layar ponsel Tresno ke padanya. Terlihat sebuah akun sosmet yang di tunjukan kepada Tresno.
"Ini akun Instagramku. Yang Ini Facebook. Yang ini Twitterku. Aku juga ada Wa. Nanti di save ya nomorku," titah Ha Jae menunjukannya kepada Tresno. "Aku jarang main sosmed. Tapi tenang kau bisa menghubungiku kapan saja. Akun mu udah aku pakai buat add dan follow aku kok. Kita akan sering bertemu nanti."
Ha Jae memberikan ponsel milik Tresno. Dia begitu sangat sendu. Tapi sayang kesedihannya salah dia tempatkan.
"Terimakasihnya. Iya aku berharap kita akan sering bertemu nanti. Jika aku ada waktu," ucap Tresno mencoba tersenyum kepada Ha Jae.
"Pasti. Jangan ragu berkunjunglah ke Korea. Kita akan bertemu dia sana lagi. Bagaimana pun orang tua kita. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita. Orang tua tetaplah orang tua kita. Tak ada namanya mantan. Hidup yang kita lalui sudah menjadi jalan, tak bisa kita tukar tambah lagi. Jalani hidupmu dengan bahagia. Semua berhak untuk hidup. Aku pun." celetuk Ha Jae.
Tresno ternyalang mendengar apa yang Choi Ha Jae katakan. Ha Jae tau dia pasti terkejut dengan apa yang dia katakan itu. Ha Jae mencoba tersenyum tipis ke arah Tresno agar dia tak berfikir yang aneh tentangnya.
TIN TIN TINNNN!! (suara takson mobil).
Ha Jae melihat ke arah mobil yang terlihat Shita seakan tak sabar menunggu Tresno.
"Udah gih sana. Teman mu bokongnya udah panas tuh." ucap Ha Jae.
"Ah, iya maaf. Makasih untuk segalanya ya. Daa.." ucap Tresno sebelum beranjak pergi ke mobil.
"Hei. Apa pun yang akan kau jalani nanti, bahagialah. Jangan menangis lagi kecuali karna bahagia." seru Ha Jae.
"Emm. Da daa.." seru Tresno masuk ke dalam mobilnya.
Ha Jae menyambut lambaian tangan itu dengan senyum bahagia. Dia tau, itu bukanlah salam perpisahan. Karna nanti mereka pasti akan bertemu kembali.
Berlaham mobil itu berjalan menjauh dari pondok. Lagi-lagi Ha Jae melihat kesekeliling tempat untuk mencari sesuatu. Namun dia tak menemukan hal itu.
Karna merasa dia belum puas dengan apa yang dia pikirkan. Ha Jae bergegas untuk menemui seseorang yang menurutnya bisa menjawab kebingungannya.
Ha Jae berjalan menelusuri rumah warna. Sampai dia di salah satu rumah tembok minimalis yang terlihat begitu asri. Ha Jae melihat seorang lelaki dengan asiknya menyiram tanaman sembari bersenandung sholawat.
"Assalamu'alaikum." ucap Ha Jae.
"Waallaikum Salam." sahut lelaki itu. "Eh, Dek Ha Jae."
"Dek?! Jadi udah jadi adek nih." gurau Ha Jae.
"He he, terus opow? Nona?!." timpal lelaki itu mendekat ke arah Ha Jae.
__ADS_1
"Ehh ada Jae. Masuk sini masuk. Kok duduk di teras." seru seorang wanita yang keluar dari dalam rumah.
"Yang ini Jae, kalau yang di dapur Jahe. Ha ha ha ha." gurau lelaki itu menyairkan suansa.
Ha Jae pun tertawa di buatnya.
"Kayak'e aku ganti nama aja jadi Pajiem." gurau Ha Jae.
"Ha ha ha ,wes to. Jeneng mu urep no. (Namamu hidupin) Punya nama bagus kok gak di pakai." ucap lelaki itu.
"Nama itu sudah mati." celetuk Ha Jae.
"Tak sebut 7× biar hidupin lagi pow?!" timpal lelaki itu.
"Jangan sebut nama itu. Akuh jhijhikkkk Romaaa." gurau Ha Jae mengibaskan kedua tanganya seolah menirukan seseorang.
"HA HA HA HAHAHA..." pekik tawa lelaki itu santer terdengar. "Buk!! Gawek'ke kopi loro Buk!! Sajak'e wes oleng bocah iki. Ha ha ha." (Buk!! Bikinin kopi dua Buk!! Kayaknya sudah oleng anak ini. Ha ha ha.) sergah lelaki itu.
"He he hehe. Pak Den." ucap Ha Jae. "Kata Pak Den minggu lalu, bedomo seng tak iruhno iku Jibril. Tenan ora?!" (Kata Pak Den minggu lalu, Mahluk yang aku lihat itu Jibril. Bener gak?!) tanya Ha Jae dengan serius.
"Seng dhi?! (Yang mana?!) Lupa aku." sahut Pak Den.
"Ck, Pak Den ini. Yang ikutin Mbah-Mbah yang ada di Masjid saat pengajian di Desa sebelah." jelas Ha Jae
.
"Hemm,, Jur?" sahut Pak Den.
"Kalau emang bener apa yang Pak Den maksut. Berarti aku bisa lihat tanda kematian itu ya?! Tapi kok di Tresno enggak ya?!" selidik Ha Jae penasaran.
"Tresno?! Tresno sopow?! Rak hurung yo hurung. Hurung wancine kok kon mati!" (Kalau belum ya belum. Belum saatnya kok di suruh mati!) sergah Pak Den.
Choi Ha Jae menggaruk kepalanya pura-pura mencari sesuatu. Dia terlihat bingung harus menjelaskan dari mana dan bagaimana.
"BUKKK!! Wes ra sah dadan Bukk!! Uteke wes kejang-kejang iki lho!" (BUKK!! Udah gak usah make-up Bukk!! Otaknya udah kejang-kejang ini tu!) sergah Pak Den memanggil Istrinya.
"HA HAHHA HA HAHH.." pekik tawa Ha Jae dengan timpalan gurauan Pak Den.
Gurauan demi gurauan mereka saling lempar satu sama lain. Hingga tak berapa lama datanglah istri Pak Den membawa 2 gelas kopi dari dalam rumah. Pembicaraan mereka pun semakin ramai dan serius.
"Wes wes ngopi sek kene. Iki kopi mu. Ngombe iki opow kui?!" (Udah udah ngopi dulu sini. Ini kopi mu. Minum ini apa itu?!) tanya Pak Den.
"Niki mawon, suwun." (Ini aja, terimakasih.) jawab Ha Jae.
Ha Jae mengambil segelas kopi di hadapannya, lalu menyuput kopu itu.
"Uh, panas." celetuk Ha Jae mengipasi lidahnya dengan tangannya.
"Yo panas, wong kemedul kok di sruput." (Ya panas, orang berasap kok di seruput.) celetuk Pak Den.
Lagi lagi pekikan tawa dari mereka tak bisa di hindarkan. Hubungan Ha Jae dengan Pak Den memang sudah terbilang sangat dekat. Bukan hanya sebagai Guru atau murid lagi. Tapi sudah sebagai sodara sendiri.
Terlebih lagi, sekarang Ha Jae sudah jauh di atas Pak Den. Sudah tak patut di bilang Junior lagi untuk seorang guru seperti Pak Den.
"Gini lho Pak Den. Ayushita, gadis yang rambutnya pirang yang aku ajak menginap kemaren. Dia bercerita bahwa temannya Tresno, gadis yang cantik rambutnya lurus hitam." jelas Ha Jae mulai bercerita.
__ADS_1
"Iyo aku ngerti, wong wes kenalan kok." (Iya aku tau, orang udah kenalan kok.) celetuk Pak Den dengan muka meledek.
"Ngko ra ngerti! Tuwas seng ku themimil." (Nanti gak tau! Terlanjur yang ku cerewet bercerita.) sergah Ha Jae menimpalinya.
"Jadi Shita cerita bahwa Tresno sakit parah dan hidupnya tinggal 3 Bulan lagi. Itu artinya, sudah masuk ke 100 Hari dia dong, Pak Den?! Tapi kenapa aku gak lihat bedomo (makhluk/Jibril) itu di sekitarnya. Aku malah melihat aura cerah dalam hidup anak itu." tutur Ha Jae.
Pak Den terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dia mungkin juga bingung dengan apa yang Ha Jae tanyakan. Ha Jae ikut termenung menunggu jawaban dari Pak Den.
"Yakin?!" celetuk Pak Den.
"He emm." sahut Ha Jae menyruput kopinya.
"Wes ra panas?" (Udah gak panas?) tanya Pak Den.
Ha Jae memandang datar kesal ke arah Pak Den. Dia tau bahwa Pak Den ingin melempar sebuah banyolan lagi kepada dirinya. Namun bagi Ha Jae, sepertinya itu bukan waktunya untuk bergurau.
"Tak melu nyuput rak ngunu." (Tak ikut nyuput kalau gitu.) tutur Pak Den.
Pak Den lalu meraih gelas miliknya. Dengan nikmat, dia menyurput kopi hitam yang terlihat segar itu.
"Ngene lho." (Gini lho.) ucap Pak Den memikirkan sesuatu. "Kita cuman Hamba. Kita di beri kelebihan seperti ini saja sudah sangat bersyukur. Jadi apa ya ... "
Pak Den tak melanjutkan ucapanya. Dia terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya kepada Ha Jae.
"Aku karo kowe ki duwuran kowe. Lha aku we ra ngerti, rung tau iroh bedomo koyo opow seng mbok masut iku. Kepie aku iso ngerti titek masalah kui." (Aku sama kamu tu tinggian kamu. Lha aku aja gak tau, belum pernah lihat makhluk/Jibril seperti apa yang kamu maksud itu. Bagaimana aku bisa mengerti titik masalah itu.) jelas Pak Den.
Pak Den memandang serius Ha Jae yang duduk terdiam di hadapannya. Ha Jae termamgu memikirkan apa yang Pak Den maksud.
"Jujor. Ora nglembah. Neng aku nyat ora iso iroh seng luweh lembut seko lelembut iku. Rak seng koyo neng wit kae aku iroh." (Jujur. Gak merendah. Tapi aku memang gak bisa lihat yang lebih lembut dari lelembut itu. Kalau yang seperti di pohon itu aku lihat.) jelas Pak Den menujuk ke salah satu pohon yang berada di salah satu rumah warga. "Gituu lhoo."
Pak Den meraih gelas di hadapannya, lalu menyurput kembali kopi miliknya.
"Dah gini aja. Kita ini hanya manusia. Jangan sampai keluar batas ke manusiaan kita. Kita di berikan kelebihan, kita harus bersyukur. Selebihnya, biar Allah yang mengurus." sambung Pak Den. "Boleh menolong, tapi jangan menghalang. Semoga saja seperti pandanganmu. Bahwa hidup cerah menanti anak itu."
Ha Jae diam dengan serius mendengarkan apa yang Pak Den katakan. Dia seakan mengerti dengan apa yang harus dia lakukan. Bahwa yang sudah menjadi rahasia takdir, biarlah tetap menjadi sebuah rahasia. Sekali pun kita mengetahuinya.
......................
"Gak nyangka ya, Ta. Perjalanan kita udah 14 Hari aja. Perasaan baru juga kemaren. Rasanya hari berjalan begitu sangat cepat." tutur Tresno.
"Udah stop bahas hari, Tre! Yang perlu kita lakukan adalah menikmati hari dan hidup bahagia. Jangan pikirkan waktu yang berjalan. Kalau kamu masih bahas soal hari. Aku bakalan balik ke Desa dan gak mau kerja bahkan kenal kamu lagi, Tre. Camkan itu!!" sergah Shita tak ingin di ingatkan dengan sisa waktu yang mereka miliki.
Shita hanya tak rela kehilangan satu-satunya sahabatnya itu. Lagi pula, Shita juga tidak mau Tresno di landa kesedihan karna sisah waktunya di dunia ini terus berkurang.
Dia ingin, Tresno bisa hidup bahagia di sisa waktunya, tanpa bersedih sedikit pun dengan alasan apa pun yang dia miliki.
......................
...Ini adalah pertemuan pertama Choi Ha Jae dengan Ayunda Tresno Ningrum. Yang ntah, bisa atau tidak nanti mereka bertemu kembali. Mungkinkah hidup Tresno akan secerah yang Choi Ha Jae lihat. Atau mungkin sebaliknya. Karna sehebat apapun manusia, tetap Tuhan lah yang mengendalikan semuanya....
...NOTICE...
...----------------...
...Baca kisah hidup Tresno hanya di "100 DAYS". Baca juga cerita-cerita lainnya yang Author buat. Di sana akan menjawab dan memuaskan hasrat membaca kalian. Karna akan ada hal-hal menarik yang Author suguhkan. Seperti pertemuan Ha Jae dengan Tresno ini....
__ADS_1
...****************...