
"Aku, Yoshida." sela Sekertaris Yang masuk ke dalam kamar Yokada.
"Kau?!" seru Yokada.
"Kau pergi dari sini." titah Yokada kepada Yu Hee.
Sekertaris Yang pun tanpa di perintah duduk di depan Yokada dengan santainya. Mereka terlihat beradu tatapan satu sama lain. Tak ada sepatah kata pun yang mereka ucapkan selama beberapa waktu.
...----------------...
"Lama tidak bertemu, adikku." ucap Sekertaris Yang.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Yokada.
"Aku tak ingin banyak darimu. Aku hanya menginginkan sesuatu tentang Shin Ji Joon." tutur Sekertaris Yang.
Sebenarnya, dari kenyataan yang berjalan. Sekertaris yang adalah Paman dari Shin Ji Joon. Begitu juga dengan Yokada.
Kang Yangsima adalah adik dari Hyun Joon Shida yang tak lain adalah ayah Shin Ji Joon.
Sedangkan Willian Yokada Yoshida adalah adik dari Hyun Joon Shida dan Kang Yangasima.
Mereka adalah 3 bersaudara. Hyun Joon Shida dan Kang Yangsima, mereka menyukai perempuan yang sama. Yaitu adalah A-Yeong Asmara. Yang tak lain adalah ibu dari Shin Ji Joon. Sayang, A-Yeong lebih memilih menikah dengan Hyun Joon.
Setelah Ibu Shin Ji Joon meninggal. Kang Yangsima memohon kepada Hyun Joon untuk menjaga Shin Ji Joon, sebagai ganti rasa cintanya kepada wanita yang dia cintai itu.
Hyun Joon Shida yang juga terpuruk dengan kematian istrinya. Tak perduli dengan semuanya. Terutama dengan Shin Ji Joon. Selama itu, Kang Yangsima lah dengan sepenuh hati menjadi sekertaris pirbadinya dan terus menjaga Shin Ji Joon hingga sekarang.
Tragedi bunuh diri yang di lakukan A-Yeong Asmara. Menimbulkan trauma yang mendalam bagi Shin Ji Joon. Maka dari itu juga, rumah itu di jual dan Shin Ji Joon di ajak pindah dari rumah itu.
Yokada yang tak lain, juga paman dari Shin Ji Joon. Juga ikut ambil adil dalam menjaga Shin Ji Joon. Dia sengaja membeli rumah itu agar kelak Shin Ji Joon dapat membelinya kembali.
Walau saat itu Yokada tinggal di Jepang. Rumah itu di biarkan kosong tak berpenghuni. Hingga tiba saat Yokada ke Korea dan membuka udaha di sana. Sampai dia bersama Choi Ha Jae menempati rumah itu.
......................
Yokada tak bisa menceritakan banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia tidak ingin Kang Yangsima tau lebih jauh tentang siapa sebenarnya Choi Ha Jae.
__ADS_1
Setelah pembicaraan malam itu. Yokada jadi tau, apa alasan sebenanya kenapa Shin Ji Joon memutuskan bertunangan kepada Julia.
"Seringlah dapatng kemari. Kita sudah seperti orang lain selama ini." ucap Yokada.
"Lebih baik begitu. Jalan kita sudah berbeda-beda." jawab Kang Yang.
"Jangan terlalu dalam terjun ke dunia Ayah. Kau masih mengingat apa yang dia lakukan padamu. Hiduplah Yokada. Nikmati hidupmu." tutur Kang Yang.
"Aku sudah menikmati hidupku. Hanya saja, aku tak sepertimu yang menikmati hidup dengan bodohnya." tepis Yokada.
"Kau benar. Aku memang bodoh. Seperti yang aku bilang. Jalan hidup kita sudah berbeda-beda." timpal Kang Yang.
"Walau jalan kita berbeda. Aliran darah kita akan tetap sama." tutur Yokada.
"Hemm. Sampai jumpa lagi." pamit Kang Yang.
"Titip Shin Ji Joon. Aku tau kau akan menjaganya seperti Hyun Joon menjaganya." tukas Yokada.
"Itu yang selama ini aku lakukan." timpal Kang Yang.
Kang Yang melihat luas ke rumah di depannya itu. Sebelum dia masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan rumah itu.
......................
Pagi itu, keluarga Pak Den dan beberapa santri, termaksud juga dengan Choi Ha Jae. Menaiki sebuah bus yang sudah di sewa, untuk berwiraswasta bersama ke kota Banyuwangi. Ha Jae yang tidak bisa menolak, pun berusaha menikmati suasanya pariwisata itu.
...
Festival Gandrung Sewu...
...
Ritual Kebo-Keboan...
__ADS_1
...
Tarian Seblang...
Di perjalan pulang, Pak Den terlihat bingung mencari keberadaan Ha Jae. Dia bangkit dari duduknya dan mengecek satu per satu kursi penumpang. Pak Den terheran melihat Ha Jae yang duduk termenung di kursi belakang samping wc darurat.
"Uwong ki rak kebak demet. Di kei kursi ngarep dewe cedak santri ganteng, malah mileh lunggoh no buri cedhak WC." (Orang kalau penuh setan. Di kasih kursi paling depan dekat santri ganteng, malah memilih duduk di belakang dekat WC.) tegur Pak Den.
Ha Jae tak bergeming mendapat teguran itu.
"Opow? Kenopo? Iseh galau ae kui lho." (Apa? Kenapa? Masih galau aja itu lho.) tanya Pak Den.
"Ngapunten, Pak Den." (Maaf, Pak Den.) Choi Ha Jae.
"Aku cuman merasa seperti tidak hidup. Hatiku hampa, kosong. Sama seperti yang aku rasakan dulu." tutur Ha Jae.
"Yang dulu biarlah yang dulu. Yang terpenting sekarang itu adalah bagaimana nanti." sahut Pak Den. "Lha kepie iso kosong tow?! Wong awak mu wes kebak ngunu kok. Iseh kurang?! Woo rakus no." (Lha bagaimana bisa kosong tow?! Orang badanmu udah penuh gitu kok. Masih kutang?! Woo rakus ternyata).
"Ngapunten Pak Den." ucap Ha Jae.
"Wes sak iki ngene. Awak mu ki ra ghor jiwa mu isine. Opow seng mbok rasak'ke sak iki. Mung efek seng mbok songgo kui." (Udah sekarang gini. Badanmu itu bukan cuman jiwamu aja isinya. Apa yang kamu rasakan sekarang. Itu hanya efek apa yang ada dalam badanmu itu.) tutur Pak Den. "Mangkane. Kowe kudu sadar teros. Eleng marang Gusti Allah. Kudu jogo keseimbangan urepmu. Sholat, ngaji, zikir!! Gen kowe iso kontrol opow seng ono jero awakmu kui." (Mangkanya. Kamu harus sadar terus. Ingat dengan Maha Besar Allah. Harus jaga keseimbangan hidup. Sholat, Ngaji, Zikir!! Biar kamu bisa kontrol apa yang ada di dalam badanmu itu).
Pak Den bergeming sesaat di samping Ha Jae. Ha Jae pun tak mengucapkan sepatah kata pun.
"Iki aku jujur. Aku yo geleng-geleng karo awakmu. Sak okeh'e wong seng tak temoni. Lagi kowe seng kuat dadi panggon gho gedene bedomo koyo ngunu." (Ini aku jujur. Aku juga heran sama dirimu. Sebanyak-banyaknya orang yang aku temui. Baru kamu yang kuat jadi tempat buat besarnya hal seperti itu.) jelas Pak Den. "Mangkane sak iki. Opow wae seng to rasak'ke neng awak mu. Kudu ngati-ati, sadar diri terus, eleng marang Gusti Allah. Gen sekitar mu, konco-konco mu, sedulur mu, ora keneng akibat seng mbuh opow seng iso to lakok'ke, mergo iku gede resikone. Jangankan wong lio, awak mu dewe iso dadi korbane." (Mangkanya sekarang. Apa aja yangbkamu rasakan di badanmu. Harus hati-hati, sadar diri terus, ingat sama Yang Maha Besar Allah. Agar sekitarmu, teman-temanmu, sodaramu, biar gak kena akibat yang ntah apa yang bisa kamu lakukan, karna itu semua besar resikonya. Jangankan orang lain, kamu sendiri aja bisa jadi korbannya).
"Jeh Pak Den, martun sembah suwun." (Iya Pak Den, terimakasih banyak atas semuanya.) sahut Ha Jae.
"Wes, ngko bar iki. Nyang ngomahku sikek, yo." (Udah, nanti habis ini. Kerumahku dulu, ya.) titah Pak Den.
"Jeh, Pak Den." sahutnya.
"Aku tak lungguh neng ngarep. Di gholeki Mama (istri) ngko. Udah pindah depan sana. Bauk pesing ini lho, gak jijik apa? Aku ajah jhijhikk hiii." (Aku mau duduk di depan. Nanti di cariin Mama. Udah pindah depan sana. Bauk pesing ini lho, gak jijik apa? Aku ajah jhijhikk hiii.) gurau Pak Den.
"Hemm jeh, Pak Den." sahut Ha Jae.
__ADS_1
Pak Den bangkit dari duduknya dan kembali ke kursinya. Sedangkan Choi Ha Jae, tetap duduk di kursi itu sendirian.
...****************...