Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Memori Lalu


__ADS_3

Aku bangkit dari dudukku, mendekat ke arah Yokada dan duduk di sampingnya. Aku membisikkan sesuatu ke telinga Yokada. Dia hanya diam menatap mataku dengan tajam.


...----------------...


Aku tersenyum menyeringai menatapnya. Aku bangkit, meraih secangkir kopi di hadapanku dan menyeruputnya.


"Ffuuuuuggkk" Aku spontan menyemburkan kopi itu.


"APA INI?! PAIT!!" sergahku mengusap lidahku ke baju yang aku kenakan.


"Yang namanya kopi ya pait," ucap Yokada bangkit dari duduknya.


Dia meraih ponsel dan kunci mobil yang berada di meja di hadapannya. Dia bergegas beranjak dari tempat itu.


"Jangan lupa cuci cangkirnya. Aku sudah membokingkan tiketmu untuk besok lusa. Sekertaris Min yang mengurus semuanya. Jangan lupa bersiap. Satu lagi," Yokada tertegun berbalik melihat ke arahku. "Jangan lupa oleh-olehnya."


Yokada pergi meninggalkan ku sendiri.


Aku bangkit dari sofa untuk bergegas memberiskan badanku.


......................


"Aku juga kaget saat Pak Manager bertanya soal Coco kepadaku," ucap Kyun.


"Jadi ternyata Shin Ji Joon Manager Cafe tempat mu bekerja?" tanya Jennie penuh penasaran.


"Heemm," gumam Kyun. "Ternyata Pak Manager juga rekan kerja Coco. Pantas saja waktu itu aku lihat Pak Manager ke Cafe bersama Pak Yokada. Hanya saja waktu itu belum menjadi Manager di Cafe. Dan waktu Coco kembali ke Daejeon, aku juga kaget pas melihat Pak Manager 1 meja dengan Coco."


Jennie dan Kyun mulai curiga dengan sikap Ha Jae dan Shin. Mereka sangat yakin pasti ada seauatu di antara Ha Jae dan Shin.


"Heeh itu minumanku," imbuhnya memukul tangan Jennie.


"Aku penasaran hubungan Shin Ji Joon dan Ha Jae itu bagaimana," ucap Jennie.


"Bagaimana apanya? Jelas-jelas rekan kerja," ucap Kyun.


"Hee kau tidak tau! Tatapan Shin kepada Ha Jae itu berbeda tauk. Oh ya kau ingat waktu tadi siang di restoran. Waktu Julia datang, Ha Jae langsung pergi dengan muka aneh gitu," jelas Jennie.


"Hee muka Coco memang gitu. Mau aneh gimana lagi?" seru Kyun memukul poni Jennie.


"Ihh kau ini!! Cowok mana tau!" sergah Jennie.

__ADS_1


"Ah sudah aku mau pulang. Nih habiskan Popcronnya," ucap Kyun bangkit dari duduknya.


"Ah Sayang, flimnya belum habis," ucap Jennie coba menahan Kyun.


"Besok aku harus kerja. Lagian kunci rumah aku yang pegang. Nanti Man gimana?" seru Kyun keluar dari rumah. "Bay sayang, sampai jumpa nanti."


"Bayy, hati-hati ya Sayang. Muachhh!!" seru Jennie melambaikan tangan.


......................


Kringg!! Kringg!! (suara Alarm).


Aku tersentak bangun dari tidurku. Mimpi yang sudah lama hilang dari hidupku. Kembali muncul dalam tidurku. Jantungku berdebar kencang, tubuhku begitu gemetar. Teriakan itu sangat nyaring terniang di telingaku.


Aku bangun bergegas mengambil air putih untuk menenangkan diriku. Aku tercenung dalam lamunku. menatap jauh langit yang gelap berhiaskan lampu.


Aku harus kesana sebelum aku pergi nanti. Batinku.


Aku menaruh segelas air di meja bar. Aku bergegas membersihkan badanku pagi itu.


"Selamat pagi Nona. Mau sarapan apa?" sapa Bibi Yu Hee.


"Aku mau sarapan di luar. Tuan Yokada sudah bangun?" tanyaku mengambil sebuah apel dan susu kotak dari kulkas.


"Ya sudah. Buatkan Sandwich untuk Tuan Yokada. Aku mau pergi duluan. Oh ya, di atas ada Stroberry yang sudah masak. Bibi petik saja semua, dan bawa pulang untuk Ae-Ri nanti ya," titahku bergegas pergi keluar rumah.


"Ah Nona, Terimakasih banyak, Nona." ucap Bibi Yu Hee.


Aku bergegas mengambil kunci motor. Pergi ke garasi dan menunggangi motor sport warna hitam yang lama tidak aku gunakan. Aku melajukan motor sport hitam itu dengan cepat. Lumayan lama perjalanan yang aku tempuh. Aku berhenti di sebuah rumah mewah yang berasa di Seoul. Rumah mewah yang penuh dengan memori.


Aku tau aku tak bisa masuk ke dalam rumah itu. Karna memang rumah itu sudah menjadi milik orang lain. Tapi memori di otakku, tak pernah ada orang lain yang bisa menghapusnya.


Aku kembali bergegas melajukan motorku. Menyelusuri jalan hitam perkotaan. Hingga aku berhenti di salah satu asrama.


...(pesan untuk Haneul)...


...----------------...


"Manis. Udah sarapan? Mama di luar"


...----------------...

__ADS_1


Aku menunggu cukup lama sampai suara yang sangat familiar di telingaku memanggilku.


"MAMA!!" Terlihat gadis manis yang masih menggunakan baju tidurnya, berlari kencang menyelurusi jalan Asrama dengan beberapa anak tangga itu.


"MAMA!! MAMA!!" Tubuh tinggi putih bersih itu dengan cepat meraih tubuhku.


"Mama, kemana aja? Aku kangen!" ucapnya memeluk erat tubuhku.


Aku mencoba melepaskan pelukannya. Aku menyeka butiran bening yang keluar dari matanya. Senyumnya yang manis terpancar sangat cerah seperti sang mentari. Rambutnya yang lurus tak pernah berubah menghiasi wajahnya yang indah.


"Kau tambah tinggi ternyata. Coba lihat berapa tinggimu sekarang?" Aku mencoba berdiri tegak di hadapannya.


"Haahh, ternyata kita sudah sama tingginya. Sudah gadis ternyata," Aku mencubit pipi cabi itu dengan penuh perasaan.


"He hemm," Senyum itu tak pernah berubah dia pancarkan.


"Mama,"


"Hemm," sahutku.


"Laper," ucapnya penuh manja.


"Heemm. Mama mau makan di kantin asrama," ucapku.


"Mama, maluu," ucapnya penuh manja.


"Kau malu punya Mama sepertiku?!" tanyaku.


Dia hanya menggelengkan kepalanya dengan senyuman malu di bibirnya.


"Panggil teman-temanmu. Kita makan bersama, biar Mama yang menraktinya," titahku berjalan merangkulnya.


"Mama,"


"Hemm,"


"Kantinkan gratis," jelasnya.


"Haha ha ha," pekik ketawaku.


Kami berjalan menuju kantin asrama. Rasa rindu kami luapkan bersama. Lama kami tak berjumpa. Rasanya baru kemaren aku memeluk tubuh kecil itu dalam gendonganku. Sekarang tubuh itu, sudah tumbuh menjadi seorang gadis yang sangat cantik.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2