Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Kucing Jalanan


__ADS_3

Kerudung dari sorban putih yang lembut, membalut kepala Ha Jae dengan indahnya. Dengan kemeja berpadan dengan rompi jeans biru, rok hitam yang lebar. Membuat tubuh indah semampai Ha Jae terlihat anggun bak putri bangsawan. Tak heran jika Yokada memilihnya duduk di sampingnya.


"Nami sayangg... kau sudah siap? Sebelum ke Korea kita ke Jepang dulu ya, sayang. Ada perkerjaan yang harus kau selesaikan." seru Sanji mendekat ke arah Ha Jae.


"Tidak! Aku ingin pulang ke Korea." tolak Ha Jae.


"Jepang," tegas Sanji.


"Ko-re-a!" tegas Ha Jae.


"Baiklah. Setelah ke Korea kita ke Jepang. Bagaimana?" rayu Sanji.


"Bukankah ada Kyabusa. Buat apa aku harus kesana?" tanya Ha Jae.


"Kau tidak tau?! Oh iya, jelas kau tidak tau. Mani Mani Mani. Justru aku menyuruhmu kesana untuk Kyabusa." tutur Sanji.


Sanji duduk di hadapan Ha Jae dengan tatapan yang memelas. Ha Jae yang melihat itu pun menjadi curiga, dengan apa yang terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya Ha Jae.


"Dia di tangkap. Aku menyuruhnya menjemput Aiko, tapi malah mereka berdua di tangkap. Sial!" jelas Sanji.


Sanji bangkit dan mendekat ke hadapan Ha Jae. Dia menatap wajah kecil Ha Jae dengan seriusnya.


"Bawa pulang mereka," titah Sanji. "Ayo kita berangkat. Aku sudah menyiapkan pesawat untuk kita tumpangi."


Ha Jae tertegun sesaat sebelum dia meraih tas ranselnya dan mengikuti Sanji yang sudah berjalan keluar duluan.


Ha Jae tersenyum kecil saat melihat Pak Den dan para santri yang sudah menunggu di halaman luas pondok.


"Choi Ha Jae. Aku ngerti kowe wong apik. Sak olo-olo'ne lading, bakalan iso dadi becik rak di gho tumindak seng becik. Kabeh ghor kari seng gowo," (Choi Ha Jae. Aku tau kamu orang baik. Seburuk-buruknya pisau, bakalan bisa menjadi baik jika di gunakan untuk kebaikan. Semua tergantung yang gunakan,) tutur Pak Den.


"Ya," Ha Jae menganggukan kepalanya dengan senyuman manis di bibirnya. "Tumben bisa sebut namaku dengan benar,"


"Lha iki! Ngene-ngeneki aku ki sarjana lulusan pertanian. Ngece kowe. Jangankan jenengenmu, Khuci-khuci Hotahai we aku apal lagune," (Nah ini! Gini-gini tu aku lulusan sarjana pertanian. Cela kamu. Jangankan namamu, Khuci-khuci Hotahai aja aku hafal lagunya,) sanggah Pak Den.


"Ha ha ha," pekik Ha Jae. "Terimakasih Pak Den, atas semua ilmu dan tutunannya. Aku akan gunakan sebaik mungkin."


Ha Jae tetiba bersuhud di hadapan Pak Den. Dia memberikan hormat kepada gurunya itu.


"He he kowe ki ngopow?! Seng pantes to sujud ti kui, Gusti Allah seng gene adil, kuoso, suci. Udhu aku." (He he kamu tu ngapain?! Yang pantas kamu sujudti itu, Allah Maha Besar, yang Maha Adil, Kuasa, Suci. Bukan aku.) hardik Pak Den.


Ha Jae hanya tertegun berlutut di hadapan Pak Den. Dia tersenyum tipis dengan tatapan yang kosong.


"Pesenku mong siji. Eleng terus marang Gusti Allah. Ngerti!" (pesanku cuman satu. Ingat terus sama Allah SWT. Mengerti!) tegas Pak Den.


"Jeh guru," sahut Ha Jae.


"Halah lebay. Wes ngadek, kesuwen. Koyo drama kolosal wae lho," (halah lebay. Udah berdiri, kelamaan. Kaya drama kolosal aja lho,) gurau Pak Den.


Ha Jae pun berpamitan dengan ramah kepada semua orang yang ada di sana. Ha Jae kembali dengan jiwa yang penuh terisi bara kehidupan.


......................


"Haneul! Haneul!!" seru Kyun.

__ADS_1


"Paman!" seru Haneul berlari mendekat.


"Kau ini! Emangnya aku sudah seperti Om Om?! Panggil aku kakak." hardik Kyun.


"Maaf. Kakak." sahut Haneul.


"Ahhh! Kau ini. Sudah besar ternyata," Kyun megusap dengan gemas rambut Haneul yang hitam mengkilap itu.


"Ahhhh! Kakak," seru Haneul menepis.


"Sudahlah. Siapkan barang-barang mu. Kita tahun baruan di Daejeon." titah Kyun.


"Hemm?!" sahut Haneul bingung.


"Aku sudah bilang dengan Papamu. Dia sudah ijinkan. Sudah sana siapkan barang mu," titah Kyun.


Haneul mengangguk dengan senyuman manis sebelum dia berlari ke dalam asrama. Kyun dengan sabar menunggu di gerbang asrama.


"Girls kita liburan bersama!" pekik Haneul di depan Nami dan Yuri.


"Hah?" gumam Nami.


"Mama sudah pulang?!" seru Yuri.


"Emmm," gumam Haneul menggelangkan kepala. "Kak Kyun datang menjemput kita. Katanya kita akan tahun baruan bersama mereka. Katanya sudah ijin Papa,"


"Kau yakin?! Kau kenal dia? Kalau dia orang jahat bagaimana?" tanya Nami.


"Kau ini! Dia itu sahabat Mama. Mana mungkin jahat. Kalau dia jahat, Mama pasti akan memenggalnya." tutur Haneul.


"Memenggal?! Mengerikan. Mana mungkin Mama akan melakuka itu," sahut Yuri.


"Kakak Kyun. Apa dia masih muda?!" tanya Yuri penasaran.


"Hemm, dia tampan." sahut Haneul.


"Wah! Aku mau kenalan," seru Yuri.


"Tapi dia sudah punya pacar," jelas Haneul.


"Ahhh! Sayang," seru Yuri.


Haneul dan Yuri asik berbincang bersama sembari membereskan barang mereka. Sedangkan Nami, dia masih memikirkan ucapan Haneul dengan Ha Jae yang pernah menebas. Nami semakin penasaran dengan Ha Jae. Dia ingin sekali mengetahui siapa sebenarnya Mama angkatnya itu.


......................


"Ah iya. Baiklah, akan saya urus. Baik. Ya." Yokada menutup telponnya. "Ahh sial. Kenapa pekerjaanku banyak sekali. Biasanya Ha Jae yang membereskannya."


Yokada tertegun. Dia meraih kembali ponselnya dan membuka pesan yang masuk ke ponselnya.


"Ha Jae, Ha Jae, Ha Jae. Kenapa bocah itu tidak menghunungiku sama sekali." gumam Yokada.


"Paman!!" pekik Haneul masuk ke dalam rumah Yokada.


"Ha! Haneul. Kenapa kau di sini?!" tanya Yokada terkejut.

__ADS_1


"Kak Kyun yang menjeputku," jawab Haneul.


Yokada mendekat ke arah Haneul. Dia mengusap kepala Haneul dengan lembut. Haneul memberikan senyuman manisnya.


"Senpai!!" sergah Kyun yang baru datang bersama Nami dan Yuri.


"Hai kau! Sedang apa kau di sini?!" tegur Yokada. "Siapa mereka?!"


"Hah?! Senpai tidak tau?!" tanya Kyun terkejut. "Mereka anak Coco."


Kyun masuk dan duduk di sofa dengan kesalnya. "Ahhh! Aku heran, kenapa Coco banyak sekali anaknya. Padahal dia belum menikah," keluh Kyun.


Yokada tertegun memandang kedua gadis di hadapannya itu. Yuri yang sembunyi di belakang Nami terlihat sangat canggung dan takut.


"Coba lihat mereka. Mereka manis dan cantik sekali. Aku juga mau jadi ayahnya mereka." celetuk Kyun.


"Hai! Jaga mulut mu. Mereka ini sudah jadi ponakanku. Sudah jangan dengarkan dia. Kalian masuk. Ayo," tegas Yokada.


Yokada menghampiri Nami dan Yuri. Dia mengusap kepala Nami dan Yuri dengan gemasnya.


"Ahh, kalian ini manis-manis sekali," tutur Yokada. "Haneul, ambilkan jus di kulkas. Ada kue dan makanan kalian makan saja ya,"


Yokada duduk di depan Kyun. Dia memegang kepalanya karna pusingnya.


"Bocah itu, kenapa makin hari makin banyak saja kucing jalan yang dia pungut," gumam Yokada dalam hati.


"Senpai, kenapa?" tanya Kyun dengan lirih.


"Kau kenapa masih di sini?! Cepat pulang sana," titah Yokada.


"Ha ha ha. Aku akan di sini sampai Coco pulang. Minimal sampai Senpai benar-benar menerima mereka," tutur Kyun.


Yokada memandang Kyun dengan serius. "Apa maksudmu?! Kau tidak percaya padaku. Mereka ponakanku! Hais!" ucap Yokada dengan kesal.


"Aku tau," Kyun berpaling memandang ketiga gadis yang duduk di bar jauh di hadapannya itu. "Tapi aku masih ingat saat Haneul kecil kau biarkan meringkuk ketakutan di kamar sendirian. Itu kejam,"


Haneul tertawa kecil mendengar ucapan Kyun. Sesekali dia memandang Yokada yang tak bergaming.


"Ahhh sial!! Baiklah, kau urus mereka bertiga! Aku pusing dengan semuanya. Pekerjaan, Shin Ji Joon, Ha Jae, sekarang bocah-bocah ini. Kepalaku bisa meledak nanti," gumam Yokada pergi meninggalkan mereka. "Hai, Haneul,"


"Hemm," Haneul menoleh ke arah Yokada yang berdiri di belakangnya.


"Kau dan ke dua sodaramu. Kalian bisa tidur di kamar Ha Jae. Jika tidak muat, kau bisa gunakan kamar tamu bawah, okay." titah Yokada.


"Hemm, iya, Paman." sahut Haneul.


"Aku dimana!" seru Kyun.


Yokada melihat Kyun dengan kesal. "Di luar ada kandang anjing tidak terpakai. Kau tidur di sana," sergah Yokada dengan kesal.


"Ahh sial," gumam Kyun.


"Kalian jangan ganggu aku okay. Jika lapar kau bisa minta beby sister mu itu." ucap Yokada kepada Haneul. Dia menunjuk ke arah Kyun.


"Baiklah! Serahkan padaku! Oh, jalangan lupa bayarannya, Tuan!" sergah Kyun.

__ADS_1


Yokada turun ke lantai bawah. Dia terlihat sangat pengat dengan kenyataan yang terjadi.


...****************...


__ADS_2