
Saat pulang dari kamping, Haneul memberikan sebuah permintaan kepada Ayahnya. Dia siap menerima Tifa dan keluarganya, asalkan Jun So juga mau menerima Yuri dan Nami. Jun So pun akhinya menikah dengan Tifa. Hidup bahagia dengan keluarga besar yang Ha Jae bangun. Sedangkan Ha Jae, kembali ke jalan Sanji yang terus haus akan tahta. Yokada tak bisa berbuat apa-apa atas itu semua. Selain Ha Jae juga milik Sanji, itu juga karna keputusan Ha Jae sendiri, sama saat dia ingin bersama Yokada.
Kesehatan Yokada sering tumbang karna memikirkan Ha Jae. Ha Jae sudah lebih dari adiknya sendiri bagi Yokada. Yokada merasa bersalah dan menyesal, harusnya dia ada di sisih Ha Jae saat dia jatuh.
"Semua ini salahku. Semua salahku," gumam Yokada.
"Kau tak bisa salahkan dirimu. Ini semua sidah takdir, hemm." tutur Mizuki mengganti kain kompres di kening Yokada.
Sejak kepergian Ha Jae. Mizukilah yang selalu ada untuk Yokada. Bahkan saat Yokada sakit, Mizuki yang selalu merawatnya. Di situlah hubungan mereka semakin membaik.
"Tuan!!" pekik seorang penjaga berlari ke kamar Yokada tanpa permisi.
"Kenapa?! Harusnya kau ketuk pintu dulu. Kau tidak tau Tuanmu sedang sakit!" hardik Mizuki.
"Maaf, Noma. Ini kabar buruk. Soal Haneul." Pelayan itu terengga-engga. "Shin Ji Joon menculiknya."
Yokada ternyalang dan bangkit dari tidurnya. Walau kondisinya masih lemas. Yokada memaksa untuk pergi ke sesuatu tempat.
Shin Ji Joon yang hilang seperti di telan bumi. Kembali membawa kabar yang sangat mengejutkan. Ntan apa yang dia inginkan, namun tindakannya itu bisa sangat berbahaya bagi semuanya.
"SHINNN!!!!!" pekik Yokada masuk ke sebuah pabrik besi baja yang lama tak beroprasi. "Apa ya kau lakukan, Hah?!!! LEPASKAN HANEUL SEKARANG!!!" hardik Yokada mendekat ke arah Shin Ji Joon yang duduk di depan Haneul yang terikat di sebuah kursi.
Shin menatap Yokada tanpa rasa bersalah. Dia menatap Haneul dengan datar. "Maaf," Shin menatap Yokada. Dia bangkit dari duduknya. "Aku tak tau jika ...,"
"Aku tak perduli apa pun alasanmu. Lepaskan dia sekarang sebelum terlambat," Yokada menghampiri Haneul dan melepaskan ikatannya. Yokada di halang dua penjaga namun Shin memberi kode agar penjaga itu tak menghalangi Yokada. "Kau tidak apa-apa. Dengar, jangan takut. Ayo pulang," Yokada memeluk Haneul dan mengajaknya bergegas keluar.
Namun sayang, sebelum mereka keluar, mereka di hadang dengan gerombolan orang yang sudah lengkap dengan senjata mereka. Tanpa menunggu lama, seseorang melayangkan tembakan yang mengarah ke lengan tangan Yokada. Yokada pun jatuh tersungkur menahan rasa sakit.
"Kau?!" seru Yokada.
"Paman," Haneul menangis membantu Yokada berdiri.
__ADS_1
"Ha Ha Ha Ha Ha," pekik seorang lelaki berpawakan gemuk. Dia terlihat seperti Bosnya di antara yang lainnya.
Yokada menatap lelaki itu dengan sengitnya. Lelaki itu memerintah salah satu anak buahnya untuk merebut Haneul kembali. Rambut Haneul di cengkram dan di tarik dengan paksa. Mereka berhasil menyandera kembali Haneul.
"Yokada Yoshida. Lama tidak bertemu, ha ha ha ha," tuturnya. "Bagaimana kau suka. Ini hadiah untukmu," Lelaki itu menunjuk ke arah Shin Ji Joon. "Ambil ini. Dan bunuh lelaki lemah itu," titah lelaki itu memberikan sebuah pistol kepada Shin yang terpaku jauh di hadapannya.
Dengan ragu tapi pasti. Shin Ji joon mendekat dan meraih pistol itu. Dia tertegun penuh ragu menatap pistol di tangannya.
"Shin! Apa yan ... agk!" Yokada merasa kesakitan. "Lepaskan Haneul sekarang!" seru Yokada. "Lepaskan Haneul!!!" Yokada teriak penuh dengan emosi yang berharap.
Namun tak ada yang mendengarnya kecuali sebuah tawa yang seakan mencercanya. Shin Ji Joon pun hanya terdiam terpaku di menatap Yokada penuh rasa bersalah.
"SHINNN!!!" teriak Yokada penuh emosi.
Shin Ji Joon mengarahkan pistolnya ke tubuh Yokada. Lelaki itu terus mengompori Shin untuk cepat menghabisi Yokada.
Krincing, krincing, Krincing..
"Tidak, tidak, jangan lakukan itu. Kau Ha Jae ku,," gumam Yokada menangis tersungkur.
Shin tertegun menatap Ha Jae di hadapannya. Seakan sesuatu yang dia cari dalam hidupnya sudah dia dapatkan. Shin menjatuhakan pistolnya dan berlari ke arah Ha Jae. Belum sampai dia di depan Ha Jae. Ha Jae melempar sesuatu yang dia sembunyikan dari balik jas yang menutupi pundaknya.
"Ahh!!" kaget lelaki itu.
Semua penjaga mengarahkan pistolnya ke arah Ha Jae. Shin ternyalang dalam tegunnya saat melihat sesuatu yang Ha Jae lempar ke arahnya itu adalah sebuah kepala manusia.
Tak terduga, ternyata corak merah pada jas itu adalah lumuran darah segar yang berbauk amis.
Ha Jae tersenyum tipis dengan tatapan yang penuh dengan kepuasan. Seakan dirinya sedang berdiri di sebuah tahta yang megah.
Ha Jae tekah membantai habis anak buah Kim Duck Young. Lelaki yang menatap Ha Jae penuh kemarahan jauh di hadapannya itu. Kepala malang yang Ha Jae bawa adalah kepala Goun Yong yang tak lain adalah anak Kim Duck sendiri. Goun Yong yang sepat di pihak Ha Jae, dengan sengaja mempermainkan ampunan yang Ha Jae berikan. Harus terpaksa Ha Jae renggut nyawanya dengan sadis. Ha Jae seolah ingin menunjukan, bahwa dia bukan orang yang dapat di permainkan.
__ADS_1
"Ha Jae," Shin menatap Ha Jae dengan sendu. Dia tak menyangka, Ha Jae yang dia kenal dapat melakukan perbuat seperti itu. "Apa ini dirimu yang sebenarnya?!" batin Shin Ji Joon bertanya.
Ha Jae menatap datar ke arah Kim Duck yang menatapnya penuh dengan amarah. Berlahan Ha Jae mendekat ke arah Kim Duck. Namun Shin Ji Joon menghampiri dan menahannya.
"Ha Jae." Shin menahan kedua pundak Ha Jae. Ha Jae menatap Shin tanpa ekpresi sedikit pun. "Hentikan semuanya. Semua sudah cukup," tutur Shin Ji Joon.
Ha Jae melepaskan tangan Shin untuk tidak menghiraukannya. Namun Shin tetap berusaha menahannya sekuat tenaga. Shin memeluk tubuh Ha Jae dengan eratnya. "Aku mencintaimu. Aku membatalkan pernikahanku dengan Julia. Kaulah yang harus aku nikahi, aku mencintaimu. Aku sangat mencintaimu. Maafkan aku tak mengatakan itu. Aku tau kau juga mencintaiku. Harusnya aku tak melakukan semua itu." ungkap Shin Ji Joon.
"Ha Jae sudah mati. Orang yang kau cintai sudah mati," bisik Ha Jae. Ha Jae mendorong tubuh Shin bingga tubuhnya jatuh terbentang di hadapan Ha Jae. Ha Jae berjalan melangkahi tubuh Shin.
"Ha Jae! Jangan lakukan. Dia tak akan melukai Haneul. Aku pastikan itu." teriak Yokada.
Ha Jae menatap wajah Haneul yang menahan rasa sakit. Ha Jae menanggalkan jas dan selendang putih yang membalut kepalanya. Selendang itu jatuh tepat di tubuh Shin Ji Joon yang ada di bawah kaki Ha Jae.
Ha Jae tertegun menatap mata Shin penuh dengan kesedihan. Air matanya mengalir seakan ingin menyanpaikan perasaan yang begitu dalam. Wajah sendu dengan tatapan kosong yang teduh. Wajah yang membuat Shin jatuh hati. Wajah, yang membuat Shin tak tenang di setiap detak jantungnya. Wajah yang dia harapkan selalu dia lihat di sepanjang hidupnya.
"Ha Jae," batin Shin Ji Joon.
Ha Jae dengan cepat menghunuskan belatik hitam dari pinggangnya. Dia melayangkannya bertubi-tubi di atas perutnya tanpa rasa ngeri dan sakit sedikit pun. Shin ternyalang melihat wajah Ha Jae yang penuh dengan amarah dan kebencian.
Darah segar terpecik ke wajah Shin Ji Joon. Darah yang harum seperti sari bunga melati. Darah yang membuat hati setiap orang teriris saat menciumnya.
"Ha-Jae," Shin Ji Joon ternyalang.
Kembali darah segar yang mengalir deras dari perut Ha Jae jatuh membasahi wajah Shin. "Apa ini?!" tanya Shin Ji Joon dalam hati.
Darah kental berbauk amis yang menyengat hidung. Bauk yang lebih busuk dari daging buruk. Darah yang membuat semua orang muntah saat menciumnya.
Air mata Shin Ji Joon mengalir begitu saja. Dia menyadari, bahwa Ha Jae benar-benar sudah mati. Orang yang dia cintai. Orang yang membuatnya jatuh hati. Orang yang dia sia-siakan. Dia sudah tiada lagi.
"HAAA JAEEEE!!!!" teriak Yokada penuh amarah kesedihan.
__ADS_1
...****************...