
Ha Jae dan ketiga anaknya sedang sibuk menyiapkan keperluan kemah mereka. Setelah mereka selesai dengan makan malam dan waktunya beristirahat. Ha Jae masuk ke tenda besar milik ke 3 anaknya itu.
Ha Jae berdiri terdiam memandang ke 3 anaknya itu. Haneul, Nami dan Yuri, hanya bisa tertegun memandang Ha Jae dengan bingung. Ha Jae melempar senyuman tipis sebelum dia menutup tenda rapat-rapat. Ha Jae berbalik dan kembali menatap ke 3 anaknya. Keadaan semakin tegang saat Haneul mundur berkumpul bersama kedua sahabatnya dengan jiwa yang penuh ketakutan. Haneul mengucapkan sesuatu kata yang membuat senyum tipis Nami dan Yuri hilang.
"Maaf," Haneul berlahan mundur dari hadapan Ha Jae.
Ha Jae melihat ke arah Nami dan Yuri. "Aku mengajak kalian ke sini karna ada yang ingin aku katakan," tutur Ha Jae membuat suasana semakin tegang. "Kalian sudah ada dalam hidupku. Jadi kalian harus tau, termaksud kau Haneul."
Haneul hanya tertunduk dengan sesekali mencuri pandangan ke wajah Ha Jae. Nami dan Yuri saling bertatapan satu sama lain. Mereka sangat terlihat bingung. Kecuali Haneul, yang terlihat sangat ketakutan.
Ha Jae berlahan menanggalkan satu persatu bajunya. Dia hanya menyisakan pakaian dalamnya yang minim berwarna hitam pekat itu. Nami dan Yuri kaget dengan apa yang dia lihat di depannya. Namun Haneul, seakan tak terkejut dengan hal itu.
"Mama," Nami menutup mulutnya dan menoleh ke arah Yuri. Sedangkan Haneul, hanya tertunduk tersendu.
Ha Jae memandang Nami dengan senyuman tipis, sebelum ia duduk bersila di depan mereka bertiga.
"Kalian dalam hidupku seperti luka-luka yang tergores di tubuhku ini. Dalam dan membekas," Ha Jae menatap Haneul dengan tatapan kosong. "Dulu aku gadis polos dan lemah seperti kalian," Ha Jae melempar senyuman dengan tatapan yang begitu dalam.
Ha Jae memceritakan semua perjalanannya kepada mereka bertiga. Tak ada satu pun yang Ha Jae tutup-tutupi, bahkan dia juga menceritakan dari mana dia mendapatkan bekas luka-luka pada tubuhnya itu.
"Aku hanya sebuah jiwa yang mampir dalam hidup kalian. Kata 'Mama' hanya sebuah kiasan. Kalian tetap memiliki hidup kalian sendiri. Kalian harus hidup dalam hidup kalian sendiri. Itu yang aku mau." Ha Jae menatap Haneul, Nami dan Yuri dengan lembut. "Jangan hanya karna kalian punya diriku, lalu kalian tak butuh yang lainnya. Kalian butuh itu. Karna aku tak selamanya hidup dalam hidup kalian, bahkan dalam dunia ini."
__ADS_1
"Mama," Haneul seolah melarang Ha Jae mengucapkan itu.
"Aku seorang jiwa yang ingin hidup. Bukan hal yang mudah tetiba memiliki seorang anak asing bagiku. Aku tak terima waktu itu. Aku bertanya pada Tuhan, aku marah pada Tuhan, "Kenapa harus aku?!" Tapi aku mencoba membuka hati dan pikiranku, aku melihat lebih jauh ke dalam jiwaku." Ha Jae meraih dagu Haneul. "Dia juga jiwa yang ingin hidup. Sama sepertiku. Dan aku harus membuatnya hidup. Karna dia pantas," Ha Jar tersenyum tipis kepada Haneul. "Setelah aku menerimanya. Ternyata dia sebuah kehidupan yang luar biasa," Ha Jae menatap Haneul penuh pujian. "Aku menemukan kehidupan yang tak pernah aku rasakan. Ini luar biasa. Aku memiliki kalian, yang belum tentu orang lain miliki. Aku yakin itu. Lalu buat apa kau takut?!" Ha Jae melirik ke arah Haneul.
"Aku tak mau kehilanganmu," Haneul tertunduk sendu. "Aku ingin hanya kau Mamaku,"
"Dan keu akan bersedih kehilangan Mamamu lagi?!" Ha Jae melihat Haneul dengan dalam.
Haneul menggelengkan kepalanya. "Bukan itu! Itu tak akan pernah terjadi." seru Haneul. "Kenapa bukan Mama yang Appa nikahi?! Kenapa harus orang gila?!" Haneul tertunduk.
"Hah?! Haneul?!" celetuk Nami. "Apa maksudmu?!"
"Tidak. Cuman ...," Haneul tak melanjutkan ucapannya.
"Kalian percaya padaku?!" tanya Ha Jae.
Haneul, Nami dan Yuri saling bertatap-tatapan satu sama lain. "Kenapa tidak," sahut Yuri dengan Yakin. "Kau baik kepada kami. Walau pun kau seorang budak, seorang pembunuh, seorang moster sekalipun, aku tak perduli. Seperti yang Ibu kepala panti bilang kepada kami. Selagi dia berbuat baik kepada kita, kita layak berbuat baik kepadanya. Sekalipun itu seorang penjahat yang kejam. Karna itulah manusia, dia punya jiwa yang baik dan juga punya jiwa yang buruk. Dan kau memberikan kebaikan kepada kami," terang Yuri.
"Aku juga, yakin." timpal Nami.
"Maaf. Kau benar, dulu aku juga membenci dan menolakmu. Sekarang kau bagikan malaikat dalam hidupku," tutur Haneul. "Aku boleh meminta sesuatu?" Haneul menatap Ha Jae penuh harap.
__ADS_1
"Apa?!" Ha Jae membalas tatapan Haneul penuh kasih.
"Jangan tinggalkan aku. Kau harus tetap hidup untukku." tutur Haneul.
Ha Jae menatap sendu Haneul. Dia menteskan air mata tanpa sadar. "Aku tak bisa berjanji padamu manis," Ha Jae membelai wajah Haneul dengan lembut. "Ha Jae hampir mati karna kebodohannya sendiri." jelas Ha Jae.
"Kenapa?!" tanya Haneul kecewa. "Kau masih hidup sekarang."
"Aku. Bukan Ha Jae," tutur Ha Jae.
Haneul menunduk dengan sendu. "Dengarkan aku. Kalian sudah jadi sahabat. Kalian sodara. Apa pun yang terjadi, hiduplah dengan bahagia, bersama." Ha Jae menggenggam tangan mereka bertiga secara bersamaan. "Jangankan besok. Detik ini saja, aku bisa mati. Ha Jae bisa mati kapan saja." Ha Jae mengusap kepala Yuri. "Lihat dan dengarkan aku," Ha Jae menegakkan duduknya. Dia memejamkan matanya dan berlahan membukanya. "Jika aku sudah tak punya kasih, tak punya rasa takut. Tak punya kebaikan yang aku lakukan. Itu artinya Ha Jae sudah mati. Dia sudah tak ada lagi." Ha Jae menatap Haneul dengan air mata yang membasahi pipinya. "Dan kalian harus bunuh raga lemah ini." Ha Jae menatap ketiga anaknya dengan pandangan yang kosong. "Aku tak mau tubuh ini semakin jauh dan kehilangan kontrol, hingga menyakiti orang yang ku cintai nanti." Ha Jae menunjuk ke arah dada bagian kanannya. "Kau lihat ini, di sini. Tepat di sini. Kau hanya bisa membunuhnya di sini. Selain di sini, tubuh ini masih akan hidup. Karna tubuh ini, sudah bukan hanya milikku seorang." tutur Ha Jae dengan lembut.
Haneul menelan ludahnya sebelum menunduk dengan sendu. Nami dan Yuri saling bertatap-tatapan karna masih bingung dengan apa yang Ha Jae maksud.
"Haneul. Kamu mau melepaskan kesakitan dalam jiwaku?!" tanya Ha Jae penuh harap.
Haneul hanya menunduk terdiam. Dia menganggukan kepalanya untuk menjawab. "Emm," gumamnya penuh ragu.
"I love you. Maafkan aku," tangis Ha Jae pecah. "Aku mencintai kalain. Terimakasih sudah mambuatku hidup. Terimakasih," Ha Jae memeluk ketiga putrinya dengan erat.
...****************...
__ADS_1