
Terlihat jelas kulit coklat eksotis Ha Jae. Dari ujung kaki hingga paha terlihat coklat sempurna. Terlihat terdapat sebuah geratan hitam yang sangat mecolok di paha ramping dan berotot milik Ha Jae.
Shin hanya diam terbelalak melihat pemandangan tak terduga itu. Dia menelan ludahnya dan sesekali memalingkan wajahnya.
"Nani?!" celetuk Yokada terlihat kesal karna di kagetkan oleh tingkah Ha Jae.
Ha Jae mengerutkan keningnya, dengan menatap tajam ke arah Yokada. Dia terlihat salah tingkah saat menyadari bahwa sikapnya itu terlalu berlebihan.
"Ee ora, ora." tepis Ha Jae gelagapan.
Ha Jae terperanjat saat menyadari posisi berdirinya yang terlalu ngangkang memenuhi pintu. Dia berusaha berdiri tegak merapikan piyamanya yang terbuka lebar.
Ha Jae dengan berlahan menutup kembali pintu itu. Dia pergi tanpa sepatah kata pun. Yokada yang terlihat bingung hanya bisa bergeming di buatnya. Shin Ji Joon yang menyadari akan hal itu. Mencoba menbuka suara, bertanya tentang apa yang ingin Yokada tanyakan tentang Choi Ha Jae kepadanyan.
"Emm tadi apa yang ingin kau tanyakan padaku?!" tanya Shin.
"Hah?! Apa? Barusan kita berbicara soal apa?!" tanya Yokada terlihat bingung.
"Choi Ha Jae." jelas Shin.
"Ohh." sahut Yokada memegang keningnya. "Ah lupakan saja. Anu, aku ingat. Soal Choi Ha Jae. Apa kau sudah buat janji dengannya untuk pergi ke Jungang?!"
"Belum. Aku baru kali ini bertemu denganya setelah dia kembali dari Incheon." jelas Shin.
"Kalau gitu segera buat janji." ucap Yokada bangkit dari duduknya. "Sebelum dia banyak urusan. Dia paling tidak suka di ganggu jika sedang sibuk dengan sesuatu hal."
Yokada menghampiri intercam yang terpasang di dinding. Dia menyuruh Choi Ha Jae untuk menghadap kembali ke sana.
"Yha Ha Jae, coba kesini." titah Yokada dari ujung intercam.
Yokada pun kembali duduk ke tempat duduknya. Dia menuang kembali wine ke dalam gelasnya. Yokada mempersilahkan Shin Ji Joon untuk kembali menuang Soju ke dalam gelangnya. Tak berselang lama, pintu ruangan pun di ketuk berlahan.
__ADS_1
Tok Tok. (suara pintu di ketuk).
"Senpaii." seru Ha Jae yang berlahan membuka pintu ruangan itu. "Nani?"
Choi Ha Jae terlihat menyembunyikan sesuatu di balik badannya. Terlepas dari itu, dia sudah mengenakan baju tidur dengan kerudung yang membalut rambutnya. Shin Ji Joon tersenyum kecil ke arahnya.
"Aku butuh survei lapangan untuk produk terbaru kita. Besok kamu temani Shin untuk wawancara warga tentang produk kita." titah Yokada.
Ha Jae terlihat bingung dengan perintah itu. Dia berusaha menolak dengan alasan yang tidak di mengeti oleh Yokada. Terlihat sisi lain dari Ha Jae yang terlihat betapa keras kepala dirinya. Selain itu, Shin di buat kaget saat Ha Jae dengan tegas menentang Yokada.
Terlihat jelas raut ketakutan di muka Yokada saat Ha Jae dengan tajam menatapnya. Shin hanya bisa bergeming dengan penuh rasa penasaran di benaknya. Bahagaimana bisa seorang Yokada setakut itu hanya mendapatkan sebuah gertakan kecil dari gadis mungil di hadapannya itu.
...(baca bab "Sindiran Emosi")...
"Oh ya, Pak Shin Ji Joon. Maaf, tapi saya ada waktu hari sabtu dan minggu besok. Jika anda berkenan, kita bisa survie lapangan. Nanti akan saya hubungi untuk jam dan tempatnya. Oh tidak! Anda saja yang hubungi saya. Nanti kalau saya, anda gak baca pesan saya. Andakan orangnya sibuk." sungut Ha Jae dengan tatapan tajam dan senyuman tipis di bibirnya.
Shin Ji Joon terkejut mendengar ucapan Ha Jae itu. Dia menyadari bahwa hal itu sengaja Ha Jae katakan untuk menyindir dirinya. Shin hanya bergeming dengan tatapan sendu dengan rasa bersalah di benaknya.
"Oh ya. Selamat malam." sahut Shin yang berusaha tersenyum ke arah Ha Jae.
Dia sangat merasa bersalah dengan kejadian waktu itu.
Yokada meraih berkas yang Ha Jae taruh di atas meja. Dia membuka berkas itu dan membacanya dengan serius. Tergemaplah ia saat mengetahui isi berkas itu. Dengan tetiba tersiraplah darahnya.
"Apa-apaan ini?!" sergah Yokada.
"Ada apa?!" tanya Shin sembari meminum soji di gelasnya.
"Laporan di Incheon. Kenapa bisa separah ini?!" jelas Yokada penuh amarah.
"Sebaiknya aku pulang. Ini sudah larut malam. Sampai jumpa besok." pamit Shin bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Ya ya, hati-hati di jalan." sahut Yokada masih terpaku dengan berkas di tangannya.
Berlahan Shin Ji Joon keluar dari ruangan itu. Sebelum dia melesat keluar rumah, Shin sempat terpaku melihat ke arah tangga yang menuju lantai dua. Shin merasa sangat bersalah kepada Ha Jae. Selain itu, dia juga semakin di buat penasaran oleh sosok gadis yang dia sukai itu.
Shin Ji Joon membuka beberapa kancing bajunya, agar dia dapat bernafas dengan lega. Shin tak habis pikir, jika gadis yang dia kenal selama ini sopan dan lembut. Bisa setegas itu hingga membuat Yokada terlihat sangat ketakutan.
"Choi Ha Jae." batin Shin tersenyum menyeringai, sebelum dia melesatkan mobil hitamnya membelah kesunyian jalan kota.
......................
Pagi buta, Shin Ji Joon sudah bersiap untuk pergi ke kantor. Tak seperti biasanya, dia lebih pagi untuk pergi ke kantor pagi itu.
"Selamat pagi, Tuan. Ingin di hidangkan apa untuk sarapan pagi ini?" tanya seorang pelayan.
"Tidak usah. Saya langsung berangkat." jawab Shin.
"Baik, Tuan." sahut pelayan itu.
Shin Ji Joon meraih jaketnya dan bergegas keluar rumah. Di sana ia bertemu dengan Sekertaris Yang.
"Selamat pagi, Tuan Muda. Ingin kemana kita pagi ini?!" tanya Sekertaris Yang.
"Aku akan menyetir mobilku sendiri. Kau pergilah ke kantor untuk menggantikan rapat pagi ini. Aku ada urusan lain." titah Shin.
"Baik Tuan Muda." sahut Sekertaris Yang.
Shin Ji Joon pun pergi menggunakan mobil hitamnya. Dia melaju menembus kedinginan pagi itu. Baru sampai dia di tempat tujuannya. Shin sudah du buat kecewa oleh Ha Jae yang terlihat dari jauh masuk ke mobil milik Yokada.
Mereka berpapasan di sebuah jalan sempit itu. Terlihat Ha Jae tidak menyadari bahwa Shin datang ke rumahnya. Dia terlihat asik berbincang oleh Man di dalam mobil yang mereka tumpangi.
Dengan kecewa, Shin melajukan mobilnya dan memarkirkannya di pinggir jalan.
__ADS_1
...****************...