
Tak berapa lama Shin Ji Joon mengendarai mobil hitamnya itu. Dia sampai di sebuah klinik yang tak asing baginya. Klinik yang tak jauh dari cafe baru miliknya.
Tok tok tok! (bunyi pintu ruangan di ketuk).
"Yongseo. Pak, ada tuan Shin Ji Joon ingin bertemu Anda." Asisten masuk menghadap ke ruang kerja Yokada.
"Ohh, suruh masuk." titah Yokada terlihat serius dengan berkas-berkas di hadapannya.
"Annyeong haseo." sapa Shin masuk ke dalam ruang kerja Yokada.
"Aa Shin, masuk-masuk." sahut Yokada mempersilahkan Shin Ji Joon duduk. "Ada apa? Tumben datang ke klinikku? Biasanya mengajak ketemuan di Bar."
Yokada tertawa kecil kearah Shin seraya menyingkirkan berkas-berkas di hadapannya.
"Ahh tidak. Hanya kebetulan lewat saja." sahut Shin dengan ramah.
Dia meletakkan tas belanja di lantai, dan duduk di hadapan Yokada.
"Oh ya, aku dengar kamu membeli Cafe di sebrang Klinik ku ini dengan harga tinggi?? Ada apa?! Bukannya kau bisa membuat Cafe lebih besar dan maju dari Cafe kecil itu?!." tanya Yokada penuh penasaran.
"Aku hanya membeli sedikit sahamnya saja. Itu pun harganya juga murah." jelas Shin dengan senyuman.
...(Baca bab "Kado Yang Di Tolak")...
...----------------...
Setelah selesai berkunjung. Shin Ji Joon terlihat kecewa alan seseuatu hal. Dia kembali membawa tas belanja yang sengaja dia bawa itu.
"Jungang?!" batin Shin tertegun di dalam mobilnya.
Shin Ji Joon pun bergegas melajukan mobil hitamnya menyelusuri jalan perkotaan. Sesampainya dia di SJ Entertaintment. Shin Ji Joon menaruh tas belanja itu dengan sangat kecewanya. Dia masih kepikiran dengan apa yang yang Yokada sampaikan kepadanya.
...(Mengingat ucapan Yokada)...
...----------------...
"Dua minggu lalu ada kekacauan besar di Gudang. Ada beberapa preman mengobrak-ambrik gudangku dan melukai banyak buruhku. Termaksud Ha Jae."
"Semua terluka. Haiiss dia memang keras kepala. Aku sudah menyuruhnya untuk berhenti dan kembali ke Daejeon. Tapi sampai saat ini belum kembali juga, dia benar-benar keras kepala."
...----------------...
"Incheon?! Apa aku pergi ke sana?!" gumam Shin dalam Hati.
Tok Tok! (suara pintu di ketuk).
__ADS_1
"Oppa!" seru Yura masuk ke dalam ruangan Shin.
"Oh kau." ucap Shin.
"Oppa, aku dengar kau sedang banyak kerjaan. Sampai tidak datang ke pemotretan di taman. Ah aku bosan sekali. Kenapa aku harus menjadi model banyak sekali pakaian." keluh Yura.
Shin Ji Joon hanya diam termangu di depan Yura. Dia masih pusing dengan apa yang harus dia lalukan. Terlebih lagi, masih banyak urusan yang harus Shin Ji Joon selesaikan.
"Ini untukmu." ucap Shin menyodorkan tas belanja yang berada di atas mejanya. "Mulai besok. Kau akan menjadi model salah satu produk kecantikan. Untuk joob mu saat ini. Biar orang lain yang menggantikannya. Siapkan dirimu untuk pemotretan besok."
Shin Ji Joon bangkit dari duduknya. Dia pergi keluar ruangan tanpa berpamitan ke Yura.
Sedangkan Yura. Dia terlihat terkejut saat melihat isi tas belanja itu, yang ternyata adalah tas merek brand ternama yang dia pilih saat di Galleria waktu itu. Dia sangat terlihat bahagia, karna tebakannya adalah benar, tas itu spesial Shin Ji Joon belikan untuknya.
...----------------...
Di tengah perjalanan pulang kerumah. Shin Ji Joon terlihat sangat bingung dan cemas. Tak seperti biasanya dia seperti ini.
"Sekertaris Yang. Apa jadwalku benar-benar padat minggu ini?!" tanya Shin merasa pusing.
"Benar, Tuan muda." jawab Sekertaris Yang.
"Tidak ada 2 hari saja waktu sengga?!" tanya Shin.
"Ada beberapa rapat penting yang harus anda datangi minggu ini, Tuan Muda." tutur Sekertaris Yang.
"Baik, Tuan Muda." sahut Sekertaris Yang.
Di sepanjang perjalanan itu, Shin Ji Joon terlihat cemas dan bingung. Sesampainya di rumah, Shin Ji Joon lansung meletakkan tas miliknya di atas sofa. Dia mengeluarkan sebuah berkas dari dalam tasnya.
Shin Ji Joon tersenyum puas melihat berkas saham itu ada di tangannya. Dia lalu menyimpan berkas itu di dalam brangkas pribadinya. Tak lama datanglah Sekertaris Yang bersama seseorang lelaki.
"Tuan Muda." hormat Sekertaris Yang kepada Shin. "Ini adalah Han Seok, Tuan. Dia dapat di percaya."
"Baik, tinggalkan kami." titah Shin.
"Baik, Tuan." sahut Sekertaris Yang pergi meninggalkan Shin Ji Joon dan Han Seok.
"Silahkan duduk." titah Shin.
Shin Ji Joon pergi menghampiri laci di sebelah tempat tidurnya. Dia mengambil sesuatu dari dalam laci itu. Selebar foto yang dia bawa menghampiri Han Seok yang duduk di sofa kamarnya.
Shin Ji Joon tersenyum melihat foto itu, sebelum dia menyerahkan foto itu kepada Han Seok.
"Dia gadisku. Sekarang dia ada di Incheon. Aku akan memberikan alamatnya kepadamu nanti." tutur Shin meraih beberapa kaleng soju.
__ADS_1
Dia menghampiri Han Seok dan memberikan sekaleng Soju padanya. Shin Ji Joon lalu bersender di atas sofa sembari menikmati sekaleng Soju di tangannya.
"Aku ingin kau mengawasinya selama dia di Incheon. Pastikan dia baik-baik saja. Jangan biarkan 1 orang pun menyentuhnya." titah Shin.
Han Seok hanya diam memperhatikan foto itu. Dia langsung mengantongi foto itu di jaket hitamnya.
"Saya akan menjaganya untuk Anda." sahut Han Seok.
"Terimakasih. Kalau begitu pergilah. Lalukan tugasmu." titah Shin kepada Han Seok.
Han Seok langsung pergi keluar dari kamar Shin Ji Joon. Sempat dia berpapasan dengan Sekertaris Yang yang ingin masuk ke dalam kamr Shin Ji Joon. Han Seok pun dengan hormat memberikan salam.
......................
Setelah mendapatkan perintah dari Shin Ji Joon. Han Seok langsung pergi ke Incheon untuk mengawasi Choi Ha Jae.
Dia sangat penasaran, wanita seperti apa yang harus dia jaga itu. Han Seok merasa tertarik saat melihat sosok Choi Ha Jae yang terlihat pekerja keras itu.
Kemana pun Choi Ha Jae pergi, dengan penuh hati-hati dan gesit, Han Seok selalu mengikutinya. Bahkan saat Choi Ha Jae pergi diam-diam dari penginapan gudang malam itu.
......................
Shin Ji Joon duduk termangu di atas kasurnya. Dia melihat sebuah kotak kecil yang ada di tanganya. Sebuah kotak cincin yang sangat istimewa dan berharga bagi Shin Ji Joon.
...(flashback masa kecil Shin)...
...----------------...
"Ini pemberian nenek dari neneknya nenek Mama. Ini begitu sangat berharga. Lihat. Ada ukiran tulisan kuno di dalamnya." tutur suara yang terdengar lirih dan lembut di telinga. "Mama ingin. Iguk nanti memilikinya dan memberikannya kepada istri Iguk. Untuk nanti di berikan ke cucu Mama."
"Ya Mama. Thank You." sahut Iguk memeluk dan mencium wanita yang ada di hadapannya.
...----------------...
"Dia pasti sangat cantik memakai cincin ini. Sangat pantas untuknya. Benarkan, Ma??" gumam Shin memandang sendu cincin yang berada di tangannya itu.
Ntah kenapa, Shin Ji Joon dapat jatuh hati kepada wanita yang sederhana dan juga tak cantik wajahnya. Padahal, sebagai seorang Shin Ji Joon. Banyak sekali wanita yang cantik dan sempurna yang berada di sekelilingnya. Bahkan mereka rela melakukan apa saja untuk mendapatkan hati Shin Ji Joon.
Tapi Choi Ha Jae, memiliki ke istimewa sendiri bagi Shin Ji Joon. Yang sudah mencuri hatinya saat pertama kali mereka berjumpa.
Semakin hari Shin Ji Joon mengenal Choi Ha Jae. Semakin pula Shin Ji Joon ingin memilikinya. Shin Ji Joon selalu di buat semakin jatuh hati kepada Choi Ha Jae setiap kali mereka bertemu.
Shin Ji Joon sangat yakin. Bahwa dia tidak salah memilih seseorang untuk memaki cincin yang sangat berharga itu untuknya. Keyakinan di hati Shin Ji Joon, sama hanya keyakinan ibu, yang selalu di rindukannya.
"Aku ingin memilikimu. Choi Ha Jae." gumam Shin duduk terpaku di atas ranjangnya.
__ADS_1
Dia menutup kotak kecil di tangannya dengan berlahan. Shin Ji Joon mencium kotak cincin itu, dengan penuh rasa rindu yang mendalam. Shin Ji Joon memasukan kotak cincin itu kedalam brangkas kecil, di dalam lemari kecil samping tempat tidurnya. Sebelum dia membaringkan tubuhnya di atas kasur putih untuk tidur terlelap malam itu.
...****************...