
Yokada dan Shin menaiki mobil yang sama. Sedangkan Sekertaris Min Ho, Asisten Min Sae dan Ha Jae menggunakan mobil jeeb milik Yokada.
Mereka pun berangkat menuju ke tempat yang ingin mereka datangi. Sekitar 4 Jam perjalanan, akhirnya mereka pun sampai di tempat yang mereka tuju.
"Bibi, mau Roti?" tanya Ha Jae menyodorkan sebuah roti.
"Mau sini. Sayang, kau mau?!" tanya Min Sae kepada Min Ho.
"Ah, iya.Terimakasih," sahutnya.
Berhentilah mereka di kaki bukit yang terselimuti pepohonan yang menjulang tinggi membelah langit. Terdapat padang rumput yang lumayan luar di tepi sungai.
Tempat itulah yang akan menjadi aera kemah bagi mereka. Tempat yang begitu sangat asri nan sejuk. Seakan belum pernah terjamah oleh manusia satu pun.
Pepohonan-pepohonan hutan yang menjulang tinggi, kemricik air dari dalam sungai, pasti akan membuat bulu kudu siapa pun akan meremang di malam hari.
Tempat yang terletak tak jauh dari jalan setapak yang hanya muat di lalui satu buah mobil. Jalan itu tak beraspal. Benar-benar sudah di luar peradaban.
Mereka pun bergegas bersiap memurunkan semua barang yang mereka bawa. Menyiapkan satu per satu semua keperluan yang di butuhkan. Memasang tenda, mencari kayu, mengambil air. Semua orang sibuk dengan tugas mereka masing-masing.
"Ahh ya. Kami semua sudah sampai. Baik, kami akan tunggu." ucap Yokada sedang berbicara dengan orang di ujung telepon.
"Pak Shin. Biar saya bantu." ucap Sekertaris Min mendekati Shin yang sedang sibuk mendirikan tenda.
Sekertaris Min tak sengaja melihat Shin, yang terlihat sesekali memperhatikan Ha Jae. Seakan pandangan Shin hanya tertuju kepada Ha Jae.
"Aah, saya juga tertarik dengan anak itu," ucap Sekertaris Min. "Dia terlihat sangat berkarakter bukan?"
Min Ho coba lebih mendekat ke arah Shin. "Belum lama aku mengenalnya. Yang aku tau, dia belum fasik berbahasa Korea, maka dari itu dia jarang sekali, bahkan hampir tak pernah berbicara sesikit pun." sambung Min Ho.
"Hah?!" seru Shin terlihat sangat penasaran.
"Aku dengar dia bangsa Indonesia. Lihat saja kulit dan mukanya. Benar-benar Indonesia." puji takjub Min Ho seraya sesekali menarik tali tenda. "Aku tidak tau kenapa Tuan Yokada mengangkat anak itu menjadi adiknya. Yang jelas, dia pasti istimewa bagi Tuan Yokada."
Shin yang penuh akan penasaran itu, bergegas mengikuti Min Ho yang sibuk mendirikan tenda. Shin berharap mendapat banyak informasi darinya.
"Kapan Yokada mengangkat anak itu, maksutku Ha Jae. Aku baru melihat gadis itu saat dia datang dari Seoul." tanya Shin.
__ADS_1
"Aku tidak tau. Yang jelas, dia di belakang mu sekarang." ucap Min Ho berbisik pelan ke arah Shin.
Sekertaris Min pun bergegas pergi seakan tak membicarakan apa-apa.
"Hah segar sekali udara di sini." ucap Min Ho menjauh dari Shin.
Shin yang merasa tak enak berlahan membalikkan badannya. Di sana sudah ada Ha Jae yang berdiri tepat di belakang Shin. Ha Jae menundukan kepalanya untuk memberikan hormat, sebelum ia mengulungkan sebuah botol minuman ke pada Shin.
"Oh, terimakasih." ucap Shin.
Ha Jae hanya menundukan kepalanya lalu pergi dari hadapan Shin Ji Joon.
Shin merasa tidak enak kepada Ha Jae karna membicarakan dirinya dengan Min Ho. Shin pun bergegas berkumpul ke tempat api unggu di mana semua orang sudah berkumpul.
"Hai, Ha Jae, ambilkan aku bir di dalam mobil." titah Yokada.
Ha Jae tak merespon ucapan Yokada, dia terus menata kayu yang akan di buat api unggun malam ini. Sampai Min Sae menghampirinya dan menepuk pundak Ha Jae.
"Hei!" ucap Min Sae.
Ha Jae pun melepas sesuatu di kuping dari balik kerudung hitamnya. Yokada yang melihat hal itu terlihat kesal karna dari tadi ternyata Ha Jae tak mendengarkan ceritanya.
"Hais, bocah! Jadi dari tadi kamu pakai handset, hah!! Aku dari tadi susah payah ajak kau berbicara. Berikan itu kepadaku!!" hardik Yokada terlihat kesal.
Ha Jae yang terlihat kebingungan, berlahan mendekat ke arah Yokada. Tanpa di suruh Ha Jae memakaikan handset itu ke kedua telinga Yokada. Sempat Yokada menolak, tapi di paksanya. Yokada terlihat kaget ternyalang menatap Ha Jae dengan serius setelah mendengar sesuatu dari handset itu. Ha Ja hanya tersenyum meringis membalas tatapan Yokada.
"Ya sudah sana. Ambilkan dulu Bir di dalam mobil ku. Wine, Wine. Ambilkan yang Wine ya." titah Yokada seketika luluh seperti tersihir.
Ha Jae bergegas pergi ke arah mobil, dia mengeluarkan sekotak tempat minuman dingin dari dalam mobil dan membawanya ke tempat kemah. Ha Jae meraih sebuah botol dari dalam kotak itu lalu meberikannya kepada Yokada.
"Hei. Wine, Wine!! Ini bukan Wine. Kau bisa baca tidak!" hardik Yokada.
"Hemm!" gumam Ha Jae.
Ha Jae yang seolah mengerti apa yang Yokada maksud pun berbalik mengambil sebuah gelas dan membuka botol soju yang ia bawa. Dia memberikan gelas itu ke hadapan Yokada dan menuangkan soju ke dalamnya. Yokada yang melihat hal itu terlihat sangat kesak kepada Ha Jae.
"HEI KAU ... " pekik Yokada.
__ADS_1
BREANGKKKK!!!
Sebelum Yokada menyelesaikan ucapannya. Ha Jae menggebrak meja sekuat tenanganya. Dia menatap Yokada dengan sangat tajam.
Yokada yang mendapatkan respon itu pun lalu diam meraih segelas soju dan meminumnya. Ha Jae kembali menuang soju ke gelas Yokada dengan senyuman manis di bibirnya.
"Hari ini, mulai ini, ha-nya So-ju. Ti-dak ada alkohol lain, se-lain So-ju." tegas Ha Jae terbata berbicara dengan bahasa Korea yang belum fasik dia pelajari.
Yokada yang terlihat kesal, seolah pasrah dengan apa yang Ha Jae lakukan. Shin terperanga melihat kejadian itu.
Bagaimana bisa seorang Yokada yang keras kepala dan yang selalu bersikap seenaknya itu, bisa takut dan tunduk kepada seorang gadis kecil yang tingginya tak lebih dari 157cm, dengan tubuh kurus yang ideal.
Bahkan jika dia ingat masa lalu Yokada. Ayah Yokada sendiri pun, kewalahan mengatur Yokada. Sampai ai harus rela membuang dan menendang Yokada dengan kasar dari kepemimpinannya.
Sulit di percaya memang, jika sekarang ini, Yokada terlihat bagaikan anak anjing yang takut akan sesuatu yang tak orang lain tau itu apa. Ha Jae, benar-benar membuat Shin makin penasaran akan dirinya.
"Tuan, Mr.Yosima." sela Min Ho memberikan ponsel kepada Yokada.
Yokada meraih ponsel tersebut. "Ya? Oh ya. Kau lurus saja. Nanti ada pertigaan, kau ambil kiri. Ikuti jalan itu. Nanti kau akan menemui pertigaan lagi yang ada jembatan kecilnya. Ambil jalan setapak yang urus keluar dari jalan utama. Ikuti jalan setapak tak beraspal itu ke dalam hutan. Kami ada di ujung jalan."
Orang dari ujung telepon itu seakan mengiyakan intruksi Yokada. Yokada lalu mematikan telepon itu. Yokada pun kembali menikmati soju di hadapannya.
"Shin, ayo minum." ucap Yokada memberikan gelas kepada Shin. "Min Ho, ayo. Kita istirahat dulu, Min Sae ini ambil."
"Terimakasih." sahut Min Ho.
"Ambil lagi jika kurang." titah Yokada.
Mereka pun menikmati soju di tengah sejuknya siang itu. Keasrian bebukitan di tengah hutan, seakan menyulap terik mentari siang itu menjadi suasana sejuk layaknya di pagi hari. Benar-benar suasana yang sangat tenang dan sejuk.
Setelah mereka beres menyiapkan semuanya. Mereka pun bersiap untuk acara bakar-bakar nanti malam. Ha Jae yang tadi sebelum berangkat sudah menyiapkan nasi goreng untuk bekal sarapan mereka pun, mengeluarkan makanan itu untuk mereka santap. Tak tunggu lama untuk mereka semua menyantap habis bekal itu.
"Wah enak sekali ya?" puji Min Sae.
"Eh bagi satu." ucap Min Ho mengambil sepotong sosis dari atas piring.
...----------------...
__ADS_1