Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Semangkok Sujebi


__ADS_3

"Paman apa kabar? Lama tidak bertemu,"


"Aku butuh bantuan Paman,"


"Aku tunggu di kedai Mie Jebi-Jebi nanti siang."


...----------------...


Siang itu, aku berkunjung sebuah kedai yang berada di pinggiran Kota Seoul. Kedai Mie yang kecil nan sederhana, dengan menu utamanya Mie Sujebi. Kedai yang tak pernah berubah di telan jaman. Aku duduk di Bar kedai yang berhadapan langsung dengan penjualnya.


"Ha ha ha!! Dasar bocah." pekik seorang yang berdiri di depanku. "Bagaimana bisa kau mengajakku ketemuan di Kedai ku sendiri. Kau minta gratisan hah? Harusnya kau mentraktirku minum Soju. Hidupmu kan sudah berubah di bandikan dulu." sergah seorang Paman dengan suara yang tinggi dan dalam.


Dia adalah Paman Kim Dog-San. Orang yang sering aku datangi saat aku kelaparan. Orang yang sudah seperti Pamanku sendiri. Dia yang selalu membantuku ketika aku dalam kesulitan.


"Ah Paman ini. Soju tidak enak. Lebih enakkan kuah mie yang Paman buat," ucapku menyruput semangkok mie di hadapanku.


"Jadi kenapa?! Tidak biasanya kau datang mendadak seperti ini," tanya Paman Dogsan.


"Mendadak gimana. Kan sudah aku kirimi pesan," aku melirik ke arah paman Dogsan. "Paman sudah tidak keliling lagi?"


"Ahh Paman sudah tua. Punggung paman suka sakit jika terlalu berkerja keras," ucapnya menyeringai ke arahku.


"Cihh, sekarang sudah bisa ngeluh rupanya," Aku menyeringai melirik ke arah Paman Dogsan.


"Ha ha ha ha!! Karna mu juga aku sekarang bisa mengeluh ha ha ha!" sergahnya. "Jadi apa? Ada hama tikus atau kecoak?! Kebetulan aku juga sudah lama tidak meregangkan otot-otot ku,"

__ADS_1


Dogsan meregangkan tangan kanannya untuk memamerkan otot kekar yang tak pernah hilang dari sela dagingnya itu.


"Jangan terlalu capek Paman. Nanti punggungnya sakit," godaku bangkit dari dudukku.


Aku menuju ke salah satu dinding yang berada di ruangan itu. Terpajang indah foto-foto kenangan perjuangan Paman Dogsan dalam mengembangkan bisnis kecilnya. Di sana, tertampak wajah lama ku yang begitu berbeda dariku saat ini.


"Aku hanya ingin minta tolong Paman awasi anak-anak ku. Tidak berat," Aku menoleh ke arah Paman Dogsan dengan senyuman tipis di bibirku.


"Anak?!" serunya terdiam. "Maksud mu Haneul?!"


"Ya, ada 2 lagi sahabatnya," jelasku.


Aku mendekat dan kembali duduk di kursiku. "Akhir-akhir ini, Bisnis Tuan Yokada sedang panas. Aku tidak mau jika anak-anak ku menjadi korban," jelasku


Aku menyruput minuman herbal yang aku pesan.


"Ha haha kau ini. Kau pikir aku ini siapa ha?! Haneul itu juga Cucuku. Tanpa kau minta pun, aku pasti akan menjaganya," ucapnya menatapku tajam.


"Terimakasih, Paman," ucapku tersenyum tipis ke arahnya.


"Lain kali kalau kau kesini bawa pacar, ya," gurau Paman Dogsan. "Kau tidak malu, anak SMA aja ke sini selalu bawa pasangan,"


"Aku tau, mangkanya aku ke sini siang hari," sahutku.


Aku bangkit dari dudukku memberikan secarik kertas kepada Paman Dogsan.

__ADS_1


"Ini, aku harus segera pulang. Nanti aku akan berkunjung lagi jika sudah kembali dari Indonesia," ucapku memberikan selebar cek kepada Paman Dogsan.


"Apa itu?! Kau ini," sergah Paman Dogsan.


Dia meletakkan sendok sayur di tangannya, berdiri tegak menghadap ke arahku.


"Hei, kau makan 1000 Mangkok Sujebi, tak membayarnya pun, aku tak akan bangkrut!!" sergahnya.


Paman Dogsan menatap ku dengan tajam.


"Bisa-bisanya kau mengeluarkan selembar kertas hanya untuk semangkok Sujebi," hardik Paman Dogsan terasa terhina.


"Cih, Paman ini GR sekali. Aku tak akan membayar jika cuman semangkok Sujebi," Aku menyeringai ke arahnya. "Ini untuk anak buah Paman. Mereka butuh makan untuk keluarga mereka,"


Aku memalingkan pandangaku dari Paman Dogsan untuk menunjukan sikap sombongku.


"Ambillah, Paman butuh tenaga nanti. Tak mungkinkan orang tua ini bekerja sendiri," titahku menundukan badanku ke arahnya.


"Bocah tengik! Kau lebih kasar dari sebelumnya. Hei, aku masih kuat bahkan untuk melayanimu. Kau tidak lihat ototku ini hah!" hardiknya.


"Ah, Paman. Ya sekarang, tapi tidak jika aku kembali nanti. Sudahlah, aku harus cepat kembali. Sampai jumpa nanti," pamitku melambaikan tangan pergi dari kedai itu.


"Hei, jangan lupa oleh-olehnya ya! Awas jika tidak bawa Batik untukku." sergah Paman Dogsan.


Aku bergegas pergi dari tempat itu. Sebelum aku melajukan motor sport hitam ku, aku melihat suasana tempat itu. Benar-benar tidak ada yang berubah sedikit pun. Hanya saja, bangunan milik Paman sudah berdiri kokoh nan megah. Walau pun begitu, semua tetap sama seperti dulu. Aku memutar kunci motorku, lalu melaju pergi meninggalkan tempat itu.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2