Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Urop


__ADS_3

"Mama. Kami datang. Aku sama Mama Tifa ke sini. Kau benar, Mama Tifa lebih mengerikan dari mu. Dia seperti pembalap saat mengendarai mobil. Jantungku seperti ingin copot," Haneul duduk tersipu di depan sebuah batu nisan. Dia meletakkan seikat bungan mawar dan melati. "Mama, Yuri mendapat biasiswa ke USA. Sedangkan Nami. Dia kuliah mengambil jurusan manajemen. Dia ingin jadi pengusaha hebat seperti Paman Yokada. Saat ini, Nami menggantikan Mama memegang bisnis yang Mama bangun dengan Tante Hani." tutur Ha Jae.


Haneul menanggalkan satu demi satu kelopak mawar tangannya. "Aku. Aku di suruh fokus kuliah banyak jurusan. Aku sebal dan pusing. Nami bilang, aku harus belajar hebat agar dapat memegang bisnis Mama sepenuhnya nanti. Lusa, aku mau berangkat ke Amerika. Aku akan melakutkan kuliah dia sana. Aku akan lama tidak menjenguk, Mama. Aku akan terus merindukan, Mama"


Suasana yang hening. Hanya semilir angin yang memecah kesunyian. Haneul meletakkan tangkai bunga yang hanya tinggal batang yang malang. Haneul berdiri dan memandang ke selembar foto yang terpajang di batu nisan itu. "I Love You Ma, Thanks You," Gumam Haneul pergi meninggalkan tempat itu.


......................


...(flashback)...


...----------------...


"Aku mengerti kau bersedih. Aku tau. Peluk aku, ayo," tutur Yokada kepada Ha Jae.


"Cih! Kau pikir aku ini anak kecil," tolak Ha Jae.


Ha Jae mendekat dan memeluk Yokada dengan lembut. "Cinta itu suci. Ya Kan?! Aku tak perduli Shin menikah dengan ornag lain. Aku tetap mencintainya, dan cintaku akan abadi. Cinta tanpa pamih. Biarkan cinta itu hidup dengan iklas. Seperti cintaku kepada kalian." bisik Ha Jae.


"Kau sudah dewasa rupanya," goda Yokada.


"Bukan aku yang dewasa. Tapi kau yang seperti anak kecil. Uhhhh cayang, jangan nangis, cup cup, aku memelukmu," goda Ha Jae.


"Hais bocah tengik!!! Lepaskan aku!!" hardik Yokada.


"Tidak mau!" Ha Jae menolak.


Yokada meronta agar terlepas dari eratnya pelukan Ha Jae. "Lepas!" titahnya.


"Ihhh, gak mauk!" seru Ha Jae. "Tuan."

__ADS_1


Yokada berhenti meronta, "Hemm,"


"Ijinkan aku kembali ke hidupku," ceketuk Ha Jae. "Aku adalah aku. Bukan Ha Jae atau siapa pun. Aku lelah dengan semua kepalsuan ini. Aku tak bisa bernafas dan hidup bebas. Aku ingin hidup seperti kalian. Biarkan aku,,"


"Kau,"


"Aku semakin tau kehidupan itu apa. Dan beginilah hidup. Hidup menerima kebaikan dan keburukan menjadi satu. Bukan hidup dalam sebuah kemunafikan agar terlihat sempurna. Aku lelah," tutur Ha Jae.


"Hemm," Yokada tersenyum. "Akhirnya kau mengerti. Aku percaya kau bisa melakukannya. Pergilah," sahut Yokada.


Ha Jae melepas pelukannya dengan girang seperti anak kecil yang mendapatkan mainan kesukaannya. Ha Jae mencium bibir Yokada dengan semangatnya. Dia berdiri untuk menghindar dari pukulan Yokada yang terkejut akan apa yang dia lakukan.


"Dengan kekuatan alam semesta!!! Aku hilangkan kutukanmu wahai manusia!!" teriak Ha Jae menggoda Yokada.


Yokada mengejar Ha Jae dengan sengit. "Dasar bocah kurang ngajar! Berani-betaninya kau!!" hardik Yokada.


"Ha ha ha," Ha Jae terus menghindar dari kejaran Yokada. "Kau harus dekat dengan Mizuki. Ini wasiat," seru Ha Jae.


Ha Jae berlari ke lantai atas. "DENGAR WASIATKU ITU!!!" teriaknya.


...----------------...


"Jadi ini yang kau sebut wasiat itu?!" batin Yokada. Yokada melirik ke arah Mizuki yang berdiri di sampingnya. "Oe, I Love You," tutur Yokada ke arah Mizuki.


"Heh?! Nani?!!" kaget Mizuki. "Nani o itte iru?"


"Kupingmu tuli ya?!" kesal Yokada.


"Heegg!??" Mizuki menatap mengoda.

__ADS_1


"I Lo-ve Yo-u," tutur Yokada sekali lagi.


"I Love you to," sahut Mizuki.


"Cih!" gumam Yokada.


Mizuki memeluknya dengan mesranya. Yokada hanya diam saja tampa penolakan seperti biasanya.


......................


Angin yang berhembus dengan segar. Ombak yang seakan melambai menyambut dengan damai. Canda tawa terlihat dari setiap pengunjung di sana. Dia berdiri tegak memandang laut yang luas. Tersenyum ke pada alam seakan mengucapkan selamat datang. Senyum manis yang tak bisa di tolak semua orang yang melihatnya, terpancar dengan indah di wajah manis dengan mata teduh seakan itu sinar dari surga.


Dukkk duk duk,


"Tante, Lempar bolane!" seru seorang anak kecil dari kejauhan.


"Ha ha ha, biar aku ambil. Kau harus hati-hati," Haneul mengusap kepala anak lelaki itu.


"Hai,"


"Hemm," Haneul tersenyum dengan indahnya sebelum pergi menghampiri anak itu.


"Aku bersyukur. Atas. Hidupku."


...****************...


...Comingsoon...


...Kelanjutan MENCINTAI SENDIRI...

__ADS_1



...****************...


__ADS_2