Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Tatapan Yang Begitu Dekat


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan Pukul 09:21.PM. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah kita masing-masing.


"Hani, nanti kamu pulang ya sama Man," ucapku kepada Hani.


"Hah? Kenapa?? Aku bisa pulang sendiri kok," tolak Hani menatapku terjelengar.


"Ini perintah!!" jawabku dengan tatapan serius kepada Hani. "Kan kamu udah bantuin aku, jadi aku harus pastikan kamu selamat sampai tujuanmu."


"Kok aku enggak?!" sela Jennie menghampiriku dari belakang.


"Kamu kan udah sama Boy," godaku kesal.


Dengan iseng aku menepuk poni Jennie hingga berantahkan.


"Kyaa," teriak Jennie.


Dia terperanjat mundur merapikan poninya.


Kami pun mulai berpisah satu per satu. Saling berpamitan untuk pulang ke rumah kita masing-masing. Sebelum berpisah, kami tak lupa berkumpul untuk berpamitan.


"Daaa hati-hati di jalan," ucapku melambaikan tangan kepada Jennie dan Kyun.


"Dadaaaaa kamu juga!!" sergah Jennie membalas lambaian tanganku.


"Coco! hati-hati!" seru Kyun melambaikan kedua tangannya.


"Yooo!!" jawabku mengangkat tanganku. "Pak Shin belum pulang?"


Aku melihat ke arah Shin yang berdiri di belakangku.


"Bagaimana dengan mu?" tanyanya Shin Ji Joon menatapku.


"Mmm, aku ada urusan sebentar yang harus aku selesaikan," ucapku mendekat ke arah Shin.


"Biar aku antar. Tidak baik wanita pulang malam-malam sendirian." ucapnya.


"Aku gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri." jawabku berusaha menolak tawarannya.


...----------------...


Akhirnya, aku pulang di antarakan oleh Shin Ji Joon, setelah dia membujukku dengan mengatas namakan Yokada.


Sial. Gumamku kesal dalam hati.


Aku mengurungkan niatku untuk pergi ke Sauna yang Lee Tae tunjukan tadi siang. Di perjalanan otakku masih terganggu dengan semua perasaanku yang tak jelas itu.


Ah sial, kenapa harus ni orang sih yang aku suka. Kenapa gak yang lain gitu. Kan banyak Oppa yang ganteng dari dia. Gumamku dalam hati.


Aku sesekali melirik kearah Shin Ji Joon yang sedang sibuk menyetir mobil di sebelahku.


Aku, harus apa agar pantas untuk mu? Gumamku dalam hati.

__ADS_1


"Hah?! Kenapa?" celetuk Shin melihat ke arahku.


Aku tersentak tenyalang menatap Shin Ji Joon. Aku kaget mendengar pertanyaan Shin.


Ya ampun! Tadi aku ngomong apa batin sih?! Gumamku dalam hati.


"Emm, tadi, kenapa? Katanya kamu ingin pergi ke suatu tempat dulu?? Biar sekalian aku antar." jelas Shin Ji Joon sesekali melihat ke arahku.


"Ohhh!! Itu. Anu. Eeee, besok saja, iya besok saja." jawabku gelagapan. "Aku pikir apa'an."


"Apa?! Apanya yang 'Apa'an'?" tanya Shin Ji Joon melihatku dengan penasaran.


"Eee enggak. Bukan apa-apa," jawabku berusaha berkelip. "Kau sudah lama pacaran dengan Julia?"


Aku tak sadar menanyakan hal yang sepantasnya tidak aku tanyakan kepada Shin.


"Eee anu, maksudku ... " gelagapku tak meneruskan apa yang ingin aku katakan. "Ee gak jadi. Maaf,"


Iiss, bodoh bodoh bodoh, ngapain sih nanya-nanya. Gumamku dalam hati.


Aku tertunduk malu, sesekali memuluk keningku dengan jari sambil memejamkan mataku. Sebenarnya aku ingin sekali bertanya banyak soal Julia.


Aku juga ingin bertanya soal nama akun instagram milik Shin. Tapi aku rasa aku terlalu lancang jika aku menanyakan semua itu kepadanya.


"Aku dan Julia hanya sebatas teman. Ayahnya dan Ayahku adalah rekan bisnis sejak kami kecil dulu. Tidak lebih," jelas Shin kepadaku.


Sesekali dia tersenyum ke melihatku.


Aku tak tau lagi harus berkata apa. Aku benar merasa canggung dan malu. Bisa-bisanya aku menanyakan hal seperti itu kepada Shin.


Di perjalanan aku berusaha untuk tetap terdiam. Aku menyenderkan punggungku berusaha senyaman mungkin. Aku berharap aku bisa tertidur dalam perjalanan ini, agar aku tak merasa canggung dan malu dengan Shin. Tapi ntah kenapa, aku tidak bisa terlelap. Julia, Yura, Shin, mereka sangat menganggu pikiranku. Sekitar satu setengah Jam perjalanan, akhirnya kami sampai di rumahku.


"Anu, Pak Shin mau mampir sebentar? Senpai pasti sudah menunggu di dalam," ucapku mengajak Shin untuk mampir kedalam rumah.


"Tidak usah, aku langsung pulang saja," jawabnya menatapku dengan senyuman.


Melihat senyum dan matanya yang indah, aku seperti ter-hipnotis.


"Eee. Okay. Aku, anu, eee aku masuk dulu," ucapku gelagapan.


Aku membuka pintu mobil dengan salah tingkah. Aku bergegas keluar mobil dengan tanpa sadar seatbelt belum aku lepas. Aku pun terpelanting kebelakang oleh seatbelt yang belum terlepas.


"Anu, Seatbelt nya," Shin mencoba meraih pundakku yang terpelanting.


"Ooo!" seruku tersentak kebelakang.


"Biar aku bantu lepas," ucap Shin.


Shin mendekatkan badannya ke arahku untuk membantu melepas sabuk pengamanku. Muka kami sangat dekat. Aku terpaku melihatnya, dadaku tetiba berdetak dengan kencang.


Ya tuhan.

__ADS_1


Mungkin jika Shin menyadarinya. Dia bisa mendengar detak jantungku yang tak beraturan ini.


Klekk (bunyi Seatbelt yangbterbuka).


Mata kami bertatapan dengan sangat dekat. Senyumnya yang tipis berlahan menjauh dari depan mukaku. Kita benar-benar sangat dekat.


"Sudah, silahkan. Hati-hati," ucap Shin tersenyum memandangku.


"Oo, anu, ya, teri, terimakasih," jawabku gelagapan berbegas keluar dari dalam mobil. "Aduh!"


Kaki kiriku tersandung karna aku salah mengambil langkah.


"Maaf, terimakasih. Hati-hati di jalan," ucapku menunduk memberikan salam.


Aku langsung bergegas naik tangga. Tertegun aku saat menyadari pintu mobil belum aku tutup.


"Aduh," seruku menepuk keningku.


Aku berbalik dan melihat Shin yang kesulitan menutup pintu mobil.


"Ahh maaf Pak, aku lupa menutupnya," ucapku bergegas meraih pintu mobil itu dan menutup nya.


"Tidak apa-apa, terimakasih," ucapnya dengan senyuman tertahan.


"Maaf," seruku.


Aku tau dia tertawa melihat tingkah bodohku. Hanya saja dia tak enak. Aku mencoba mundur untuk menjaga jarakku dari mobil Shin. Dia berlahan menjalankan mobilnya pergi menjauh dariku.


Aku berbalik pergi naik ke dalam rumah. Baru beberapa langkah aku berjalan, aku berbalik menoleh ke arah Shin. Mobilnya sudah tak terlihat dari pandanganku.


"Hufff"


Aku menghela nafasku dan mengeluarkannya berlahan. Aku segera masuk kedalam rumah.


"Assalamu'alaikum," salamku masuk kedalam rumah.


"Hei!" pekik seseorang mengagetkanku.


...****************...


...BONUS!!...


Jauh sebelum pergi ke taman kota. Jennie dan Kyun yang sedang survei di pasar Jungang. Terlihat sangat asik dan menikmati suasana siang itu.




..."Hai jomblo! Jangan iri ya,"...


...(tulis Kyun di laman sosial medianya)...

__ADS_1


...****************...


__ADS_2