Mencintai Sendiri

Mencintai Sendiri
Sandiwara


__ADS_3

"DORRR!!" Seseorang mengejutkan Yokada dari belakang.


...----------------...


"Ogenkidesuka?" sapa Mizuki kepada Yokada.


"YHA!!" seru Yokada menghindar dari Mizuki. "Sedang apa kau di sini?! Bibi! Bibi!"


"Ya, Tuan," seru Yu Hee.


"Usir orang ini," titah Yokada.


Yu Hee hanya diam tertegun dengan kopi di tangannya. Terlihat dia ragu melakukan perintah Yokada. Nami yang sedang bermain dengan kedua saudara dan cucu Yu Hee, Ae-Ri pun di panggil oleh Yokada untuk mengusir Mizuki. Namun Haneul malah memanggil Ha Jae yang sedang membuat sarapan di lantai atas.


"Haneul! Usir orang ini," titah Yokada.


"Oh?! Mama! Bibi Mizuki sudah datang!" sergah Haneul.


"Hais! Bocah." kesal Yokada.


Yokada pun masuk ke dalam rumah dengan kesal. Namun Mizuki terus mengikutinya dan memberondong banyak pertanyaan yang membuat Yokada semakin kesal.


"Yha!! Pergi dari kamarku!!" sergah Yokada.


Nami yang bersembunyi di balik sofa pun keluar dengan muka bersalah. Dia mengira, dialah yang di suruh Yokada keluar.


"Maaf, Paman. Aku hanya sedang sembunyi," ucap Nami dengan ketakutan.


"Kau membentak anakku?!" tanya Ha Jae masuk ke dalam kamar Yokada.


"Bukan dia. Tapi dia yang aku suruh keluar dan enyah dalam hidupku!" kesal Yokada.


"Kenapa?! Dia tamu," sahut Ha Jae.


"Dia hanya terlalu bersemangat. Ya kan?" sela Mizuki.


"Dia memang begitu," sahut Ha Jae.


"Kau ini! Kau! Kenapa kau suruh mahluk ini ke sini, hah?!" cerca Yokada.


"Kau menyuruh Shin Ji Joon ke sini hampir setiap hari. Kenapa aku tidak boleh menyuruh rekan kerjaku ke sini untuk sarapan bersama juga," sindir Ha Jae.


"Shin beda dengan orang ini. Kau bakas dendam denganku?," tutur Yokada.


"Tidak. Bukankah sama saja?! Kalian dulu waktu SMA 1 Kelas," beber Ha Jae.


"Kau! Tau dari mana kau?!" kaget Yokada. "Kauuu!!"


"Dia bertanya, aku menjawab. Bukankah kau dulu yang bilang. Bahwa setiap pertanyaan harus kita jawab," sindir Mizuki.


"Keluar! Keluar! Kalian keluar!! Aduh kepalaku," Yokada memegang kepalanya, terlihat dia begitu sangat pusing.


"Kau tidak apa-apa?! Mau aku pijat?" ucap Mizuki.


"Lepas! Menjauh dariku, menjauh!" titah Yokada.


Ha Jae yang melihat Mizuki terus menggoda Yokada pun sesekali tertawa kecil. Dia mengajak Nami keluar dari ruangan itu. Ha Jae sudah meniapkan sarapan untuk mereka semua. Mereka pun sarapan bersama kecuali dengan Mizuki dan Yokada yang masih seperti Tom and Jerry di lantai bawah.


"Gimana, enak?!" tanya Ha Jae.


"Emm, enak sekali Mama. Aku tidak menyangka, Steak Indonesia enak sekali," tutur Yuri.


"Ha ha ha ha," seru Ha Jae yang sedang mengambil air putih.


"Kau ini, ini bukan Steak. Ini Rendang, makanan khas Pulau Padang. Selain Gudeg dan Soto, ini makanan Indonesia favoritku." jelas Haneul.

__ADS_1


"Padang bukannya Kota?!" tanya Nami.


"Kau benar," ucap Ha Jae membelai kepala Nami. "Ini namanya Rendang. Makanan dari Padang. Ini juga pernah di akui makanan terenak sedunia. Tapi tergantung yang masak, ha ha ha,"


"Tapi ini enak sekali, Nona." puji Yu Hee.


"Terimakasih. Ayo, makan yang banyak. Ae-Ri, kau harus nambah," titah Ha Jae.


"Hemm," gumam Ae-Ri dengan mulut yang penuh.


"Mama, mau langsung berangkat ke kantor. Mama harus segera menyelesaikan Gaun milik Paman Shin. Kalian di rumah ya, jangan nakal, bantu Bibi Yu Hee. Mama masak makanan banyak, jadi kalian boleh habiskan ini. Nanti Bibi Mizuki dan Paman Yokada di suruh makan ya," pesan Ha Jae.


"Iya, Mama," sahut Yuri.


"Iya, Ma," seru Haneul.


Ha Jae bergegas keluar. Baru dia membuka pintu, Ha Jae melihat Shin Ji Joon yang sudah berdiri di tengah tangga depan pintu.


"Shin," batin Ha Jae.


Ha Jae melempar senyuman yang ramah. Walau sebenarnya dadanya sangat sesak saat melihat Shin Ji Joon. Tapi dia tetap berusaha bersikap seolah tak terjadi apa-apa.


"Kau ada waktu?! Ada yang harus aku bicarakan denganmu," ucap Shin Ji Joon.


"Aku sibuk," tolak Ha Jae. "Aku banyak pekerjaan. Tapi tenang, untuk gaun calon istrimu, semua sudah beres. Kau dan Julia bisa langsung datang ke Butik untuk melihatnya,"


"Bukan itu. Aku ... "


Tin Tinnnn!


Terlihat Jimmy yang datang dengan mobilnya. Berlahan dia menghampiri Shin dan Ha Jae.


"Sayang, kau kita berangkat sekarang?" tanya Jimmy.


"Ah. Ya. Terimakasih," sahut Shin Ji Joon.


"Ayo," ajak Ha Jae kepada Jimmy.


Ha Jae dan Jimmy pun bergegas masuk ke dalam mobil. Terlihat jelas Shin seakan kecewa dengan apa yang dia lihat. Shin tersenyum menyeringai melihat mobil Jimmy melaju berlahan meninggalkan tempat itu.


"Kau sampai menyuruhnya bersandiwara. Sampai kapan pun, kau tidak akan pernah bisa membohongiku. Ha Jae," gumam Shin dalam hati.


......................


"Kau hebat sekali. Tau darimana kau aku sedang terjepit," ucap Ha Jae.


"Hei, orang bodoh juga tau," sahut Jimmy. "Lagi pula, dia sudah mau menikah. Buat apa kau masih mendekatinya,"


"Siapa yang mendekatinya?" kesal Ha Jae.


"Lalu kenapa kau membuatkan gaun pernikahan untuk mereka?! Kau berlahan mau merebut dia dari istrinya nanti, hah?!" sindir Jimmy. "Jadi simpanan. Murahan,"


"Apa kau bisa lebih halus dalam bertutur kata?! Ingat! Jiwamu aku yang memegang. Kau mau aku siksa seumur hidup menjadu zombie, hah!" ancam Ha Jae.


Jimmy hanya diam tak bersuara. Terlihat dia begitu sangat kesal. Ha Jae pun begitu sangat kesal. Sepanjang perjalanan, tidak ada obrolan lagi di antara mereka.


......................


"Man, sedang apa kau di sini?!" tanya Ha Jae masuk ke dalam ruangannya.


"Oh, tadi aku ketemu Man di jalan. Katanya dia ingin bertemu denganmu. Mangkanya aku ajak aja ke sini," jelas Hani.


"Bukan kau yang ku tanya," sahut Ha Jae.


"Kasar banget sih," Hani merasa tersinggung dengan jawaban Ha Jae.

__ADS_1


"Ono masalah opow?!" (ada masalah apa?!) tanya Man kepada Ha Jae.


Ha Jae hanya diam dan duduk di meja kerjanya. Dia tak mengucapkan sepatah kata pun.


"Kau!" seru Man kepada Jimmy yang berdiri di hadapan Man.


"Apa?! Dia duluan yang mulai," ucap Jimmy kesal.


"Jadi kalian bertengkar?! Trus kenapa aku yang jadi sasaran!" keluh Hani cemberut.


"Di mana Mas Afi?" tanya Ha Jae.


"Dia belum datang," jawab Hani.


"Gaun sudah selesai. Aku rasa sudah tidak ada yang perlu aku bantu. Jadi selanjutnya, aku serahkan kepadamu dan Mas Afi, ya," ucap Ha Jae kepada Hani.


"Kok gitu?! Kau mau kemana?" tegur Hani.


"Aku akan mengurus bisnis Yokada. Hagh, otakku hampir meledak," tutur Ha Jae.


"Biar aku yang urus," sela Man.


"Kau tetap gantikan posisiku di AG. Hani urus Butik. Masalah lapangan biar aku sendiri yang urus," jelas Ha Jae.


Man terlihat kesal dengan perintah Ha Jae. Sedangkan Hani dan Jimmy dengan sabar mendengarkan Ha Jae.


"Dan kau. Tetap bekerja di butik ini. Oh, ya jangan lupa kontrakmu dengan Goun Yong. Man yang akan mengurusnya nanti," ucap Ha Jae kepada Jimmy.


Jimmy yang masih terlihat kesal, seolah tak perduli dan pergi dari ruangan Ha Jae tanpa pamit. Hani dan Ha Ja tak kaget dengan sikap Jimmy yang seperti itu. Namun beda dengan Man.


"Apa perlu aku bereskan cecunguk itu?!" ucap Man menatap Jimmy yang berlahan menjauh dari ruangan itu.


"Siapa? Jimny?!" tanya Ha Jae.


"Apa? Dia artis kita. Kau ini apa-apaan," protes Hani.


"Cih!" gumam Man.


"Dia sudah jadi milikku. Buat apa di habisi. Dia seperti itu karna memang sifatnya seperti itu. Sama sepertimu," tutur Ha Jae. "Jika terganggu, cukup jauhi,"


Ha Jae mengambil beberapa berkas dari dalam laci mejanya. Dia memberikannya kepada Man.


"Kau urus perusahaan Goun. Aku yakin dia belum mengertk sepenuhnya cara kerja kita. Aku harus pergi ke Jepang 1 pekan ke depan," ucap Ha Jae.


"1 Minggu?! Tapi 3 hari lagi pernikahan Shin," tegur Hani. "Kau sengaja menghindar?!"


Ha Jae hanya tersenyum menyeringai. Dia tak menjawab pertanyaan Hani. Sedangkan Man, hanya diam seolah tak ingin urus campur dengan masalah Ha Jae dengan Shin Ji Joon.


"Kenapa kau melakukannya?! Kau juga memesan tiket untuk ke Indonesia Minggu depan?! Kau ingin pergi?!" cerocos Hani.


Belum sempat menjawab, So Mie masuk ke dalam ruangan bersama Julia. Tak lama, Afi datang bersama asistennya. Melihat orang-orang yang pada berdatangan. Man pun memutuskan untuk pergi saat itu juga.


"Aku balik dulu. Aku harus segera ke Kantor," tutur Man.


"Okay, bereskan pekerjaanmu," sahut Ha Jae. "Julia, selamat datang,"


Ha Jae mendekat ke arah Julia. Dia menyambut Julia dengan tangan terbuka. Ha Jae dan Afi menunjujan Gaun yang berdiri dengan mewah dan megah di manakin yang berada di tengah ruangan sebelah.


"Maaf, waktu tunangan kalian berdua aku tidak datang. Aku sedang ada di Indonesia, aku tak tau jika kalian ternyata bertunangan," tutur Ha Jae.


"Ah tidak apa-apa. Aku senang, ternyata kita akan jadi sodara," celetuk Julia.


"Sodara?!" batin Ha Jae ternyalang mendengar ucapan Julia.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2